Kesadaran

1369 Kata
Saat ini juga, Garry langsung menyadari jika masalah yang kita anggap sepele, remeh, serta tidak penting sama sekali juga ternyata mempunyai dampak yang sangat besar. Jika kita tidak melakuan hal sepele juga, contohnya izin. Memang ya, mau dekat, jauh, lama atau sebentar izin tuh penting banget. Karena izin juga partner kita sendiri ngerasa ada dan nyata. "Yaudah, aku minta maaf. Kamu mau maafin aku gak?" Dengan nada suara pasrah serta bersalah, Garry hanya bisa menatap lurus ke jalan, tanpa berani menatap Ody di sebelahnya. "Gak tau." Suaranya sudsh sengau, serta ada tarikan serta sekaan di hidung. Membuat Ody sekenanya untuk menjawan perkataan Garry. Walaupun jauh di lubuk hatinya, Ody tidak mau bertengkar dengan Garry. Dirinya juga menyadari, kenapa ia sekarang bisa begini. Marah debgan permasalahan yang samgat sepele. Bagaimanapun juga, mungkin Garry sudah menimbangnya matang-matang untuk meninggalkan Ody tadi. Tapi, kenapa juga. Garry sama sekali tidak mengabarkan lewat apapun. Padahal, Ody yakin jika Garry pasti memainkan ponselnya saat berada di sana. Lantas, kenapa dia tidak memberi satu pesan singkat dan malah membiarkan Ody tidak tahu dia sedang apa. Pasti kalian berfikir, kenapa Ody yang tidak bertanya pada Garry ya? Jawabannya adalah, karena dirinya begitu enggan. Emosi serta kemarahannya mengelilingi bagaikan virus yang membuat Ody berapi-api, dan mencerca Garry. Bayangkan di posisi Ody deh ya. Siapa yang tidak kesal jika digituin. Coba, kalo ada yang kesal sama Ody, maju paling depan. Pasti Garry juga menyalahkan dia, kenapa dia malah kesal dengan Ody, padahal Garry yang salah. "Dosa lho, Dy. Masa gak tau mau maafin atau engga." Kali ini, Garry menatap Ody yang sedang menghadap ke kiri. Hanya dibiarkan melihat rambut blondenya yang tergerai berantakan. ** Ivanna, Diffa, serta Sofia melingkar layaknya konferensi meja bundar. "Lo serius? Lo suka sama gua? Suka bercanda aja deh lo." Roman terkikih di depan mereka bertiga, dengan kaki tang menendang kecil Guntur. "Beneran, Man. Gua suka sama Lo. Lo suka gak sama gua?" Tegas Sofia. Seketika membuat mata Ivanna serta Diffa terbuka dengan sempurna, "Lo bukannya selama ini barengnya sama Guntur, kok bisa sukanya sama Roman?" Tanya Ivanna, dengan suara yang melengking. Membuat Guntur akhirnya teralihkan. Klek' Handle pintu terbuka serta menampilkan Fiola dengan ransel yang digendong, "Lagi pada ngapain lo? Rapat? Kan gak ada ketua masing-masing." "Engga, Fi. Ini si Sofia lagi confess ke Roman." "What?!" Bahkan Fiola saja sampai terkejut. Hingga langsung ikut duduk di sela-sela mereka. "Lemes banget mulutnya Diffa." Cibir Sofia, dengan tatapan tajamnya. "Kabar baik ini, bund. Masa gak mau bagi-bagi ke tetangga." Balas Diffa, dan langsung didukung oleh Fiola, hingga mengajak toss bersama. "Udah deh ah. Gak selesai-selesai kan akhirnya. Jadinya gimana, Man?" Sofia langsung memutar balik arah, deu mendapatkan jawaban utama dari Roman. "Heh, gimana yaaaa. Jujur aja nih ya, Sof. Gua gak punya perasaan sama sekali buat lo," Sofia sudah menunduk pasrah kala Roman mengatakan dengab suara yang terdengar sangat ragu-ragu, getir, serta gusar. Ketiga orang di hadapan Roman pun seketika tercengang dengan bersamaan. Bisa-bisanya si Roman nolak putri kerajaan, yang tidak ada bandingannya di dekatnya sendiri. Sofia adalah gadis yang benar-benar limited edition. Karena, penampilannya yang rupawan tanpa batasan, serta keahliannya yang juga beragam. Mulai dari pendidikan, kreatif, atau bidang seni lainnya. Kurang apa sosok Sofia, hingga membuat ikan teri layaknya Roman menolaknya. Sungguh ironis. Keberuntungan seumur hidup Roman telah di tolak mentah-mentah di depan matanya. "Tapi," Sofia sedikit demi sedikit menegapkan pandangannya kembali, "Kalo lo mau coba sama gua, ayo kita coba. Gua dengan senang hati. Dan, perasaan itu juga akan timbul dengan sendirinya." Roman pun enggan menyia-nyiakan panah yanh telah diberikan dewa cupit saat ini, karena ragu untuk menerima cinta dari Sofia, dengan alasan belum cinta. Seketika Diffa serta Fiola menggebrak meja kecil mereka, "Dari tadi aja lo ngomong begitu, gak usah sok jual mahal." "Tau ya, Ivv. Roman picisan kaya dia mah mana mungkin nolak Sofia." Mereka berdua saling berasahut-sahutan, layaknya burung beo. Hingga akhirnya Sofia menyuruh mereka semua diam, karena ada hal yang penting ingin dikatakan. "Tapi, Man. Gua gak suka kalo lo belum punya rasa tapi udah mau nyoba," Perkataannya menggantung, dan Roman seolah melihat pergerakkan dari Guntur, yang menaruh stik psnya. "Toh juga, ini cuman bercanda, Man. Gua cuman kalah main TOD sama Guntur." "God damnit! Sialan." Cerca Roman, saat melihat raut wajah tanoa dosa dari Sofia yang sangat enteng mebgatakan itu semua. Diffa, Ivanna, serta Fiola pun juga sangat terkejut dengan semua ini. Mengapa Sofia sangat tega memainkan perasaan seseorang, hingga berani melakikan ini semua. Pantas saja, ia dengab lantang menyuarakan masalah hati lebih dulu pada seorang laki-laki. Mereka semua telah melupakan sifat gengsi dari seorang Sofia, dan ikut terbuai dalam permainan yang dibuat oleh Guntur dan Sofia. Langsung, tanpa basa-basi, Guntur memecahkan tawanya yang sudah iantahan sedari tadi. Dan inilah puncaknya, hingga memvuat beberapa bulir air mata jatuh dari pupilnya. Sementara Roman, langsung keluar dari posisi duduknya dan beralih ke kamar 1 untuk merebahkan tubuh. "Tega banget si b*****t! Gua kira beneran. Mukanya itu lho, serius banget." Desis Roman, dengan emosi yang berapi-api. "Percayalah, tidak semua lelucon bisa berakhir menyenangkan. Apalagi, mengatasnamakan hati untuk bahannya. Bila perihal perasaan saja dibuat mainan maka, bersiaplah didatangi karma sebagai korban." Sontak saja, sebagai anak sastra fikiran Roman langsung mencerca habis-habisan. Seketika itu juga, dirinya sangat membenci rupa wajag sempurna Sofia serta Kawan setianya Begitu juga dengan tiga sekawan, yang saat ini kecewa dengan perlakuan Sofia tadi. "Lo berdua tega banget si. Temen lo sendiri dimainin." Ungkap Fiola. "Yailah, kan bercanda. Nanti si Roman juga lupa." Jelas Guntur, dengan tawa besarnya. "Belom tentu lah! Bisa aja emang tadi si Roman serius. Lo bayangin aja deh, kalo lo dimainin kaya tadi." "Yailah, serius banget si lo, Ivv. Bercanda doang. Lo kaya gak tau gua aja. Toh juga, gak mungkin tipe Roman kaya gua, begitupun sebaliknya." Jelas Sofia, seraya duduk menyilangkan kakinya. "Gak semua dengab dalih bercanda bisa dibilanh biasa aja, Tur, Sof. Gua cuman mau bilang, nunggu karma aja deh lo berdua." Seru Diffa, yang sudah terlanjur malas dan tidak mau berbasa-basi dengan kedua orang tersebut. Kedua orang yang sama-sama keras kepala, dan senang bercanda. Tapi, saat dibercandaakan, mereka berdua juga yang akan lebih dulu emosi serta melakukan adegan balas dendam, alih-alih karma. Jadi, Diffa hanya bisa menyerukan jika mereka berdua saat ini sedang bersiap-siap untuk didatangkan karma atas perlakuannya sekarang. Setelah insiden bercanda yang dilakukan oleh mereka berdua, kini datang kembali tim Nathan yang baru selesai melakukan syuting di KBRI, bersama Freddy. "Eh, kok sepi. Tumbenn gak pada ngumpul." Pekik Sebastian, dengan tangan yang memegang tripod. "Eh, udah balik lo pada. Gimana syuting KBRI, mantap banget si Garry ikut." Kata Roman, yang tidak memakai pakaianannya. "Baju lo mana, ilang atau digadein?" Tanya Garry, seraya duduk di beanbag depan tv. "Gua buang. Abis buang sial gua." "Hah? Kenapa dah?" Tanya Garry, dengan raut wajah penasaran. "Kepo banget si jamet." Singkat padat jelas, membuat seisi ruangan jiganikut penasaran, dengan kesialan yang disinggung oleh Roman. "Oiya, Man. Ivanna mana? Katanya dia udah sampe, tapi kok gak keliatan?" Kini gantian Ody yang celingukkan, layaknya anak ayam yang sedang mencari sang induk. "Ohhh mereka tadi izin keluar, mau minum kopi di bawah, lo mau nyusul?" Balas Roman. "Ohh yaudah kalo gitu, thanks, Man. Gua kebawah dulu deh. Kalo ada yanh mau nitip kopi chat grup aja yaa." Seru Ody, dan langsung keluar untuk menyusul para gadis-gadis. "Garr..." "Paan?" "Hari ini b*****t banget dah." Gumam Roman. "Napa dah lo. Gak semangat banget menjalani hari, napaa? Galau lagi? Astaga." Gumam Garry, agar yang bisa mendengar ucapannya hanya mereka berdua. "Minum dulu ayo ke pub yang pernah lo datengin, baru gua beberin semuanya." "Weiii anjai! Mau ke pub mana lo. Ikut dah gua." Seketika Nathan yanh habis dari toilet mendengar bisik-bisik tetangga itu, dan langsung ikut menimbrung. "Ahh lo jangan ikut dulu, Nath. Gua mau cerita hal b*****t. Nanti lo ember." Pekik Roman dengan risau. "Lahhh? Kasih tau, Garr. Kapan gua ember, kalo menyangkur curahan hari. Malah gua pernah mabok berdua sama Garry, saling curhat tapi sampe sekarang gak ada yg tau kan." Tegas Nathan, membela harga dirinya, yang selama ini disalah pahami oleh orang banyak. "Emang, Garr?" Roman menoleh pada Garry, dan langsun dibalas oleh anggukan pasti Garry. Serta acungan ibu jari yang tidak ketinggalan, karena dirinya menganggap Nathan adalah tempat yang sangat tepat untuk menampuh segala keluh kesah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN