Ody menyambar map plastik di atas nakas, "Cieee mau tampil nih..." Kata Ivanna, yang masih berada dalam selimut.
Ody menatap sejenak Ivanna, dengan manik mana coklat terangnya, "Diem deh lu! Nanti lu makan makanan asing, lho, hari ini."
Ucapan Ody tadi, membuat Ivanna mati langkah, dan bangun dari posisinya.
Teringat kembali, jika hari ini dirinya beserta tim kanal Youtube Nathan, akan berkunjung ke Restoran Indonesia.
"Gua perlu minum s**u dulu gak ya? Buat jaga-jaga aja..." Gusar Ivanna.
Ody hanya terkikih, sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Membuat Ivanna gusar sendirian, karena akan mencicipi makanan dari negara asing, serta akan berfikir kesamaan dari makanan asal negaranya, Meksiko.
"Tapi, setau gua makanan Indonesia enak-enak dah. Rendang aja masuk kategori makanan terenak di dunia, versi CNN." Jelas Ody, menenangkan temannya sejenak.
Ivanna terdiam, menatap Ody yang sedang menguncir seengah rambutnya, "Kalo yang masak enak, kalo gak? Ya amsyong."
Ody terbahak, mendengar balasan tidak masuk akal dari temannya.
Karena ia sudah sangat mengenal Ivanna sejak lama. Jadi, ia hanya membiarkan saja sifat kegusaran serta ketakutan yang berlebihan dari temannta itu.
"Udah ah, ngomong sama lu gak selesai-selesai. Bye, gua berangkat dulu." Ody berpamitan, dan langsung keluar dari kamar asramanya.
"Bye, Dy. See you on basecamp!" Pekik Ivanna, yang kembali mengurung dirinya dalam selimut, dan bukan bersiap-siap untuk syuting hari pertamanya.
Lodge at the Presideo, membuat Ody, Roman, serta Garry terperangah kedua kalinya.
Mereka bertiga tidak menyangka, bisa menginjakkan kakinya di apartemen kelas tinggi seperti sekarang.
"Gua ke San Fransico aja kaya mimpi, sekarang kesini. Tambah gak mau bangun aja gua." Celoteh Roman.
Gedung seluas dua kompleks Pondok Indah, di jadikan dalam satu gedung untuk apartemen ini.
Uang bulanan Garry selama 10 tahun, mungkin hanya untuk biaya interior sub bagian walpaper pada temboknya.
"Woahh," Ody terperangah hingga menganga, membuat Garry sigap menutup dengan tangannya.
"Pamali, anak gadis ngebuka lebar mulut."
"Orang bule mana tau pamali si, Gar..." Timpal Roman.
Sementara Ody hanya kebingungan, tidak mengerti apapun perbincangan mereka berdua.
"Wehh! Masuk! Bengong aja lu di lobby." Seru Fiola, yang langsung membagikan gelas kopi yang sudah ia beli sebelumnya.
"Thanks, Kak."
"Fio aja si, kaku aja kaya bra baru." Balasnya, diikuti oleh kikihan Garry dan Roman, yang satu frekuensi jokes dengan ketia timnya tersebut.
Dan lagi-lagi, anak bayi layaknya Ody hanya bengong layaknya sapi ompong, karena tidak mengerti adult funny jokes seperti tadi.
"Udah, udah, naik yok naik. Briefing dulu." Perintah Fio, dan langsung berjalan bersama dengan mereka ke unit basecamp.
Di Basecampe sudah ada Freddy yang sengaja menunggu tim Fiola, untuk melihat bagaimaba kinerja hari pertama mereka.
Setelah tim dark Nathan yang membuatnya dirinya terkesima dengan semua ide-ide kreatif untuk syuting pertamanya.
Yang akan dilakukan di restoran Borobudur, yang beralamatkan di 700 post St, San Fransisco, California, CA 94109-6106.
Restoran Indonesia yang berjarak 14 menit dari basecamp, yang membuat warga negara Indonesia bangga.
Karena restoran Borobudur mendapatkan peringkat nomor 50 dari 633 restoran Asia di San Fransisco, serta mendapatkan peringkat nomor 287 dari 3.669 restoran di San Fransisco.
Sangat mengangumkan, untuk ukuran restoran bercerita otentik negara asing di budaya barat.
Klek'
"Misi, om..." Fio menggoda Freddy yang sedang menguncangkan kaki di atas sofa.
"Masuk, neng."
"Geli ya, anjir! Nang neng nang neng. Gua bukan orang sunda."
"Yaudah, mbak. Kan lo orang jawa." Kata Freddy, "Emang gua mbak jamu." Cibir Fio.
"Serba salah emang cewek." Gumam Freddy.
"Masuk, masuk. Biasain ajaa yaaa, kita mah emang begini." Jelas Freddy pada Garrg dan Ody.
"Santai ajaa, udah biasa." Balas Garry, seraya menjatuhkan bokongnya di karpet.
Ody hanya menganggukkan kepala, dengan kikihan khas miliknya.
"Lo udah belajar kan, Dy?" Tanya Fio.
DEG
Jantung Ody berdegup sangat cepat, layaknya sedang marathon 10 kilometer.
Pertanyaan dari Fiola tadi adalah penyebabnya. Karena dirinya, kembali khawatir dan risau akan performanya nanti.
"Santai aja, Dy. Pasti bisa." Tangan Garry menepuk pelan bahu Ody, yang menampilkam raut wajah gusarnya.
Sementara Fio hanya melengkungkan senyumnya, mensyukuri karena mempunyai team mate yang sudah terlihat kebersamaan dan dukungannya.
Klek'
"Sorry telat, sorry banget."
Nafas terengah-engah, rambut berantakan, serta alas kaki yang seadanya.
"Lo Diffa?" Tanya Ody, yang dikejutkan oleh tampilan temaannya yang sangat tidak mencerminkan seorang Diffa.
Yang biasajya berpenampilan sempurna, "Asrama gua bocor, Dy. Makanya tadi gua ngurus keluhan dulu. Trs balik lagi ngambil naskah, dan panjang lah ceritanya. Gua cape."
Ia langsung mengambil kopi pada tangan Ody, untuk meredakan dahaganya.
"Sorry ya, Kak Fio, Kak Freddy. You know la, mahasiswi asrama gimana."
"Gua gak tau" Jawab polos Freddy.
"Biasa, anak orang kaya dari kecil. Kesini langsung dapet apartemen," Sanggah Fiola, "Lo rapih-rapig dulu gih, pake baju ganti aja yg ada di ruangan talent. Biar fresh." Sambung Fiola, dan diikuti anggukan kepala Diffa.
**
One.. Two... Three...
"TAKE!!" Pekik Arnold, selaku juru kamera.
"Haii gais. Kita lagi di restoran Indonesia yang terkenal banget di sini." Seru Nathan, selaku opening utama.
Sementara talent yang lain, seperti Sofia dan Ivanna menunggu sambil tersenyum ke arah kamera.
Menunggu aba-aba Nathan, seperti yang tertulis dalam script.
"Oke, kita selaku HPMII kedatangan dua talent baru yang pastinya fresh banget. Kita kenalan yuk..."
Sofia langsung menyambar aba-aba Nathan.
Tingkah centilnya dengan porsi yang pas, membuat Arnold terpukau dengan Sofia.
Batinnya mempertanyakan segala hal, kenapa tuhan menciptakan manusia bisa seperti Sofia, yang sangat girlfriend material dari Arnold.
"Mohon kerja samanya..." Sofia menutup perkenalan diri denngan lambaian tangan, serta kedipan sebelah matanya.
Membuat Nathan terdiam sejenak, membiarkan dirinta terpukau sebentar pada Sofia.
Sebelum akhirnya, ia berpindah pada Ivanna, yang mempunyai image cewek casual serta sporty.
Ivanna memperkenalkan dirinya, sama seperti Sofia tadi. Namun, dengan gayanya sendiri yang kini kembali membuat Arnold mengagumi pesonanya juga.
Kenapa kali ini malah juru kamera yang dibikin bingung.
"Mohon kerja samanya.." Ivanna menutup perkenalan dirinya, dengan ucapan dingin khasnya.
Tapi, anehnya.
Kenapa pesonanya tadi terlihat sangat cocok untuk syuting opening channel Nathan.
Semua karakter mereka berdua seolah menyeimbangkan channel Nathan.
Dimulai karakter Sofia yang centil nan heboh, sementara Ivanna yang dingin dan acuh.
Terasa sangat balance, hingga mereka hanya perlu satu kali shoot tanpa adanya kesalahan.
"OKE... GOOD!" Pekik Arnorld, menyudahi rekaman pertama, seraya menunggu pelayan mengeluarkan menu yang sudah mereka pesan.
"Kacau Arnold! Senyum-senyum mulu syuting hari ini."
Rupanya Nathan memperhatikan gerak gerik dari Arnold, sehingga membuat Arnold tersipu malu.
"Lu juga kacau. Merah banget muka lu di kamera." Arnold terbahak, menggoda kembali Nathan.
"Kak Arnold lucu juga, ada lesung pipinya." Celetuk Sofia.
Membuat mereka bertiga (Ivanna, Nathan, serta Arnorld) tersedak air mineral yang baru diteguk.