"Gak gitu, Dy. Astaga."
Ivanna mencibir temannya yang sedang mengutak-atik tripod di depannya.
Ody menatap Ivanna, bibirnya dimanyunkan, serta telunjuknya bertingkah layaknya tuan rumah.
"Ivana tuh, Garr."
"Trus kenapa? Emang itu dia."
Sifat dingin Garry kembali ke semula, dengan tangan yang sibuk memasukan snack tortila ke mulutnya.
Manik mata coklat Ody menatap lurus pada Garry, sementara orang yang ditatap acuh.
Membuat gadis itu naik pitam, hingga berdiri dari posisinya.
"Astaga! Garry!"
"Astaga, apa sih, Dy!"
Ivanna terkejut bukan main, melihat dua orang di depannya sedang berlomba meninggikan suaranya.
Padahal, kejadian tersebut sudah sering mereka lakukan. Tapi, mengapa Ivanna masih saja terkejut, dan risau jika kejadian dulu terulang kembali.
"Wohoooo, dah ribut ayo ribut. Udah lama kan lo berdua gak berantem." Timpal Roman, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Mengenakan lilitan handuk di pinggang, serta kaos di kepala untuk mengeringkan rambut.
Terbalik. Ya memang, itulah Roman.
Absurd, aneh, tapi ganteng.
Kalo kata Sofia, gak tau kata yang lain.
**
Ody memoles liptint peripera pada bibirnya kembali, bercermin di cermin sakunya. Agar memastikan riasannya tidak berantakan serta natural.
"Oke... Roll... Action!"
"Haii gais, balik lagi sama gua Fiola di channel yang mengedukasi..."
Fiola menyerocos debfan suara riang nan bahagia di depan kamera.
Tutur katanya begittu rapih, aksen Indonesianya begitu kental, dan pembawaannya sangat menyenangkan.
Seolah menghilangkan rasa grogi Ody dan Roman sedikit, selaku talent baru saat pertama kali tampil.
Sementara Garry dari belakang kamera, malah fokus memperhatikan Ody seorang.
Memperhatikam bagaimana ia berbicara, garis lengkungnya yang naik, serta rambutnya yang teekuncir sempurna.
"Holly, Ody a Russia girl?" Gumam pelan Garry, saat mendengar Fiola memperkenalkan Ody di hadapan kamera.
Jantungnya begitu berdebar, entah kenapa.
Otak dan hatinya kini mengajak Garry berdebat, untuk mempertanyakan Ody.
Kenapa dia pindah ke Kanada, yang begitu jauh dengan kampung halamannya?
Mengapa ia memilih Kanada, dan tidak menetap di Russia?
"s**t!"
"Fokus! Udah mau masuk aksen nih." Diffa membuyarkan semua perdebatan internal dalam tubuh Garry, "Okay Okayy." Balas singkat Garry.
Ia langsung melihat kembali kamera, agar pengambilan gambar beserta objek dari sponsor terlihat natural.
"Okay, sekarang kita mau cari tau perbedaan nama-nama restoran cepat saji di beberapa negar. Tapi berhubung gua dan Roman dari negara yang sama, kita berdua saling gantian jawab dan nanyanya." Kata Fiola, masih dengan suara dan aura yang ceria.
Semua nama food court atau restoran cepat saji, dari berbagai negara begitu aneh, lucu, dan asing.
Apalagi ditambah dengan aksen yang berbeda-beda pula.
Dari Russia dan Korea Selatan, membuat Garry serta Diffa terkikih geli di belakang kamera.
Sampai-sampai, Fiola menotice mereka, dengan menaruh telunjuk pada mulutnya.
Mengisyaratkan untuk diam, dengan sangat natural.
Hingga tak terasa, dua jam kurang telah mereka habiskan untuk syuting.
Fiola menutup videonya dengan kata-kata khas yang ia ciptakan sendiri, serta jentikam jari Ody dan kecupan manis dari Roman, yang menutup video mereka.
"Oke.... Bungkus..."
"Yayy!!!!!" Pekik Fiola, seraya bertepuk tangan gembira.
"Terima kasih atas kerja bagus..." Ujar talent dari Korea Selatan, yang begitu menjaga kesopanan.
Sampai dirinya membungkukkan tubuh saat syuting selesai.
Ody otomatis juga mengikuti talent Korsel tersebut. Membuat semua orang mengikuti pergerakkannya otomatis.
Sebelum mereka menyantap makanan yang sudah dibawakan oleh tim Youtube Nathan yang sudah selesai syuting terlebih dulu.
"Gimana, makanan Indo, Ivv?" Tanya Fiola.
"Pedes banget. Tapi enak."
Antusias Ivanna membuat Diffa dan Ody semakin dibuat penasaran.
Pasalnya, seorang Ivanna jarang sekali memuji makanan negara lain.
Namun, kenapa kali ini ia begitu antusias dan melontarkan banyak pujian untuk makanan asing yang baru ia cicipi.
"Semua itu membuat aku merasa pulang ke Meksiko. Terlebih lagi, saat mencicipi sambal--"
Ivanna menatap Guntur, "Iya bener, sambal." Balas Guntur yang seolah mengetahui tatapan Ivanna, untuk bertanya apakah penyebutan nama sambal benar atau salah.
"Iya itu, sambal." Sambung Ivanna.
Ia menjelaskan detail persamaan antara makanan Indonesia denvgan makanan Meksiko, kampung halamannya.
Persamaanya terletak pada rasa pedas pada suatu makanan.
Makanan Indonesia itu spicy, dan makanan Meksiko itu hot.
Ada perbedaannya bukan? Karena, pedas makanan Indonesia diperolah dari berbagai macam bumbu, seperti lada, merica, dan cabai. Sudah pasti cabai rawit jawan masih memegang kekuasaan di takhta tertinggi, menurut informasi yang ia peroleh dari Nathan dan Guntur.
Namun menurut Ivanna, makanan indonesia terlebih pada sambal, punya cita rasa yang full of taste dari rempah-rempah, namun tidak pedas.
Berbeda dengan makanan Meksiko yang mempunyai cabai dengan kasta pedas another level, melewati cabai rawit.
Yaitu, cabai jalapeno, harbanero, dan cabai amaxito. Yang merupakan cabai segar terpedas. Dan Meksiko juga mempunyai 2 jenis cabai kering teredas, yaitu cabai Chiltepin dan Piqiun.
"Apa hubungannya sama cabe, Ivv? Gak ngerti deh aku." Kata Ody, menyanggah penjelasan dari Ivanna, karena otak bayinya tidak menemukan penjelasan yang berarti dari semua yang dijelaskan oleh Ivanna tadi.
Namun, semua orang yang ada di ruangan, tampak setuju kala Ody menanyakam hal tadi.
Membuat Ivanna menghembuskan nafas berat, dan kembalu mencari penjelasan yang mudah mereka pahami.
Ia kembali menjelaskan dengan memberikan contoh beberapa makanan yang ia cicipi tadi di restoran Borobudur.
Dan membandingkannya dengan makanan dari Meksiko, sesuai tingkat kepedasannya dan bahan dasar untuk memperoleh rasa pedasnya.
"I got it!"
"Nah, lo ngerti kan maksut gua, Garrr?" Tanya Ivanna, dengan penuh harapan, jika Garry menangkap semua penjelasa darinya tadi.
"Ngerti gua, pokonya tuh maksut Ivanna. Makanan Indo punya rasa pedea gak cuman dari cabai, tapi dari bumbu campurannya juga. Tapi, kalo makanan meksiko, rasa pedesnya tuh cuman dari cabai doang. Udah gitu doang." Jelas Garry.
Ivanna menjentikkan jarinya, karena Garry sukses mendapatkam semua point penjelasannya.
Dan akhirnya, membut mereka semua ikut mengerti setah mendapatkan penjelasan tambahan dari Garry.
"Lo ngapain nyatet, Dy? Kan ini bukan pelajaran." Nathan salah fokus, saat melihat Ody, yang sedang mencatat semua omongan mereka, di catatan ponselnya.
"Iseng aja, pengetahuan umum, HAHAHA." Dengan begitu polos, Ody membalas omobgan Nathan, hingga membuat semua orang terkikih atas perlakuannya.
Klek'
"Wehhh tumben kumpul. Gak di kamar masin-masing?" Freddy begitu keheranan saat melihar semua timnya berkumpul jadi satu di ruang tv, layaknya kecebong di gorong-gorong.
"Siapa tuh??? Talent baru apa pacar baruu?"
Lagi-lagi, Nathan salah fokus pada siapapun.
Hingga membuat Fredsy tergagap, karena dirinya yang membawa seorang gadis bertubuh sejajar dengan dirinya, dan mempunyai wajah otentik asian.
"Ajak masuk kali, masukk, Kakk." Timpal Roman, yang ikut menggoda presiden tertinggi di Himpunan.