Disini, tidak ada yang lebih baik dari kasur angin si penyelamat Ody. Karena, kasur inilah yang mampu membuat emosinya mereda.
Untung saja, lengannya sudah terbiasa untuk memompa sepeda. Jadi, untuk memompa kasur angin itu adalah perkara yang sanvat mudah.
"Ody, nginep kan ya?"
Pertanyaan dari seorang wanita berambut ikal dengan ules wajah yang sangat mirip dengan Jorjia.
Yaitu, Margareta. Kakak perempuan kandung dari Jorjia. Ody memanggilnya tidak memakai sebutan apa-apa. Melainkan hanya menyebut dengan nama.
Bukannya tidak sopan, tapi, itu semua karena ajaran Jorjia.
Ya, maklum saja lah.
Ody jugakan ketemu dengan keluarga pihak ibu sudah besar. Jadi, dirinya hanya menganggap semua orang itu sebagai strangers.
"Engga. Ody gak nginep. Siang ini pulang ke Vancouver." Sahut Ody.
Ia tidak memalingkan wajah dari si kasur angin, alih-alih untuk menatap Margareta menunjukkan rasa sopannya.
Ody merasa semua itu tidak perlu, toh juga Margerta telah menyinggung perasaannya beberapa menit yang lalu.
Sampai sekarang pertanyaan yang dilontarkan tadi masih teringat jelas dalam otaknya. Mulai dari intonasi suara, hingga diksi dengan maksut sarkastiknya seoranv Margareta. Yang merupakan eksekutif pada penerbit indie di kota Toronto.
"Ooo, mau bantu Yohannes ya? Memang kau tidak kuliah?" Margareta yang belum puas kembali melontarkan pertanyaan.
Sesaat Ody ingin menjawab semua itu, tiba-tiba gendang telinganya yang sangat peka mendengar gumaman kecil dari mulut Margareta.
"Tidak mampu kali ya untuk mengambil jurusan."
DEG!
WHAT THE HELL, MAM!
Mendengar gumaman tersebut, seketika Ody merubah raut wajah yang tadinya masih mau untuk tersenyum basa-basi menjadi raut wajah asam layaknya jeruk sunrise yang belum masak pohon.
"Puji tuhan. Perkuliahan lagi gak ada kelas. Kan sebentar lagi winter. Jadi, holiday." Sentak Ody.
Awalnya ia ingin memerkan pada Margareta jika, dirinya berkuliah di CCSF dan mengambil kelas internasional. Agar bisa menutup semua omong kosong belaka, dari para netizen sirik layaknya Margareta.
Tapi, untuk apa.
Memangnya, jika, Ody menjelaskan semua itu Margareta akan antusias mendengarkan?
Rasanya tidak, malah yang ada, semakin Ody menjelaskan, semakinjuga Margareta meninggikkan derajatnya yang terdengar sangat dibuat-buat.
Cih~ dasar manusia.
Terbuat daru tanah, tapi, masih saja bersifat langit.
Batin Ody meruntuki serta mencerca habis-habisan.
Kini, jika ada cermin di depannya. Mungkin, raut wajah Ody terlihat sangat bengis layaknya para senior yang sedang memberi pelajaran pada junuor di toilet lantai 7 yang terkenal sebagai tempat pembalasan dendam.
Selang 3 menit setelah Ody menegaskan bahwa dirinya kuliah, Margareta belum membuka suranya kembali.
Entah karena apa, mungkin sibuk bergosip dengan adik dari Jorjia, yang terlihat tidak nyaman.
Ody saja yang melihat bisa merasakan aura tidak nyaman dari Florena, anak bungsu keluaga Jorjia, sekaligus satu-satunya keluarg dari pihak Jorjia yang paling sangat netral.
Ody menyukai itu, karena, Florena terlihat tidak suka basa-basi, dan ceplas ceplos.
Jika, dirinya tidak suka ya dia akan berkata tidak suka. Bukannya malah menampilkan senyum terpaksa demi rasa kesopanan.
"Sudah deh! Ngapain nanya sama saya! Tanya saja sama orangnya langsung." Jelas Florena.
Membuat senyum Ody terlihat sekilas, karena, merasa semua terkaannya benar.
"Ody! Sini!"
"Hah?" Ody menunjuk dirinya sendiri dengan perasaan bingung.
"Iya sini!" Florena menegaskan, dengan ayunan tangan.
Ia menatap kedatangan Ody yang ia beri jukluka sebagai anak kecil yang tidak akan pernah beranjak besar.
Besar ya, bukan dewasa.
Kenapa dirimya menyebut Ody dengan sebutan itu? Kala, banyak orang di keluarganya yanh menginginkan Ody cepat besar dan membuat keputusan yang tepat.
Contohnya, memilih Jorjia sebagai wali resminya menggantikan Yohannes. Tapi, sayangnya Florena tidak begitu.
Ia justru malah bahagia mendapati kakaknya tidak menjadi wali resmi keponakaan tersayangnya itu.
Mau jadi apa Ody nanti, jika, Jorjia menjadi wali resminya.
Karena, Jorjia hanya pantas menyandang julukan sebagai ibu kandung, bukan, menyandang makna ibu kandung yanh sebenarnya.
Keputusan Florena sudah bulat, hingga mengalahkan buah di pipinya yang bagaikan bakso khas Indonesia, "Kenapa?" Ody bertanya dengan tatapan acuh.
Ia belum menyadari jika, Florena berada di pihaknya.
Yang Ody tahu ialah, semua keluarga dari ibunya sama saja. Tidak menganggapnya sebagai anggoya inti. Melainkan, hanya seonggok tubuh yang diberikan nyawa oleh sang pencipta demia menuntaskan kerajaan nama belakang keluarganya.
"Kapan nikah?"
Seutas pertanyaan tadi membuat Ody terperangah hebat. 'Astaga! Ni orang ngomong apaan si.' Batinnya berbisik.
Entah kenapa, pertanyaan tadi cukuo membuat jantungnya bedebar sangat cepat.
Ody merasa jika, pertanyaan ini adalah pertanyaan baru di antara banyaknya pertanyaan yang membuat otaknya penuh.
Lebih baik pertanyaan ini deh yang dijawab oleh Ody, ketimbang pertanyaan "Kapan pindah ke sini? (Toronto)"
Ody bosan mendengarnya, belum lagi jika, pertanyaan itu mempunyai segudang embel-embel di belakang yang menyebutkan : -enakan disini tau, Dy. Kamu bisa ngelakuin apa aja.
-Baju tinggal beli, cafe tinggal buka, mau apartemen? Tinggal tunjuk.
Cih~
Ody bedecih pelan dalam batinnya. Menjawab kedua kemungkinan yang juga bisa ia dapatkan di Vancouver ataupun San Fransisco.
Ody bisa membeli semua baju yang ia inginkan, tapi, untuk apa? Semua itu hanya pemborosan. Hari saja hanya ada 7 dalam seminggu. Ody memakai satu pakaian seharipun sangat memungkinkan. Ditambah lagi, ada benda yang bernama mesin cuci. Benda yang memudahkan semua manusia untuk mencuci pakaian sebelum dikenakan.
Jadi, untuk apa membeli baju banyak-banyak. Jika, baju formal ataupun baju pesta, Ody bisa mengiyakan. Tapi, apakah acara formal dan pesta dilakukan setiap hari? Tidak kan, jadi, beli beberapa bajupun sudah cukup.
Ody mencerca habis-habisan semua argumen tersebut. Hingga membuat senyum masamnya betah berlama-lama berada di raut wajahnya.
"Bercanda, Dy! Itu semacam kata ganti dari pertanyaan 'udah punya pacar belum nih' gitu" Florena terkikih dan langsung merevisi pertanyaannya.
Ia menunggu respon dari Ody, yang masih bingung untuk menjawabnya. Tapi, ponsel yang berada di atas pahanya berkata lain.
Satu direct message twitter tidak sengaja Florena lihat, kalau tidak salah itu daru username @guatopyglainbengbeng yang mengirimkan emotikon bunga layu serta bahakan ketawa.
Florena tidak mengerti semua itu, fikirannya mencoba mencerna baik-baik. Memecahkan kode layaknya detektif kelas kakap yang sedang menyelesaikam kasus kriminal.
"Ody fligt jamberapa?" Tiba-tiba ada suara lembut tapi terdengar tajam pada kupingnya. Membuat Ody menoleh seketika, "Jam 3, kenapa? Gak suka lama-lama akting ya?" Cibirnya.
Entah kenapa, bawaan Ody begitu sensitif, hingga semua saudara ibunya kebingungan.
Mendengar balasan dari putri semata wayangnya, Jorjia sontak berdiri. Ia tertawa terbahak padahal tidak ada yang lucu sama sekali, "Bercanda aja nih si Ody. Sudah-sudah, kamu pamit!" Seru Jorjia.
Ia menolej pada Ody dengan tatapan tajam, serta mulut yang berkomat-kamit.
Ody tidak tahu apa yang Jorjia coba sampaikan. Dirinya juga tidak memberi respon apa-apa.
Hanya berdiri, menyalami Florena lebih dulu sebelum berpamitan pada yanh lain.
"Safe flight, my cup tea." Bisik Florena.
Membuat Ody tersenyum sekilas, dan melenggang pergi.
"Hai, aunty." Sapa Ody. Sesampainya di depan Cordella, Ody menyeringgai. "Maaf atas respon ku tadi. Good to see you." Imbuhnya.
Kata maaf yang terlontar dari mulut Ody, membuat Cordella menyeringgai penuh kepuasan.
Akhirnya, ia mendapatkan keinginannya untuk menaklukkan Ody yang bersifat sanbat arogan tadi.
Kini gantian, Cordella lah yang tidak merespon perkataan maaf dari Ody. Ia hanya tersenyum menikmati posisi di atas anginnya ini, hingga akhirnya Ody mendekatkan bibir pada telinganya untuk berkamuflase merangkul bibi kesayangannya.
"Tapi bohong. You know im a liar."
Setelag membisikkan semua itu, Ody kembali menyeringgaikan senyumnya dan melenggang pergi dari ruang tamu.
Ia membalikkan tubuh, menahan tawa yang harus ia lepaskam nanti di dalam mobil.
Ody sangat mengetahui perlakuannya tadi adalah perbuatan tidak terpuji, pada orang yang lebih tua.
Tapi, orang yang lebih tua itu pantas mendapatkan semua itu. Mereka tidam tahu dan tidak mau tahu, jika, perkataan yang mereka lontarkan sebelum Ody pamitan sangat membuat hati serta batinnya perih.
"Karena hidup adalah serangkaian pembalasan, maka hasil yanv kamu terima akan sesuai dengan bibit yang kau tanam. "
Mungkin, jika, ada satu orang yang menghentikan laju omongan mereka tadi, Ody pun akan segan melakukan itu semua.
Sayangnya tidak. Mereka semakin menjadi-jadi selama kurang lebuh satu jam. Mulai dari menyudutkan Ody yang mengambil jurusan seni rupa dibanding bisnis, menyudutkan Ody yang tidak mampu berpenampilan layaknya 'perempuan', hingga menyudutkan Ody yang tidak tahu diri untuk menolak itikat baik dari Jorjia.
Astaga!
Ody menundukkan kepala sesampainya di mobil. Bukan bahakan tawa yang terdengar, melainkan tetesan air mata yang terdengar sangat jelas.
Dadanya begitu sesak menahan semua beban, ia telah mengibarkan bendera putih secara terang-terangan. Tapi, kenapa mereka tidak melihat semua itu?
Ody memukul dadanya sendiri, menguatkan dirinya sebisa mungkin, karena, ini barulah permulaan.
Hidupnya masih panjang ke depan, yang artinya cobaannya sudah semakin banyak dan semakin bertegangan tinggi.
"Hidupku hancur!" Ody mengutuk dirinya sendiri.
Buliran air mata kembali membasahi pipi meronanya. "Tidak hancur, kau hanya sedang dibentuk." Celetukkan dari salah satu akun quote yang ia ikuti di sosial media, seolah diingatkan oleh otaknya sendiri.
Yang secara tidak langsung, membuat hatinya berangsur tenang. Tapi, tenggorokanya masih tercekat. Akibat Ody yang menahan suara tangisannya.
Konon katanya, jika, seseoranh menangis dalam diam. Itu artinya, sangat menyakitkan dan membuat si penangis menderita.
Dan, ternyata semua itu benar. Omongan yang selama ini tidak Ody percayai kejadian. Ini adalah tangisan yang palinh sakit yang pernah dirasakan oleh Ody selama 21 tahun hidup di dunia.
Hingga membuat dirinya mematenkan semua ingatannya untuk menyimpan momen ini baik-baik.
Ody tidak mau melupakan momen ini, serta orang-orang yang ikut andil dalam pembuatan momen ini. Ia harus mengingatnya dengan sangat baik, demi bisa membalasnya suatu haru nanti.
Ody memanglah seorang pendendam, ia tidak mau mengikhlaskan begitu saja. Ia harus membalaskan semua ini, pada orangnya langsunh ataupun keturunannya.
Terdengat kejam dan begis bukan? Tapi, biarlah. Orang yang sudah tersakiti, akan mampu melakukan hal apapun.
"Untukmu yang meremehkanku hari ini : kelak akan ku tunjukkan arti dari pandangan dengan satu mata ketika, roda kehidupan membawa kita bertukar posisi."
**
Vancouver, 6 jam yang lalu.
Garry sebagai humas yanh bertanggung jawab minggu ini, kebingungan mengurus semua anggota. Mulai dari akomodasi, bahan makanan, hingga kebutuhan syuting mendatang.
Sejak merwka semua terbang ke sini, rencana syuting di bukit hancur berantakan, memaksa Garry untuk mencari konten untuk diulik.
"Kenapa setiap gua tugas ada aja cobaannya." Ia menghembuskam nafas berat, hingga ada uap dingin yang keluat dari mulut.
Punggung yang sedari semalam terasa pegal, ia sandarkan pada kursi karet super nyaman di beranda rumah Ody.
Ditemani segelas s**u serta sepiring roti bakar yang dibuatkan Yohannes.
Satu sisi, Garry merasa sendu kala melihat Yohannes yang berkutat dengan semua pekerjaan rumah yang ada. Hingga, satu cerita yang paling jujur mencuat ke peradaban.
"Kalian semua jangan sampai salah memilih jodoh." Celetuk Yohannes.
Pengaruh zat alkohol mampu membuatnya seperti sekarang. Rona pipi yang bersemu merah muda, mata yang selalu dipejamkam, hingga celetukkan yang tidak pernah terfikirkan.
Mendengar celetukan dari Yohannes, para laki-laki yang ikut ke pub kecil di seberang rumah, tidak ada yang berani menyahuti Yohannes.
Semuanya terdiam, hingga membuat keadaan hening seketika. Padahal, sebelumnya pembicaraan mereka sangat seru.
Kisah saat Yohannes membangun bisnis sirup maplenya, kisab ulang tahun Ody yang sangat memorable, hingga laki-laki pertanya yang pernah dibawa ke rumah oleh Ody.
Garry terkikih saat mengingat kembali momen semalam, hingga dirinya terdistrak dengan bagian terakhirnya.
"Sial! Bisa aja tu orang dari kecil udah bawa-bawa cowok." Gumam Garry, seraya mengambil ponselnya.
Ia mencari kontak Ody, untuk mengirimkan pesan dengan niat menyombongkan dirinya. Karena, ia mempunyai salah satu cerita yang bersifat sangat rahasia.
Namun, sayangnya Ody mungkin tidak mengaktifkam layanan chatnya hingga pesan yang dikirimkan oleh Garry hanya bercantang satu.
Tapi, Garry tetaplah Garry. Seorang anak muda yang mempunyai seribu cara demi niatnya terlaksana.
Untungnya, Garry belum menghapus aplikasi twitternya, karena satu hal. Ia dengan sigap membuka aplikasi teesebut, dan mencari akun Ody.
Setelah ketemu, Garry langsung tancap gas. Ia menyebut Ody dalam tweetnya menggunakan diksi-diksi indah, dan diakhiri dengan seutas kalimat yang membuat dirinya menahan tawa.
Masih belum puas, Garry kembali berfikir mencari kalimat ganti ataupum kode yang mampu membuat Ody bingung dan langsung me-notice semua notifikasinya.
Karena, jika, tidak begitu Ody akan mengacuhkan karena, dirinya menganggap jika, Garry hanya menganggu atau meledek dirinya saja.
Garry berfikir cukup lama, hingga gelas susunya habis dan rotinya tenggelam pada lambungnya.
Bahkan, hingga Roman bangun dan mengulet tepat di depannya.
"Kita nge kost di sini kali ya, Garr. Suasananya rumah banget."
"Suasananya rumah banget, apa biar gratis?" Imbuh Garry.
Membuat Roman menoleh seketika, "Jangan kenceng-kenceng. Kalo kedengeran sama yang punya kan jadi enak~" Balasnya.
Sebenarnya Roman ingun menambahkan kikihan di belakang perkataannya tadi, tapi, kini perutnya tidak sanggup untuk terkikih. Rasa pengar akibat alkohol semalam membuatnya seperti ini.
"Hhhh—lu gak mau makan soup gitu, Garr? Ayolah cari restorannya." Ajak Roman, seraya menjatuhkan b****g pada kursi sebelah Garry.
Namun, orang yang diajak bicara oleh Roman sedang sibuk tertawa sendiri dengan tangan yang memegang bunga layu dari pot kecil di meja.
"Heh! Masih pagi, anjir. Jangan gila dulu." Pekiknya, mencoba menginterupsi Garry. Sayangnya, semua itu tidak berguna.
Garry sedang asyik dengan temuannya yang selama ini ia cari-cari. Hingga membuat jari lentiknya menari di atas papan keybord ponsel pintarnya, dengan utas senyum yang merekah sempurna.