Kerja Paruh Waktu

1205 Kata
Hari ketiga masa orientasi pelajar internasional, dimana para senior semakin menunjukkan taringnya. Namun semua itu tidak membuat takut para junior, melainkan terus menganggap remeh semua tugas yang diberikan. "Hari ini sampai seminggu besok, kalian harus sudah menemukan tempat kerja masing-masing. Karena semua itu akan masuk dalam penilaian kinerja!" Kini suara Zoey yang sudah hilang, dibuat semakin hilang, karena harus meneriaki mereka semua yang acuh. "Untuk apa, saya bekerja? Sedangkan uang orang tua masih menjulang." Ucapan dari junior dengan gaya sosialita di seberangnya, membuat Zoey bertolak pinggang, "Tapi sayangnya, uang orang tua anda yg menjulang tidak bisa membeli lembar kinerja." Balasnya, dengan suara tengil yang kini mendapat sorakan dukungan dari semua orang. Membuat junior tersebut langsung mendengus kesal, karena kini dirinya mati langkah akibat ulah Zoey tadi. Sedangkan pasangannya tersebut hanya bisa berdecih karena tidak bisa melontarkan kekesalannya juga, karena mereka berdua mempunyai sifat yang sama. "Hukum alam yang tidak bisa dipungkiri yaitu, perihal seseorang yang akan disandingkan bersama dia yang 'serupa' dengannya pula. Sebab, katanya, pasangan adalah cerminan dirimu sendiri." Namun, banyak dari junior yang sangat pro dengan perintah senior kali ini, walaupun mereka semua pasti bingung harus memulai dari mana. Akan tetapi, semua itu tidak membuat mereka semua putus asa. Melainkan membuat mereka semua terbakar api semangat, karena kini mereka langsung berhamburan keluar lingkungan kampus, untuk mencari tempat yang akan menampung mereka. "Kita mau gimana nih?" Tanya Roman, dengan sikap gusarnya, karena menunggu Garry yang sedari tadi sedang berfikir. Karena mereka semua terpaksa mengikuti intruksi Garry, yang menginkan mereka menghasilkan pekerjaan melalui otak, dan bukan tenaga. Karena menurutnya, itu adalah kunci untuk mendapatkan nilai tertinggi di lembar kinerja, setelah mereka semua kehilangan beberapa point sebelumnya. Namun, Sofia yang sudah sangat gusar, seolah tidak menyakini Garry akan menemukan pekerjaan sesuai rencananya, dalam waktu yang cepat. Tapi, entah kenapa Ivanna seolah yakin dengan semua rencana ataupun fikiran Garry. Yang padahal dirinya sempat menilai buruk Garry saat hari pertama. "Garr, yaa anjir. Lama bgt lu, kampus udah kosong. Mau kapan berangkat ini." Mulut Guntur dan Sofia, seakan sama. Karena sedari tadi mereka menyerocos tiada henti, untuk merealisasikan kegusarannya. "Dah selesai! Oke kita balik ke apartemen!" Garry yang selesai dengan urusan pada ponselnya, langsung berdiri, dan mengajak mereka semua ke apartement. "Ngapain lo ngajak kita ke apartemen?! Gak gak aja deh lo! Jangan-jangan, lu mau kerja begituan ya???" Ketus Diffa, yang mendadak darah tingginya kumat. "Begituan gimanaa tuuuu?" Guntur dengan nada yang mencoba menggoda Diffa, langsung dihadiahkan keplakan di kepala dengan tunai. Membuat Guntur langsung mengaduh, tanpa jeda, diikuti dengan kikihan mereka semua. Setelah semuanya selesai, Garry langsung menjelaskan rencananya dengan detail. Karena dirinya mengetahui ada salah satu anggota yang mempunyai otak sangat minimalis, "Lo yakin youtuber kaya mereka mau nerima kita? Mereka dari himpunan internasional negara asal lo ya, bukan negara asal kita." Tanya Ivanna, dengan kerutan kening yang terlihat sangat jelas. Pertanyaan Ivanna langsung disambar oleh Garry, karena dirinya yang terlebih dulu mempertanyakan hal yang sama dalam pesan singkat yang sedari tadi ia lakukan. Dan semua itu, membuat Garry telah siap akan jawaban pertanyaan tersebut, hingga membuat Ivanna terdiam dan hanya membalas dengan acungan ibu jari. Karena menurutnya, tutur kata maupun penjelasan dari Garry sudah sangatlah jelas, dan membuat dirinya yakin menaruh nasip dirinya sendiri, serta teman-temannya pada Garry. Yang kini sedang menjelaskan, jika mereka bertiga (Garry, Roman, dan Guntur) akan pergi ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang berada di San Fransisco, untuk mendaftarkan diri mereka dalam himpunan pelajar internasional asal Indonesia, agar bisa mendapatkan akses untuk datang ke perkumpulan resmi yang diadakan oleh himpunan besar pelajar Indonesia di San Fransisco. Dan setelah mereka bertiga mendapatkan izin tersebut, bisa beegabung dalam tim imdustri kreatif sub bagian Youtuber, yang dikelola oleh para senior himpunan pelajar internasiol Indonesia. "Gilss.... Keren emang temen gua." Jelas Roman, seraya merangkul Garry. Namun, secepat kilat menyambar Garry langsung menghindar. Hingga membuat Roman kini sedang merangkul angin semata. "Ets!" Seru Ody, membuat Garry menoleh, "Sorry..." Dan langsung menjauhkan diri dari tubuh Ody, yang tadi hampir berada di dekapannya. ** Saat perjalanan menuju apartemen, Garry juga menjelaskan sistem gaji yang akan mereka semua dapatkan. Ia menjelaskan jika kita semua akan dibayar 20 dollar, dalam satu kali rekaman pada kanal Youtube mereka. Membuat Guntur dan Roman yang otomatis meng-kurs 20 dollar ke mata uang rupiah, "Gilaaa! 280 ribu?" Seru Guntur dari kursi penumpang. Sontak membuat Ivanna serta Diffa menoleh padanya, "Banyak kah?" Tanya Diffa dengan raut wajah penasaran. Namun semua itu malah membuat Garry mendengus kesal, karena lagi-lagi mulut Guntur yang tidak bisa dikontrol. Bukan apa-apa, melainkan ucapannya tadi seolah membuat mata uang negaranya semakin terlihat rendah, di mata warga negara english native seperti Kanada. Yang memiliki penghasilan paruh waktu jauh lebih besar dari 20 dollar. Namun, jika di Indonesia 20 dollar tersebut adalah jumlah yang sangat besar, untuk satu kali pekerjaan atau yang sering disebut kerja paruh waktu. Untungnya, ada Roman yang langsung menepak kepala belakang Guntur dari kursi penumpang paling belakang, "Kalo buat dia (Guntur) mah banyak, tapi kalo buat gua dikit bgt. Ngecaffe sebentar juga udah abis 20 dollar." Garry menyunggingkan senyum dari balik kemudi, akibat perlakuan Roman kali ini. Yang tanpa sadar, membuat lengkung senyum dari Ody mengikutinya. Setelah menempuh 30 menit perjalanan, mereka berempat (Ody, Ivanna, Sofia, dan Diffa) diturunkan di pintu masuk apartement, "Tunggu di apartemen gua aja." Garry, Roman, Guntur kompak mengeluarkan kartu apartement mereka masing-masing. Membuat mereka berempat bingung harus mengambil yang mana, "Tempat gua aja, lebih luas." Seru Garry, dengan menjabarkan ukuran dan tipe apartement yang jauh satu tingkat dari unit Roman dan Guntur. Roman perlahan-lahan memundurkan kartu unitnya, karena kini dirinya kalah satu langkah dari Garry, "Lu masih ngapain, Tur?" Tanya Garry pada Guntur yang masih menyodorkan kartu unitnya pada Sofia. "Kenapa gua? Org lagi liat dia." Ucapannya tadi membuat Sofia langsung menyentil dahi Guntur, untuk menolak semua godaan kacangan darinya. "Yailahhhh, galak bgt." "Yailah, jiji banget." Sambar Sofia, yang kini membuat Roman terbahak-bahak menertawakan Guntur. Dan kini, pemenang utamanya adalah Garry yang langsung memberikan kartu unit apartemennya pada Ivanna, "Kalo mau masuk kamar, masuk aja tapi nanti rapihin lagi ya." Kikih Garry. "Gua gak butuh kamar lo, yang penting kulkas lo penuh, baru gua rapihin abis makan." Balas Ivanna yang kini langsung berjalan masuk, menjauhkan mobil Garry, "Hati-hati, semuanya..." Ujar Ody dari kaca mobil yang belum dinaikkan oleh Garry, seraya melambaikan tangan. Mereka bertiga membalas lambaian tangan Ody, dan setelah Ody menjauh Roman langsung bertopng dagu, "Manis juga tuh anak..." Gumam pelan, dan langsung, "Gula kali manis!" Sambar Garry, dengan kaki yang menginjak pedal gas kembali. Entah kenapa, hati Garry seolah mencerca Roman. Merasa, jika ada sepercik api cemburu, yang padahal, dirinya belum layak untuk mempunyai hal seperti itu. Membuat untaian kata indah yang tidak indah, bersarang kembali dalam fikirannya. "Entah kenapa, cuaca hati hari ini sangat panas. Untuk sekedar diajak diskusi berama, kala telinga tidak sengaja mendengar pujian yang dilontarkan laki-laki lain, untuk sosoknya." "Napa dah dia?" Tanya Roman pada Guntur, yang langsung dijawab hanya dengan bahu Guntur yang naik turun. "Ganti baju deh lo pada, pake kemeja lagi. Mau ke tempat resmi nih, jangan malu-maluin." Perintah Garry, yang langsung diindahkan oleh Roman dan Guntur, yang langsung mengganti kaos oblong mereka dengan kemeja cadangan yang selalu siap di dalam ransel mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN