#Daily 6

2021 Kata
Kondisi terkini sejauh 100 meter dari persimpangan rumah dipenuhi banyak kaula muda yang sedang bekencan, atau para kaula muda yang sekedar mencicipi berbagai macam stree food. Mulai dari snack, kue kering, hingga makanan tradisional asal dalam dan luar negeri berjajar rapih di stand. Garry membanggakan dirimya sendiri karena, sudah memilih untuk mencari udara segar tengah malam. Kapan lagi, berada di negara orang seorang diri begini? Jalan lurus ke depan, tidak menoleh ke belakang dengan perasaan gusar akan tersesat. Garry sudah hafal betul daerah rumah Odyy, bahkan jika, dirimya menutup mata ia bisa sampai kembali rumah Ody di ujung sana. Fikiran yang sangat arogan, untuk ukuran turis seperti Garry. Tapi, masa bodoh. Ini adalah fikirannya sendiri, dirinya memegang penuh kendali atas semua itu. Tidak ada yang boleh mengugat sama sekali. Sekiranya itu adalah keputusannya untuk malam ini, tidak tau besok malam. Jika, ada gadis cantik nan berparas sempurna, ingin mengubah pola fikirnya, semua itu bisa dibicarakan baik-baik. "Rambut nenek..." Gumam Garry. Mengunci pandangannya, setelah fikirannya lelah bertravelling kemana-mana. Kakinya mengambil langkah besar demi mempercept pertemuannya dengan salah satu makanan favoritnya sepanjang masa. Rambut nenek. Makanan khas Indonesia yang dijual oleh amang-amang yang berkeliling. Makanan itu semacam gulali, tapi, di atasnya ada roti garing yang ditumpuk layaknya krabby patty. Kenapa bisa disebut atau dinamakan rambut nenek ya... Otak Garry yang kritis langsung memikirkan itu kembali. Karena, selama ini pertanyaan itu belum terjawab dengan sempurna. Rata-rata orangbakan menjawab, kenapa bisa dinamakan rambut nenek? Ya, karena teksturmya seperti rambut. Kasar dan kusut. Lantas, neneknya? Kenapa nenek-nenek dibawa-bawa? Apa maksutnya, yang mempunyai rambut kasar dan kusut hanya nenek-nenek? Iya? Apakah begitu? Teori dari mana si? Ada keabsahannya gak si? Karena, semua itu tidak valid. Rambut kasar dan kusut juga bisa dipunyai oleh seorang anak muda yang malas untuk merawat kesehatan rambut. Contohnya, Roman. Tidak jauh-jauh. Rambutnya yang gondrong sekarang, lebih kasar serta lebih kusut dibandingkan rambut neneknya dari ayah Garry, yang masih sangat kuat dan berkilau. Jika begitu, apa boleh rambut nenek diganti nama dengan rambut Roman? Kasihan, para nenek yang merawat rambut sebaik mungkin pasti merasa sangat terdzolimi. Setelah semua fikiran yang mencerca habis-habisan, kakinya sampai di depan stand yang bewarna merah menyala. Awalnya ia bingung, apa benar ini adalah stand yang menjual berbagai macam jajanan khas negaranya. Tapi, kenapa interiornya terlohat sangat otentik mandarin. Rupanya, fikirannya masih saja mengajak untuk berkutat pada hal-hal tidak penting dan tidak patut untuk difikirkan. Namun, sebagai salah satu masyarakat yang sedari tinggak di Indonesia. Sifat penasaran Garry mengalahkan rasa lelahnya semata. Maka dengan demikian, dirinya langsung berpura-pura melihay berbagai macam hiasan yang terpasang pada stand tersebut, sebelum masuk untuk melemparkan pertanyaan. Garry memengang lampu yang bewatna merah padam, yang terlilit pada tiang stand tersebut. "Kaya lampu 17-an ya?" Garry tercengang saat mendengar pemiliknya berkata demikian. 'Tau-tauan nih orang 17-an' batinnya. Rasanya, ingin sekali Garry langsung menanyakan apakah dirinya asli Indonesia atau salah satu masyarakan pendatang yang besar di sana. Tapi.. Tunggu sebentar. Orang itu tau dari mana jika, Garry adalah warga negara Indonesia. Karena, orang tadi langsung menyeletuk "seperti lampu 17-an." Garry memanyunkan bibir, menatap ke arah orang tersebut, "Muka saya lokal banget emang ya? Bapaknya kayak langsung ngenalin saya kalau orang Indonesia." Si pemilik stand tersenyum renyah pada Garry, "Atuhlah yang datang ke stand saya pasti orang sana." Tangannya merapihkam jajara kue-kue pasar yang banyak Garry ketahui namanya. "Emang orang-orang sini (Vancouver) gak suka kue kaya gini, pak?" Garry mengangkat kue lapis bewarna merah dan hijau. "Padahal enak lho..." Tambahnya kembali. Garry langsung melahap kue tersebut. Hanya dengan dua gigitan, kue lapis tersebut sudah berada tenang di dalam perutnya. "YaAllah, kamu mah saiko ya, dek. Masa, makan kue laps digigit." "Hah? Maksutnya?" Garry bingung atas pernyataan pemilik tadi. Memangnya cara makan kue lapis yang benar bagaimana. Adakah instruksi cara pakai di belakangnya? Astaga, memangnya obat. Garry menggaruk pelipisnya. Menunggu pemilik itu untuk mencontohkan cara memakan kue lapis dengan baik dan benar. Bukanya malah jelas saat melihatherakan dari si pemilik, dirinya malah merasa semua itu akan memakan waktu lumayan lama. "Mau makam aja ribet ya, Pak. Padahal sekali 'hap' langsung kenyang." Protes Garry, membuat si pemilik meng adukan argumennya kembali. "Kan biar ngerasain masing-masing rasa bedasarkam warna. Ngono lhoo" "Astga, pak-pak. Sama aja rasanya. Wong cuman dikasih pewarna makanan doang." Mereka berdua sedang beradu pendapat, hanya bedasarkan permasalahan kue lapis. Membuat sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gelagatnya menjadi jenggah. "Apa tho, Pas. Astaga. Sudah-sudah, mending bapak keliling untuk membagikan tester—biar dagangan kita cepet habis, pak. Besok pagi sudah jual sarapan lagi. Sibuk nanti, eee" Logat medok khas jawa totok terdengar jelas di telinga Garry, membuat dirinya rindu akan sosok bundanya. Hatinya terenyuh sebentar, sebelum memutuskan untuk menyimpulkan senyuman pada ibu paruh baya di hadapannya. "Maafin si bapak ya, dek. Beliau memang suka bercanda begitu." Kata si ibu. Dirinya memgambil tugas si bapak tadi, yang kini tengah berjalan menjajajakan testernya. Setelah berdiri di depan stand selama 15 menit, otaknya langsung memberikan ide cemerlang untuk konten besok. Setelah semua selesai, Garry melenggang pulang ke rumah Ody untuk menyusum rencana syuting dan pembagian kelompok. Namun, tidak jauh sebelum rumah Ody. Matanya melihat sosok dengan rambut yang baru mau digerai oleh sang empu, "Weeh!" Teriak Garry, seraya melabaikan kedua tangannya. Garry merasa mengenali sosok itu, karena, kelebihannya yang mampu memgenali siapa saja hanya dari melihat bahu dari sosok tersebut. Namun, entah kenapa kelebihan itu tidak berguna sama sekali. Hingga, membuat Garry harus menghampiri sosok itu untuk memastikan. "Heh. Dipanggilin dari tadi. Gue kira lo baliknya besok." Ujar Garry. Ia menggenggam tangan dari sosok yang belum resmi ia pastikan, tapi, sifat arogannya yang lebih dulu memastikan. Hingga, sesaat sosok tersebut menoleh ke arah Garry. Wajah pusat pasi serta ujung alis yang sedikit merah memar, langsung membuat Garry terkejut. "s**t! Gua megang hantu! Anjir! Help!" Garry berteriak sekuat tenaga. Memaksa pita suaranya mencuat hingga oktaf tertinggi. Akan tetapi, semua orang yang berlalu lalang di dekatnya tidak meresponnya sama sekali. Garry yag kebingungan, kembali mencoba peruntungannya. Ia mengambil nafas diagframa pada perutnya, dan mengambil ancang-ancang untuk teriak. Dan... Ternyata, teriakan Garry hanya sampai pada tenggorokannya. Hingga membuat suaranya tidak keluar, karena, sesuatu hal. Sosok itu menyeringgai penuh gairah. Di depan Garry. Sosok fana yang disebut manusia. Membuat Garry ketakutan akan perbuatannya. Lengkung senyum yang lebar berlebihan, serta jajaran gigi yang tidak rapih, adalah faktor utamanya. Bukan saja, bentuk giginya. Tapi, semua gusinya kini malah menampilkan darah di sekelilingnya. "Kau yang lebih dulu menghampiriku, jadi, terimalag konsekuensinya..." Sosok itu berbicarapada Garry yang sedang memejamkan kedua matanya. Sosok itu mencoba menganggu kembali Garry, dengan berbagai tampilan wajah yang dirubah beberapa kali. Mulai dari wajah bengis, cantik, hingga wajah iba. Tapi, Garry tidak terbuai akan hal itu. Membuat sosok itu mengencarkan senjata mutakhirnya. *pyuhhh* ia memuncratkan beberapa tetes darah yag mengenai wajah serta mata Garry. Namun, setelah ia menggencarkan semua itu, Garry tampak tenang dan seolah tidak terganggu dengan perbuatanya. Malah yang ada, sosok itulah yang mendadak terlihat kesakitan. Ada batu besar yang berada di atas kepalanya. Batu tersebut memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata semua orang, jika, ada yang mamou melihatnya. Sosok itu akhirnya terganggu dengan sinar tersebut, dan merasakan hawa panas yang menjalar pada seluruh tubuhnya. Membuat dirinya tidak tahan, dan terpaksa harus kembali melenyapkan diri dari dunia fana manusia ini. Setelah 5 menit sosok tadi hilang.. Garry belum mau membuka matanya, karena, rasa takut akan kondisi yang belum kondusif. Sampai akhirnya, PLAK! Pipinya merasakan panas, dan membuat matanya terbuka lebar. "Gua gak nyakitin fisik lo ya, Setan!" Pekiknya. "Hah? Lo kira gua setan?" Suara polos yang tidak tahu apa-apa langsung tersinggung atas perkataan Garry. Kini rasa terkejutnya menjalar ke seluruh tubuh, terutama bagian otaknya. "Sumpah, tadi di depan gua tuh setan." "Ohh jadi selama ini gua dianggep setan sama lo, ya. Cukup tau." Garry mendekatkan diri pada lawan bicaranya, "Gak gitu, Dy. Astaga! Lo kapan balik?" Pekiknya. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Tapi, "Halah, ngeles aja lo kek bajaj. Semua cowok emang begitu." Ody menjawab dengan cepat. Melebihkan kecepatan cahaya, hingga membuay Garry kehilangan arah. Dirinya yang masih terkejut serta takut, tidak mampu membalas ucapannya. Hanya menampilkan raut wajah sendu. Berharap Ody mengerti maksut dan tujuannya, "Astaga..." Ody menghela nafas. "Kenapa?" Garry yang bertanya. "Bercanda, Garr. Panik banget." Kikih Ody. Ia melenggang mendahului Garry yanh masih terpaku entah menatap apa. Tapi, satu yang pasti. Rasa lelah Ody dari ujung jalan, hingga ke sini mendadak menghilang. Karena, apa? Kok bisa? Bisa lah, masa engga. Rasa lelah itu tergantikan oleh tawa atas tingkah lucu Garry yang ia lihat dari kejauhan. Ody merasa jika, semua itu adalah untuknya. Garry repot-repot untuk keluar tengah malam dan berdiri di antara keramaian untuk menunggu kepulangan dirinya. Belum lagi, ditambah lakon dari Garry yang seolah berbicara dengan seseorang membuat Ody sangat terhibur. Yang padahal.... Ah, sudahlah. Hidup Garru disangka mainan belakang, dirinya mah ketakutan secara alamiah, eh malah disalah pahami oleh seseorang. Tapi, masa bodoh. Mungkin ini adalah kebenaran dari takhayul yang pernah Garry dengan dari eyang, "Jika, kita bertemu dengan makhlus astral, maka, kita akan mendapatkan keberuntungan. Dan, makhluk astral tersebutlah yang akan mendapatkan ganjaran karena, telah berani menampakkan diri pada manusia." Mendadak Garry malah mempercayai semua omong kosong yang disebut dengan takhayul. Tapi, biarlah. Kalau keberuntungan itu bisa membuat hubungan dengan Ody semakin mendekat, Garry akan mengajukan diri secara sukarela untuk bisa bertemu kembali dengan makluk astral yang biasa disebut dengan "lelembut". Padahal, dirinya masih menjadi 1% orang yang akan menolak takhayul-takhayul nenek moyang, yang menurutmya tidak valid dan tidak layak untuk dipercayai oleh manusia zaman kini. *a word one*** Tapi, kalo Ody percaya. Bjsa didiskusikan oleh Garry. Dasar~ Kalau menyangkut perihal cinta, jangan berani menandingi keberanian seorang Garry Mahardia. Ia langsung berbalik arah, untuk mengejar Ody yang sudah berada jauh di depannya. Tidak peduli apa yang mau ia lakukan, karena, langkah dari gadis itu malah menjauhi lokasi kediamannya. Haduuuu, padahal tubuh Garry yang sudah sangat letih, dan beban pada tangannya yang cukup berat, membuatnya ingin cepat melepaskan semua itu. Tapi, apa daya—Garry harus menemani Ody. Tidak mungkin ia membiarkan seorang gadia berjalan seorang diri, ya, walaupun keadaan sekitar yang semakin malam semakin ramai pengunjung layaknya karnaval. "Garr..." Ody mengencangkan ransel, sementara Garry hanya bedehem di sebelah. Garry tidak mau semua itu membuat Ody mempermainkan dirinya kembali, karena, tingkah iseng biasa Ody yang sudah diketahui oleh Garry keseluruhannya.. ** Yohannes terbangun pukul dini hari. Ia bangun dari posisi tidurnya tanpa rasa lesu sedikitpun. Ia juga langsung memakai sandal rumahan dan keluar dari kamarnya, "Fajar tuh jamberapa ya?" Tanyanya sendiri. Ia lupa dengan semua celotehan Garry tang tempo hari main ke rumahnya. Dan Yohannes memilih untuk duduk di depan ruang tv lebih dulu untuk mengingat semua momen kebersamaannya dengan Garry satu minggu yang lalu. Banyak cerita baru yang Yohannes dapatkan, hingga membuatnya bersusah payah terbangun dari lelapnya tidur. Untuk apa? Untuk melaksanakan salat shubuh, seperti apa yang Garry lakukan. Tepatnya, bukan melaksanakan sih. Lebih ke arah Yohannes ingin belajar cara menunaikannya. Bagaimana caranya, dan melihat seberapa tingkat kesulitannya. Lantas, untuk apa juga Yohannes melakuka itu semua? Padahal, dirinya adalah pria yang menganut keyakinan berbeda dengan Garry. Kewajibannya pun juga berbeda, Yohannes hanya melakukan ibadah di hari minggu pagi hingga siang. Bukan, di pagi buta begini. Jika, fikirankalian begitu. Oke, mari kita jabarkan bedasarkan sudut pandang seorang Yohannes yang sedikit tertarik dengan semua kewajiban yang dilakukan oleh Garry. Yohannes ingin mempersiapkan dirinya, untuk memantapkan hati Ody agar tidak berat saat mengajaknya berpindah menjadi keyakinan yang sama dengan Garry. Mungkin fikiran Yohannes terlalu jauh, hingga membuatnya seperti ini. Ia juga yakin jika, putrinya tidak akan merelekan semua keyakinan yang selama bertahun-tahun ia yakini sebagai jaannya menuju kebahagian surga di masa yang akan datang. Tapi, satu sisi Yohannes juga sangat menaukan jika, Ody akan sangat berat untuk melepaskan sosok Garry. Begitu juga sebakiknya. Garry dan Ody terhalang diantara tembok besar nan kokoh di hadapan mereka masing-masing. Tapi, tembok itu juga semakin lama akan aemakin terkikis jika, mereka lebih berusaha untuk mendekat satu sama lain. Mencari jalan tengah, atau memutar demi menjumpai satu sama lain. Dan, saat mereka menemukan cara itu. Yohannes tidak mau menjadi tembok penghalang itu kembali bagi mereka. Oleh sebab itulah, lebih baik dirinya menyiapkan segala sesuatu untuk mendompleng jalan tengah yang mungkin mereka ambil suatu hari nanti. ***word***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN