Kue Pancong dan Maple Syrup

1142 Kata
Tangan lincah Garry kembali membuat Ody terkagum-kagum. Mulai dari mengocok telur, hingga membuat adonan kue pancong yang dirinya tidak tau seolah menjadi tau. "Kok lu diem? Lap-in keringet gue dong." Perintah Garry, mendekatkan wajahnya pada Ody, yang tiba-tibw menahan nafasnya. 'Gila kali nih orang, ya. Mentang-mentang dia yang masak aku yang jadi babu.' Batin Ody, seraya menyeka peluh keringat di kening Garry. Kegiatan itulah yang sedari tadi Ody lakukan, karena sirup maplenya yang sudah beres. Dan kini dirinya hanya menunggu Garry yang belum selesai membuat kue dengan nama yang sangat asing di telinga Ody. "Tadi namanya apa, Garr? Aku lupa." Tanya Ody, karena otaknya yang masih berputar-putar memikirkan nama kue yang dibilang jajanan masa kecil Garry. "Kue pancong, Dy. Lupa mulu, lo. Heran, padahal masih muda." Kalimat yang barusan terlontar dari mulut Garry, bersifat godaan yang akan membuat lawan bicaranya tertawa, jika mungkin dilontarkan dengan nada yang pas. Tapi jika Garry yang melontarkan itu semua, jangan mengharapkan lucu. Yang ada malah menjengkelkan, sangat menjengkelkan. Apalagi ditambah raut wajah yang sangat datar, hingga membuat Ody berdecih di samping Garry. "Kenapa, Dy? Ngambek? Astagaaaaa" Garry menutup penggorengan cetakan pancongnya, dan langsung mengelus pucuk kepala dari Ody. Sehingga Ody merasa ada keanehan yang tiba-tiba merasuki tubuh Garry, "MASAK WEI MASAK!" Seru Guntur, yang berada di batch sebelah. Garry menoleh dengan sorot mata tajamnya, yang bisa mengalahkan pisau pada Guntur. Tidak lupa akan jari tengahnya yany ia angkat, untuk temannya tersebut secara tersembunyi. 30 menit kemudian, waktu untuk memasak telah habis. Digantikan dengan penilaian dari beberapa senior satu tingkat di atas mereka. Hidangan Garry dan Ody yang lebih dulu dicicipi, tidak mendapatkan respon apapun. Sesuai dengan harapan mereka, karena juga hidangannya tersebut sama sekali tidak berarti. Dari segi penampilan pun sangat jauh berbeda, dibandingkan yang lain. Garry pun sama dengan Ody, yang sama sekali tidak berhasrat untuk berekspektasi tinggi dengan makanan yang mereka buat. Karena mereka juga setengah hati dalam membuatnya, karena kondisi hati Garry maupun Ody yang seketika buruk. "HFFTTT" Ody mendenguskan nafas sangat berat, hingga Garry mampu mendengarnya. Ia tidak bertanya apapun pada Ody, karena takut menganggu privasinya. Karena Garry tau bagaimana kondisi hati Ody sekarang, yang mendadak berubah saat mendapatkan telfon beberapa waktu lalu. "Oke... Jadi penilaian kali ini akan dikirimkan melalui surel masing-masing, dan point tersebut belaku juga untuk menambah keterampilan kalian saat perkuliahan nanti." Seru salah satu senior yang selalu mencepol rambut merahnya. Akhirnya, tantangan terakhir di hari pertama selesai. Membuat Guntur bersorak gembira dengan suara melengkingnya. Roman yang terkikih dari batchnya, kemudian menyusul Guntur dan meninggalkan Diffa kembali. Tapi, siapa peduli. Toh tantangan sudah selesai, dan Diffa juga tidak memperlukan Roman kembali. Ia langsung meninggalkan batchnya, untuk kembali ke asrama. Merebahkan tubuhnya yang pegal setelah seharian beraktifitas. "Garr! Balik gak?" Seru Roman, yang sudah menggendong ranselnya. "Duluan ya, Garr. Sampai ketemu besok." Ody langsung meninggalkan Garry, tanpa menoleh padanya. Membuat Garry gusar, karena biasanya Ody tidak melakukan itu semua. Gadis itu pasti menatap lawan bicaranya, demi menjaga tatakrama yang selalu ia bicarakan. Tapi mengap kali ini sikapnya mendadak berubah, entah apa yang membuatnya seperti itu. Dan yang jelas Garry akan menyusulnya untuk mengetahui alasannya, serta menemani Ody, jika dirinya membutuhkan teman. "Sorry! Lo duluan aja! Gua masih mau konsultasi point sama senior!" Dalih Garry, dengan menggendong ranselnya. Guntur dan Roman yang tidak ambil pusing, hanya melambaikan tangan pada Garry, dan kembali ke apartemen agar bisa beristirahat. Sebelum kegiatan besok, yang sudah dipastikan akan membuat mereka lebih menderita dibandingkan sekarang. "Kenapa Oddeth harus tinggal sama mamah? Kalo papah lebih bisa bikin bahagia?" Suara gemetar, tenggorokan tercekat, buliran air mata. Seolah menyiksa Ody yang sedang berjongkok di halaman belakang fakultas Bahasa dan Seni. ["Oddeth, kau tidak tahu apa-apa--"] "Oddeth tau, Mah. Mamah nyakitin hati papah dengan tiba-tiba menghilang, dan secara tidak langsung itu semua nyakitin aku." d**a Ody semakin sesak, hingga nafasnya tersenggal-senggal. "Trus sekarang, mamah mau ngambil aku dari papah? Aku bukan barang, Mah." Kini tangisannya meluap kemana-mana, karena sudah tidak tahan untuk menahan beban yang selalu dipikul di bahunya. Sejenak fikiran Ody terbang untuk mencaci sang ibu, yang begitu egois. "Keputusan dari perempuan yang mestinya paling ku cinta, membuka kenangan pahit yang perlahan membaik, kembali menyakitkan. Mengapa kehadirannya sejak dulu yang ku dambakan, kini berubah sandangan status menjadi wanita yang paling ku hindari." Garry yang menyaksikan semua itupun, membuat hatinya terasa sangat teriris. Menyakitkam sekali, melihat seorang gadis ceria harus menagis seperti ini. Namun Garry tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya tidak bisa menenangkan Ody kali ini. Karena posisinya yang masih orang asing bagi Ody, yang belum berhak mengetahui itu semua. Tidak mau mendengar lebih jauh hal privasi dari Ody, Garry langsung berjalan dari tembok yang memisahkan dirinya dengan Ody. Ia mencari cara agar bisa menghibur Ody, tanpa membuatnya curiga. Dan fikirannya yang sangat cemerlang menemukan itu semua. Garry berlari sekuat tenaga, kembali ke halaman depan fakultas, untuk menemui senior tadi. "Kue pancong maple sirup yang di batch 8 ada kan?" Tanya Garry dengan nafas terengah-engah. Membuat senior tersebut kebingungan, dan langsung memberitahu jika semua makanan yang tersisa di batch telah ditaruh di meja ruang himpunan. Mendengar semua itu, Garry langsung meminta izin untuk mengambilnya kembali, dengan alasan jika pasangannya belum merasakan semua itu. Dan akhirnya pun, setelah adu rayu Garry berhasil mendapatkan izin serta password ruang himpunan untuk mengambil keperluannya disana, "Jangan sampai berantakan lagi, ya!" Pekik senior tersebut, "Siap!" Balas Garry dengan sangat bahagia, diikuti dengan acungan ibu jari. Kemampuan berlari Garry yang tidak dirahukan lagi, membuatnya sampai lebih cepat ke ruang himpunan. Ia langsung masuk setelah memasukan pasword ruangan itu, dan mencari piring yang tadi ia gunakan. Piring bewarna hijau tosca, pilihan Ody memudahkam dirinya mencari. Karena warnanya yang sangat terang nan mencolok pandangan mata. "Yashh!" Pekik Garry setelah menemukan makanannya, dan langsung keluar kembali dari ruang Himpunan. Ia langsung berlari kembali ke arah asrama CCSF, untuk menitipkan makanan tersebut. Dan karena Garry tidak mengetahui nomor kamar unit Ody, ia hanya menitipkan pada penjaga utama asrama, dan meminta bantuannya memberikan pada Ody, dengan bantuan foto yang tidak sengaja diambil oleh Ody tadi. "Tolong ya, Mr. Bisa kan? Ayolahh, bisaa kan?" Garry terus memohon pada penjaga utama, yang kebingungan. Karena masalahnya, Garry hanya bermodalkan foto yang bisa saja Ody mengenakan masker, ataupun kacamata yang membuat wajahnya tidak kehilatan, hingga mengakibatkan pesan serta makanan yang Garry kirimkan, tidak bisa tersampaikan. Namun, karena kebaikkan hati serta kejenggahan penjaga utama dengan tingkah laku Garry, yang kini terus merengkek layaknya bayi. Semua itu diindahkan olehnya, membuat Garry langsung bersorak gembira, dan mendekati telinga si penjaga utama. "Besok saya bawakan cake yang paling enak, untuk imbalan ya, Mr." Membuat si penjaga utama langsung mengangguk, tanpa harapan dari seorang mahasiwa yang selalu ia dengar. "Kalau begitu, saya pamit, ya. Jangan lupa ya, Mr." Pekik Garry, sambil melambaikan tangannya keatas. Membuat si penjaga utama hanya berdecih dan berfikir, 'dasar anak muda sedang kasmaran'.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN