Menjelajah memanglah mudah, asalkan ada niat.
Bahkan hanya niatpun tidak cukup, untuk menguatkan diri sendiri untuk berjalan menyusuri jalan-jalan kecil, maupun pusat kota.
Namun, kenapa sekarang diri ini mendadak suka menjelajah?
Berjalan di gang-gang sempit, mencari spot ataupun masaa untuk berbagi informasi.
Kenapa, baru hari ini kau menyukai aktivitas ini?
Semakin banyak pertanyaan demi pertanyaan bersarang di fikiran Ody maupun batinnya.
"Awas, Dy!"
"Anjir, telat!"
Cipratan air dari mobil, membuat celana jeans Ody basah.
Sementara semua anggota tim youtube Fiola tertawa terbahak.
Mulai dari sutradra, hingga juru kamera. Mendadak mengeluarkan ponselnga dan mengambil foto candid Ody.
Gadis itu mengerang, berteriak dengan suara cemprengnya.
Mengeluh pada siapa saja di sebelah, namun hanya Garry yang membalas.
"Rasain, enak kan mandi."
Bola mata Ody memutar dengan malas, mendengar ledekan dari laki-laki es batu, yang tidak pantas untuk melontarkan ledekan.
Garry terkekeh geli, Roman ikut menemani seraya berjalan di belakang Ody.
Gadis berpenampilan sporty tapi manis, bagaimana ada yang mengalahkan kemanisan dirinya yang saat ini hanya mengenakan celana jogger dipadukan oleh kaos hitam polos berleher V.
Manis sekali, kalah gula. Kalau kata Garry.
Tapi, kata Roman pun juga.
Sehingga membuat mata sipit Garry melebar seketika, menatap tajam temannya.
Membuat Roman menatapnya juga, namun tatapannya kini berartikan sesuatu.
"Lo suka kan sama dia?"
"Ngacooo, kacau loo." Dalih Garry, merogoh saku celananya.
"Halah." Cicit Roman.
Setelah berjalan 5 menit, tim Fiola sampai di salah satu taman yang cukup terkenal di San Fransisco.
Salah satu ruang terbuka, yang bisa mengirit uang saku para pengunjungnya.
Hanya bermodalkan karpet tipis ya g digelar di atas rumput, dan mulai memghirup udara segar.
Namun, kali ini tim Fiola datang ke taman ini bukan untuk berekreasi dengan hemat.
Melainkan ia malah mau membuang uang mereka, sekaligus menciptakan uamg mereka kembali.
Karena ia mau membuat video dengan berbagai macam makanan atau street food di SF, dan mengcompare beberapa nama makanan, jika ada kesamaan di negara lain.
Kenapa tidak membuat video di basecamp seperti biasanya?
Mungkin pertanyaan semacam itu akan diutarakan oleh penonton setia channel Fiola.
Dan Fiola, selaku ketua tim channelnya sudah mendapatkan jawaban.
Yang akan menjelaskan, jika mereka juga manusia biasa yang membutuhkan udara segar.
Sekaligus, Fiola juga mau bersaing dengan channel milik Nathan yang selalu berlatar belakang tempat terbuka atau restoran.
Karena proposal Fiola telah disetujui oleh Freddy, maka mulai hari ini dan seterusnya Fiola beserta tim akan beberapa kali syuting di tempat terbuka atau tempat-tempat rekreasi lainnya.
Sementara tim Fiola masih berkutat mencari angel yang tepat, maka tim Nathan kini sedang menyantap makana lezat roti lapis dengan merk yang sanhat terkenal.
"Anjir enak banget! Di Indonesia gak masuk si nih merk." Tutur Guntur, menggigit roti lapis yang bernama Buffalo Chicken.
Dibandrol dengan harga 5 dollar 50 sen, membuat lidak Guntur menari bahagia dengan sempurna.
Seolah melupakan sejenak harga yang lumayan jika dikurs-kan dalam rupiah.
Namun, jika dikurs-kan juga harga dan rasa yang diterima akan sangat layak dan pasti sangat laku di pasaran Indonesia, yang terkenal dengan "a consumtif person."
"Tur, boleh minta nomornya Roman gak?"
"Hah? Buat apaan?"
"Buat gua lah," Ujar Sofia, mendekatkan ponselnya pada Guntur, yang masih memasang raut penasaran.
"Yaudah kalo gak boleh, padahal abis ini niatnya gua mau traktir lo BR, buat dessert. Tapi gak jadi deh."
"Boleh lah anjir, gua kirim ke lo ya nomornya."
Dasar Guntur, harga diri plus harga pertemanannya hanya sebatar satu scoop ice cream baskins Robbins.
Membuat dirinya melewatkan izin pada Roman, saat orang lain meminta kontak personnya yang teramat pribadi.
Meskipun Sofia dan Roman tergabung dalam agensi Freddy. Namun, kedua orang itupun tidak saling kenal dekat, hingga harus bertukar nomor telfon melalui perantara.
Namun, tunggu sebentar.
Guntur mendelik pada Sofia, "Lo ada urusan apaan emang sama dia?"
Sofia berpangku tangan, menuturkan alasan dengan santai.
Berbicara perihal ia ingin meminjam beberapa novel yang sebelumnya Roman ceritakan dibasecamp.
Yang padahal, itu semua hanyalah bualan semata.
Entah apa yang membuat Sofia meminta nomor Roman, dirinya sendiri pun tidak memgetahui pasti alasannya.
Namun yang jelas, ia hanya ingin memiliki kontak Roman menghiasi kontak di ponselnya.
Balik lagi pada tim Fiola, yang baru 30 meniy melangsungkan rekaman.
Namun sudah banyak meneriakan keluhan mereka.
Dikarenakan, hembusan angin serta udara yang tidak bersahabat dengan mereka.
Mereka juga tampak melupakan jika kini mereka berada di San Fransisco, yang selalu mempunyai udara dingin walaupun belum menjelang musim dingin.
"Mending balik aja deh, La. Gak enak banget di sini. Microphone kita useless." Pekik Garry, merapihkan kembali tripod serta kamera yang sudah bertengger rapih.
"Gimana ya... Menurut kalian balik apa lanjutin?" Fiola selaku ketua tim yang sangat demokratis harus mengambil keputusan secara musyawarah dan mufakat.
Namun semua itu dirasa percuma, karena semua anggotanya langsung berteriak iya untuk pindah, dengan sangat kompak.
Lebih kompak dari pengibar bendera di istana, kemungkinan.
Membuat Fiola terkekeh, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyudahi syuting hari ini.
Sekaligus, semua angan-angan serta ekspektasi Fiola ambyar seketika.
Persetan dengan ruangan terbuka!
Mereka berjalan kembali ke bascamp selama 10 menit, lebih lama 5 menit dari keberangkatan.
Karena mereka semua mampir lebih dulu, untuk membeli beberapa cupcake dan kopi-kopi untuk meredam kekesalannya.
"Kita sampai..."
"Gimana? Enak syutingnya? Dunia luar gimana?" Freddy menyambut dengan tutur kata halus, namun terselip tatapan seolah menahan tawa.
"Sialan lo! Pantesan lu langsung acc, gak pake lama. Ternyata oh ternyata." Cibir Fiola, menjatuhkan tubuh ke sofa depam tv.
Bukannya membalas atau menenangkan Fiola dari cerocosan yang luar biasa, Freddy malah mengalihkan tatapannya pada ambang pintu.
Ada Garry dan Ody yang sedang berbicara di depan ponsel mereka.
"Heh tuyul!"
"Ssutt" Pekik Diffa.
Ia menjelaskan jika mereja berdua kini tengah melakukan siaran langsumg pada official akun channel mereka.
Karena ternyata, para penonton yang salah fokus saat video kemarin telah diunggah.
Banyak yang menayakan siapa talent baru yanh manis nan cantik itu, serta juru kamera yang tidak sengaja masuk dalam frame.
"Kok bisa masuk? Kan dia orang belakang layar?" Tanya Freddy.
"Iyalah, orang gua yang masukin. Soalnya, pas Garry masuk frame buat ngasih tau angel yang bagus dari Ody, Roman, dan Fiola bagus banget. Dan gua rasa, itu layak kok masuk dalam video." Tutur Diffa, menatap Freddy intens, seolah mengharapkan sesuatu.
"Ooou begitu, yaudah boleh. Tapi, lain kali lu editnya lucu-lucu ajaa, biar muka Garry gak ngalahin talent. Kasian noh Roman, gak dapet panggung."
"Anjir! Gua diem ajaa kena. Tapi, emang si. Parah lo, Diff. Padahal kemarin gua lagi ganteng."
"Hah? Sejak kapan lo ganteng?" Tanya Diffa, menatap Roman dari ujung kepala hingga ujung kaki.