Comeback in Creative Agency

1275 Kata
Fikiran serta hatinya berdikusi secara formal, menyebutkan dua kemungkinan yang nanti bisa kejadian. "Mana mungkin, udah jalan aja." Garry menyakinkan dirinya sendiri, agar pergi ke bandara, tanpa ba-bi-bu-be-bo. Tidak mengharapkan sama sekali, jika ada yang mengantarnya. Layaknya film AADC, yang membuatnya menaruh harap pada bandara. "Salam sama bundalo ya, Garr. Sebenernya gua mau ikut lu balik, sekalian nengok jodoh." Tutur Roman, yang ikut merapihkan beberaoa baju Garry. "Gila lo ya. Adek gua mana mau sama orang kaya lu." Roman menautkan alisnya, "Dia yang gak mau, apa lo yang ogah?" "Gua lah! Ogah banget. Adek gua pantesnya dapet hafidz, Man. Secara dia sendiri calon hafidzoh." Roman terkikih sebentar, membiarkan otaknya yang cemerlang menyiapkan jawaban untuk ucapan Garry tadi. "Tapi," "Kenapa, Garr?" Tanya Roman, karena melihat raut wajah aneh Garry. "Kalo dia jodohnya orang kaya lo, gua bisa apa ya? Mungkin menurutNya, lo yang paling baik buat dia." Sambung Garry, sekaligus menyelesaikan ucapannya. Membuat Roman terperangah, memikirkan balasan Garry tadi. Sampai akhirnya, hati kecilnya seolah berbisik pada Roman, 'damn it.' "Garr," "Oyy" "Lo gak salah, naksir dia. Lo berkah punya rasa sama siapapun, Garr." Garry menatap Roman, "Naksir siapa? Adek gua? Kaga lah, anjir." Ia menepak kepala belakang Roman, karena pembicaraannya yang ngawur. Yang padahal, Garry sendirilah yang tidak mengerti kata ganti untuk dia yanh dimaksutkan oleh Roman. Bukan adiknya sendiri, yang Roman ketahui pasti itu sangat tidak etis, dan bahkan dilarang oleh agamanya sendiri.. "Ody, Garr." DEG' 'Darimana nih anak tau?!' batin Garry bingung bukan main. Pasalnya, ia belum menceritakan sama sekali perihal hatinya dengan siapapun. Sekalipun Roman atau Guntur, karena dirinya yang masih tahu diri akan batasan. "Lo kok bisa tau?" Karena rasa ridak sabarannya, Garry mencuatkan pertanyaan tersebut. Membuat Roman tertawa, hingga kaos oblong yang dipegangnya ia lemparkan denga asal. "Jangankan hati lo, Gar. Akal lo aja ada di kantong gua. Lo mau ngumpetin dari guamau percuma. Gak akan bisa. Apalagi sorot matalo. Gak bisa bohong. Lagipula, kita bertiga kan satu tim, jadinya ketauan banget." "Masa si? Emang?" Garry menyanggah ucapan Roman, saat dirinta mengambil jeda untuk bernafas. "Yailah, Gar-Gar. Lo tanya si Fio, juga pasti dia tau. Kalo lo ada hati buat Ody." Roman menyelesaikan ucapannya. Semua itu, sukses membuat mata Garry terbelalak dengan sempurna. "Mending lo ungkapin aja, si. Nungguin apaan coba?" Roman kembali mengajukan pertanyaan. "Tapi, gua sama dia beda, Man." Mendengar seutas ucapan dari temannya tersebut, membuat Roman yang mendapat julukan sebagai pakar cintapun terpaksa muncul ke daratan. Menjelaskan secara sabar, jika dalam cinta semuanya tidak pandang bulu. Entah kaum apapun itu, mau bxb, gxg, bxg, ataupun perbedaan kecil seperti yang Garry bilang tadi. Di mata dewa cupit, tidak ada perbedaan. Ia dengan sengaja menancapkan anak pada kedua orang yang terlihat saling mencinta. Terlebih anak muda yang masanya sedang kasmaran. Roman membicarakan dari segi percintaannya ya, buka dari segi agama atau apapun itu. Yang tertulis jelas, jika pacaran adalah ti dak keharaman yang bisa menimbulkan hal negatif lainnya. Terlebih lagi, ada perbedaan yang digenggam oleh Garry dengan Ody sejak kecil. Sangat tidak diperbolehkan, dari segi Garry, mungkin juga Ody. Karena, jangankan sang pencipta yang dikhianati, manusia sekalipun tidak rela jika diperlakukan seperti itu. Namun, ini menyangkut dua hati yang sudah terpaut satu sama lain. Kenapa tidak saling diungkapi, dan mari mencari kesempatan untuk bermain curang. Menipu semesta sejenak, demi membahagian diri sendiri. Tidak apa bukan? Meskipun terdengar egois, namun semuanya terdengar logis. Membuat Garry tertunduk, untuk pertama kalinya. "Bukannya perbedaan yang menyatukan ya, Garr?" "Iya, tapi, kasusnya beda, Man." Sergap Garry. Roman hanya bisa menghembuskan nafas beratnya, menarik kesimpulan sendiri. Garry terlalu takut untuk mengungkapkan semua perasaannya, yang padahal belum tentu diterima juga oleh Ody, yang terkenal sebagai anak tuhan. Gadis yang tidak pernah lupa untuk menautkan kedua tangannya di d**a, meluangkan waktunta sejenak. Serta mencurahkan semua isi hatinya pada satu orang yang sangat ia percayai. Yaitu, sang pecipta. Tapi, Odypun tidak luput dari perasaan cinta pada sesama manusia. Dirinya juga mempunyai naluri gadis pada umumnya, yang menginginkan pendamping di masa muda, hingga akhir hayat. "Lo ngomongnya jauh banget, Man. Boro-boro sampe akhir hayat, Man. Jadian aja belum tentu." "Who knows anjir. Lo takutan banget si. Cape gua ngomong sendiri, biarin aja dah. Capek-capek si cupit ngasih anak panah love buat lo, malah disia-siain." Beber Roman. "Semakin lama menunda untuk menyatakan isi hati padanya, maka semakin besar pula untuk orang menikungnya." Roman menepuk bahu Garry, dengan bubuhan kata-kata melodrama yang terlintas begitu saja. Karena sudah malas mengobrol dengan manusia yang mempunyai sifat es bati, serta jelmaan tembok seperti Garry. Roman memutuskan untuk pergi ke unitnta sendiri, "Ngambek mulu lo, kek cewek!" Teriak Garry. "Bimbang mulu lo, kek timbangan." Balas Roman, seraya menutup pintu. ** Jejeran meja di depan Ody sontak membuatnya terkejut. "Gak udah kaco deh kalian. Mau ngapain dah?" Seru Ivanna, yang langsung mendekati salah satu meja. "Wets, ini namanya ritual. Gak boleh diganggu gugat." Jelas Guntur, yang layaknya senior. Yang padahal, mereja berdua berdiri di jajaran yang sama. Kalau Ivanna, tidak pernah vakum dari agensi Freddy. "Garry mana, Tur?" Ody menyela percakapan mereka berdua. Sekaligus menengahi gencatan senjata secara dingin layaknya tom dan jerry. "Eh mana ya tu anak. Gua belum liat dia, Dy. Kenapa emang?" "Ohh, gapapa si. Gua cuman mau ngasih ginian doang." Ody mengangkat paper bag yang sedari tadi ia tenteng. Setelah beberapa saat, Freddy membuka acara 'ritual' dengan alunan musik yang cukup menyeramkan. Membuat Ody dan Ivanna saling menatap, "Boss lo gak jelas, Dy." "Boss lo juga, anjir." "Wuuu, udah berani ngomong kasar ya sekarang." Ada suara lain yang bergabung dengan perbincangan mereka berdua, "The real hantu, ya lo ya, Garr. Tiba-tiba udah di sini. Padahal dari tadi dicariin gak ada, manusianya." Cibir Ivanna, dengan langsung mengalihkan pandangannya. "Tau ih, kemaba si dari tadi. Tau-taunya muncul." Desis Ody, dengan lipatan dahi yang membuat Garry menyimpulkan senyuman. "Nih." Tidak lama kemudia, Ody menyerahkan paperbagnya. "Wtf. Lu ngasih gua batu, dy? Berat amat." Desis Garry. "Siapa suruh naro baju banyak banget. Apartemen gua bukan laundry, Garr." Jelas Ody, yang langsung berpindah tempat duduk. Membuat Garry berhadapan langsug dengan Roman, "AU." Gerakan bibirnya diikuti selaras dengan pergerakkan bahunyanya yang keatas. Semua itu malah hanya dibalas dengan pergerakkan jari tengah Roman, yang terangkat ke atas pula. Namun, untuk ukuran pejuang seperti Garry, semua itu tidak ada apa-apanya. Ia langsung berjalan mendekati Freddy yang masih mengoceh tidak jelas. Sampai 15 menit berlalu, akhirmya acara puncak akan dilaksanakan. Dimama Ody dan Ivanna akan mencicipi berbagai jenis buah kebanggan agensi Freddy. Yaitu, Jeruk. Bukan hanya jeruk yang bewarna oranye ya, melainkan semua jenis jeruk. Dari jeruk nipis, lemon, bali, mandarin, baby mandari, dan seterusnya. Yang sukses membuay Ody bergidik ngeri, padahal ia sendiri menyukai buah jeruk. Tapi, kali ini berbeda. Ia juga terpaksa mencicipi jenis jeruk, yang biasa ia temukan di dapur. "Siap, Dy?" Tanya Ivanna, seolah memberi aba-aba. "Oke, sekarang." Ody langsung mengigit potongan jeruk nipis dari piring. CEKREK' CEKREK' CEKREK' Banyak diantara mereka yang mengabadikan moment tersebut, untuk dokumentasi agensi ataupun sosial media agensi, ataupun koleksi pribadi. Sementara, bagi Garry semua ini adalah kesempatan untuk melihat 'Another Ody'. Garry mengambil ponsel dari saku celana, dan membuka kamera seperti yang temannya yang lain. Setelah mendapatkan raut wajah masam, hingga gelak tawa. Yang sekarang sudah jarang ia pertontonkan di khalayak umum. Entah ada apa pada seorang Ody, yang dulu sangat ceria serta menyenangkan. Garry mengedit semua foto serta potongan video, menjadi satu. Memberi judul dengan seutas kalimat yang sangat indah, namun mengharukan. ** "Kan bener! Kamu masih nyimpen foto aku yang ini. Hapus, ish." "Gak boleh, ini kan---" "Aisshhh! Mati lampu lagi!" Teriak Ody, yang membuat Garry menghentikan semua ucapannya yang belum selesai. Entah ini mati lampu yang keberapa kalinya, hingga membuat semua rekaman yang harus mereka selesaikan menjadi hancur berantakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN