Mereka semua telah terbagi pada 10 fakultas, sekaligus mendapatkan 'hadiah' pertama perkuliahan.
Sehingga sorakan bahagian dari semua mahasiswa yang mungkin terdengar hingga dalam gedung perkuliahan.
"25 dollar, lumayan gais. Buat jajan. Kalo di Indonesia, bisa ngecaffe 2 jam." Kata Guntur, seraya mengibaskan ketiga lembar uang tunai.
Pasangan yang ia temui tidak jauh berbeda dengan sifat maupun sikapnya, hingga membuat Garry menggelengkan kepala.
Sementara Roman yang jauh disana, seolah sedang kikuk saat bersama pasangannya yang terlihat seperti kutu buku, "HEEEM."
Garry menoleh pada pasangannya sendiri, yang sedang menggaruk tenggorokannya.
"Kenapa?" Tanya Garry, dengan suara dinginnya.
Ody langsung mendengakkan kepala, demi melihat wajah Garry, "Apanya yg kenapa?" Ia berbalik bertanya.
Garry mengerutkan dahinya, menantap Ody penuh tanda tanya.
Kini otaknya terpaksa diforsir demi mencerna pertanyaan dari Ody, dan sekaligus menerka seperti apakah kepribadian dari gadis di depannya, yang terlihat sangat polos, namun mempunyai suara yang cempreng.
Yang membuat dirinya seolah menjadi sosok gadis yang sangat cerewet serta bawel.
Apalagi ada tambahan t**i lalat di atas bibirnya, yang menambah kesan sosok gadis bawel, menurut perkataan leluhurnya.
"Kenapa apanya?" Garry membalik pertanyaannya, hingga membuat tangan Ody reflek memukul lengannya.
'Hehh... Mukul-mukul ae nih orang.' batinnya mengerang, karena sikap Ody, yang membuat kebingungan.
Seketika, ada tangan Ody yang melambai di depan wajahnya, seolah ingin menyadarkan Garry dari lamunannya tadi.
"Lahh bengong.... Mending jalan ayo,"
'Agresif juga nuh orang masa baru kenal udah ngajak jalan.' kembali lagi, fikiran Garry salah paham dengan ucapan Ody yang belum selesai.
"Mau nunggu sampe kapan? Yang lain udah pada mulai tournya lho." Sambung Ody, dengan memberikan peta universitas pada tangan Garry.
Semua itu membuat Garry tak kuasa menahan tawanya, karena kini dirinya salfik dengan belakang baju Ody, yang basah karena keringat.
Namun, ketika ada beberapa laki-laki yang menertawakan Ody, hatinya merasa sangat marah.
Sehingga dengan cepat, ia melepaskan jaket dan menutupi belakang Ody, "Kenapa?" Ody bertanya dengan sangat polos, membuat senyum tipis Garry muncul secara tidak sadar.
"Tidak apa, gua gerah aja. Jadi tolong bawain, tapi gak boleh dilepas!" Jelas Garry, dengan suara baritone khasnya.
Perlakukan Garry tadi, membuat Ody kebingungan.
Namun dirinya tidak mau melepas jaket pemberian dari Garry tadi. Karena seketika ia merasakan dingin menusuk kulitnya.
"Oddy!"
Nama Ody yang terpanggil, namun kepala Garry yang menoleh.
Karena orang yang dipanggil tengah sibuk membaca maps.
Sehingga mata Garry bertemu dengan mata orang yang memanggil Ody. Namun, bukan Garry namanya jika ia tidak bersikap dingin, seperti sekarang. Yang sukses membuat orang yang memanggik tadi berlari ke arahnya, "Lo pasangan Ody kan? Kenapa gak bilangin ke Ody, kalo gua manggil?" Suara berat dari seorang gadis berkacamata membuat Garry bingung.
Dan dengan cepat, ia menyampingkan tubuh, sehingga menampilkan Ody yang sedang sibuk.
"Panggil aja sendiri." Singkat, padat, jelas. Membuat gadis berkacamata dibuat jengkel setengah mati.
"Kenapa bisa lu yang jadi pasangan temen gue siii." Cibir gadis itu, dengan suara yang sangat jelas, hingga Garry berdecih di depannya langsung.
Tidak lama kemudian, matanya terkunci pada sosok laki-laki yang sedang berlari mendekatinya.
Dan, setelah mengetahui sosok tersebut. Garry langsung berlari sekuat tenaga.
"Hehh! Garry! Mau kemana kamu? Kita belom...." Ody enggan menyelesaikan perkatannya, karena sosok Garry yang sudah menjauh dengan cepat.
"Dy, dy. Bisa-bisanya lu dapet pasangan begitu. Kasian banget temen gue pasti." Diffa mengelus pelan rambut Ody, hingga sang empu kebingungan.
"Begitu kenapa? Dia baik lho, Diff." Balas Ody.
"Perihal hati yang kurasa sudah menemukan sang empunya; semoga hanya denganmu kapalmu akan berlabuh."
Secara tidak sadar, hati kecil Ody seolah berbisik padanya. Tentang omong kosong serta basa-basi, tentang seorang Garry yang baru dikenalinya kemarin.
Seketika Diffa tersentak kaget dengan balasannya tadi, "Ngeselin begitu lu bilang baik, Dy? Astagaaa, demi dewa..." Jelas Diffa, dengan mengguncang tubuh Ody, agar temannya sadar akan sosok Garry sebenarnya.
Yang padahal, Diffa pun tidak tahu sosok asli Garry seperti apa.
Tapi karena kesan pertamanya tadi, yang membuat kini dirinya mengecap Garry sebagai makhluk menyebalkan sejagat universitas ini.
30 menit berlalu, saatnya Ody memunculkan sifat aslinya.
Merengek kesana kemari, kebingungan sendiri, sampai akhirnya ia menyerah untuk menyelesaikan teka teki di ruang seni.
Ia langsung menjatuhkan diri ke lantai, menyandarkan punggungnta ke tembok, sambil menunggu Garry yang entah kemana.
Tidak ketinggalan dengan u*****n, yang ia jabarkan satu persatu.
Jari-jari lentiknya kini menggambar di belakang lembar jawaban, agar menjadikan u*****n dalam hatinya nyata.
"Kau anak seni pasti? Ya kan, ya dong?" Seketika ada suara yang sangat renyah, mengganggu Ody.
Secepat kilat, ia membalik lembaran tersebut dan menoleh pada sumber suara.
"Bukan, inimah cuman hobi. Sebenernya saya anak bahasa." Ia terpaksa berbohong, agar mencegah orang asing di depannya, tidak mengetahui real life dirinya.
"Masaa? Bahasa apa? Satra bahasa? Atau pendidikan bahasa?
'Damn it!' kini u*****n baru kembali tercipta.
"Kau jurusan apa jadinya? Kok diam aja?"
Batinnya yany merasa jengah, karena orang asing tersebut sudah menghujani banyak pertanyaan pada dirinya, membuat amarahnya yang tidak tertahankan lagi, terpaksa membuat Ody menumpahkan segala kekesalannya.
"OI! GUNTUR! MUNDUR DIKIT! ITU PASANGAN GUA!"
Tarikan nafas baru diambil Ody, namun suara baritone yang sangat keras sudah mendahulukan erangan batinnya.
Dan kini, batinnya kembali mengerang setelah tau siapa sumber suara tersebut.
"Garry! Darimana aja si kamu! Aku ngerjain ini semua sendirian lho ya, kalo kamu mau kabur dari tanggung jawab, seengaknya izin dulu! Biar aku siap-siap!"
Teriakan dari Ody, membuat Guntur lamgsung berdecih, "Mana ada kabur izin dulu."
"KAU DIAM BISA?!" Bentak Ody, dengan sangat puas karena bisa meluapakan emosinya.
Meskipun semua itu salah sasaran, tapi Guntur juga ada andil dalam membuatnya jengkel. Sehingga semua itu terasa sangat pantas.
"Kok teriak-teriak si? Gak bisa nunggu gue sampe dulu, baru ngomong?" Kata Garry, dengan raut wajah tanpa dosa, diikuti dengan nafas yang terengah.
Tidak tau apa yang membuatnya sampai begitu lelah, namun yang Ody tau adalah Garry telah lalai dalam tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan padanya.
Dan kini, gantian Ody yang kabur meninggalkan Garry.
"WEHH, MAU KEMANA? KOK GANTIAN? ODYYY!" Teriak Garry, dan langsung menyusul Ody, yang sudah berjalan dengan sangat cepat.
Menyisakan Guntur seorang diri, yang kebingungan menonton acara yang tidak masuk dalam genre apapun.
Dirinya merasa jika Garry dengan pasangannya tersebut, tidak mau saling mendengarkan alasan yang mungkin mau dijelaskan.
Mereka berdua seolah nyaman saling bergantian lalai dalam 'tanggung jawab'.
Sampai semua fikiran Guntur disudahi dengan teriakan melengkung, yang ia tau dari siapa.
"Ivanna, ini ruang seni. Mari kita pecahkan teka-tekinya." Suara kikuknya berhasil membuat Ivanna menyudahi teriakan tersebut, serta lupa atas masalah dirinya yang tiba-tiba menghilah sejak kejadian di ruang bahasa.
**
Kini Garry dan Ody sudah saling berbaikan dengan penuh drama sejak tadi.
Namun sebagai laki-laki, yang selalu salah di mata para gadis. Garry lah yang harus senantiasa memohon maaf pada baginda ratu Ody, yang tadi sudah hampir menangis.
Dan tanpa sadar, posisi Ody kali ini yang sedang menyandarkan kepala dengan nyaman di bahu Garry.
"Maaf, yaa..." Untuk kesekian kalinya Garry mengucap kata-kata tersebut.
Ody terdiam, menatap lurus ke depan, sebelum membalas perkataan Garry, karena hatinya yang belum bisa memafkan tingkah laku Garry, yang mengakibatkan beberapa point pinalti mereka dapatkan, karena tidak menyelesaikan teka-teki pada beberapa ruang yang tertulis dalam peta.