Melodi Hujan

1396 Kata
Entah kenapa, diantara banyaknya orang disini. Hanya aku yang merasa sepi. Benar-benar sepi, padahal di samping kiri ada seorang anak perempuan yang sedang memainkan game di ponselku. Akupun ikut tersenyum kala dia menunjukkan banyaknya koin yang didapat. Ada juga seorang gadis berusia 18 tahun, sedang mengobrol denganku. Berbicara perihal masalah rasa, ataupun semesta. Dia bilang, kalau hubungannya masih seumur jagung, bingung mau lanjut kuliah jika tidak dapat PTN, serta bertanya padaku. Kenapa bisa mempunyai hubungan yang berjalan sangat lama. Dia mengatakan bangga padaku serta pasanganku. Jadi, begini rasanya. Dinilai sangat positif dengan orang lain. Yang padahal, aku sendiri pun negatif. Lihat saja sekarang. Aku bercengkrama bersamanya dengan memakai topeng antusias serta bahagia. Jauh di lubuk hatiku, mengatakan jika aku ingin pulang ke apartement. Untuk merebahkan tubuh dan langsung bersembunyi di balik selimut. Andai saja hatiku tidak mengenal rasa tidak enak, atau mungkin otakku mengatakan jika perlakuan ku nanti akan memicu konflik dengannya. Tapi, aku akan terjebak di sini. Entah sampai kapan. Sementara, aku tidak tahu keberadaan orang yang membawaku kesini. Aku ditinggal. Tanpa seutas izin ataupun seucap perkataan. "Dy, udah makan?" "Udah, Tan." Selibat, sekilas, atau sejenak. Tidak ada kata lain di fikiran Ody saat ini. Ody menoleh ke samping, melihat tempat di luar ruangan yang kosong. Setelah memastikan ada beberapa tempat yang kosong, ia langsung menoleh pada anak perempuan tadi. "By, kita pindah yuk kesana. Mau?" Setelah mendapatkan jawaban, Ody langsung menggandeng tangannya dengan senyum yang masih sangat merekah. Drrk' Ody menjatuhkam b****g pada kursi merah di dekatnya, dan kembali membiarkan anak perempuan tadi memainkan kembali game di ponselnya. 'Untung game itu masih ada di ponselku. Kalo, udah dihapus, gak tau deh gimana kondisi aku sekarang.' batinnya lega. Ody menyandarkan tubuh di sandaran kursi, menoleh ke kanan-kiri, untuk melanjutkan pencariannya. Satu jam, Dua jam, "s**t!" Sosok yang ia tunggu tak kunjung muncul. Saat ini, sekarang juga Ody langsung mengosongkan isi fikirannya untuk mengisi kembali dengan banyak cercaan ataupun ambekkan. Sampai akhirnya, gadis yang berusia 18 tahun tadi duduk di samping Ody. Raut wajah yang mungkin ia ketahui, jika Ody sedang dalam mode marahnya. Gadis itu tidak berbicara apa-apa, hanya menemani Ody duduk terdiam. Sesekali ikut tertawa kala melihat beberapa anak kecil yang sudah memadati sekeliling Ody. Efek game yang sebenarnya, here we go. Akhirnya, kesepian Ody sedikit terobati. Kali ini, tawa Ody tidak palsu karena beberapa anak kecil yang memperebutkan ponsel miliknya. "Gantian ya, sayang. Kan tadi udah suten, berarti tinggal nunggu giliran." Kata Ody seraya mencubit pipi gembul kepunyaan anak perempuan di depannya. "Tapi, kak. Dia lama. Curang banget, masa nunggu bahan baku abis, trus nanti dibuat lagi." Anak perempuan tadi menjawab perkataan Ody, dengan alis yang saling bertaut serta nada suara yang marah. Tapi, itu semua menggemaskan. Sampai akhirnya, Ody menglihat mobil berhenti lewat ekor matanya. "Dari mana si, kasian si Ody nungguin!" Sontak suara keras nan menggelegar membuat Ody menoleh padanya terlebih dulu, dan meninggalkan orang yang selama ini ia nanti-nanti. Diffa langsung berdiri di depan posisi Ody duduk. Bertolak pingganh serta memajukan sedikit wajahnya. Sungguh seperti gangster, ya. Membuat Ody tertawa, dan langsung berterimakasih dalam hati. Karena Diffa sudah menggantikkan posisi Ody untuk memarahi orang tersebut, dan mempertahankan ke-elegant-an Ody saat ini. "Panggilan alam, sama ngadem sebentar." Mendengar balasan tersebut, Ody langsung berdecih pelan. Gadis perempuan tadi hanya bisa terkikih, sambil menatap mata hazel Ody sekilas. "Mana Ody sekarang?" Buru-buru Ody mengalihkan pandangannya pada ponsel yang sedang dimainkan, untuk memerankan perannya saat ini. "Misi, minggir, awas deh, lo." Ody menyadari suara itu semakin mendekat padanya, dan inilah jadinya. "Sibuk banget, main apa siii." Ody mendonggak dan mendapati wajah tanpa dosa Garry (kembali) "Mainan apa aja." Singkat Ody, dengan senyum simpul miliknya. "Ngambek lho dia. Kelamaan ninggalnya si." "Masaaaa?" Garry bertanya pada gadis perempuan yang Ody sangka tidak akan melontarkan ucapan seperti tadi. "Tok tok tok, Odynya ada?" Garry menggoda, mengetuk pipi Ody layaknya pintu. "Gak ada, Odynya lagi asik main." "Dy, serius." Singkat Garry, langsung membuat Ody menoleh. "Ngambek emang?" Tanya Garry kembali. "Siapa yang ngambek, aku dari tadi main." Jawab Ody, yang langsung dihadiahkan oleh senyum Garry, "Ya kirain ngambek. Masa ditinggal puppy ngambek." Balasan dari Garry hanya dibalas kikihan semata oleh Ody. Garry duduk sejenak di depan Ody. Menatap Ody yang masih enggan menoleh serius padanya, "aku mau kesana dulu, ya." "Iya, yaudah sana. Tumben bilang. Biasanya engga." "Iya-ya, gapapa deh, mau bilang aja." "Padahal tadi gak bilang. Bye, Garr." Singkat Ody, meninggalkan raut wajah bingung dari Garry. Hari mulai gelap, dan cahaya bulan semakin bersinar di atas kepala Ody. "Pulang sekarang?" Tanya Garry dengan gerakkan bibir. Langsung dibalas oleh anggukan pasti, serta dukungan tubuh yang langsunh berdiri. "Pinjem ponsel kak Ody boleh? Nanti kapan-kapan kita main bareng lagi yaa." Ody mengadahkan kedua tangannya. "Oke, Kak. Makasih." "Ponsel kak Ody keren." "Mainannya seru." Mereka semua saling bersautan, membuat tawa Ody kembali terdengar. Selepas itu semua, Garry mengajak Ody berpamitan pada semua keluarganya. Ody mengekori di belakang, melatih senyumnya se-natural mungkin. "Tante, Ody pulang dulu ya. Makasih, makanannya enak-enak. Kaya ngerasa beneran di Indonesia." Akhirnya senyuman itu di praktekkan langsung. Membuat wanita paruh baya di depannya tersipu malu, "Ah bisa aja si Ody. Besok kalo ada acara di sini lagi, ajak lagi temennya, Garr." Ia menepuk bahu Ody, serta tertawa pada Garry Dan akhirnya, Ody masuk ke mobil terlebih dulu karena Garry masih harus menunggu makanan yang mau diberikan pada Ody belum selesai di kemas. "Haiiii. Minum dulu." Panjang umur, baru dibilangin. Eh, si Garry langsung muncul dengan memberikan satu gelas ice tea pada Ody. "Yuk pulang yukkk." Garry memakai sabuk pengamannya, tanpa menatap Ody. "Garr, aku ngerasa kamu gak bawa aku. Aku orang asing di sini." Akhirnya, Ody menyuarakan itu juga pada Garry. Membuat Garry tersentak dan menoleh padanya, "Aku kan bawa kamu, Dy. Ini aku bawa kamu." "Tapi, kamu ninggalin aku, Garr. Aku sendirian." Kini, suara Ody sudah mulai bergetar, hanya tinggal menunggu waktu kapan air pertamanya jatuh pada pipi meronanya. "Kamu kan sama anak-anak, Dy. Pas aku tinggal juga kamu lagi ngobrol sama si Dayu." Beber Garry. Sampai akhirnya, Ody menyergap itu semua. "Seenggaknya kamu bilang, Garr. Mau kemana, biar ngerasa aku tuh dibawa kesini sama kamu. Aku aja gak tau kamu kemana, ngapain, kapan balik lagi, " "Aku boker, Ody. Astaga." "Aku menyandera anak kecil buat nemenin aku, Garr. Biar aku gak sendirian kaya kambing bodoh! Seengaknya chat aku kek. Emang susah?" Ody menyelesaikan ucapannya, dengan air mata yang sudah membasahi pipi, lantaran pupil yang sudah tak sanggup menampung. Garry mendenguskan nafas berat, karena mungkin ia merasa bersalah. Yang ada di fikiran Garry kala itu, hanya mengetahui jika Ody tidak masalah jika dirinya ditinggal. Toh juga ia sedang mempunyai teman ngobrol. Salah paham kembali terasa di dua orang ini. "Tapi kan, Dy. Aku juga gak enak kalo mau nempel sama kamu terus. Nanti disangka 'si garry lagi acara bukannya bantuin malah pacaran.' gitu lho, Dy. Kan aku juga gak enak." "Aku juga gak minta ditemenin mulu kok, Garr. Seenggaknya kamu izin atau nyamperin aku dulu kek. 'Aku mau pup dulu bentar, kamu ngobrol sama Dayu dulu ya.' gitu kan bisa, Garr? Gampang banget lho. Aku juga biat ngerasa, 'ohh aku dititipin sama Garry di sini." Ody menyeka air mata yang semakin membasahi pipi hingga ke leher, "Aku gak masalahin kamu sekedar pup atau ngadem atau apalah itu, garr. Aku cuman butuh kamu bilang aja ke aku." "Tapi kan, kamu udah kenal semua sama sodara aku, Dy. Masa kaya orang lain aja." Garry masih berdalih. "Walaupun aku udah kenal juga ya tetep ajaa, aku masih orang asing, Garr. Terlebih lagi, tadi acara besar. Yang gak memungkinkan mereka selalu negur aku kan? Kalo aku udah officially sama kamu, its ok. Mungkin aku bisa bantu-bantu mereka." DEG! Semua perkataan Ody tadi terdengar sangat realistis. Karena, bagaimanapun juga saat ini Ody masih dianggap tamu yang mungkin spesial. Masih ada jarak, walaupun sedikit. Dan mungkin juga, jika Ody turut sibuk dalam membantu mereka tersebut, mungkin beberapa saudara dari Garry akan menyudahi kegiatan Ody, dengan dalih "udah kamu duduk aja, gapapa inimah nanti ada yang urus." Garry tidak berfikir panjang sampai kesitu, sehingga memacy konflik dengan latar belakang yang sangat remeh atau sepele. Tanpa sadar, Ody membuat kalimat bergenre melodrama yang menurut dirinya sangat picisan, hingga tak berani mengutarakan pada Garry, "Sebagaimana kadar sebuah kabar, akan sangat berarti oleh seorang yang menanti. Jika kehadiranmu hilang begitu saja tanpa ucap, seremeh apapun alasan yang diberikan nanti, tetap saja akan meninggalkan bekas dalam hati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN