Tangan Garry langsung menahan kepala dari Ody, agar tidak menghantam lantai.
Ia langsung meminta izin para senior untuk membawa Ody ke ruang kesehatan.
Setelah mendapatkan izin dari mereka, lengan kekar Garry langsung menggendong tubuh mungil Ody, dan berlari sekuat tenaga.
Yang sesungguhnya, batinnya bertanya 'apa yang membuat Ody seperti ini? Padahal, sebelumnya ia masih melihat Ody dalam keadaan baik-baik saja.'
Namun semua itu terpaksa ditahan oleh Garry, untuk berfokus membawa Ody dengan cepat.
BRKK'
Ia menjatuhkan tubuh Ody, pada salah satu bed kosong di ruang kesehatan.
DREPPP'
Ada tangan yang menahan pergerakkan Garry, ketika ia ingin memanggil salah satu tim perawat.
Sesaat setelah menoleh, ia kembali dikejutkan oleh sosok Ody yang tiba-tiba sudah duduk, dan wajahnya kini segar kembali.
"Shitt! Kau sebenarnya manusia atau bukan?" Tanya Garry, dengan suara gagap dan degupan jantung yang melebihi kecepatan mobil pembalap F1.
Ody langsung tertawa terbahak-bahak, melihat reaksi Garry yang seperti ini.
Sebelum ia menjelaskam semua yang terjadi, ia langsung menarik nafas dengan panjang.
"Jadi...." Ody kembali tertawa, sebelum bisa menyelesaikan semuanya.
"Jadi apa si? Kau kenapa sebenernya!" Ketus Garry, dengan tangan yang bertolak pinggang.
"Kamu tenang dulu." Balas Ody, dengan wajah yang kini serius.
Semua perubahan raut wajah, hingga mood dari Ody, hanya bisa membuat Garry mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya.
Berfikir kembali, jika Ody bukanlah orang biasa, yang melainkan ia adalah orang atau seorang gadis luar biasa, yang seharusnya berkuliah di tempat yang luar biasa juga.
Sungguh sarkastik yang sangat menyinggung, jika Ody mengetahuinya dengan jelas.
"Yaudah lah, gua balik ke sono lagi aja lah. Lo juga diem doang." Ketus Garry pada Ody, yang sebenernya sedang gelisah.
Melihat emosi Garry yang sudah mulai mencuat, Ody menghembuskan nafas terlebiy dulu, sebelum mengatakan yang sebenarnya.
"Aku benci senam lantai, dengan alasan apapun sampai akhirnya aku dirundung 1 semester."
Garry terdiam sejenak, mencerna semua ucapan Ody pelan-pelan.
Fikirannya yang tidak menyangka, jika gadis baik nan polos di hadapannya kini, pernah dirundung selama 1 semester.
'Sangat tidak mungkin. Kenapa dia masih kuat? dan sangat kuat seperti sekarang.' Erangan dari batinnya tidqk bisa menahan getaran memikirkan semuanya.
"Jadi, tolong temenin aku, Garr. Please. Aku takut sendirian. Tapi gak mau ngelakuin senam lantai."
Garry masih tediam di posisi, dengan mata menatap langsung mata Ody yang terlihat sendu.
"Lo kenapa sebenernya? Lo dulu hidup gimana?" Gumam Garry, membuat Ody tersentak cepat.
Hingga 5 menit berlalu, Garry masih belum mendapatkan jawaban dari Ody, karena ada air mata yang seketika menghiadi pipi meronanya.
"Dy.... Lupain aja pertanyaan tadi, lo tidur aja, deh. Gua tungguin sampe lu bangun lagi." Garry membalikkan tubuhnya, serta memasang earphone pada telinganya.
Seketika perasaan bersalah mengeliling Garry, layaknya p****g beliung.
Memaksa dirinya untuk menyampaikan kata maaf dengan indah secara tersirat.
"Maaf sudah bertanya perihal apapun yang membuatmu kembali mengingat luka lama. Kamu hebat dan sangat kuat, bisa seperti ini."
Bukan untuk melarikan diri. Tapi, Garry meminta keluar agar Ody bisa menikmati waktu untuk menangis, karena mungkin teringat kembali moment buruknya dulu.
Sayup-sayup, terdengar rintihan dari Ody yang seakan ia tahan, karena menjaga keheningan di ruang kesehatan.
"Maaf sudah menjadi pecundang setiap kenangan itu hadir, karena, rasanya masih saja menyesakkan d**a. Sebab, semua itu telah sembuh bukan sudah lupa."
Erangan batin dari Ody seolag ia telepati pada Garry.
Hingga membuat Garry gemas, karena merasa semua beban tersebut harus dikeluarkan.
Agar hidupnya bisa berjalan sedikit lebih mulus, dibandingkan sebelumnya.
Garry langsung melepas hoodie, untuk menyingkap kepala Ody.
"Ikut gue." Singkat Garry, dengan langsung memapah tubuh mungil dari Ody, yang tidak bisa melihat apapun.
Mungkin dari dalam sana, suara cempreng Ody sedang memberontak, berteriak pada Garry. Yang dengan tiba-tiba mengambil alih tubuhnya.
Sementara semua itu tidak ada gunanya, karena earphone Garry yang masih setia menyangkut pada telinganya.
**
Untuk pertama kalinya, sim internasionaln Garry berfungsi dengan semestinya.
Karena dirinya harus menyetir mobil yang baru saja ia sewa di rental dekat kampusnya, untuk membawa Ody ke tanah lapang atau tempat apapun, untuk melepas semua bebannya.
Dan Ody yang baru terfikirkan jika ia maasih mempunyai kedua tangan yang baik-baik saja.
Ia langsung menyingkapkan jaket Garry dan langsung menghujani Garry dengan omelan-omelan tidak penting.
Bukannya merasa bersalah atau meminta maaf pada Ody, dirinya malah mengencangkan suara musik dari speaker mobilnya.
"GARRY! DASAR AGAR-AGAR!"
"Whattheffff--" Garry sangat terkejut dengan panggilan yang baru dibuat oleh Ody, "Lo manggil gua agar? Kenyal dongg...." Pekik Garry, dengan suara kerasnya namun fikirannya yang entah salah fokus memikirkam apa benda yang ia maksutkan tadi.
"Kenapa?! Gak suka?!" Ody madih dengan suara ketusnya, dan menambah sikap jutek yang baru ia kenalkan pada Garry.
Tidak lama kemudian, Garry menginjak pedal gas, untuk menjahili Ody, setelah melihat jalanan depan yang mendukung aksinya tersebut.
"Woah...." Pekik Ody, dengan perut yang terasa menggelitik, dan jantung yang hampir copot, saat Garry melintasi tanjangan dengan kecepatan penuh.
Dan untuk pertama kalinya, sensasi melewati jalananan San Fransisco, yang sangat terkenal dengan jalanan bukit.
Namun semua itu membuat Ody merasa senang, entah mengapa. Dirinya seakan diajak untuk menemukan pengalaman-pengalaman baru di negeri paman sam tersebut.
Yang sebenarnya ingin ia eksplor lebih jauh. Namun akibat kelalaian dan kecerobohannya, ia terpaksa menunda semua itu.
Karena dirinya yang masih tinggal di asrama kampusnya, yang mempunyai batas jam malam.
Jika paket kunci apartemennya telah sampai di rumah neneknya, kesempatan dan semua rencana Ody yang terbengkalai akan segera ia lakukan satu persatu.
"Mau lagi gak?" Tanya Garry, menoleh sebentar pada Ody, yang sedang tersenyum rupawan.
"Boleh... Tapi kok negara ini jarang ada mobil yang lalu lalang ya, Garr?"
Kembali lagi dengan sifat Ody yang seting salah fokus untuk segala sesuatu.
Membuat Garry terkikih, karena dirinya yang sangat malas meladeni pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari Ody.
Yang padahal dirinya sudah mengetahui apa jawabannya.
Fikiran Garry menelaah kemungkinan demi kemungkinan, yang menyebutkan jika pertama adalah, apakah Ody tidak tau dan tidak sadar jika kita San Fransisco adalah negara yang sangat maju di benua Amerika, dan membuat rata-rata penduduk lokal atau internasional yang mengetahui batas pemakaian kendaraan pribadi, yang menyebabkan jalan-jalan kota ini terlihat sepi.
Dan yang kedua adalah, jika Ody benar-benar tidak tahu apapun karena dia adalah bayi yang baru krluar dan langsung besar di San Fransisco.
"Sudahlah, kau diam saja." Balas Garry, yang sudah letih untuk melontarkan kata-kata pada Ody.
Melihat respon dari Garry, dirinya malah terkikih dan merasa tidak ada kesalahan dari perlakuan atau ucapannya tadi.
DASAR ODY.
Meninggalkan Garry dan Ody, yang sedang melancong entah kemana.
Kita kembali lagi ke fakultas Bahasa dan Seni yang sedang melakukan senam lantai.
Ada Sofia yang sedang dikerubungi oleh beberapa laki-laki, untuk meminta berfoto bersamanya.
"Munduran dikit dongg, gerah tau!" Pekiknya, dengan menggerakan kipas bermotif winne the pooh pada tangannya.
"Sofia the first. Sekarang giliran anda melakukan roll depan dan roll belakang!" Perintah Zoey, selaku senior tingkat atas.
Mulut Sofia langsunh ternganga, dan memebalalakan matanya sempurna, "OmayG. Roll depan? Gua anak seni, bukan anak olahraga. Salah sasaran lo." Balasnya, diikuti dengan kikihan dan tangan yang mengipas kembali.
Balasan dari Sofia tadi, membuat darah Zory mendidih, karena belum pernah ada yang membantah perintahnya.
Sementara Sofia, anak bau kencur yang baru masuk kedalam jaring internasinal berani membantahnya, sekaligus menghiraukannya.
Namun terlepas dari semua emosi Zoey, ucapan dari Sofia ada benarnya. Yang menyebutkan tidak ada gunanya untuk seorang pelajar fakultas bahasa dan seni, melakuan olahraga yang tidak bersifat dasar seperti senam lantai.
Dan para senior, juga tidak menjelaskan untuk apa mereka melakukan itu semua ke para-para junior.
"Oww, berarti kalau anak seni gak perlu olahraga kaya begini ya?" Tanya Zoey, yang langsung dibalas anggukan antusias dari Sofia.
"Kalau begitu,"
Sofia menganggkat kepalanya, untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh senior songong yang terdengat dari suaranya.
"Kau lukis pemandangan di sini, tapi tidak dengan kanvas." Sambung Zoey, yang dengan langsung membuat fikiran Sofia mengetahui kelanjutannya.
"Lukis di wajag anak itu." Tunjuk Zoey, pada salah satu mahasiwa yang sedang menguap sangat lebar, layaknya kudanil.
Melihat juluran telunjuk Zoey yang kearah pada Roman, membuat degupan jantungnya semakin cepat.
Ia berdiri dari duduknya, namun Zoey menggelengkan kepala, dan menunjuk kembali ke arah yang sama.
Dan dirinya langsung tersadar, jika Guntur yang kini sedang asyik mengupil yang terpilih oleh Zoey.
Kakinya langsung menendang punggung belakang Guntur, untuk mengisyaratkan.
Guntur yang kelewat peka langsung berdiri, dan menatao Zoey.
"Oke! Gak masalah, sini lo ganteng!" Sofia langsung melambaikan tangan, menyuruh Guntur mendekat padanya, demi menyenangkan hati dari Zoey, yang sedang menghukum dirinya.
Yang padahal, Sofia menganggap jika ini adalah bersenang-senang, dan meakselerasikam hobi menggambar pada wajah, yang telah lama ia lupakan.