Very Yawn

1217 Kata
Entah kenapa diriku begitu bimbang, yang padahal sudah jelas juntrungannya. Sebagian hatiku telah pasti memilih dia. Tapi, kenapa sebagian hati yang lain terus bimbang. Membuat dewa cupit marah kepadaku, hingga tidak menembakkan panah cinta pada orang lain selain dia. Setelah puas melakukan sesi curhat di depan cermin, Ody segera menghembuskan nafas beratnya. 'Kita beda, gak akan pernah sama. Kecuali salah satu bersedia mengaku kalah.' batinnya berbisik. Dahinya mengerut jelas, hingga menggigit ujung kukunya. 'Tapi, kenapa gak mau coba dulu? Senang-senang aja, tanpa melihat lebih jauh.' fikirannya mencoba menggoyahkan sang empu. Kini, mereka sukses membuat Ody kebingungan. Harus mendengarkan saran siapa? Layaknya memilih antara ice cream strawberry dan vanilla, yang menjadi favoritnya. Tanpa sadar, Ody melupakan agenda penting hari ini. Yang membuat dirinya tidak mendengar dentingan bell, yang dibunyikan oleh Diffa sedari tadi. "Kalo gak lo buka, gua dobrak ya, Dy! Gak usah kaco deh! Uprak lukis nih!" Ketus Diffa. Suara preman yang semakin gahar, kini terdengar jelas dari layar telekom Ody. "Sabar, ish." "Sabar si sabar, Dy. Kalo udah 15 menit di udara beginu mah jagan harap!" Seru Diffa Setelah pintu terbuka, ia langsung melangkah masuk, langsung menduduki bokongnya di lantai. Dengan tujuan menghangatkanbseluruh tubuhnya, yang kedinginan akibat suhu musim dingin yang akan datang sebentar lagi. "Dy, salju pertama gua liat sama siapa ya?" Pertanyaan yang mungkin tidak sadar dilontarkan Diffa, membuat Ody langsung menoleh pada temannya. "Tumben banget lo suka begituan, biasanya mah lo gak mau liat salju. Katanya bosen." "Ya gak gitu juga, Dy. Gua kan bosen liat salju di Vancouver, kalo si sini mah jan belum pernah. Lo gimana si, ish." Dalih Diffa, seraya membuang pandangannya. Dirinya begitu malu pada Ody, yang saat ini mungkin berfikiran yang tidak-tidak padanya. "Ish!" Desisnya pelan, untuk mencibir diri sendiri yang berlaga feminim, akibat drama korea lawas yang ia tonton 2 hari yang lalu. Namun, semua itu adalah halnyang sangat lumrah bagi semua perempuan. Hingga Ody pun tidak merisaukan ataupun merisak ucapan dari Diffa. Dalam lubuk hatinya pun, ia sangat ingin tahu siapakan orang yang akan mengajaknya keluar untuk melihay salju pertama. Saling bermain, serta membuat harapan serta janji, untuk selalu melihat salju pertama bersama. "Lah bengong! Udah ayo siap-siap, belom ngambil kanvas, sama catnya. Kerjaan banget, Dy. Lagian lu pake segala pindah si, ish." Diffa membuyarkan semua lamunan Ody, yang ia lakukan sambil berdiri. Beralih pada Garry dan Nathan yang sedang berada di salah satu pub terkenal. Dengan dalih untuk mencoba ice lemon tea, yang padahal mencoba seteguk whiskey. "Lo minum sendiri aja dah, gua jagain lo aja sambil ngerekam tingkah orang mabok." Naluri seorang kameramen Garry langsung mencuat, hingga membuat Nathan terkikih geli. Dirinya juga tidak akan memaksa Garry untuk meminum yang sama dengannya. Karena mungkin, Garry belum ada di posisinya sekarang yang membutuhkan alkohol untuk membantunya melupakan seseorang. "Gua sama dia tuh beda, Garr. Beda pendapatan, umur, pemikiran, serta pandangan. Tapi," Raut wajah penasaran, menelisik Nathan lebih jauh ke dalam. Untuk memintanya menyelesaikan ucapan yang menggantung tadi. Namun, sayangnya Nathan malah mengalihkan ucapannya dengan meminta satu gelas whiskey kembalu pada bartender. "Lo kenapa si, Nath? Gua bingung. Lo galau percintaan atau pekerjaan?" Tanya Garry, membuat Nathan tidak lupa dengan arah perbincangan. Manik mata hitam pekat, menatap Garry yang disandingkan oleh segelas whiskey, "Dari bentuknya emang beda, tapi rasa pasti sama, Garr. Gua gak tau mesti gimana." Terdengat sangat ambigu bukan? Apa maksutnya sekarang? Wajah Garry atau Whiskey? Atau makna lain yang tersirat, maksut Nathan? "Sama-sama memabukkan, Garr. Gua mabuk cinta sama dia, gua mabuk juga sama whiskey." Kini, Nathan menghela nafas panjangnya, "Tapi kita berdua beda, Garr. Tapi, perasaan kita sama. Saling sayang." Garry mencoba menelaah lebih jauh, maksut ucapan Nathan yang semakin lama bisa ia pahami. Walaupun sedikit, setidaknya perbincangan mereka ada interaksi antara dua orang. "I know, Nath. Tapi, bukannya perbedaan yant menyatukan ya?" Ujar Garry. Mulutnya boleh mengatakan semua kalimat manis, tapi batinnya berdecih dengan sangat sukarela. Perbedaan yang menyatukan, wong Garry aja belum bids berdamai sama perbedaan kok. Yang ngebuatnya sampai sekarang, bimbang, risau, hingga gegana. Gelisah, galau, merana. Ya, itulah singkatannya kalo kata Guntur. Tapi, kenapa Garry menuturkan semua kalimat penenang itu dengan sangat gamblang? Memang benar ya, menasihati orang lain lebih mudah ketimbang menasihati diri sendiri. "Memang lidah tak bertulang, hingga rasanya mudah sekali mengucap pada orang lain beberapa kalimay yang menjadi penawar gelisah. Sedangkan, untuk diri sendiri akan sangat sulit untuk menerima." Semua ucapan Garry tadi, seketika membuat Nathan menaruh gelasnya ke meja. "Tapi, emang lo mau selamanya beda? Gak ada yang mau ngalah, itu gak enak juga, Garr. Kita sama sekali gak punya persamaan yang saling menghangatkan." DEG' Seketika Garry tertampar dengan semua realita. Membenarkan semua ucapan Nathan, sekaligus mencap Roman sebagai pakar cinta abal-abal, karena melupakan pernyataan yang baru saja terlontar. Hatinya menciut seketika, seolah tidak banyak bicara seperti biasanya. Ia menerika semua ucapan Nathan dengan sangat lapang d**a, serta membenarkan jika dalam satu hubungan pun harus mempunyai kesamaan. Agar bisa bersenang-senang dengan hal yang sama, ataupun saling berbincang dengan antusias. Perihal hobi, atai kegiatan. Masa depan juga, boleh. Asalkan tujuan kita sama, atau ada hal yang sama. Jika hanya tujuan yang sama, Nathan dan kekasih pun mempunyai itu. Tapi, prosesnya saja yang berbeda, dan tidak pernah akan sama. "Give me a whiskey, please!" "Kan lu mabok juga. Tobat lu. dosa." Cibir Nathan, seraya melihat raut eajah aneh dari Garry. Yang seolah menampilkan seluruh keraguannta kembali, yang sebelumnya Nathan ketahui telah hilang dimakan bumi. Kembali lagi dengan Ody dan Diffa yang sedang melenggang memasuki gedung jurusan seni rupa. Sepanjanga jalan Diffa banyak menyenandungkan lagu balada dari band kesukaannya. Membuat Ody ikut bersenandung kecil, sambil memikirkan jawaban apa yang akan ia sampaikan nanti. Untuk Garry, yang kemarin sempat membuka percakapan perihal kebersamaannya. Kemarin, mungkin waktu yang sangat bagus, jika Ody mengerti maksut serta arah omobgan Garry. Yang secara tersirat, memberitahukan jika dirinya telah menyimpan rasa padanya. Kenapa Ody tidak langsung menjawab, dan malah langsung pergi dari balkon yang sedang menunjukkan langit senja yang sangat indah? Karena, Ody melihat adanya keraguan dari sorot mata Garry, serta getaran pada bibirnya yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Jujur, kala itu Ody sangat marah dan kecewa pada Garry. Membiarkan hatinya menarik kesimpulan, jika semua ucapan Garry padanya hanya bercanda, dan tidak boleh serta tidak harus diambil serius memaki hatinya sendiri. ** Kenapa ingin bersatu sangat sulit, layaknya memperebutkan masuk pada universitas ternama, serta perusahaan bergengsi? Padahal, hanya tinggal mengucap satu kalimat yang akan terbalaskan too di belakangnya. Bolehlan kita saling egois, dan berbahagia bersama? Tanpa embel-embel dosa atau apapun itu. Bolehkah kita saling bergantung, tanpa memikirkan ini itu, bolehkah kita saling bersatu, dan saling mengetahui jika tidak bisa bersatu di akhirnya? Bolehkah kita sedikit memaksa semesta, mewujudkan harap untuk berlabuh pada muara yang sama? Bolehkah kita terus berjalan beriringan melewati sudut-sudut kota, tanpa khawatir akan saling melepaskan genggaman ini suatu hari sebelum sampai ditujuan? Bolehkah aku egois terus merengek kepada Tuhan, agar kita bisa menua bersama? Bolehkah kita saling bergantung, tanpa harus memikirkan tembok besar yang semakin lama tampak nyata? Meski diminggu pagiku harus duduk tidak bersebelahan denganmu, namun menunggumu menyelesaikan pertemuanmu dengan Tuhan ialah kebiasaan terindah yang pernah kulakukan. Dan katanya, Suara dari speaker masjid yang katamu menandakan panggilan Tuhan, ialah suara terindah yang pernah kudengar. Jika begitu, Bisakah Tuhan yang kita sebut dengan panggilan berbeda, akhirnya merestui dua insan ciptaanNya yang sudah saling jatuh hati tanpa perlu merasa dikhianati?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN