Ruang seni selalu terasa berbeda bagi Alya.
Letaknya di bangunan paling tua di ujung sekolah, dindingnya dipenuhi bekas tempelan kertas karya siswa, dan jendelanya menghadap taman kecil yang hampir selalu sepi. Tak banyak murid yang menganggap ruang itu penting—kecuali saat ada ujian prakarya atau tugas dekorasi.
Bagi Alya, ruang itu adalah satu-satunya tempat yang tidak membuat dadanya sesak.
Siang itu, usai jam pelajaran, ia menunggu lebih lama di sana. Semua siswa sudah pulang, bahkan guru pun sudah tidak ada. Tapi pintu ruang seni dibiarkan terbuka oleh Bu Ratna, guru seni yang sudah tahu kebiasaan Alya.
Ia duduk di kursi kayu di dekat jendela, membiarkan cahaya sore menari di atas kertas-kertas sketsa yang berserakan. Di hadapannya, lembar-lembar lama dari tugas siswa tahun-tahun sebelumnya. Ada yang pudar, ada yang sobek, ada yang dilukis setengah hati.
Ia menghela napas pelan.
Kakinya bergerak sendiri, melangkah ke sudut ruangan tempat rak-rak kayu tua menyimpan alat-alat yang sudah jarang disentuh. Cat air kering. Palet retak. Kotak-kotak kecil penuh pensil warna yang ujungnya tumpul.
Lalu matanya menangkap sesuatu.
Sebuah kardus lusuh di bawah meja yang tampak seperti tidak pernah dipindah selama bertahun-tahun.
Entah kenapa, tangannya bergerak membuka tutupnya.
Di dalamnya—lukisan-lukisan lama. Beberapa ada coretan tulisan. Nama-nama yang asing, mungkin siswa dari angkatan sebelum dia. Tapi di antara tumpukan itu, matanya berhenti pada satu benda: sebuah buku kecil dengan sampul kain abu-abu.
Lusuh. Ada noda cat di beberapa bagiannya.
Ia ragu sejenak. Lalu membuka halaman pertama.
Tulisan tangan.
“Terkadang, hidup tidak memberimu pilihan. Tapi kau selalu bisa memilih untuk tidak berhenti.”
Alya membeku.
Ia mengenali tulisan itu.
Itu tulisan tangan ibunya.
Ia duduk perlahan di lantai, seolah takut buku itu akan lenyap jika disentuh terlalu keras.
Halaman demi halaman berisi catatan kecil. Potongan cerita. Keluhan yang diselipkan dengan nada bercanda. Goresan-goresan pensil berisi sketsa bunga, wajah orang asing, dan sekali-sekali—seorang gadis kecil dengan mata bundar dan rambut berantakan.
Dirinya.
Beberapa halaman kemudian, ada cerita tentang hari ketika ibunya dimarahi kepala sekolah karena membela teman sekelas yang dilecehkan. Lalu tentang hari ia menangis karena nilai ujiannya direndahkan hanya karena berasal dari keluarga petani. Tentang bagaimana ia belajar bicara keras, bukan karena berani—tapi karena tidak ada pilihan lain.
Alya menutup buku itu perlahan, dadanya sesak.
Ia tidak tahu mengapa buku itu bisa ada di sini.
Mungkin ibunya pernah menjadi murid di sekolah ini. Mungkin Bu Ratna mengenalnya. Atau mungkin buku itu tertinggal bertahun-tahun lalu, dan tidak pernah ada yang peduli untuk mencarinya.
Tapi satu hal pasti—buku itu tidak ditemukan secara kebetulan.
Ia mendekapnya, seperti seseorang yang menemukan kembali bagian dari dirinya yang telah lama hilang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya.
Bukan kemarahan. Bukan juga kesedihan.
Tapi keberanian yang kecil—nyaris tak terdengar—yang perlahan mulai mengetuk dari dalam.
Mungkin ia tidak sekuat ibunya.
Tapi mungkin, ia bisa mulai menggambar lagi. Bukan untuk nilai. Bukan untuk tugas. Tapi untuk mengatakan sesuatu.
Untuk menyuarakan luka-luka yang selama ini ia bungkam sendiri.
Langit sore di luar jendela mulai menguning.
Alya berdiri, memeluk buku harian itu, dan menatap kanvas kosong di sudut ruangan.
Ia belum tahu harus menggambar apa.
Tapi kali ini, ia tahu: halamannya tidak akan dibiarkan kosong lagi.