"Kasihanilah mereka yang membual seakan paling paham tentang hidupmu, lalu men-judge dirimu hanya dari presepsi semata. Sebab, nanti hanya ada kata terima kasih yang akan bisa dari lisanmu karena melalui mereka.. Karena, melalui mereka bahumu semakin tegak untuk berdiri"
**
Kehidupan anak rantau yang biasa saja, membuat Garry tidak terlalu home sick pada kondisi di rumahnya.
Menurtnya, di rumah ataupun di sini jiga sama saja.
Garry tetap melakukan semua sendiri, karena sudah sejak ayahnya menjadi pilot dan bundanya yang menjadi pengusaha wanita.
Keadaan memaksa dirinta mandiri aejak dini, jangankan untuk bermanja-manja.
Keluarga Garry tidak sempat melakukan itu semua.
Tapi, tetap kedua orang tuanya sangat posesif pada Garry dan adiknya.
Dari kecil hingga dewasa begini, Garry masih sering diingakan saat waktu makan tiba atau waktu beribadah.
Hanya diingatkan, diajak untuk melaukan bersama tidak pernah.
Tapi, masa bodoh. Yang penting mereka masih mendidik Garry dan adiknga secaa benar.
Garry dan adiknya pun sangat mengetahui kondisi keluarga mereka.
"Garr... Mau ikut gak?"
Suara tidak lain bukan dan tidak salah, dari Roman yang kini berada di luar unit apartemennya.
Garry mendesis kesal, karena dirinya diganggu saat tengah melamun.
"Mau ngapain?" Balas Garry, membuka pintunya sedikit.
"Mau ikut atau engga dulu. Baru gua jawab." Jelas Roman, yang main masuk ke apartement Garry.
Roman lagsung duduk pada bean bag yang disulap menjadi kursi belajat Garry, yang berada di sudut ruangan depan tv.
"Gua ada kelas hari ini. Lo libur emang?" Tanta Garry, dengan mengambil kemeja yang baru ia ambil dari laundry.
Mendengar balasan dari Garry tadi, membuat Roman langsung berdiri.
Berjalan ke arah pintu, serta menarik gagang tersebut, "Gak seru lo. Yaudah deh, nanti aja pas lo balik kampus."
Singkat, padat, dan sangat tidak jelas.
Perkataan Roman hanya membuat Garry menggelengkan kepalanya, menyalahkan diri sendiri karena bertemu serta berteman dengan manusia super absurd layaknya Roman.
Garry mengambil ponsel di atas nakas, untuk memenuhi janjinya pada wanita nomor satu di kehidupannya.
"Bund..."
"Iya, mas? Lagi mau berangkat kampus ya?" Terdengar suara lesu nan kantuk ada telinga Garry.
Membuat hatinta sedikit bersalah, karena menganggu waktu istirahat sang bunda, saat di jakarta sudah pukul 11 malam.
Namun, apa boleh buat.
Akibat lamunan Garry tadi, dirinya teringat kembali untuk meminta restu dari bundanya, jika ada sesuatu hal yang ingin dicapai.
Layaknya sekarang, Garry mengingunkan posisi sebagai ketua umum himpunam pada fakultasnya. Dan dirinya membutuhkan doa serta restu sang bunda, demi memperlancar semua perjalanannya.
"Mas udah sarapan?" Tanya Loren.
"Belum, bund. Belum sempat ke groceries, sibuk soalnya."
Bahkan untuk menelfon saja Garry harus menyempatkan, karena padatnya jadwal hari ini.
Ia melenggang ke arah pintu, "heh? Lo?!" Hati Garry sangat terkejut menadapati sosok Ody yang sudah berdiri di depan pintu.
"Bareng yuk. Gua gak terlalu tau daerah sini. Maklum lah."
Garry mengangkatbsebelah alisnya, menerka maksut dan tujuan sosok gadis di depannya yang semakin membuatnya penasaran.
Garry tahu betul jika Ody adalah orang yang sama sekali tidak mau mengagantungkan diri pada orang lain.
Namun, kenapa sekarang dirinya ada di depan Garry, untuk meminta bersama-sama.
Padahal, Ody bisa langsung memesan uber car untuk menghantarkannya ke kampus.
"Bund, udah dulu ya. Mas mau berangkat. Bye, bund." Garry memutuskan teelebih dulu panggilan dengan sang bunda, sebelum bibirnga kelu untuk berbicara.
Karena kini, kondisi dirinya yang sama sekaku tidak karuan, hanya akibat kedatangan seorang Ody.
"Lo mau bareng gak sama gua?" Desak Ody, yang semakin tidak sabar menunggu jawaban dari Garry.
Membuatnya berdesis, "Sabar disayang tuhan, lo gak mau disayang tuhan?" Cibirnya.
Membuat Ody terkikih, serta menegaskan pada hatinya.
Kini ia dan Garry akhirnya punta waktu berdua, untuk berbincang.
Hanya sekedar berbincang, bukan yang lain.
Karena, semenjak Ody pindah ke apartement yang sama dengan Garry, serta kemunduran dirinya yang tidak diketahui oleh Garry, seolah membuat Ody bersalah.
Bisa dibilang, Ody dan Garry adalah teman dekat yang hanta terpisah gedung fakultas.
Sepulang kampus, mereka akan bertemu di base camp, untuk briefing syuting yang akan dilakukan.
Tapi, lagi-lagi semenjak kepindahan Ody ke apartement yang sama, menimbulkan banyak kesalah pahaman diantara semua temannya.
Hingga membuat Ody sangat malu, karena sering diledek, jika dirinya menaruh perasaan lebih pada teman sekaligus rekan kerjanya itu.
Yang padahal, semua itu tidak benar.
Alasan Ody pindah, karena Thomas, sang ayah meminta dirinya untuk keluar dari asrama, demi menyelamatkan masa mudanya yang bebas.
Tidak dibataskan oleh jam malam, serta rasa gusar untuk meminta izin kepala asrama.
Dan juga, mempunyai privasi serta kamar sendiri.
Padahal, Ody lebih suka satu kamar dengan Diffa, karena bisa saling bertukar cerita, bertukan pakaian, serta saling bertukar sepatu.
Tapi, apa daya tangan tak sampai.
Ody harus mengindahkan semua permintaan ayahya, yang ia tahu untuk membahagiakan putri semata wayangnya.
Akhirnya, Ody memilih apartemen Windsor at dogpatch. Karena, jarak yang yang sangat dekat dengan kampusnya, serta lokasinya yang sangat strategis.
Mempunyai toko groceries sendiri di dalam apartementnya, serta dikelilingi oleh coffe shop yang akan merefresingkan diri, jika sedang bosan belajar di kamar.
Namun, lagi-lagi semua itu tidak disambut baik juga dengan beberapa orang, yang malah salah kaprah dengan dirinya.
Membuat fikiran Ody semakin terbebani dengan ejekan mereka.
Hingga Ody berfikir, apakah semua ini wajar untuk sebatas ejekan.
Namun, ia rasa tidak.
Karena, kerap kali mereka yang bernota bene, tidak terlalu dekat dengannya setiap bertemu mata dengan Ody, akan selalu mengejeknya dengan sebutan.
"Cewe kok ngejar cowo."
"Gak wajar anjir, lo gak beh ngewajarin itu semua, Dy. Lo marah juga gak salah." Ketus Garry, pada Ody setelah memberberkan unek-uneknya.
Saat mendengar cerita tadi, hati Garry langsung memastikan ucapan Sebastian yang kemarin.
Ia mengatakan jika fikiran Ody didominasi oleh Garry, bukan dalam konotasi yang baik.
Melainkam menjadi bebannya selama ini.
Fikiran Garry semakin over thingking, memikirkan jika alasan kemunduran mendadak Ody, adalah karenanya.
Agar membuat Ody tidak bertemu dengan Garry kembali, yang akan menghilangkan image buruk Ody.
Padahal, persetan dengan semua omongan orang.
Kenapa mereja harus ikut campur dalam cerita yang kita buat sendiri, kenapa mereka berah sekali menjadi figuran tanpa bayaran.
Seketika Garry mencaci maki dalam hati, ia tidak terima jika selama ini temannya sendiri dicemooh oleh orang lainn.
Karena bagi Garry, tidak boleh ada yang mengejek temannya selain dirinya sendiri.
Yang sudah mengetahui seluk beluk hidupnya, serta mengetahui waktu yanh tepat untuk melontarkan ejekan.
"Tapi, Garr. Sekarang malah kita disatuiin lagi." Ody kembali membuka percakapan, dengan tawa kecil yang selama ini Garry rindukan.
"Iya nih, lo betah banget si ketemu gua mulu." Sahut Garry, dengan fikiran yang langsunh bertravelling kemana-mana.
Padahal, yang dimaksutkan oleh Ody adalah menjadi calon ketum serta sekretaris Himpunan Fakultas.
Itu juga belum pasti, karena mereka memikiki satu pasang pesaing lagi demi menyandang status pasti ketum dan sekretaris himpunan bergengsi di fakultasnya.
Akhirnya, setelah kurang lebih satu purnama batu yang mengganjal Ody hilang.
Dihilangkan oleh kesepakatan antara hati dan fikiran, yang memberanikan diri mengucapkan serta memvisualisasikan.
Untungnya, Garry adalah mahasiswa sastra yang mampu menerka semua ucapan Ody secara tersirat.
Karena semua perkataan yang terlontar dari mukut Ody tidak karuan, belum lagi bubuhan ketawa sana-sini, agar membuatnya tidak gusar. Yang padahal sangat menganggu.
Namun, mulut bisa apa, jika hati sudah mengerti satu sama lain.
Hubungan Ody dan Garry sedekat nadi, serta sejauh matahari.
Dua kondisi yang saat ini hanya bisa dilihat tak kasat mata, dari berbagai aspek ataupun sudut pandang.