Belum sempat masuk ke gedung fakultas, Garry langsung dihampiri oleh dua cecunguk dengan tampang yang sangat gelisah.
"Anjir,Garr. Kita disuruh bikin makanan sesuai negara, ataugak kota masing-masing." Kata Roman, dengan nafas yang terpogoh-pogoh.
"Berangkat dah sekarang ayo, drpd waktu belanja abis." Sambar Guntur, dengan menyuruh Garry, membuka kembali pintu mobil yang belum ia kembalikan ke rental.
"WEI! MAU KEMANA LU?!"
Garry mengerutkan kening, saat melihat seorang gadis berpenampilan kutu buku, akibat kaca mata tebalnya itu, sedang menghampiri ke arahnya.
"APA LO?!" Ketus Garry, setelah gadis itu di hadapannya.
"LO YANG APA! GAK ADA URUSAN GUA SAMA LO, TAPI SAMA NI ORANG!" Gadis itu langsung menarik kemeja Roman yang sedang ketakutan.
Dari kejauhan ada Ody yang baru kembali dari toilet, langsung menatap bingung pemandangan di depannya.
"Diffa? Garry? Sama dua cowok? Siapa?"
Banyak pertanyaan bertebaran di kepalanya, sekaligus membuat rasa penasan kembali muncul.
"Diffa!" Seru Ody, dengan berlari kecil untuk menghampirinya.
"Ody? Ngapain lu?"
"Gua pasangan sama dia," Tunjuk Ody, pada Garry yang sedang berusaha melerai Roman dari sergapan Diffa.
"Kamu ngapain, Diff?" Sambung Ody, menatapnya dengan bingung.
Dirinya sudah seperti sudah lama tidak bertemu dengan Diffa, hingga mungkin banyak kabar yang dilewati olehnya.
Seperti sekarang, Diffa yang seolah bertengkar serta beradu mulut dengan laki-laki yang tidak diketahui Ody.
Namun, Diffa mengacuhkan pertanyaan Ody, karena sedang sibuk memberi pelajaran pada Roman.
Yang selalu membuatnya kesal. Tim mereka tidak pernah mendapatkan satu pointpun, dikarenakan kerjaan Roman yang selalu terpisah oleh Diffa, sejak pemecahan teka-teki.
Terlebih lagi, saat waktu senam lantai pun, Roman malah berada pada kelompok fakultas lain bersama Guntur, yang mengakibatkan mereka berdua kembai tidak mendapatkan point.
"KALO ITU BERARTI, EMANG LO YANG SALAH!" Garry melepas tangan, membuat Diffa leluasa menghabisi Roman.
"Lo juga! Ngapain ada di fakultas lain bareng Roman?"
"Gua kan gabut, pasangan gua izin pulang, trus gua dipastiin gak akan dapetin poin lagi. Yaudah, daripada gua bosen, main-main aja ke fakultas sebelah." Jelas Guntur, dengan alibi yang memguatkan. Sekaligus menjelaskan, jika bukan dirinyalah yang sengaja untuk mengajak Roman terpisah dari pasangannya, yaitu Diffa.
Ody dan Garry menggaruk kepala dengan kompak, karena masih bingung agar melerai Diffa dan Roman yang masih beradu mulut.
Hingga akhirnya, mulut Guntur yang terkenal dengan lawakan serta kerecehannya, menyelamatkan mereka dengan satu kali pernyataan.
"Yang bener aja! Gak mungkin gua suka sama ni orang!" Diffa langsung melepas cengkraman dari kemeja Roman, begitupun sebalilnya.
"Nah udah kan selesai. Sekarang ayo masuk! Belanja dah mending, waktu kita gak banyak." Seru Guntur, dan mereka semua langsung memasuki mobil sewaan Garry, untuk berbelanja keperluan tantangan kali ini.
Tantangan para senior yang memaksa mereka untuk berimprovisasi, menyatukan dua makanan khas negara masing-masing tim atau pasangan, demi menyajikan satu jenis makanan.
Entah makanan pembuka, utama, atupun makanan penutup lainnya.
Mereka dibebaskan memilih apapun yang akan dibuat, dengan syarat harus menghigliht masakan khas negara masing-masing, dan bukan hanya menaruh beberapa komponen khas negara masing-masing.
CYIIIITTTTTT'
"Siapa lagi itu!" Seru Garry, karena ada seorang gadis yang menghadang mobiknya di depan.
"SOFIA!"
Garry, Roman menoleh serentak dan menatap kedua gadis di kursi belakang yang seketika keluar dari mobilnya.
Namun, tatapan mereka terkunci pada Guntur yang sedang berusaha menutupi wajahnya saat para gadis mendekati mobil kembali.
"Napa tuh anak?" Tanya Roman, yang langsung di balas gelengan kepala dari Garry.
CKLEK'
Pintu yang di dekat Guntur terbuka, dan sukses menampilkak wajah Guntur karena dirinya terkejut.
"LO?!" Seru Sofia, yang langsung dibalas dengan dekapan mulut oleh Guntur.
"Awas ah! Gua mau masuk!"
"Lu diem tapi, baru gua lepas."
Sofia langsung membalas dengan anggukan kepala, dan mereka berlima termaksut Garry saling bertatapan.
Menerka semua yang terjadi, dan kenapa seisi mobil ini pada saling mengenal dan saling terhubung, dengan caranya masing-masing.
**
Asian market Hall, adalah supermarket terbesar di San Fransisco yang menjual berbagai macam bahan makanan, snack, ataupunb barang-barang dari semua negara di Asia.
Dengan motto yang sangat menyentuh hati, yakni menjual barang-barang agar mengobati rindu dari para perantau yang tinggal di kota ini.
Semua barang yang di jual di supermarket inipun dibandrol dengan harga yang sangat menjangkau, hingga membuat supermarket ini selalu ramai konsumen dari manapun.
"Kita ngapain ke sini?" Tanya Ody, dengan sangat polos.
"Mau nangis." Diffa dan Garry saling bersamaan, hingga tanpa sadar mereka melakukan hi-5.
Ody berdecih pada mereka, dan langsung berjalan mendahului mereka semua.
Sementara Diffa dan Roman yang akhirnya bersatu, sudah mendapatkan ide untuk membuat hidangannya, dan langsung berpisah dengan Garry, Guntur, dan Sofia.
Sementara Sofia langsung pergi begitu saja, karena ingin ke toko buah yang tidak jaug dari sini, karena dirinya juga tidak ada kepentingan berbelanja di Asian Market, karena dirinya tidak berasal dari sana.
Dan Guntur, yang berjalan mengekori Garry dengan dalih untuk mencari bahan olahan dari kacang kedelai untuk hidangannya nanti.
Namun Garry malah meninggalkannya, untuk menyusul Ody yang sudah jauh di depan.
Karena dirinya yakin, jika Ody tidak mengetahui apapun perihal bahan baku ataupun hidangan Asia yang akan Garry beli. Karena dirinya yang berasa dari Kanada, dan Garry juga yang meminta ke tempat ini, untuk mencari bahan baku yang akan dipadukan oleh syrup maple Ody sesuai dengan rencana mereka berdua.
**
Roman, Diffa, Guntur, dan Sofia kembali ke kampus lebih dulu karena kebutuhan mereka sudah lengkap dan hanya tinggal membuatnya yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih.
Menyisakan Garry dan Ody yang sedang membayar semua belanjaan mereka di kasir.
"Kita mau beli maple dimana, Dy?" Tanya Garry, seraya mengeluarkan semua barang di keranjang.
"Gak ada yang jual maple di sini, Garr."
"Lah? Trus lo mau buat syrup maplenya gimana? Gimana sih lo. Kalo gak ada yang jual, kenapa lo kekek minta bikin syrup maple."
Cibir Garry, dengan tatapan tajam pada Ody, yang sedang membayar belanjaan mereka.
Garry meninggalkan Ody sendiri di kasir, karena fikirannya kalut mencari alternatif untuk buah maple, yang ia ketahui juga buah itu hanya ada di Kanada, negara asal Ody.
Dan bodohnya Garry, yang langsung mempercayai Ody begitu saja, sejak gadis itu menyatakan ingin membuat sirup maple, dan dipadukan oleh kue pancong Garry, jajanan khas negaranya.
"Garr..."
Tanpa sadar, Ody mengelus punggung belakang Garry, yang sedang menunggunya di pintu keluar.
"Maple emang tidak ada yang jual, tapi kita bisa mendapatkannya di rumah nenekku yang dekat dari daerah ini."
Jelas Ody, karena Garry yang masih belum menoleh padanya.
DEG'
Hati Garry tersentak, sekaligus merasa bersalah pada Ody.
Karena dirinya yang belum sempat mendengar penjelasan dari Ody, dan malah langsung menyerangnya dengan pertanyaan yang terdengat seperti pernyataan.
Dan semua itu mungkin membuat Ody tersinggung, karena dirinya terlihat bodoh di depan petugas kasir tersebut.
Garry menghadap Ody, dengan kepala menghadap ke bawah, karena malu untuk menatap mata Ody.
"Maaf..."
Mendengar ucapan dari Garry, sukses membuat tawa Ody pecah seketika.
"Kamu minta maaf kenapa? Aneh."
Ody mendengakkan kepala Garry, dan sekarang membuat mereka saling bertatapan.
"Ayo jalan! Sebelum waktunya habis, dan nenekku tidur siang." Ajak Ody dengan tangan menggandeng Garry, yang membuat Garry terkikih di belakang.