Bumerang

1319 Kata
Menopang dagu, sambil melamun adalah kesukkan gadis yang baru saja mengubah gaya rambutnya. Dari warna blonde menjadi hitam. Dari rambut panjang, hingga nekat memotongnya hingga rata dengan dagu. "Gaya apaan si lu." Cibir Diffa, dari samping. "Buang sial, Diff. Udah mau ujian nih. Pusing akutuu kalo rambut panjang, mesti dikuncir." Keluh Ody, yang terlihat sangat bahagia di depan cermin. Pantulan diri yang selama ini ia dambakkan. Akhirnya terlihat juga, setelah menunggu cukup lama. Berfikir terlalu jauh, jika gaya ini tidak pantas untuk dirinya. Tapi, malah sekarang Ody terlihat sangat percaya diri. Entah hasutan dari siapa, atau kalimat penenang darimana hingga membuatnya seperti sekarang. "Oiya, Dy. Lo himpunan gak si hari ini?" Tanya Diffa kembali. "Iyaa, jam 12 nanti. Kenapa emang?" Diffa mengangguk dengan mulut yang sedikit maju, menandakkan dirinya telah menangkap semua balasan dari Ody. "Gapapa, gua tadinya mau jalan sama Sofia, biar tu anak sadar." Ody menautkan sebelah alisnya, memasang raut penasaran, "dia kenapa emang?" Diffa langsung tersentak, atas pertanyaan Ody tadi. Rupanya anak itu sama sekali tidak sadar, jika sedari kemarin kita perang dingin dengan Sofia. "Lo tau kan ceritanya, yang si Sofia nge-prank Roman?" Tanya Diffa, untuk memastikan jika Ody mengetahui hal tersebut. Namun, jika dilihat dari tampang bloonya sekarang, nampaknya Ody tidak mengetahui apapun. Astaga. Padahal, kemarin saat di coffeshop, Diffa, Ivanna, serta Fiola saling bercerita dan sedikit mengomeli Sofia atas perlakuannya. Dan disitupun juga ada Ody, menyeruput ice americanonya dengan tampang yang sangat serius. Seolah mengerti dan memahami apa yang sedang dibicarakan. Tapi, nyatanya... Ody tidak mengetahui apapun perihal masalah Sofia dengan Roman, serta apa konflik yang terjadi. Entah ingatannya yang pendek, atau emang anaknya yang lola. Pusing lah, kalo serius sama Ody deh. Diffa pun sama. Dirinya langsung memutar jari telunjuknya di depan wajah Ody, "Crazy." "Gua gak ngerti deh sama lo, Diff. Aku kemarin dengernya kalian cuman ngomelin Sofia, biar gak keterlauan kalo berantem sama Roman, karena mereka satu tim juga. Gitu kan?" Jelas Ody. "Mau ngomong gua-lo, atau aku-kamu si, Dy?" Diffa menginterupsi sebentar, serta menggantungkan ucapannya. Membuat Ody malah terkikih geli, karena baru kali ini Diffa menunjukkan keceriwisannya, serta rasa putus asanya kala mengobrol. "Udah lah, Dy. Nanti lo juga tau. Gua cape ngobrol sama lo. Nanti kita chatan aja." Diffa menyandarkan punggung pada kursi salon yang membuatnya sangat nyaman, setelah berkutat dengan Ody serta otak lemotnya. "Miss, agak keras juga tidak apa. Saya pusing soalnya." Pinta Diffa pada therapist yang sedang memijat pelipisnya. Tiba-tiba, Ponsel Ody berdering dengan suara yang cukup aneh. Instrumentnya tidak biasa, yang membuatnya langsung mengambil ponsel dari nakas di sebelah. "Siapa, Dy?" Tanya Diffa, yang entah kenapa hari ini sangat kepo. "Garry, katanya lagi nyari parkiraan di deket salon." Balas Ody, dengan senyum simpul yang tak sengaja ia tampilkan. "Oalah, pantes nada dering yang lo pake aneh, ternyata buat orang aneh juga." Kikih Diffa. Setelah kurang lebih 30 menit menunggu treatment Diffa selesai, akhirnya Ody mengeluarkan kartu kredit yang diberikan oleh Freddy, untuk pengeluaran para wanita. Dan kali ini, giliran Diffa dan Ody yang mendapatkan tunjangan kecantikkan serta ketenangan, setelah bekerja keras selama 1 minggu. Enak juga ya, menjadi seorang freelancer talent di agency Freddy. Ia sangat memperdulikan keadaan para timnya, hingga mau mengeluarkan tunjangan yang jarang sekali diberikan oleh perusahaan lain. Memang Agency Freddy terbaik. Jika ada yang mau masuk, harus pakai cara Garrya yaaa. Yang menekankan the power of orang dalam. Canda, orang dalam. Nanti kita uraikan, jika ada yang berminat untuk bergabung dengan mereka, LOL. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua berdiri di depan salon untuk menunggu Garry. Hingga akhirnya, dari kejauhan terlihat jelas mobil sedan bewarna silver yang mendekat. "Mobil siapa nih? Cakep juga. Boleh ngembat di parkiran lo ya?" "Sembarangan lo. Ini kan mobil Freddy yang biasa gua pake syuting. Lo gak pernah diajak naik mobil ya sama tim Nathan? Lagian pindah tim si, lo." Garry menggoda Diffa, menggunakan material yang cukup mewah. "Sialan! Sombong banget emang lo, mentang-mentang videonya abis masuk trending." "Oiya jelas. Tim siapa dulu." Garry langsung menyambar, serta menyombongkan dirinya. Yang padahal, sesungguhnya tim Fiola tidak apa-apanya dibandingkan tim Nathan. Buktinya, sekarang channel mukbang tim Nathan sudah ketambahan keterangan 'disertai promosi berbayar' di pojok kanan atas pada setiap videonya. Itu saja juga menandakkan dengan sangat jelas, jika tim Nathan kebanjiran sponsor serta bergelimang harta untuk para anggotanya, yang ikut kecipratan mendapatkam endorse dari beberapa produk makanan. Tapi, ya tim Nathan tidak mau menonjolkan itu semua. Cukup Freddy dengan tuhan saja yang memgetahuinya. **word** "Udah udah! Masuk. Berantem aja deh kalian kalo ketemu." Seru Ody, seraya masuk pada kursi belakang kemudi, yang cukup membuat Garry menurunkan lengkung senyumnya. Setelah masuk semua, Garry melajukan mobil dengan kecepatan lambat karena jalanan hari ini sedang licin. "Oiya, Garr. Emang si Roman ada masalah apa si sama Sofia?" Ody kembali mengungkit permasalahan kemarin, untuk menuntaskan rasa penasarannya. Membuat Garry menoleh pada Diffa, begitupun sebaliknya. "Lo aja deh yang kasih tau. Kemarin aja dia gak nyadar pas gua sama anak-anak jelasin." Kata Diffa, yang sudah menyerah berbicara dengan Ody. "Btw, gua turun sini aja, ya. Gua mau ke supermarket, soalnya minggu ini gua yang piket belanja." Diffa menginterupsi kala Garry sudah mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan. "Mana kartunya tadi, Dy?" Ody mengeluarkan kartu kredit Freddy, dan langsung disambar oleh Diffa. Sangat cepat, melebihi laju cahaya. "Okey! Thanks, Garr. Bye, Dy." Diffa berpamitan pada mereka berdua, dan langsung keluar dari mobil. Garry kembali melajukkan mobilnya masih dengan kecepatan yang lambat. "Jadi, mereka berdua kenapa si, Garr? Tanya Ody kembali. " Pindah ke depan dulu. Emang gua driver uber yang lagi bawa penumpang." Cicit Garry pada Ody, dan langsung diindahkan. Ody berpindah dari kursi belakang ke kursi depan, layaknya anak kecil yang ingin pindah ke ibunya. Melompati kotakkan di samping kursi kemudi. Untungnya, Garry adalah supir yang handal. Semua itu tidak akan membuatnya kagok. Malahan membuatnya tercengang atas perlalukan Ody tadi. "Udah kan? Ayo cerita." Ody menagih janji Garry, setelah selesai memakai sabuk pengaman. "Intinya, Sofia tuh confess ke Roman, eh tau-taunya prank. Udah selesai. Gitu doang." Sengaja sekali, Garry mencari kata-kata untuk memudahkan Ody mencerna semua ucapannya. Namun, ada apa dengan raut wajah Ody yang terkesan kesal dan tidak suka. "Gitu doang kah? Astaga." "What?! Gitu doang? Lo bilang gitu doang? Kelakukan temen lo bikin temen gua mabok semaleman di pub! dan lo ngewajarin itu semua? Astaga Ody!" Kecam Garry, dengan suara yang meninggi Membuat Ody terdiam seketika, mencoba mencari letak kesalahannya hingga membuat Garry sebegitu marahnya. Padahal, semalam Sofia juga berkunjung ke apartemennya dengan menangis tersedu-sedu. Tapi, dirinya tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sofia juga memakai kata ganti orang alih-alih menyebut dirinya dan Roman. Membuat Ody salah kaprah, dan menenangkan Sofia dengan kalimat. "Dia tau kok kalo kamu bercanda. Udah gapapa, nanti juga biasa lagi, dan gak canggung lagi." Ternyata semua itu salah, perlakuan Ody pada Sofia yang seolah bersembunyi pada kepribadian Roman yang sangat humoris serta tidak ambil pusing. Namun ternyata, ia melupakan permasalahan adanya variabel perasaan yang dibawa oleh Sofia. Itu semua yang membuatnya semakin runyam. Karena perasaan Sofia sudah teelanjur menggores perasaan Roman, yang tidak pernah mengaitkan hati untuk bahan bercandaan atau semacamnya. "Maaf, Garr. Bukan maksutku begitu. Sofia pun mung---" "Its okay, Dy. Gapapa." Balasan singkat Garry yang sangat dingin, akhirnya terdengar oleh Ody. Membuat dadanya sesak, karena hatinya seolah tersakiti. Ternggorokkannya tercekat, hingga tak mampu memikirikan ucapan selanjutnya Ody tidak mampu menyelesaikan semua perkataan yang belum selesai. Dan akhirnya, ia memilih diam. Begitupun Garry. Hening, tanpa ada suara apapun. Dada Garry pun ikut sesak, karena ternyata Ody menganggap remeh akan hal itu. Ia langsung menerka-nerka sifat asli Ody, apakah begitu juga ataupun hangat seperti yang ada dalam cerita Ivanna? Tidak tahu, lah. Fikiran Garry seketika penuh, dan melupakan jika, tadi ia ingin mengajal Ody berkeliling kota San Fransisco untuk mengulang kembali memory perjalanan pertamanya ke Golden Gate Bridge, untuk memulai tahap pendekatan pertamanya dengan Ody. Tapi, saat ini semesta sedang memberikan bumbu yang sangat tidak sedap pada mereka berdua, hingga akhirnya menimbulkan salah paham yang luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN