“Kamu sopir?” Aluna memastikan lagi. Sepasang mata Aluna menyipit memperhatikan wajah Yayan dengan seksama, barangkali dia pernah melihatnya. Lelaki bernama Yayan yang usianya mungkin terpaut lima atau enam tahunan itu terkekeh. Giginya rapi berderet dan matanya jernih. Aluna tak yakin, orang yang di depannya benar-benar hanya sopir. “Iya, Non!” Yayan mengangguk sopan. “Mari!” Dia sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya. “Lain kali, tak usah seperti ini. Saya bisa sendiri.” Aluna langsung masuk tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki yang bergerak sigap. “Baik, Non!” Yayan segera mengitari mobil dan masuk ke tempat duduknya. Dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Oma Fera. Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Aluna lebih banyak berkutat dengan pikirannya. Hid

