Jalan yang berkelok, menanjak, menurun. Bukan main, kota San Fransisco yang sukses membuat Ody mengeluarkan semua isi perutnya.
Yang padahal, dirinya belum pernah mabuk saat perjalanan. Namun kenapa sekarang seperti ini.
Mungkin akibat Garry, yang tidak becus menyetir, "lho? Kok gua?"
'HEEE....' Batin Ody bertanya-tanya, saat mendengar pertanyaan dari Garry, yang seolah tahu isi fikirannya.
"So sorry, Garr. Bukan maks---"
"Gak jelas anjir lo! Muka lu yang dilukis masa gua yang disalahin. Padahal gua liat aja engga! Dah lah, cape gua ngomong sama tembok!" Garry mengetuk sekali earbud yang menyangkut di telinganya.
Membuat Ody mendenguskan nafas beratnya, "Lo tadi ngomong sama gua?" Tanya Garry.
"KEPEDEAN BANGET KAMU!" Balas Ody, dengan cibiran yang membuatnya enggan melanjutkan permintaan maaf nya tadi.
Garry menaikkan bahu setelah mendengar cibiran dari Ody, yang tidak ia mengerti kenapa gadis itu melontarkan kata-kta semacam tadi.
Yang padahal, pertanyaan yang terlontar oleh Garry bernada halus, dan biasa saja.
"Ayo dong! Katanya mau lanjut lagi!" Pekik Ody, dari kaca mobil yang sedikit ia turunkan.
"Sabar nyonya, kita tadikan berhenti gara-gara nyonya mau muntah, jadi tolong pengertiannya, ya." Kali ini gantiam Garry, yang mencibir Ody.
Hingga membuat gadis itu menggerak gerakkan bibirnya, menirukan bibir Garry jika sedang berceloteh.
"Kita mau kemana si?" Ody kembali mengajukan pertanyaan pada Garry, yang sedanh sibuk memasang maps untuk ke tempat tujuan.
"Turn Left...." Suara wanita dari aplikasi navigasi, membuat Ody kebingungan. Berfikir sejenak dengan menatap Garry yang terlihat bukan oranh wetern seperti dirinya.
Namun kenapa dirinya dengan sangat mudah memfungsikan semua fitur mobil luar negeri, seperti yang sedang dipakai.
"Awas suka.... Tatapannya dalam banget." Gumam Garry, yangsukses membuat Ody langsung mengalihkan.
"Narsistik."
Ting ting ting'
"Angkat, Garr." Kata Ody, yang risih mendengar suara notifikasi, "Biarin aja, itu Guntur, lagi misuh-misuh karena mukanya digambar, sama cewek yg namanya Sofia." Balas Garry, dengan tatapan lurus ke depan.
"HEH? SOFIA?"
Suara cempreng Ody membuat fokus Garry teralihkan, "Astaga! Kenapa si? Emang lo kenal dia?" Ketus Garry, yang kembali menatap ke jalanan.
Fikiran Ody saat ini tidak mau terburu-buru, untuk menetapkan jika Sofia yang dimaksutkan Garry tadi adalah temannya.
Karena fikiran Ody yang terlampau lurus, dan sangat berpositif thingking.
Membuat dirinya kembali berfikir, ada banyak cewek yang bernama Sofia, meskipun ia sangat mengetahui jika bakat yang dimiliki Sofia temannya lumayan langka.
Yang sangat mahir melukis pada wajah manusia.
**
Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya Garry dan Ody sampai ke tujuan.
"Woah...... Banyak kabutnya." Sarkas Ody.
Menatap tajam Garry, karena mengajaknya untuk melihay kabut tebak seperti sekarang.
Yang padahal pemandangan seperti itu, bisa ia nikmati dari jendela kamar asramanya.
"Eiii, bukan gitu...."
"Kalau gitu apa? Jelaskan coba." Sambar Ody, yang tanpa sadar kini berhadapan dengan Garry.
Sebagai orang yang bertanggung jawab, dan selalu meriset terlebih dulu
Garry langsung menjelaskan kenapa dirinya membawa Ody ke tempat ini.
Yang merupakam salah satu tempat ikonik, yanh bernama Golden Gate Bright, yang sangat indah untuk dipandang mata.
Tempat ini juga sekaligus, salah satu tempat yang masuk dalam list kunjungan Garry. Tapi, sayangnya, waktu lalu dirinya tidak sempat karena keasikam tidur di apartement bersama Guntur dan Roman.
"Lantas? Aku perlu mendengar itu semua?" Cibir Ody, yang langsung membuat Garry membalas tatapan tajam Ody.
Dibalik kejutekkan Ody, hati kecilnya justru mengucapkan kebalikkan nya.
Sambul menatap Garry yang sedang berfikir.
"Walau tujuan ini tidak sesuai dengan harapan, setidaknya aku diam-diam bahagia. Melihat semua usahamu, untuk membuat hariku jauh lebih baik dari sebelumnya."
Garry kembali mengaku salah di hadapan Ody, karena mungkin dirinya yang salah menentukam hari dan tidak memperhatikan suhu hari ini.
Hingga menyebabkan, tidak bisa membawa Ody untuk melihat pemandangan yang mungkin bisa membuat Ody lepas dari beban yang teringat dengan senam lantai.
"Oiya...." Garry menjentikkan jari, seolah menemukan ide briliant dari bisikan otaknya.
Ia langsung berbisik pada Ody, meminta gadis itu melakukan hal lain agar semua perjalanan ini tidak sia-sia.
"Crazy...." Cibir Ody, "Oh, comeon! Kapan lagi lo teriak di tempat ikonik begini, Dy." Garry merengek untuk memaksa Ody.
"Gak yaaa, Garr. Banyak orang yang liat, ntar disangka aku kesurupan lagi."
'Ohh orang luar negeri bisa kesurupan juga yaa. Kira-kira gimana ya, kalo lagi bilang AING MAUNGG, masa jadi IM TIGER, f**k OFF!'
Fikiran serta batin Garry melenceng jauh dari topik pembicaraan, membuat Ody kebingan dengan alis Garry yang naik-turun.
"Garry... Agar-agar, tok tok tok. You heard me?" Beberapa kali Ody mengetuk kening lebar Garry, saat poninya terkibas oleh angin.
CTAKK'
"AWWW! SAKIT ANJIR!"
Ody terkikih puas, saat berhasil menyadarkan Garry kembali.
"Udah deh udah, ayo balik lagi ke kampus. Yang diajak gak asik." Garry menyerocos, seraya berjalan kembali ke mobil.
Sementara Ody yang masih jauh di belakang, langsung mengeluarkan ponsel dan mengabadikan pemandangan lewat kamera ponsel miliknya.
Yang mungkin saja bisa ia posting ke media sosialnya, tapi itu semua hanya kemungkinan semata.
"ODY! SINI! MAU NGINEP DI JEMBATAN?" Garry berteriak dengan tangan menyuruh Ody menghampirinya dengan cepat.
"Garr, laper."
Kalimat pertama yang dilontarkan oleh Ody, saat sampai di dalam mobil.
Membut Garry terkikih, melihat moment seorang gadis yang tanpa canggung sedikitpun, memberitahukan dirinya kelaparan
Dan bahkan, reaksi dari Ody yanh terlampau sangat datar ketika mendengar suara keroncongan perutnya.
Yang biasanya semua gadis akan sangat malu, untuk melakukan itu semua, meskipun tanpa sadar.
**
"Puas hah puas? Muka gua bukat mediator lukisan lo!"
"Tapi bagus! Lo belum liat aja!"
Guntur dan Sofia sedang berdebat di dekat keran taman, setelah agenda senam lantai selesai.
"Lo anak jurusan mana, btw? Boleh kali kenalan dulu."
Guntur tetaplah Guntur, yang akan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mendekati gadis manapun.
Sifat dan sikap yang tidak jauh dari Roman, membuatnya mendapatkan julukan yanh hampir sama tapi dirinya yang masih berada di bawah Roman, dalam skill merayu nya.
"Lo masih nanya gua jurusan apa? Setelah gua lukis muka lu?" Sofia melengkingkan suaranya yang khas, hingga membuat telinga Guntur pengang.
"Astagaa... Gua tau. Kan cuman basa-basi aja." Bela Guntur, agar tidak terlihat menyedihkan di hadapan Sofia.
"LO MAH BASI!" Singkat, padat, dan menusuk.
Membuat Guntur mendengus kesal, seraya mengambil kapas dan micellar water dari Sofia, untuk membersikan wajahnya.
Sementara Roman yang berdiri tidak jauh dari mereka, dan berniat untuk menghampiri agar bisa berkenalan juga dengan Sofia.
Tapi semua itu tidak bisa ia lakukan, karenaada seorang senior resek yang sedang meghukum dirinya.
Entah apa yanh ada di fikiran senior tersebut, yang memberi hukumam atas alasan perilaku Roman yang bisa dibilang tidak salah.
"Kau lihat apa?" Ketus senior, membuat Roman langsung mengalihkan pandangannya.
"Liat dewa Hades, di depan gua. Kenapa?" Balas Roman dengan suara pelan, tapi menusuk hati.
Karena ungkapan yang ia pilih sangat bagus, untuk menjawab pertanyaan s
dari senior tengil, kepo, dan kurang ajar seperti di hadapannya sekarang.