Dasar si cantik, bisa aja membuat keadaan jadi kacau begini.
Tampilan yang super suram, serta kantung mata yang tergambar sangat jelas akan terlihat di hadapan calon mertua.
"Arrrggg!" Garry mengacak rambutnya sendiri.
Tatapannya lurus ke halaman yang ia sendiri tidak tahu dipenuhi oleh apa.
Orang gelap gulita, trus ditambah dengan matanya yang buram akibat kacamatanya tertinggal.
DEG!
'Tangan saha eta... Jangan, bilang ini tangan camer gua? Astaga! Camer! Gua nembak aja belom berani.' Batin Garry gusar.
Memikirkan tangan yang menepuk pundaknya sekarang, "Masuk, nak. Di sini banyak nyamuk kaya di Bekasi."
'Alama jang, dia manggil gua "nak" udah officially apa nih gua jadi anaknya.' Batinnya terus meracau.
Biasa, lagi self talking mungkin si Garry.
Kebiasaan kalo dia lagi panik, ya begini. Sampai akhirnya, "Iya, pah. Eh, Om. Nanti saya masuk, mau cari signal dulu."
'What! Signal. Ponsel gua aja modar.' Batin serta bibirnya tidak singkron. Kemana sih, sang otak Garry. Sedang mengambil cuti kali ya. Hm.
Garry membalikkam tubuhnya, berniat untuk menyudahi semuanya dan menenangkan diri ke dalam sana.
Tapi, rasanya tidak mungkin.
Apalagi, telinganya yang sangat peka mendengar helaan nafas berat keluar dari mulut Yohannes.
"Kamu oranh asing ya?" Tanya Yohannes.
Garry menoleh dan menjawab iya, membiarkam Yohannes berbasa-basi dengannya lebih dulu.
Sebelum akhirnya, mungkin mampu bercerita lebih jauh.
Lho, apa maksutnya.
Tidak-tidak. Kejauha fikiran Garry.. Tapi, you know laaa, pasti Yohannea juga mau mengeluarkan unek-uneknya.
Dan itu, membutuhkan orang lain. Tidak mungkin meracau sendiri. Nanti, bisa dicemooh kurang akal setengah ons.
Astaga!
Garry jadi kenapa sih?! Semenjak satu tim dengan Guntur otaknya ikutan somplak. Sifat es batunya yang dulu semaki terkikis, membuat dirinya sendiripun bingung.
Tapi, untungnya, Garry bisa mengembalikkan dirinya ke semula demi mendapatkan penilaian sempurna di hadapan Yohannes.
"Its ok, Om. Kalau khawatir aama Ody mah itu naluri. Tapi, selagi om percaya kalo Ody mampu, ya pasti dia bisa kok." Ujar Garry, dengan tatapan yang kembali menatap lurus halaman depan.
Yohannes ingin membalas semua perkataan tadi, tapi, ada teriakan dari orang di dalam rumah yang membuatnya tidak jadi.
Apalagi, saat mendengar Garry mengucapkan kata "camer"
Yohannes semakin mengurungkan niatnya, karena, ia lebih baik memikirkan arti dari camer.
Agar, dirimya tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Maklum, Yohannes bukan anak muda lagi yang semakin mengerti bahasa slang slang seperti tadi.
Melihat Yohannes yang masih berdiri, Garry langsung saja melenggang masuk ke dalam rumah. Daripada si cocot Ran semakin menjadi-jadi, dan takutnta Yohannes mengetahui jika, anak gadisnya sedang diincar oleh dirinya.
"b******n ya si Roman! Bisa-bisanya ngomonh begitu." Gerutu Garry, menjatuhkan b****g pada karpet yang baru digelar oleh Sofia.
"Kan biar deket sama om, Garr. Gimana si lo. Kalo mau deketin anaknya ya deketim dulu orang tua nya." Kali ini Fiola yang sudah masuk ke dalam kantung tidurnya ikut menimbrung permbicaraan.
"Ape lagi ni anak. Tidurlu tidur"
"Ciaelah salting si mas Garry."
Saat Fiola mengatakan itu, semua orang sontak menatap wajah Garry dengan tatapan aneh, "APANSI HEYYY, astagaaa!" Pekik Garry. Menutupi wajahnya sendiri dengan kaos yang ia naikkan.
Astaga, kaos polo dengan harga yang lumayan ia reganggan begitu aja. Dasar anak durhaka, yang belum tau asam garam mencari cuan.
Itulah contoh omelan yang akan diterima oleh Garry, jika sang bunda menyaksikan langsung perbuatannya.
"Astaga!"
Yohannes terkenut untuk sekian kalinya. Karena, melihat ruang tamunya yang kini disulap sebagai sanggarloka dadakan.
Tapi, sanggarloka low budget.
Kalo kata si Guntur, kaya rumah nenek kalo kita pulanh ke kampung.
Karpet yang digelar lebar di depan televisi, serta para cucuk yang berjejer layaknya ikan cuek di pasar.
Itulah sekiranya yang dapat menggambarkan kondisi ruang tamu Yohannes sekarang.
"Kalau mau tidur di kamar Ody atau kamar tamu juga gak apa-apa kok." Yohannes mempersilahkan.
Dirinya juga tidak tega melihat para anak muda yang tidur menhhampar seperti ini.
Apalagi suhu Vancouver saat ini yang sudah mau mendekati musim dingin semakin membuat menengangkan.
Yohannes tidak mau jika, para tamu sekaligus semua teman dari putrinya terserang flu berat, yang pasti akan menghambat semua urusan mereka.
"Gapapa, Om. Kitamah di sini aja. Yang cewek baru pada di kamar." Sahut Freddy.
"Ohh berarti dia bukan cewek ya?" Yohannes menunjul Fiola yang sedang menatapnya juga.
"Aaa, saya cewek, om. Tapi, mau nontong premier leaque dulu. Trus juga, gak enak di kamar. Biar temen-temennya Ody aja."
"Alahhh. Alesan aja lo, Fi. Bilang aja lo mau live i********: malem. Jadwal lu buat ngeceng kan hari gini."
"Yeuuu si doggy! Berisik banget! Gak liat sikon celetukkannya." Fiola langsung melpar kacang atom yang sedang ia cemili pada Nathan yang berada di belakangnya.
Melihat itu semua, entah kenapa hati Yohannes merasa sangat hangat.
Layaknya sedang berasa di lingkaran api unggun pada kemah musim panas.
Sudah lama sekali, rumah ini mati rasa karena, para penghuninya yang tidak peenah mengfungsikan dengan sebenarnya.
"Oiya... Om, kedatangan kita sekarang biar dijelasin pas Ody datang aja ya, om. Gapapa kan ya?" Imbuh Freddy. Dengan hati yang aedikit gusar karena, takut jika ucapannya akan menyinggung hati Yohannes.
Tapi, satu sisi. Freddy juga tidak mau menjadi tamu yang kuranh ajar, yang bertamu tidak membicarakan kebutuhannya lebih dulu.
Yaa, walaupun Yohannes selaku tuan rumah sudah menyilahkan mereka, tanpa embel-embel memberikan penjelasan kedatangan.
Karena, Yohannes menganggap kedatangan ini adalah suatu wujud peetemanan Ody yang semakin luas, dan keberanian Ody yang mungkin mengundang mereka untuk repot-repot datang ke Vancouver.
Padahal mah, CIHHH~
Ody bersin kala pesawat sudah mulai landing dari udara.
Mungkin akibat hidungnya yang sangat sensitig akan debu, menyebabkan itu semua.
Ody langsung memgambil tas dari kabinnya, dan melenggang ke luar pesawat.
"Welcome, Toronto! Kota yang gak pernah masuk list kampung halaman." Tegas Ody dalam hatinya.
Ia menuruni tangga, dengan alunan musik dari spotipay yang baru ia nyalakan.
"Ahhh" Sesampainya di bawah Ody mendengakkan kepalanya, menghirup udara di Toronto sekaligua menguatkan mentalnya.
Ia menatap jam tangan untuk melihat waktu di Vancouver sana. Karena, ia harus mengabari Yohannes yang pasti menunggu kabar darinya.
"Miss Ody? Sini saya bawakan barangnya."
"Astaga! Siapa kamu? Kembalikkan barang saya!" Ody yang terkenjut, langsung reflek menarik kembali tasnya dan menjauh dari seorang wanita yang berusia sekitar 30-tahunan.
Tapi, kenapa wanita itu semakin mendekatinya, seolah kenal dengan Ody.
Padahal, Ody merasa orang itu adalah seorang penumpang sama seperti halnya Ody.
"Ody! Kasih tas kamu! Anak mamah gak pantes bawa barang dengan tangannya sendiri." Seketika ada suara Jorjia menghantam gendang telinganya.
'Datanh darimana tu orang!' Batin Ody menggerutu.
"Dia orang yang mamah recruit untuk menjadi pelayanmu selaa sati hari. Sengaja mamah terbangkan juga dari Vancouver, agar bisa menjadi penggantu mata mamah mengawasimu."
"What the hell! You crazy, mah!" Pekik Ody, sambil menggendong tas nya sendiri.
Ia enggan memberikan tasnya pada wanita yang disebutkan tadi.
Karena, Ody merasa tasnya tidak eelalu berat dan masih bisa untuk ia nawa sendiri.
Kenapa Jorjia membuang-buang uang demi itu semua. Kebanyakkan uang apa hidupnya.
Maklum, namanya juga janda kembang Toronto yang tiba-tiba kaya. Jadinya begitu.
Ody memakai kacamata hitamnya, sebagai pengganti pejaman air mata. Karena, tidak mungkin dong kalau ia berjalan dengan mata tertutup.
Memangnya, Ody zombie. Hmmm.
Sesampainya di dalam mobil, Ody langsung terkejut saat mendapatkan bublee chat dari grup kerjaannya.
"Damn it! Ngapain ni orang pada ke rumah." Gumamnya.
Matanya terbelalak, karena, menyadari ada hal yang membuatnya bingung.
"Astaga! Ini rumah di Vancouver. Ngapain si mereka." Ody baru menyadari, saat melihat kembali foto yang dikirimkan oleh Nathan.
Ia langsung menelfon grup untuk meminta penjelasan, mengapa mereka bisa sampai ke Vancouver yang jaraknya sangat jauh dari San Fransisco.
Karena, seingat Ody mereka semua seharusnya melakukan syuting di salah satu bukit untuk konten satu bulan mendatang.
Tapi, kenapa mereka semua malah berada di rumahnya. Apa— jangan-jangan, semua ini adalah ulag Freddy yang membocorkan perizinan Ody tentang masalah keluarganya.
"s**t!"
Ody mengumpat untuk kesekian kalinya, ditambah lagi tidak ada satu orangpun yang menganggkat panggilannya.
Untung saja, Jorjia tadi keluar dari mobil untuk urusan yang tidak Ody tahu.
Jika, saat ini Jorjia melihat respon Ody saat ini. Bisa-bisa dirinya akan diinterogasi habis-habisan, dan Ody juga akan terpaksa untuk menjawabnya.
Dan, jika Jorjia mengetahui semua itu. Permasalahan bisa merambat kemanapun.
Erggghhh~ menyeramkan.
Klek'
Pintu mobil terbuka, dan Ody buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam slinbag.
"Aku mau makan, mah." Ujar Ody.
Dirimya merasa inilah waktunya untuk ia meminta waktunya lebih banyak, agar bisa menghubungi semua temannya di Vancouver.
"Yasudah makan di rumah saja! Mamah sudah menyewa chef--"
"Untuk?" Ody menyela perkataan Jorjia.
"Untuk kumpul keluarga. Kau juga harus kenal pada keluarha mamah." Ungkap Jorjia.
Mendengat ucapan itu, Ody langsung meruntukki perlakukan Jorjia tadi.
Ia menilai jika sang ibu tidak pernah memikirkan hati dari putrinya.
Jorjia tidak peenah mengerti jika, Ody takut untuk bertemu sanak keluarga dari pihak ibunya, yang selalu menilainya secara subjektif. Ody tidaj menyukai itu. Hatinya seakan teriris tipis, kala mendengar penilaian dari mereka yang menyebutkan jika, dirinya seakan kekuranga dalam hal wajah ataupun fikiran.
"Sejujurnya bukan perihal pertemuannya yang dihindari. Tapi, hanya saja mereka yang berlabel "keluarga" tidaj mengerti artinya menjaga perasaan di balik lisannya, yang mungkin bisa melukai hati."
Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya Ody tiba di salah satu gedung apartement pencakar langit di pusat kota Toronto.
"Kau mau unit di lantai berapa?"
Wohoooo~ ada maksut apa ini si Jorjia bertaya seperti itu Ody.
Padahal, Ody sedari tadi sudah menegaskan jika, dirinya tidak akan beelama-lama di kota ini.
Dirinya yang masih berstatus mahasiswi yang mempunyai segudang tugas serta pekerjaan sampingan, tidak bisa meninggalkan semua itu.
Tapi, kenapa Jorjoa masih bersikeras dengan keputusannya sendiri. Menyebutkan, jika, unit apartemen yang dipilih Ody nanti akan digunakan sebagai investasi jangka panjang.
Menjadi aset tetap pun juga bisa. Fikir Jorjia.
Memang sangat positif ya, tapi, kenapa semua fikitan positif itu tidak bisa dimengerti atau dibalas dengan sisi positif Ody, yang selama ini diagungkan oleh sekelilingnya.
"Jika sudah tertanam image negatif seseorang didalam fikiran, mau sebaik apapun ia kepadamu, tetap saja yang kau nilai hanyalah keburukan yang ada didalam niatnya."
"Yasudah, kalau begitu mamah saja yang pilih. Toh, juga nanti mamah yang memutar semua dananya. Bukan aku." Jelas Ody, kembali masuk ke dalam mobil.
Dirinya tidak kuat berlama-lama di bawah sinar matahari langsung kota Toronto. Apalagi, dirihya belum sempat me-reapply suncreen serta basic skincarenya.
Mandi saja belum... Bagaimana mau re-apply. Astaga, Ody.
Ia kembali memejamkan matanya, walaupun Jorjia mengoceh dekat jendela mobil. Ody terlalu lelah untuk mendengarkan.
Hati dan fikirannya sama sekali tidak singkron. Dirinya masih memikirkan semua temannya yang kini berasa di Vancouver sana.
Sedang apa mereka, bagaimana respoh Yohannes yang pasti terkejut bukan main.
Tapi, untung saja ada ketiga temannya yang ikut kesana. Semoga saja, mereka bisa mengurangi keterkejutan Yohannes akal semua hal yahg terjadi.
Ody membutuhkan penyegaran saat ini juga, oleh sebab itulah ia mengeluarkan ponsel dari slinbagnya.
Dengan tujuan untuk menyelam ke dunia twitter mencari humornya yang sangat receh.
Biasanya di twitter tempatnya, Ody bisa dibuat tertawa terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata kegembiraan.
Namun....
Belum ada dua menit ia membuka aplikasi tersebut, tapi, ia malah menutupnya kembali.
Menaruh ponselnya kedalam slinbag, diikuti dengan raut wajah yang sangat terkejut, seperti orang yang diperlihatkan sosok hantu.
"Apaansi lo, Dy. Gak usah alay deh." Gumamnya.
Ody mebgabik ponselnya kembali. Kali ini, untuk menegaskan penglihatannya tadi.
"Hai, Dy. Berharap lo baik-baik aja di Toronto ya!"
Ody membaca sau buah buble chat yang baru ia lihat pada pesan langsung twitternya.
Entah kenapa, setelah membaca oesan itu cuaca di Toronto langsung sejuk.
Matahari seolah bersembunyi sebentar, untuk mengalah pada dirinya.
"Iyaaa, makasih ya. Lo juga happu ya di Vancouver, meskipun gak ada gua" Ody menyelipkan emotikom ketawa di akhor kalimat.
Ibu jarinya bergerak ke ikon pesawat untuk mengirimkan pesan yang sudah ia ketik.
Namun, sesaat demikian. Otaknya memerintahkan untuk menekan tombol delete, setelah membaca ulang balasan tadi.
Ody tertegun. Merasa kalimat tadi sangatlah berlebihan, dan takut membuat orang itu salah paham.
Sang ibu jari yang menurut, langsung membersihkan huruf demi huruf, dan membuat otaknya kembali berfikir akan membalas apa.
"Thank you! Lo mau oleh-oleh apa dari sini."
"Ish! Apansi, Dy. Kok jadi ngawur. Ngapain nawarin oleh-oleh ke Garry." Tegasnya pada diri sendiri.
Ibu jarinya kembali menyapu bersih pesan tersebut, dan sang empu malah melemparkan ponsel pada samping kanannya.
"Udah deh. Gak jadi gua nyari hiburan. Hiburan gua adanya di sana. Mesti di susul pake pesawat." Lirih Ody, yang sudah menyandarkan diri oada sandaran jok penumpang.