#Daily 1

2055 Kata
Tiba saatnya kita, saling bicara. Tentang perasaan yang, kian berubah. Kita berdua tidak berada di sampan yang sama lagi, Nath. Lebih baik saling pisah, jika itu membuat ceria. Ketimbang bersama, tapi saling terpaksa. Raut wajah Nathan langsung berubah. Yang tadinya merah mudah, kini merah menyala. Hatinya pun juga berubah, yang tadinya berbunga, eh malah jadi gugur bunga. Suasana duka semakin terlihat, kala pupilnya mengedut. Bibirmya sudah kelu, hingga dirimya susah payah untuk melontarkan sepatah kata. "Yaudah, gapapa. Kita udahan aja. Kita masih mudah. Masih banyak perjalanan menunggu di depan." Sok bijak. Itulah yang terbesit dalam kepalanya. Tapi, apa boleh buat. Bagi Nathan, hanya kalimat itu yang pantas untuk ia katakan, untuk memutuskan hubungan yang sangat sehat ini. Jelas saja. Mereka berpisah bukan adanya masalah yanh berat, ataupun kesalagan besar sama sekali. Mereka hanya berpisah, karena merasa mereka sudah tidak bisa memberikan dampak positif satu sama lain. Baik Natham untuk dirinya sendiri, atau kekasihnya. Nathan pun juga merasa begitu, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mengindahkan kata pisah dari pacarnya. Amora. Gadis asli San Fransisco, yang merupakan salah satu waniya most wanted di kampusnya.. Memiliki warna kulit eksotis, serta rambut ikal yang membuat para lelaki ingin membelai indah. Tidak hanya parasnya yang sempurna, tapi, sifatnta juga sempurna. Bagaikan bidadari yang turun dari surga. Amora satu-satunya mahasiswi fakultas Desain Grafis, yang tergabung dalam acara penggalangan dana terbesar di kotanya. Membuat dirinya mempunyai banyak julukan penolong sesama. Tapi, se sempurnanya manusia. Ada juga cacatnya. Begitupun Amora. Nathan tidak mau membicarakkan semua itu, yang langsung mengalihkan topik pembicaraannya. Membuat seisi ruangan kecewa. Begitu juga Roman, yang langsung mengaduh. "Lo cerita setengah-setengah, Nath! Lengkapin kek, kali aja gua bisa jadi pengganti lo di hati Amora." Roman tetaplah Roman, yang akan selalu nyeleneh tidak tahu tempat. Tidak melihat temannya yang sedang patah hati, semakin tersakiti. Untungnya Nathan bukan tipe orang yang mudah terdistrack, ataupun memasukkan omongan orang ke dalam hati. Bukan Nathan sekali, dan inilah tipe Nathan yanh sebenarnya. To the point, tanpa basa-basi. Ia langsung mengintimidasi menggunakan kata-kata yang bisa menusuk langsung Roman. "Beuhhhhh kalah cabe rawit sama omongan lo, Nath." Kata Roman, sembari mempraktekkan diri layaknya ada pedang yang tertancap pada dadanya. "Alay lo!" Dengan sangat mudah dan gamblang. Garry menempeleng kepala Roman. "Udah, ayo berangkat. Katanya mau ke hiking." Untung saja ada sosok Garry berada dalam circle orang pelupa. Membuat mereka semua langsung menyudahi colongannya itu. Nathan mengusap matanya yang hampir membuat air terjun, saat bercerita kembali tentang Amora. Tapi, untungnya tidak. Dirinya masih punya urat malu yang akan selalu ia jaga sampai kapanpun. Apa kata dunia, jika tadi Nathan menangis. Bukannya dikasihani, malah diejek habis-habisan oleh semua predator di depannya. Erghg, sangat mengerikan. Sampai lupa, menjelaskan. Hari ini tim Nathan dishuffle dengan tim Fiola. Freddy yang menyuruh itu semua. Karena, dirinya ingin membuat program baru yang bertemakan 30 hari bercerita. Program yang akan membuat para talent beserta kru membahas hal apapun yang dipastikan akan mengeratkan hubungan mereka. Maka itulah, Freddy mengshuffle tim Nathan dan Fiola. Menyamakan gender mereka, agar tidak ada kecanggungan yang sangat terasa. Membiarkan mereka semua hidup berdampingan. Pasti membosankan si, tapi, apa boleh buat. Semua ide ini adalah permintaan para penonton, yang penasaran untuk melihat bagaimana jadinya, jika para lelaki berkumpul jadi satu. Apakah yang mereka bahas? Jika para gadis berkumpul jadi satu kan, sudah bisa dipastikan akan membahas orang lain. Sangat pasti. Jadi, oleh sebab itulah Fredy hanya membuat program ini untuk tim Nathan. "Hehhh... " Garry selaku sopir hari ini tercengang, "Mobil kita mana?" Tanyanya, karena tidak melihat mini bus seperti janji Freddy semalam. Ia langsunh memerintah Roman, untuk menghubungi Freddy. Padahal, Roman sedang susah payah dengan bawaannya di tangan. Namun, apa boleh buat. Tugas Roman selaku human agensi, yang membuatnya harus siap sedia. "Udah belom, Man?" "Sabar anjengggg!" Pekik Roman, "Gak liat apa gua lagi nelpon! Belom gehh ngomong 'halo'." Suara keras nan menggelegar, membuat Garry tersentak. Ia langsung menoleh ke belakang, untuk melihat apa benar yang dikatan oleh Roman. Bukannya memastikan, eh, Garry malah memejamkan matanya. "Gak liat lah! Gua kan merem." Astaga! Menjengkelkan sekali. Rasanya ingin sekali melempar tenda berat ini pada wajah Garry, agar bisa menuntaskan rasa kesalnya. Namun, untung saja ada sosok yang menyelamatkam Garry atas perlakuan Roman. Sementara para lelaki sedang kesulitan, dan membicarakkan kendaraan mereka yang tak kunjung datang. Kali ini keadaan bertolak belakang dengan para gadis yang sedang bergelimang harta. Program yang baru saja diberitahukan oleh Freddy, membuat tim GFiola bersorak kegirangan. Bagaimana tidak? Mereka semua diberikan kartu kredit tanpa limit untuk memenuhi gairah belanja mereka semua. Karena, program kali ini yang bertemakan 24 hours spend my Boss money. Tentu saja, jika bukan permintaan dari para penonton Freddy tidak mau membuang-buang uang agensinya untuk satu hari syuting konten. Ergggg, wasting money~ Mungkin, para penonton penasaran dengan kehidupan para talent wanita agensi Freddy, yang telihat sangat kalem dalam video. Tidak banyak permintaan dalam video. Terkesan sangat damai, dan patuh akan SOP syuting. "Wehhh, mau belanja apa nih kita???" Fiola bersorak. Ddrrrttt-ddrtttt' "Bentar..." Imbuhnya saat Sofia mengambil ancang-ancang untuk bicara. Pasalnya, ponsel di saku celananya bergetar. Dan, Fiola adalah orang yang tidak biasa mengacuhkan notifikasi ponselnya. "Hallo?" "Weh, Fi. Bales chat gua dong. Sombong banget si lo." "Apaa si lo, Man. Gua lagi mau syuting. Ntar aja chat lo mah." Cepat sekali, ia langsung menyudahi panggilan dari Roman. Selepas itu, ia mengecek room chat untuk melihat chat apa yang dikirimkan oleh Roman, hingga menelfon. "Apasi...." Desis Fiola, saat melohat satu buble chat. Roman hanya mengirimkam emotikon stitch yang sedang menghelembungkam hati. Maksutnya apa.... Roman ingin berterimakasih pada Fiola atau apa. Aneh sekali tingkahnya. "Fii, udah siap belom? Kamera gua udah stand by." Pekik Dita, si juru kamera kebanggan Nathan. "Okeee-okeeee, take-take. Ambil posisi semuanya." ** Vancouver, 9 pm Ody pulang dengan raut wajah gembiranya. Ia langsung memutar handle pintu dengan sangat antusias. Tujuan pertamanya adalah untuk mengejutkan sang ayang, atas kepulangannnya yang mendadak. Tapi.... Sesaat pintu terbuka, dirinya yang dikejutkan oleh sosok di yang berdiri di depannya sekarang. "Anda siapa?" Ody terbelalak, megucap kata pertama yang terlintas di kepala. Sosok wanita berambuy pirang bibir yang merah menyala, membuat first impression dipenuhi dengan ketakutan. Apalagi, wanita itu hanya diam dengan tangan yang ia lipat di d**a. Ody mengacuhkan wanita itu, dan langsung mencari sosok kesayangannya. "Pah... " Ody memanggil Yohannes dari ruang depan hingga kamar sang ayah. Tok tok tok' Ia tidak melupakan manner sebelum memasuki kamar orang tuanya. Ody membuka pintu kamar papahnya, dan kembali dikejutkan dengan penampakan Yohannes yang sedang memilah barang-barang yang berharganya. Mulai dari perhiasan, laptop, hingga sepatu limited edution. Semuanya dimasukkan ke satu kardus yang bertuliskan "Jaminan" "Maksut semuanya apa? Siapa wanita itu? Dan ada apa denganmu? Barang-barang ini berharga. Papah sendiri yang bilang." Pekik Ody, dengan tangan yang mengeluarkan kembali semua barang-barang tadi. "Ohh sweety pie... So sorry, tidak bisa menyambuu pulang." Masih sempat saja, Yohannes mengatakkan semua itu, padahal ada banyak pertanyaan berderet menunggu jawaban darinya. "Odeth.. Papah mohon, kembalikkan barang-barang tadi dalam kardus ini." Suara lembit Yohannes sangat sopab memasuki indera pendengaran Ody, hingga membuat air matanya terasa akan jatuh. Suara lembutnya tidak bisa dikatakan lembut dalam arti yang sebenarnya. Suara itu lebih condong pada suara dari orang yang sudah putus asa. "Akan aku taruh ke temat semula. Asalkan, papah mau cerita apa yang terjadi sebenarnya." Jelas Ody, tanpa mengalihkan pandan ke Yohannes. "Aku perlu tau semuanya, pah." Sambungnya. Sekaligus, menyelesaikan ucapannya. Rasa lelah dari penerbangan selama 2 jam mendadak hilang, dan tergantikan oleh rasa marah yang belum jelas alasannya. "Ada apa sih sebenarnya? Papah beluk jawab pertanyaan aku." Kali ini rasa marah Ody mengambil alih dirinya. Hingga tanpa sadar ia sudah meninggikkan suaranya. "Odyy..." Mendadak, Ody langsuk duduk di lantaii kala Yohanes memanggil namanya panggilannya. Jika Yohannes sudah begitu, maka Ody hanya bisa diam dan menunggu. Pasalnya, "Ody" Adalah kode merah dari Yohannes, untuk memperingatinya. "Tolong jelaskan padaku, pah." Lirih Ody, yang masih memohon agar Yohannea menjelaskam semuanya. Kali ini, air matanya sudah tidak bisa oa tahan. Hatinyapun ikut sesak, saat mendengar dengusa nafas berat dari Yohaness. Ody merasa permasalahan kali ini sangat besar, perasaannya sudah tidak enak. Apalagi, ditambah tingkah Yohannes yang semakin memperkeruh suasana. Sekitar 1 jam, Ody berada di kamar Yohannes, dan memaksa wanita asing tersebut menunggu di ruang depan. Sambil menunggu anak dan ayah datang menemuinya, wanita itu menunjuk beberapa barang yang masih mempunyai value besar bagi dirinya. Mulai dari jam antik di pojok ruangan, lukisan langit malam, hingga sofa buatan desainer Italia. Semuanya sudah tergambar jelas pada fikirannya. Semua itu akan memberikan pundi-pundi baginya dengan nominal yang cukup besar. "Miss or Mrs?" Kata Ody, yang sudah keluar dari kamar Yohannes. Mata bengkak, hidung merah, dan rambut yang sudah berantakkan. Kacau sekali penampilannya, membuat wanita asing tadi terkejut. "Hubby. Jangan pakai sebutan di depan." Balas wanita tersebut, diikuti langsung oleh anggukan kepala Ody. "Oke, Hubby. Semua hutang ayah saya tolong alihkan atas nama saya sendiri. Dan, tolong, anda jangan pernah lagi menginjak rumah ini." Seru Ody, seraya duduk pada sofa yang masuk ke dalam hitungan Hubby tadi. Ia tertawa mendengat ucapan seorang gadis belia, yang katanya mau melunaskan hutang sebesar 1.000 dollar. Tawa Hubby sudah tak bisa tertahan lagi, akibat celotehan Ody tadi, "Apakah anda serius?" Ody sudah cukup menahan geramnya pada Hubby, "Anda membawa dokumen total hutang ayah saya kan? Tolong berikan!" Seru Ody, dengan tangan kanan melepas benda yang melingkar di pada pergelangan kakinya. "Tentu saja saya bawa! Ayahmu lah yany tidak membawa janjinya! Sudah sekitar satu bulan lamanya!" "STOP! SAYA BILANG SAYA YANG AKAN MELUNASKAN SEMUANYA!" "HARUSNYA ANDA DATANG SATU BULAN LALU! BUKAN SEKARANG." Bagaikan konser metal yang bisa didenvar langsung oleh Yohannes dari dalam kamar. Ingin sekali, dirinya menghentikan laju putrinya yang sedang berhadapan langsung dari lintah darat di depan sana. Tapi, apa boleh buat. Ia harus menepati janji pada Ody, untuk mencegah kemurkaan Ody yang bertambah duankli lipat, jika Yohannes keluar dari kamar. Dirinya hanya bisa menunggu hingga kondisi di luat benar-benar stabil. Yohannes merebahkan tubuh ke rajang tidurnya, karena rasa lelahnya yang semakin mengambil alih kesadarannya. ***word1*** "Tolong tepati janji anda! Saya permisi." Akhirnya Hubby keluar dari kediaman Yohannes, dan langsung membuat Ody tenang untuk sejenak. Ia menjatuhkan diri di sofa, dengan tangan yang memijay pelipis. Tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk melunaskan hutang ayahnya. Seribu dollar, nominal yang sangat besar untuk mahasiswi semacam dirinya. "Apa aku pinjem sama Diffa aja ya?" Fikirnya. Langsung merogoh ponsel dari dalam saku, dan bersiap untuk menelfon Diffa. Ody berfikir, jika, Diffa bisa membantunya. Karena, hanya dia yang masuk dalam kategori peminjam uang nomor 1. Dari segi ekonomi keluarganya yang sangat mapan lah, membuat Ody memutuskan berfikir seperti itu. Akan tetapi, Odu merasa jika hal yanh akan dilakukannya ini hanya sia-sia... Masaa melunaskan hutang, dengan cara berhutang juga. Sudahlah, option itu tidak lagi terpakai. Lebih baik Ody mengabarkan Freddy. Meminta izin, sekaligus mengatakam kondisinya sekarang. Yang kemungkinan, Ody tidak bisa ikut syuting dua bulan mendatang. Karena, dirinya akan bekerja keras di sini, dengan pekerjaan apapun. Ia juga berencana untuk menggelar garage sale dengan pakaian dan tas yang sudah tidak dipakai olehnya. Lumayan, pakaia serta tas Ody keluaran brand ternama, sehingga membuat value dari beberapa barang tersebut masih berharga. Untungnya, Ody mempunyai atasan yang sangat pengertian... Freddy langsung mengiyakan semua perkataan Ody, dan memberinya semangat. ***words2*** Bahkan, Freddy juga menyebutkan jima dirinya akan berkunjung ke Vancouver untuk menemui Ody. Menjemput, lebih tepatnya. Hehehe. Balik lagi pada tim Fiola yang sudah siap di depan kamera. "Jadi... Kita hari ini mau ngabisin duit bos Freddy untuk apa nih, gaisss?" Ivanna menoleh pada Fiola, dengan senyum yang merekah, "Duh gua gak sabar mau ngabisin tuh orang..." Sofia serta Diffa dan para kru yang ikut masuk dalam frame dengan kompak mengacungkan ibu jarinya. "Yaudah, satu-satu deh. Kesan dan pesan buat orang yang ngasih duit ke kita." Kata Fiola selaku talent utama dalam videp tersebut.... Mereka semua menyilahkan pada satu orang yang dianggap paling gahar untuk memberikam kata mutiara. Agar pesannya tersampaika dengan sangat jelas. Kapan lagi mereka bisa semena-mena begini denga Freddy. Diffa selaku orang yang mendapatkan kesempatan, langsung menarik nafas sebelum mengutakan semuanya. "Tunggu kita di sana ya... Babay!!!!" "Okeyy... Bungkuss!!!!" Teriak juru kamera, yang sudah lebih dulu keluar dari frame. Langsung saja, dengab cekatan tim Fiola salinh bahu membahu untuk merapihkan semuanya. Karena, selepas ini dua jam lagi ada jadwal penerbangan yanh menumggu mereka. "Ooya, Fii! Lo jangan lupa kabarin anak-anak cowo. Kita dateng jemput mereka." Pekik Ivanna. Hanya dibalas acunga jempol belaka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN