13. Gas beracun Nala

1341 Kata

Bogor, kediaman keluarga Nala. "Kakakmu belum menelpon lagi?" tanya Elis pada Anggita. "Belum, Buk. Aku sudah coba telpon ke nomornya, tapi enggak diangkat. Ditolak malahan." "Maunya apa anak itu?" Suara Bahri terdengar marah dari tempatnya duduk. "Tapi yang penting Kak Nala baik-baik aja, Pak." "Bapak mau dia pulang ke sini dan melanjutkan perjodohan itu!" "Gimana kalau aku aja yang menggantikan posisi Kak Nala? Aku mau kok dijodohkan sama orang itu." Bapak menatap Anggita dengan tajam. "Jangan sembarangan ngomong kamu. Sekolah dulu yang benar. Lagipula, orang itu menyukai kakakmu. Dia bilang akan menunggunya." Anggita mengerucutkan bibirnya. "Tapi, Pak, kak Nala nggak mau loh nikah sama dia. Kita juga nggak tahu, kan, sekarang kak Nala ada di mana?" "Telepon dan tanya dia ada di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN