#Daily 2

2191 Kata
Seharusnya malam ini waktunya untuk bertukar cerita tentang semua keresahann—tapi, kenyataannya malah keresahan itu kian bertambah hingga skincare Ody tergantikan. Oleh; airmata. Yang katanya, lebih ampuh dibanding perawatan wajah manapun. Entah, itu benar atau tidak. Orang Ody juga melihatnya kala berselacar di twitter tempo lalu. "Oddeth..." Panggil Yohanes, yang sedari tadi melihat punggung putrinya dari belakang. Ody yang merasa teroanggil tidak buru-buru menengok. Karena, masih ada aktivitas lain yang harus ia kerjakan. "Kenapa, Pah?" Ody menyahuti, tanpa menoleh. Membuag Yohanen semakin merasa bersalah. Harusnya, saat ini mereka saling berady tatap, bukan beradu punggung begini. Tapi, keadaan lah yang sudah tidak bisa dibenarkan lagi. Ibarat nasu yang sufah jadi bubur, "Kau yakin mau ke sana?" DEG! Dia mengetahui dari mana? Perasaan, Ody belum membicarakan kepergiannya ini. Batin Ody berkecamuk, seakan memaksa otak untyk mencari folder ingatannya. Tapi, nihil. Folder ingatan itu tidak ada. Jantung Ody terasa berpindah posisi, dadanya sesak entah apa alasannya. Tapi, yang jelas. Kini, Ody harus menjelaskan tentang kepergiannya. Perlahan-lahan, Ody menyimpulkan senyum serta menoleh pada Yohannes. Hatinya sudah siap untuk meminta izin perjalanan panjangnya kini, "Ody mau berusaha, Pah. Satu-satunyakeluarga Ody ada di sana." Ujarnya. Yohannes menatap Ody dengan nanar, menampilka semua raut menyesal tiada tara, hingga memaksa pupilnya bekerja lebih keras. "Tapi, kau tidak perlu untuk melakukan itu semua. Biar papah yang berangkat." Desak Yohannes. Tapi, Ody yang semakin kuat hati langsung menghampiri pria yang hampir berusia setengah abad itu. "Oddeth gak mau. Kalo, papah yang kesana, pasti akan di hina." Ia menundukakan kepalanya. Menggigit bawah bibirnya, dengan emosi yang tertahankan. "Oddeth, mamahmu tidak akan seperti itu." Mendengar balasan yang sangat naif seperti tadi, emosi Ody semakin merebak kemana-mana. Hinhha dirinya yang mulai teringat memori yang belum lama terjadi. **halaman belakang gedung perpustakaan** Kedua pria bertubuh tegap, besar, serta berpakaian serba hitam sudah menunggu Ody di depan mobil SUV bewarna hitam metalic. Awalnya Ody mengira kedua pria itu hanyalah seorang ajudan dari seorang mahasiswi yang mempunyai latar belakanb kelurga "orang penting" Di kota San Fransisco. Tapi, saat langkahnya semakin dekat demgan kedua orang tersebut, hatinya semakim resah. Gerak-geriknya seakan diperhatikam secara berlebihan, "Sorry?" "Kau siapa?" Sahut Ody. Dengan tatapan tajam yang berhasil ia pelajari dari Diffa. "Apa kau sedang menunggu seseorang, nona?" Salah seorang pria yang memakai kacamata bulat mengajukan pertanyan. Tapi, Ody tidak menjawabnya. Karena, apa? Karena, panik lah. Masa enggak~ Coba saja, jika, ada orang asing yang tiba-tiba mengajukan pertanyaan sama dengan kegiatan yang sedang dilakukan. Takutnya, ini adalah salah satu metode hipnotia terbaru yang sedang marak di pemberitaan ataupun majalah kampus. Untungnya, Ody mempunyai alibi yang sangat kuat untuk tidak menjawab pertanyaan tadi. earphone yang menggantung, adalah koentji. Semoga saja, itu memberikan jawaban pada pria tadi. Sampai akhirnya... Ada mobil SUV keluaran terbaru yang mungkin hanya diproduksi 2 mobil di kota ini. Membuat mata Ody terbelalak, hingga menguceknya beberapa kali. "Ody... Masuk!" Perintah wanita yang baru saja membuka kaca mobilnya. Ody menganga... Dirinya sangat mengatahui siapa sosok wanita tadi. Rambut bondol, kulit eksotis, serta kalung dengan liontin besar yang berasal dari batu safir yang super mahal. Dia Jorjia. Ibu kandungnya, yang setiap satu minggu sekali melakukan penerbangan selama 5 jam untuk menemui putri kesayangannya. Cih~ "Putri kesayangannya" dalam artian yang lebih realistis mungkin : penerus kerajaan bisnisnya yang diturunkan oleh mendiang suaminya yang belum lama meninggal dunia. Sebenarnya Ody bisa saja menerima tawaran itu semua. Toh juga semua itu adalah keuntungan yang sangay besar bagi Ody. Karena, dirinya tidak perlu lagi yang namanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Jika, dirinya mengiyakan semua tawaran itu. Maka, Ody sudah menjadi gadis dengan kekayaan yang sangat melimpah ruah, serta orang kedua yang memperoleh gelar "tajir melintir" setelah Freddy. Tapi, sayangnya Ody tidak mengindahkan semua itu. Dirinya lebih memilih untuk menjadi gadis yang biasa saja, yang masih mau berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. asal, kehidupannya bebas dari oengawasan ataupun konflik batin yang bisa memicu depresinya muncul kembali. "Langsumg saja! Aku tidak punya waktu banyak." Cetus Ody. Memejamkan kedua matanya, serta melipat kedua tangan. Ia terlalu muak untuk menatap ibu kandungnya sendiri. Karena, pasti pupilnya tidak akan kuat untuk menampung semua air mata. Sementara, Ody tidak mau menumpahkan semua itu. Jorjia tidak pantas untuk semua air matanya, setelah perkataan lantangnya. Yang menyebutkan : jika, Yohannes tidak akan mampu membesarkan Ody dengan berkecukupan. Padahal, Ody merasa semua sangat cukup. Malah, berlebihan. Tapi, kenapa Jorjia berkata seperti itu. Seakan dirinya yang paling tahu. Padahal, dirinya tidak tahu apa-apa. Membuat Ody muak, dan ingin mengulang waktu, agar dirinya yang dulu tidak pergi ke Toronto, jika, begini jadinya. "Seandainya saat itu aku menang melawan rasa rinduku untuk tidak menemui sosoknya bahkan hanya untuk sekali setelah kepergiannya yang mengejutkan, pasti sekarang ia tidak berani kembali hanya untuk membawaku pergi dari dunia yang sudah sangat nyaman untuk kutinggali tanpanya disisi." Dan juga, yang membuat batin Ody menolak keberadaannya yaitu, karena sikap Jorjia yang sangat ambisius untuk membuat Ody sempurna. Dari mulai perbuatan, hingga nilai perkuliahan. Dirinya, bahkan mempunyai password sistem akademik Ody agar mampu mengontrol setiap nilai yang diperoleh oleh Ody. Jika, kalian bingung bagaimana Jorjia mendapatkannya, bagaimana? Maka, jawabannya adalah uang. Uang bisa membeli itu semua, hingga wakil dekan fakultas seni Rupa saja bertekuk lutut. Karena, Jorjia merupakan salah satu sponsor besar yang selalu mendanai acara apapun. "Ini untukmu." Jorjia memberikan sati kotak kecil bewarna biru laut kesukkan Ody. "Apa?" Sahut Ody, menunduk pada kotak itu. Ia melepas pita yang mengikat kotak tersebut, lalu mengangkat penutupnya. "Ada mau apa lagi?" Celetuk Ody, bersamaan dengan pandangannya yang menatap kunci mobil di dalam kotak. Satu sisi, hati Ody bersorak gembira. Karena, jika, dilihat dari tampilannya. Itu adalah kunci mobil mewah yang mungki bertipe sama dengan mobil yang dinaikinya saat ini. Tapi, satu sisi juga hatinya beekecamuk dengan sangat arogan. Memikirkam pengorbanan apa lagi yang harus ia lakukan demi mendapatkan kunci mobil ini. Karena, Ody sudah mengenal baik siapa Jorji. Seorang wanita bisnis yang sangat pandai bernegosiasi serta merayu siapapun. "Tinggalkan—" Jorji belum sempat menyelesaikan ucapannya. Tapi, Ody langsung membuka pintu mobil untuk melarikan diri. Otaknya seakan mengerti fikiran Jorji saat ini. Maka dari itulah, ia lebih baik mearikan diri sebelum mendengar perkataan yang akan sangat membuatnya terluka. TAP Ody yanh kala itu mengenakan sepatu pantopel, menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh, menatap Jorjia yang sedang memincingkan kedua matanya. "Papahku lebih mahal ketimbang mobil rongsokan ini!" Cetusnya. Tak lupa juga, ia sedikit menendang body dari mobil mewah Jorjia, untuk memperlihatkan rasa kesalnya. Walaupum akhirnya, Ody merasaan ujung kakinya sedikit sakit. Tapi, masah bodoh! Yanh terpenting, ia harus terlihat keren saat menolak itu semua. Ody langsung meninggalkan Jorjia dengan mobil mewah yang tadinya akan diwariskan padanya. Langkah kakinya sangat mantap, seakan mengacuhkan fikirannya yang terus mengolok-olok dirinya. Mengatakan jika, dirinya sangat bodoh untuk menolak pemberikan satu buah mobil mevvah keluaran terbaru, yang padahal bisa membuat pamor kemahasiswaannya meningkat drastis. "Aarghhh, tidak-tidak! Papahku lebih beharga." "Tapi, papahmu tidak bisa dijual." Bisikkan setan seolah terdengar jelas di kuping Ody. Membuat langkahnya terhenti, "Benar juga. Coba saja, jika, mobilnya tadi aku ambil, trs, aku jual." Gumamnya. Saat ini Ody berfikir realistis, seperti Jorjia, yang silau akan harta. Sampai akhirnya, semua itu dipatahkan oleh nada dering khas yang ia setting untuk pria yang berada di urutan pertama dalam hidupnya. "Tidak mungkin aku akan memilih biji jagung, dan meninggalkam berlian." Batinnya. Menegaskan, jika, dirinya lebih memilih sang ayah, dengan keadaan cukup. Ketimbang, sang ibu dengan bergelimang harta. Balik lagi pada Ody dan Yohannes yang saat ini sedang beradu tatapan nanarnya. "Kau yakin?" Yohannes terus memastikkan putrinya. Ia mengetahui jika, Ody tidak akan mampu untuk menemui Jorjia. Apalagi, dalam keadaan hancur begini. Bisa-bisa, Ody akan ditertawakan olehnya. Siapa juga yang tidaj kan tertawa, jika, mengetahui orang yang selama ini menolak pemberian akan datang untuk meminta pertolongan. Yohannes menghela nafas beratnya, "Pah..." Ody menggenggam erat tangan Yohannes. "Oddetj mampu. Aku udah bukan anak kecil lagi. Aku bisa mengetahui peluang yang tepat, dan cara yang tepat juga." Jelas Ody. "Tapi, jika, dia (Jorjia) memintamu gimana?" Lirih Yohannes. Ody menggeleng pasti, walaupun hatinya merajuk. Sebisa mungkin, dan bagaimanapun caranya Ody harus kembali lagi ke Vancouver dengan pesawat besok siang. Dirinya juga tidak mau berlama-lama di Toronto. Untuk apa juga. Tidak, ada pemandangan indah di sana. Dan, tidak ada juga pemandangan atau pengalaman indah yang akan dibuat di sana. Drrrttt-drrrtt-drrrttt Ody menatap ponsel yang berada tidak jauh darinya. Ia melihar alarm yang satu jam lalu ia buat, untum me reminder dirinya sendiri, "Pah... Flight ku dua jam lagi. Aku pamit sekarang, ya..." Ody tersenyum. Agar Yohannes bisa melepasnya dengan penuh keyakinan. Sesugguhnya Yohannes tidak mau melepaskan Ody untuk teebang selama 5 jam ke Toronto. Tapi, apa daya tangan tak sampai. Kali ini, hanya Odylah harapan ia satu-satunya. Yohannes membutuhkan uluran tangan Jorjia melaluo Ody, untuk menghidupi kembali pabrik sirup maplenya. Agar Yohannes bisa melunaskan semua hutang pada lintah darat. Dan, membiarkan Ody kembali ke San Fransisco dengan perasaan nyaman seperto sedia kala. Yaa... Walaupun Yohannes tau, semua itu tidak mungkin. Apalagi, Ody sudah membulatkan tekad untuk tinggal di sini selama satu bulan, karena, ingin membantunya di pabrik. Yohannes yang tidak bisa menek itj semua, karena, jika Ody sudah berkata sedemikian rupa, maka hal itu haruslah terjadi. Tidak boleh tidak, atau dibantah. Ody menggendong tas jasport lawasnya, "Aku pamit ya, pah. See you tommorrow." Ia melambaikan tangan pada Yohannes sebelum menutup pintu utama. Yohannespun ikut melambaikan tangan, tersenyum pada putri kecilnya yang kini menjadi ujung tombak kelanjutan hidupnya. "Jika ada jalan apapun selain membiarkan putri kesayanganku menjadi tameng atas kesalahan yang kuperbuat, pasti sudah kupertaruhkan segalanya, selama ia tidak harus kehilangan harga dirinya demi membantuku didepan perempuan yang sudah sejak lama tidak ia panggil “ibu”. Ia menatap punggung Ody yang semakin menjauh, dan menutup pintu rumahnya. Yohannes menjatuhkan diri pada sofa di depan televisi. Meluruskan kaki yang terasa sangat pegal, serta membuang nafas yang sangat berat. "Andai saja tidak begini---begituuu" "Ah sudahlah. Tidak boeh mengatakan itu semua." Batinnya berkecamuk, antara ingin mengeluh atau tetap kuat. Tok tok tok' Yohannes mengangkat sebelah alisnya. Karena, merasa tidak menunggu tamu siapapun. Jikalau orang yang mengetuk tadi adalah Ody, rasanya tidak mungkin. Karena, dirinya melihat sendiri Ody yang telah menaikki uber yang akan mengantarnya ke bandara. Bukannya membukakan pintu utama, Yohannes malah kembali ke altivitas sebelumnya. Ditambah dengan tangan yang meraih remote tv di atas nakas, "Ody! Buka! Kalo gak buka, dijadiin pacar sama Garry!" Teriakkan tadi, membuat Yohannes berlari kecil ke arah pintu utama. "HAH" Yohannes sangat terkejut dengan pandangannya saat ini. Ada segerombolan pasukan yang terdiri dari banyak orang, dengan raut wajah yang terlihat sangat letih. Belum, dengan tas gendong yang setia pada punggumg mereka. "Siapa? Mau cari siapa?" Yohannes gelapan. "Anu... Anuuu, mau cari anu.." Guntur yang berada tepat di hadapan Yohannes pun tidak kalah gelagapan. Pasalahnya, orang yang berdiri di hadaoannya saat ini bukanlah orang yang ia cari. Dan, rasa bersalah pun seketika menyelimuti dirinya. Guntur yang tadi teriak menggunakan kalimat non formal, merasa takut. Ptakkk! Freddy menepak keras punggung Guntur, dan langsung mengambil alih posisinya. "Maaf om, jika, membuat terkejut begini. Dan, mungkin menimbulkan kesan pertama yang tidak baik." Freddy membungkukkan tubuhnya. Dan langsung diikuti dengan yang lainnya. Walaupun, mereka sudah sangat letik untuk sekedar bungkuk. Bahkan, Garry, Roman dan Ivanna sudah duduk di lantai karena rasa letih setelah penerbangan panjang. "Hmmm, tidak buruk. Saya, hanya terkejut dan tidak tahu, anda-anda siapa." Ujar Yohannes, seraya menepuk punggung Freddy untuk menyudahi bungkuknya. Freddy yang tidak tahu akan berkata mulai dari mana, hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Berharap jika, otaknya kali ini akan cepat memberikannya perintah. Tapi, sepersekian detik otak Freddu dikalahkan oleh lengkingan Diffa yang sudah menganggkat tangannya. "Odynya mana, Om? Ini Diffa. Kita mau ngajak Ody balik." Bukannya malah membaik, Yohannes semakin terkejut. Ternyata, selama ini Diffa yang ada dalam cerita Ody benar-benar sedemikian rupanya. Malah, saat ini semakin bertambah saja. Apa mungkin karena, dirinya yang hanya memakai ripped jeans, serta kaos oversizenya. Sehingga membuat Yohannes sedikit bergidik ngeri, "Om..." Kali ini Yohannes teralihkam atas panggilan dari laki-laki yang sedang berjongkok. "Kenapa, nak?" Tanyanya, yang langsumg disambar dengan kecepatan cahaya. "Kita boleh masuk dulu gak? Vancouver ternyata banyak nyamuk juga ya, sama kaya di Bekasi." Celoteh Guntur, yang langsung dibalas dengan keplakan pada palanya. "Hah? Bekasi?" Yohannes semakin dibuay bingung di depan pintu. Permasalahan gerombolan ini siapa, gaya Diffa, hingga Bekasi pun memenuhi otaknya sekaligus. Tapi, dirinya lebih memilih untuk mengindahkan laki-laki si Bekasi (Guntur) dan meminta mereka semua untuk masuk ke dalam rumahnya. Sekitar 10 orang lebih yang sudah masuk ke dalam rumagnya, Yohannes melihat ada seorang laki-laki yang malah menatap halaman rumahnya. Ia menghampiri laki-laki tersebut, dan menepuk bahunya pelan. "Masuk, nak. Di sini memang banyak nyamuk kaya di Bekasi." Mendengar ucapan tadi, mata Garry langsung melototot. Batinnya terheran, menerka semua ucapannya. 'Ini om-om kaya tau Bekasi kaya ap aja.' Kikihnya dalam hati. Namun, belum sempat membalas godaan Yohannes, Garry langsung terbakar api emosi akibat teriakan dari Roman. "Anjir lu ya! Camer-camer. Pacaran aja belom! Gua lempar pake duit lo!" Pekik Garry, yang langsung disudahi oleh senyuman canggung di depan Yohannes. "Masuk dulu ya, Om..." Garry berjalan pelan memasuki kediaman Yohannes.. Tapi, sang empu rumah masih bingung dengan keadaan sekarang. Fikirannya belum siap atas bom bardir yanh dilakukan segerombolan orang yang mengaku teman dari anaknya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN