Handle pintu terbuka, dan menampilkan sosok yang ia cari sepanjang ini.
Hatinya tidak sabar, serta jantungnya ikut berdegup kencang.
Seperti menunggu kabar lolos atau tidak di universitas pilihan.
"Wehhh kemana aja lo." Sambar Ivanna, yang langsung membuat Ody mengalihkan pandangannya dari secarik kertas.
Jika ada yang melihat wajahnya sekarang, mungkin terlihat layaknya seekor kelinci ya g sedang tersenyum, hingga dua gigi depannya terlihat jelas.
Namun, ada satu pertanyaan dalam hatinya.
Kenapa Garry sama sekali tidak menoleh? Padahal ia baru saja membalas ucapan Ivanna, serta berdiri sangat dekat dengan lingkaran yang dibuat secara tidak sengaja.
Ody kembali over thingking, serta menyembunyikan senyum tadi, dan digantikan oleh pangkuan tangan menopang dagu.
"Heh, sini lah. Mau kemana calon ketum fakultas?"
DEG'
'Calon ketum fakultas' batinnya Ody mengajaknya diskusi.
Menerka-nerka apakah Fiola sedang membicarakan perihal Himpunan?
Kalau benar begitu, maka dipastikan jantung kembalu berpindah tempat menjadi turun ke perut.
Saking terkejut serta bingung, harus apa dan bagaimana.
Masalahnya, dirinya kan adalah calon sekretaris himpunan fakultas.
Yang otomatis, akan selalu bertemu dengan Garry saat melakukan kampanye ataupun saat di organisi.
"Aish!" Desis Ody, hingga membuat manik mata Ivanna dan Fiola menatap manik mata hazelnya.
"Kenapa, gais?" Tanya Ody, menampilkan wajah polos layaknya seorang bayi.
Untungnya, mereka berdua tidak lebih jaug menelisik Ody.
Membuat nafas leganya bisa dihembuskan, "Bentar ya gengs, gua mau ngobrol sama Garry dulu." Pamit Ivanna, yang keluar dari posisinya.
Mengosongkan sisi kanan Ody, yang langsung diisi oleh Nathan.
"Kenapa, Kak?" Tanya Ody, karena siku Nathan menyenggol dirinya.
"Lo gak beneran mundur dari tim gua kan?"
Ody kembali menopang dagunya, "kalo gua gak dipilih jadi calon sekretaris, juga gua gak akan mundur, kak."
Nathan langsung mendekat lebih oada Ody, dan berbisik padanya.
Membuat Ody terkejut, bertanya apa maksut semua ini.
Kenapa Nathan berubah menjadi sok dekat dengan dirinya, yang padahal biasanya Nathan tidak pernah melakukan ini.
Bahkan jika ada omongan yang bersifat rahasia, dirinya akan mengirimkan melalui chat pribadi. Tidak sampai berbisik seperti sekarang.
Ody salah kaprah, takut diapa-apakan Nathan.
Fantasinya terlalu jauh, hingga menjadi ke arah negatif.
Yang padahal, Nathan berbisik hanya ingin mengatakan untuk membantunya.
"Ish, Kak Nathan! Kalo itu doang mah ngapain sampe begini. Chataja kan bisa." Cibir Ody, yang kini sudah bisa lega.
Akhirnya, Nathan kembali pada posisinya yang duduk di sofa tepat di belakang Ody.
Dan, sepertinya naluri seorang sekretaris yang selalu menjadi notulen para pimpinan, sudah tergambar jelas pada diri Ody.
Yang kini, langsung mencatatat pada buku kecilnya, perihal semua ucapan Nathan tadi.
Tapi, berbeda dengan biasanya.
Kali ini Ody mencatat dengan beberapa simbol, agar semua orang tidak bisa membacanya atau mengetahui dengan jelas.
Semacam kode rahasia yang hanya diketahui dirinya, serta Nathan seorang.
"Eh, kok tumben pada kumpul begini." Tiba-tiba Freddy masuk dengan menenteng beberapa kantong belanja.
Fiola langsung menyambar kantong belanja tersebut, karena sudah mengetahui apa isinya.
"Makasih boss Freddy." Kata Fiola, seraya membagikan beberapa minuman kaleng, dan snack.
Freddy tidak ambil pusing dengan perlakuan tersebut, karena dirinya sudah biasa. Dan sangat biasa.
Namun, pandangannya kini terkunci pada dua orang yang sedang duduk seraya merunduk.
"Anak ayam siapa ini? Ketakutan banget." Godanya.
Membuat mereka semua tertawa, dan seketika Ivanna serta Ody yang mengangkat pandangannya.
Mereka berdua menyeringgai, menampikan jajaran gigi putihnya pada Freddy.
"Mau ngomong, Kak Fredd."
"Lah, kan itu udah ngomong." Sela Freddy, pada Ivanna yang tiba-tiba berdecih pelan padanya.
"Serius ah, kak." Balas Ivanna kembali, dengan tatapan pasti.
"Gua serius dari dulu, tapi gak pernag ada yang seriusin."
"Lahhh curhat!" Pekik Sebastian yang melempar ciki pada Freddy, yang masih berdiri.
"Lah ada calon ketum himpunan nih." Freddy terdistrack dengan kedatangan Garry, yang hanya memakai kaos oblongnya.
"Jangankan calon ketum, calon sekretarisnya juga ada di sini."
Balasan Nathan, langsung membuat Ody mecubit otot bisepnya.
"Hah? Siapa calon sekretaris?" Tanya Garry, dengan mata yang sangat terkejut.
Kini Nathan bergeming, karena merasa sangat bersalah pada Ody.
Ia menatap mata hazel Ody, dan hanya bisa menyeringgai pasrah.
Membuat Ody menampilkan senyum kecutnya, dan membenarkan jika dirinya adalah calon sekretaris himpunan.
Freddy serta Garry langsung terkejut bukan main, hingga terduduk di karpet.
Melupakan sejenak perkataan Ivanna yang menjelaskan jika ingin berbincang serius.
"Lo calon sekretaris himpunan, Dy?"
"Lo calon ketum himpunan, Garr?"
Bukannya saling menjawab, mereka malah saling bertanya, untuk memperjelas apa organisasi yang dimaksut.
"Kok lo bisa berdua jadi calon pengurus internal?" Freddy menambahkan deretan pertanyaan.
"Kak Fred, serius asli. Omongan gua lebih serius." Lirih Ivanna, yang mencoba membuat Freddy mengalihkan pandangannya dari Ody.
Dan, semua itu sia-sia.
Freddy hanya membalas dengan "nanti, sebentar. "
Serta langsung melontarkan beberaoa kalimat pada Ody, yang menegaskan jika dirinya harus bergabung kembali dengan agensi miliknya.
Namun, jika kesibukkan sebagai calon sekretaris menganggu fikiran Ody, akan diberikan keringanan oleh Freddy, yang menjelaskan tidak apa-apa untuk libur dan tidak mengikuti kegiatan syuting.. Yang terpenting, Ody bergabung kembali pada agensinya.
Karena Freddy sangat membutuhkan Ody, untuk nanti saat acara pertukaran budaya yang akan berlangsung 2 bulan dari sekarang.
"WAIT! LO PERNAH NGUNDURIN DIRI EMANGNYA?" Ketus Garry.
Ody langsung menganggukkan kepalanya, dan kembali menyeringgai tanpa dosa.
'Pantes gua jarang liat lo! Ternyata bukan cuman pindah tim, tapi ngundurin diri.' batin Garry, dengan tangan yang langsung menopang dagu.
Setelah semua pertanyaan dijawab Ody, dan para orang menuntaskan rasa penasarannya.
Kini, Freddy bangun dari posisinya dan mengajak Ody untuk mengobrol di ruangan samping.
Menjauh dari beberapa orang, karena harus membicarakan detail.
Ody langsung meminta maaf, karena posisinya yang sulit keluar.
Dan kini, sampai di samping Garry, yang seolah terus menatap Ody, "Misi, Garr."
"Mau kemana?" Tanya Garry, berniat untuk menggodanya.
"Ke hatimuu."
DEG'
Seharusnya yang salah tinglmkah adalah Ody, tapi, kenapa kini berbanding terbalik.
Garry dibuat salah tingkah oleh balasan Ody, yang lebih menggodanya.
Membuat dirinya terdiam sejenak, dan otomatis memberikan jalan pada Ody.
Ody melenggang jalan dengan sangat lancar, tanpa mengetahui jika ada jantung yang berdegup sangat kecang layaknya sedang matmrathon 10 kilometer.
"Eits, bentar. Ivanna ikut juga dong, kok diem aja. Bangun!"
"Asssaahhh!" Ivanna kegirangan, dan langsung bangun dari duduknya.
"Minggir lo!"
"Awww!" Kepala Garry membentur meja kecil di depannya, karena posisi yang sedang merunduk, dan didukung oleh tendangan kecil Ivanna, yang semakin membuat posisinta sulit.
Benturan itu sekaligus membuyarkan dan memberhentikan degupan jantungnya.
Garry langsung mengambil minuman kaleng, demi menghilangkan aerta menyembunyikan salah tingkahnya.
Namun, semua itu terlambat.
Semua orang yang tadi menyaksikan, sudah mengambil keputusan.
Membenarkan adanya hubungan tidak biasa antara Garry dan Ody.
Entah hubungan yang dilakukan dua pihak, ataupun bertepuk sebelah tangan.