Vancouver, Canada

1123 Kata
Beberapa jam sebelum keberangkatan Ody menuju San Fransisco, Yohannes langsung menghubungi ibu kandungnya, untuk memberitahukan jika cucu kesayangannya akan melancong jauh ke bagian negara lain di benua Amerika. Dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipi, Yohannes menceritakan Ody dengan bangga. Bagaimana putri kecilnya kini bertumbuh menjadi gadis yang sangat pintar, putri kecilnya yang seolah bertanggung jawab selama terpisah jauh dengannya di Kanada. Bukan berpisah negara, melainkan hanya berpisah tempat tinggal, karena Ody yang harus tinggal di asrama universitas agar tidak membutuhkan waktu lama sampai ke kampus. Yohannes menatap Ody, putri semata wayangnya yang sedang menggeret kopor miliknya. Dengan perasaan bangga serta haru, hingga membut seutas kalimat indah dalam kepalanya. "Meski tidak selalu menetap dalam satu atap, terima kasih telah tumbuh menjadi anak baik serta membanggakan." "Kalau begitu, biar dia tinggal denganku saja, Yohannes." Pintah sang ibu, dari seberangnya. Namun semua itu rasanya mustahil, karena Ody yang merupakan gadis yang lebih suka tinggal jauh dari keluarganya. Bukan karena ada sesuatu hal yang dibenci dari keluarganya sendiri. Melainkan itu adalah salah satu cara agar Ody bisa menginprov dirinya semakin berkembang, dalam hal pendidikan atau hobinya sekalipun. Jika dirinya tinggal bersama keluarga sendiri, tidak mudah seorang Ody yang serba 'tidak enakkan' untuk berkembang. Sebagai contoh, jika dirinya sedang pulang hingga larut malam kaena sedang mengerjakan project atau tugas perkuliahan, maka Ody akan sangat tidak enak hati untuk pulang ke rumah, karena yang berarti dirinya harus menganggu seisi rumah demu membukakan pintu untuknya seorang. Dan jika ditanya, kenapa Ody tidak dipercayakan untuk memegang kunci rumah sendiri, agar memudahkan dirinya keluar masuk rumah, dalam kondisi apapun. Maka jawabannya adalah, BIG NO! Karena Yohannes adalah tipe orang tua yang sangat overprotektif, dan akan selalu menunggu kepulangan Ody, sampai kapanpun. Okey, balik lagi ke perbincangan Yohannes dan sang Ibu, yang telah menjelaskan panjang lebar dan dengan sabar pada ibunya tersebut. Namun semua penjelasannya sama sekali tidak diacuhkan, dan sang ibu masih tetap menyuruh Ody untuk tinggal bersamanya. Sehingga membuat Yohannes mengeluarkan rencana agar mencapai win-win solution bersama ibunya tersebut. "Bagaimana, Mamie? (Sebutan nenek yang biasa digunakan oleh warga negara Kanada.)" Yohannes terdiam, menunggu sang ibu menjawabnya dengan penuh harapan, agar semua itu indahkan olehnya. "Yohannes...." "Yes, Mamie?" Sambarnya dengan senyum tipis, "Rencana tadi bagus, Mamie setuju." Setelah mendengar jawaban dari sang Ibu, Yohannes langsung mengacungkan ibu jari pada Ody yang sedari tadi menunggu kabar membahagiakan dari sang ayah. "Mamie.... Iloveyouu... Nanti saat Odetth kesana, bikinkan pie dengan syrup maple, ya!" Ody langsung berteriak, berharap suaranya terdengar sampai telinga nenek kesayangannya. 10 menit mereka habiskan untuk bercengkrama dengan Nanie yang berana di kota lain di California, membuat Ody tidak sabar untuk merantau. "Ody, sayang...." "Iya, Pah? Papah mau nganter aku sampai rumah Nanie?" Balas Ody, dengan tangan yang sibuk mempacking pada koper khusus perawatan wajah, hingga tubuh. "Pengennya begitu, tapi kerjaan papah di sini gimana, kau tau kan musim seperti ini membuat kerjaan papah semakin bertambah?" Kata Yohannes, yang sedang memberikan pengertian pada Ody, karena sedari kemarin dirinya meminta diantar ke San Fransisco, atau hanya ke rumah Mamienya semata. Namun takdir berkata lain, karena musim panas yang sebebtar lagi akan datang membuat Yohannes tidak bisa mengindahkan permintaan putri semata wayangnya. "Becanda, Pah. Aku tidak masalah jika kau tidak bisa mengantar. Asal,... " Ucapan Ody menggantung, namun firasat seorang ayah tidak bisa dihindarkan. Yohannes langsung memberikan beberapa kartu kredit yang sudah dituliskan untuk dipakai membeli apa saja. Dan semua kartu itu memang sudah ia siapkan, untuk bekal masa depan Ody. "Ulu... Senyumnya lebar sekali...." Goda Yohannes, dengab menyolek pipi gempal Ody, karena melihat senyumannya yang begitu merekah, dan matanya seolah melambangkan simbol mata uang. Tak terasa hari semakin sore, yang membuat waktu diantara mereka semakin terkikis, "gak ada yang lupa kan, sayang?" Tanta Yohannes untuk terakhir kalinya, sebeluk Ody naik taksi menuju bandara. "Tidak ada, Pah. Aku yakin semuanya udah ada di koper ini." Ody menyakinkan ayahnya. Wajahnya yang berseri, lengkung senyum yang tertarik jelas, membuat Yohannes percaya dan melupakan sifat pelupa dari putrinya tersebut. "Kalau begitu, see you after summer ya, sweet pie." Yohannes mendekap dan membuat janji dengan Ody. Tanpa sadar, tetesan airmata yang sudah menghiasi pipinya membuat ia sulit membalas ucapan sang ayah. "Pah... Tolong dukung aku, hingga kapanpun ya..." Lirih Ody, dengan mendekap lebih erat sang ayah. "Pasti...." Yohannes melepas pelukannya, "Kalau begitu, semangat untuk kampus baru... Semoga sukses dan--" Ia menggantungkan perkataannya. "Mendapatkan pacar di sana..." Sambung Yohannes, dengan terkikih. "Ucapannya sudah ngaco." Ody mengelak, dengan langsung memasukkan dirinya ke kursi penumpang. Yohannes masih terkikih, dan memastikan jika putrinya harus merasakan moment menjalin hubungan, dengan siapapun. Agar membuat putrinya merasa senang atau biss mempunyai teman yang berbeda dari semua temannya di sini. "Sudah siap, Miss?" Tanya supir tersebut, dan langsung dibalas oleh anggukan dari Ody. Membuat kaki supir tersebut menginhak pedal gas, dan mobil melaju keluar halaman rumahnya. "Bye, Pah...." Ody melambaikan tangan pada Yohannes, dan langsung diindahkan juga oleh Yohannes. Dan akhirnta mereka berpisah, untuk beberapa kalinya. ** TINGG' [ Pah, kayaknya doa Mamie terkabulkan, karena aku lupa membawa kartu asramaku. Yang berarti, aku harus tinggal di tempat Mamie dulu, sebelum aku mengurus kembali permintaan kartu asramaku ke pihak kampus.] Yohannes membaca pesan dari Ody, dengan banyak kikihan di dalamnya, ["Baik, nanti kau kabarkan saja mammie, agar supirnya menjemputmu di bandara. "] Yohannes membalas pesan tersebut dengan nada arahan dan serius, namun kenyataannya adalah, ia sedang terbahak-bahak menertawakan anaknya sendiri. * * * Beberapa dari kami diminta membawa matras untuk acara selanjutnya, "Garr, aku benci matras." Ody berbisik pada Garry. Ia menoleh dengan tatapan penasaran, atas ucapan Ody yang barusan, "Trs kenapa? Who cares?" Tanya Garry, dengan kerutan di keningnya. Membuat Ody langsung mencibir, dan menyudahi agenda curhat colongannya, karena ia sedikit lupa dengan julukan dari Ivanna, pada pasangannya tersebut. Namun, tidak lama kemudian Garry malah membuka mulutnya untuk bertanya. Apa hal yang membuatnya benci akan matras? Padahal matras hayalah benda mati yang tidak bisa melakukan apapun. "Who caressss..." Ody menyambar semua perkataan Garry, dengan nada suara yang meledek. Untuk seorang es batu seperti Garry, respon yang diberikan hanyalah anggukan semata, yang semakin membuat Ody jengkel terhadap dirinya. "Apalah!" Gumamnya pelan, membuang pandangan dari Garry, untuk melihat beberapa senior tampan, yang sedang menjelaskan di depan. Garry terkikih pelan di samping Ody, yang entah kenapa membuatnya sepetrti sekarang. "OKE.... Karena matrasnya udah ada disini, berarti saatnya gue ngumumin acara selanjutnya." Krik krik krik Tidak ada respon apa-apa dari semua orang, karena jengkel pada senior yang sok asik di depan sana. "Acara selanjutnya adalah..... Senam lantai!" Senior tersebut menyelesaikan tugasnya, meskipun ia pasti juga merasa diacuhkan oleh semua orang. "s**t! Damn it." Semua u*****n terlontar dari mulut Ody. Hingga terdengar ke telingga Garry, membuatnya menoleh, untuk melihat apa yang menyebabkan pasangannya begitu kesan dengan 'senam lantai.' Sesaat menoleh pada Ody, Gary mendapati wajah Ody yang memucat, keringat bercucuran, sampai akhirnya. "ODY!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN