Sesudah pesta ulang tahunnya, ia sengaja menempuh 4.000-an kilometer demi seorang wanita terkasihnya.
Xavier Jorjia, wanita berusia 40 tahun yang teramat ia sayangi. Kini memilih tinggal di kota lain dalam negara Kanada, demi menjauhkan Yohannes.
Hanya bermodal informasi dari seorang yang mengaku sebagai sepupunya.
Mengapa Ody seolah tidak yakin jika ia adalah sepupunya? Karena, dirinya yang tidak tahu apa-apa mengenai keluarga dari pihak ibunya.
Dirinya juga baru kali ini memberanikam diri untuk bertemu dengan sang ibu, setelah 10 tahun tidak ada interaksi apapun. Karena, wanita itu yang menghilang tiba-tiba saat dirinya sedang memakan semangkuk sereal bersama sang ayah, Yohannes.
Hanya memory itulah yang bisa diingat oleh Ody, bukan wajah sang ibu sekalipun.
Saat itu Ody yang masih kecil, matanya hanya dilihatkam oleh bahu sang Ibu saat dirinya keluar dari pinti rumahnya.
"Oddeth, mamah pergi sebentar ya, sayang." Ujar Jorji, dengan senyum tipis, mata merah dan rambut ikal yang berantakan.
"Hati-hati di jalan, Mah." Ody membalas dengan senyum segenap jiwa, seraya melambaikan tangan.
Tanpa mengetahui apapun, jika setelah itu Jorjie menangis tersedu-sedu di balik pintu bewarna putih.
Dirinya yang belum tega untuk meninggalkan sang putri yang masih belia. Terlebih lagi dalam kondisi ekonomi Yohannes yang belum stabil.
Alasan itu juga yang membuatnya kini mengambil langkah pasti untuk pergi ke Toronto, mencari kerja sambilan untuk membantu ekonomi suaminya.
Namun entah kenapa, semakin lama dirinya tinggal di Toronto, ia seolah tergoda dengan gemerlapnya kota terbesar di Kanada, dengan beberapa "aksesoris" mewah kota ini.
"Pah,"
"Iya, sweety pie?" Yohannes mengelus rambut Ody yang kala itu sudah mulai panjang.
"Mamah kemana? Kok pulangnya lama?" Tanya Ody, dengan suara cemprengnya yang mulai terdengar.
Diikuti dengan jejeran gigi dewasa yang terpagar rapih dengan braccet berkaret bening.
"Mamah mungkin tersesat kali, makanya belum pulang." Dalih Yohannes, dengan semua kebohongan pada gadis berusia 12 tahun.
"Pah, please lah. Alasan itu yang terus kau ulangi. Jangan-jangan kau membohongiku, ya?"
Sorot mata yang sendu mantap menatap Yohannes, yang kini kehabisan stok jawabannya.
Ting tong ting tong'
"Aaahhh Mamie datang..." Ody langsung tersentak dan menyudahi semuanya.
Membuat Yohannes bisa bernafas lega, akan pemikiran kritis sang putri, yang kini sudah bertumbuh dengan sangat pesat.
Tahun berganti tahun, musim berganti musim.
Dan kini Yohannes sudah dikenal sebagai pengusaha sukses, yang terkenal di beberapa kota besar Kanada.
Dikenal dengan julukan pembuat sirup maple termanis nan terlezat dengan brand gabungan namanya dengan Ody.
Hingga kini perusahaannya tersebut, dicari oleh beberapa owner toko-toko roto dan camilan, untuk memintanya menjadi pemasok sirup maplenya tersebut.
Sementara Ody, masih seoranh gadis yang selalu menunggu kepulangan sang ibu seraya bertopang tangan di meja makan.
"My, Sweety Pie," Ody menoleh pada Yohannes yang kebetulan sedang cuti tahunan.
"Papah mau ngomong sesuatu perihal mamah, Dy. Dan papah rasa kau sudah layak dan dewasa untuk megetahui ini semua." Sambung Yohannes, dengan duduk di kursi sebelah Ody, dengan tangan yang ikut bertopang.
Namun, dirinya belum menjelaskan apapun. Air mata dari Ody, sudah berlinang indah pada pipi meronanya.
"Maafkan papah yang dulu tidak bisa menjaga mama---"
"Stop disitu, Pah. Aku tau bukan papah yang salah. I know, pah." Suaranya bergetar, serta hati bak tertusuk pedang kini menemani Ody.
Isakan demi isakkan seolah Ody utarakan bersama Yohannes, seolah membagi beban bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya alasan resminya yang kini terkuak.
Ody menyeka pipi Yohannes dengan sapu tangan hasil jahitannya sendiri, tanpa memperdulikan tangisannya yang semakin membasahi pipi hingga leher.
"Papah hebat, bisa besarin sendirian. Terima kasih sudah menjadi papahku, Pah." Ody memeluk Yohannes dengan sangat erat, hingga membuat pria paruh baya tersebut menangis ersedu layaknya seorang bayi.
Hingga akhirnya sekarang, Ody yanh berhasil menemukan keberadaan sang ibu dan ingin menyusulnya, demi melihay kembali wajah orang nomor 2 yang paling ia sayangi.
Dirinya sudah meminta izin lebih dulu dari Yohannes, dan papahnya mengizinkannya karena Yohannes sendiripun tidak akan membatasi.
Semua itu hak Ody, jika ia menginginkam bertemu dengan mamahnya, dan tidak ada larangan apapun dari Yohannes, meskipun dirinya tahu jika dirinya berhak melarang pertemuan tersebut.
**
Sesampainya di Toronto, Ody langsung pergi menuju Ripley's Aquarium, yang mempunyai 16.000 hewan air yang semuanya berenang dalam satu tangki.
Tangki yang sudah terisi 5,7 liter air, yang membuat semua pengunjung bisa mengamati kehidupan laut yang sangat cantik, dengan aman.
"Hello, Miss." Ody menyapa gadis berambut blonde, dengan tanda pengenal staf yang tertempel pada sikunya.
"Apakah saya bisa bertemu dengan Mrs. Xavier. Maaf, maksut saya Mrs. Dorman." Ody meralat ucapannya. Karena kini sang ibu merupakan seorang istri dari pengusaha berskala imternasional, dan merupakan pemilik dari tempat yang ia kunjungi sekarang.
Staff tersebut menatap Ody dengan sorot mata aneh. Menatap dari kepala hingga kaki. Pakaian apa yang dikenakan oleh Ody, hingga menyuruhnya memperlihatkan surel permohonan bertemu dengan eksekutif.
Tapi, tenang saja. Semua itu telah diselesaikan oleh sepupu Ody, yang merupakan salah satu keponakan terdekat dari sang ibu.
"Ohh, baiklah, Miss. Silahkan anda ke lantai paling atas, yang tertera pada tombol lift." Staff itupun akhirnya mengizinkan Ody masuk ke area privasi kantor pengawasan Rileys Aquarium, menggunakan id card sebagai visitors.
Sesampainya di lantai para eksekutif, Ody mencari kembali ruangan yang dibilanh oleh staff di bawah tadi. Hingva akhirnya, ia melihay pintu dengan berbagai motif polkadot dengan warna pastel, yang membuat matanya perih, karena menahan jatuh ya air mata.
Motif dan warna kesukaan dirinya, teelihat jelas di matanya. Yang menyakinkan jika sang ibu tidak pernah melupakan sosok dirinya.
Tok tok tok'
Ody memberanikan mengetuk pinti tersebut, setelah berulang kali memgambil nafas dalam.
"Nanti kita lanjut, ya." Ujar Jorjie, saat melihat ada seorang gadis yang berdiri di ambang ruangan.
"Silahkan masuk, apakah anda salah satu mahasiswa yang mengajukan program magang?" Dengan sangat lantang, Jorji melontarkan itu semua pada Ody.
Dan semua itu sangatlah wajar, karena kini Ody yang sudah semakin besar yang mungkin membuat Jorji lupa akan dirinya.
"Tidak, Mrs. Saya Oddeth," Ody menegapkan pandangannya, memberanikan diri menatap mata sang ibu yang sudah bertahun-tahun meninggalkan dirinya.
Kini rambut ikal Jorji telah tergantikan dengan rambut lurus, yang mungkin saja blow dan warna coklatnya pun berubah menjadi warna blonde.
"Saya adalah orang yang mengasihi anda selama belasan tahun, yang masih bertempat tinggal di Vancouver." Tubuh Ody dengan tegap berdiri, walaupun dirinya belum dipersilahkan masuk eh Jorjie.
Karena wanita itu yang sedang menatap nanar ke arah Ody, "Oddeth..." Kata Jorjie, dengan suara yang bergetar.
Ia langsung berdiri dari kursinya, seraya berjalan memghampiri Ody.
Dengan cepat, ia menggiring Ody ke ruang istirahat para staff, untuk mengobrol dengannya.
"Oddeth tau dari mana?" Pertanyaan yang tidak layak diucapkan, bukankah pertanyaan kabar lebih etis untuk diucapkan kali ini?
Semua fikiran negatif bersarang di fikiran Ody.
"Dari keponakanmu, yang berarti sepupu ku. Dan kedatanganku ke sini, hanya ingin memberikan ini semua."
Ody mengeluarkan map plastik, yang sudah ia siapkan sejak lama. "Ini untukmu, dan kenangan kita telah habis sampai di sini, Mrs. Dorm." Lirih Ody, seraya menatap Jorji.
"Aku tidak bisa berlama-lama, karena harus mengerjar penerbangan nanti malam. Karena aku juga telah berjanji pada ayahku untuk kembali, dan semua itu tidak bis aku ingkari." Jelas Ody, degan berdiri dari sofa, membuat Jorji kebingungan.
Ody berjalan menjauhinya, dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah merengek meminta keluar.
Namun, dirinya tidak bisa menangis di depan sang ibu, karena dirinya telah berjanji pada diri sendiri, jika tidak boleh membuang air mata percuma, dengan orang yang hanya memegang sedikit kecil memori bersamanya.
"Oddeth! Tunggu, -"
"Tolong, jangan kau ikuti diriku. Hal itu sungguh ironi, dan aku tidak mau berakhir seolah ini semua sinetron yang sering aku lihat di tv." Pinta Ody, yang langsung menghentikan langkah dari Jorji.
Tidak lama kemudian, Ody kembali melanjutkan kepergiannya untuk kembali ke Vancouver.
Namun sebelum itu, dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga karena bisa berkunjung ke tempat indah seperti sekarang.
Ia menyusuri lorong-lorong akuarium dengan melihat keindahan dari beberapa hewan air, yang berhasil mengambil pesonanya.
Hingga pandangannya kini terkunci pada salah satu ikan kecil yang sendirian, "Hallo.... Apakau terpisah dari kawananmu? Atau mungkin kau terpisah dengan ibumu?"
Tanpa sadar satu titihan air mata terjun dengan bebas, "Tenang saja, kau suatu saat pasti bertemu kembali." Ody mengetuk pelan dindimh akuariu, dengan senyuman tipisnya.
Namun seketika, d**a merasa sesak seketika, akibat semua beban yangbia tahan.
"Sesak di d**a kian terasa, saat pertemuan yang selama ini ku harap, menjadi momentum pertumpahan rindu yang teramat dalam. Namun, harus berganti menjadi salam perpisahan yang tak pernah ku inginkan.
Kata menjadi kalimat, hingga kalimat menjadi sebuah paragraf. Membuat hati Ody semakin nelangsa.
Hingga akhinya, Ody menempelkan kening pada dinding akuarium dan meluapkan semua kesedihannya.
Memaksa ikan kecil tadi melihat semua pemandangan bergenre melodrama.
Setelah tangisan sendunya, kini Ody kembali bangkit dan mengusir semua air mata dari pipinya.
Matanya kembali beralih pada ikan kecil, yang kini sudah bertemu dengan jenis ikan lainnya.
"Beruntung ya, kau tidak perlu menunggu lama untul bertemu." Ody kembali mengajak ngobrol si ikan, hingga akhirmya ia berpamitan juga dengan lambaian tangan pada semua ika di akuarium.
Membuat pengunjung yang lain, hanya bisa terkikih melihat tingkah aneh sekaligus manis dari seorang gadis berkuncir kuda tersebut.