12. Pertemuan yang tidak terduga

1629 Kata
Adisti Isvara Kalinda hanyalah seorang gadis 18 tahun. Namun, tak pernah terpikirkan olehnya akan jatuh cinta begitu dalam pada seseorang. Dan dia tidak mengerti kenapa cintanya harus berlabuh pada orang itu. Berkali-kali ada alarm peringatan setiap kali dia memikirkan sosok itu, akan tetap hatinya selalu berontak. Dia mencintainya, sangat mencintainya. Tak peduli orang itu siapa. Dia telah membuat Adisti seperti orang bodoh setiap memikirkannya. Seperti hari ini… Tak puas hanya dengan memikirkannya, Adisti ingin menemuinya, berada di dekatnya, menyentuhnya. Tanpa mengetuk terlebih dulu, Adisti membuka pintu di depannya lalu masuk dengan sebuah senyuman manis. Namun, tak disangka-sangka, dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya rasa-rasa mau copot sehingga dia langsung membalikkan badan dengan wajah merona merah. “Kebiasaan,” ujar si pemilik kamar dengan nada yang terdengar cukup kesal. “Maaf, Kak. Sudah pakai celana belum?” Dilan tersenyum kecil. “Lain kali, ketuk pintunya.” Adisti kembali menghadap Dilan lalu meringis. “Kak Dilan kebiasaan tidak mengunci pintu.” “Kamu juga kebiasaan tidak mengetuk pintu.” Adisti memberengut. “I miss you.” Dilan mendekati Adisti lalu mengacak-acak rambutnya. “Bagaimana dengan liburannya?” “Membosankan. Kenapa Kakak tidak ikut ke Korea?” “Ada kerjaan.” “Apa Kakak terlalu sibuk sampai-sampai tidak sempat mengangkat teleponku?” Dilan tersenyum. “Begitulah.” “Besok hari ulang tahunku.” Dilan yang tadi sibuk memakai jam tangannya menoleh menatap Adisti dengan tatapan menyesal. “Oh, ya? Kalau begitu selamat. Katakan apa yang kamu inginkan, Kakak akan memberikannya besok.” “Aku ingin pesta yang besar.” “Baiklah.” “Dan aku akan mengundang banyak teman-temanku.” “Tidak masalah.” Adisti menatap Dilan tak suka, kemudian berkata, “Bisa tidak tahun ini berikan hadiah yang berbeda untukku?” “Hm?” “Aku mau kita pergi ke suatu tempat, tapi hanya berdua.” Dilan tampak berpikir sejenak. “Hanya berdua?” Adisti mengangguk. “Baik.” “Satu lagi. Aku yang akan mengatur waktu dan tempatnya.” Dilan terkekeh kecil. “Iya, terserah kamu saja.” Adisti tiba-tiba melompat ke arah Dilan kemudian mencium pipinya sebelum berlari keluar kamar. Dilan mengerjapkan matanya, sebelum mendengus. Waktu berjalan begitu cepat sehingga dia tidak mengira kalau Adisti akan tumbuh menjadi remaja yang cantik dan cerdas. Namun, semakin ke sini, dia menyadari ada sesuatu yang salah. Dan sesuatu itu dia sadari sejak tiga tahun lalu, ketika Adisti mengetahui rahasia besar di keluarga mereka. Rahasia yang mengungkapkan kenyataan bahwa Adisti hanyalah anak angkat yang tidak diketahui siapa ayah dan ibunya. Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh semua orang di rumah ini dan menjadikan dirinya bak Puteri raja. Segala keinginannya dipenuhi dan tidak ada satupun orang yang mampu menolaknya, Dilan sekalipun. Namun, keinginannya beberapa waktu terakhir ini cukup memberatkan Dilan. Membuat Adisti kecewa justru akan menimbulkan perasaan bersalah di hati Dilan karena dia sangat menyayangi gadis itu. Dilan menggelengkan kepalanya, tidak mau memikirkan hal itu berlarut-larut. Dia lalu berjalan menuju kopernya yang masih berada di dekat pintu. Lebih baik dia membereskan barang-barangnya sekarang. Setelah membuka kopernya, Dilan mengendus sekitarnya. Dia seperti mencium aroma kopi di sana. Pada saat dia memegang hidungnya, aroma itu tercium semakin kuat. Ah, ya… perempuan itu menyentuh kopernya tadi. Dilan melipat bibir kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Hari ini, dia benar-benar… menyebalkan." *** “Bibi El memanggil saya?” Wanita bermata sipit itu menatap Nala dan mendengus kasar. “Apa yang sudah kamu lakukan di kamar Tuan Dilan? Siapa yang menyuruhmu masuk ke sana?” “Gisel. Dia bilang saya harus membersihkan kamarnya,” jawab Nala sejujurnya. “Lalu kenapa kamu mau menuruti perintahnya?” “Bukannya Bibi El yang minta saya untuk bertanya pada Gisel apa yang harus saya kerjakan?” Bibi El mengatup mulutnya lalu kembali mendengus. “Lain kali, jangan masuk ke kamar siapa pun di rumah ini tanpa adanya izin dari saya. Mengerti?” “Iya, Bibi El, saya mengerti." “Tuan Dilan memintamu untuk datang besok ke kamarnya.” “Hah?” “Ini mengherankan. Tidak pernah terjadi sebelumnya.” “Hah?” Karena Nala terus bertanya dengan nada terkejut seperti itu, Bibi El langsung menatap tajam ke arahnya. “Kembalilah bekerja.” “Ba-baik, Bibi El.” Sebelum Nala beranjak dari ruangan itu, Bibi El berkata lagi, “Jangan membuat masalah lagi. Berterima kasihlah pada Tuan Dilan karena dia masih membiarkanmu bekerja di sini.” Nala mengangguk lalu beranjak. “Syukurlah gue nggak dipecat,” ucap Nala selagi melangkah keluar. “Baru satu hari bekerja sudah membuat masalah.” Nala melihat ke samping. Entah sejak kapan perempuan itu berdiri di dekat pintu. Sepertinya dia baru saja mencuri dengar pembicaraannya dengan Bibi El. Namun, ketimbang mengajaknya berdebat, lebih baik Nala pergi. “Dia pikir dia siapa—“ “Jangan mengganggunya!” Gisel menutup mulutnya ketika mendengar suara itu. Begitu dia menoleh ke belakang, dilihatnya Bibi El menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk. “Urus saja urusanmu. Biarkan dia bekerja.” “Iya, Bibi El." "Minta maaf padanya. Dia beruntung karena Tuan Dilan tidak memecatnya. Jika hal itu sampai terjadi, kamu juga yang akan menerima hukumannya." Gisel mengangguk. "Baiklah, saya akan meminta maaf." *** Nala sedang membersihkan lemari antik di ruang utama ketika Gisel datang menghampirinya. "Aku minta maaf." Nala berhenti mengelap kaca lemari di depannya lalu menoleh menatap Gisel. "Hm? Kamu bilang apa?" "Aku minta maaf." Kening Nala berkerut. Bagaimana bisa Gisel mengatakan itu tanpa membuka mulutnya lebar-lebar. "Bicaralah yang jelas, aku tidak mendengarnya." Gisel mengerling. "Aku minta maaf!" Nala mengangguk sambil tersenyum lebar, namun terkesan dibuat-buat. "Dimaafkan." Gisel menyipitkan matanya, bibirnya mengerucut sebal. Tanpa berkata-kata, dia pun berlalu. Nala mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Aneh. Punya masalah hidup apa sih tuh orang?" **** "Apa kalian tahu? Besok adalah pesta ulang tahunnya Nona Adisti. Kita akan merayakannya secara besar-besaran." Salah seorang staf berbicara di samping Nala. "Ya ampun, saya sudah tidak sabar. Pasti akan ada banyak makanan yang enak-enak." "Apa kita boleh menghadiri pesta itu?" "Tentu saja. Semua orang di rumah ini akan datang ke sana. Nona Adisti akan memotong kue seharga satu milyar. Dilapisi emas murni dan bertabur berlian. Apa kalian tidak ingin mencicipinya?" Nala terperangah mendengar itu. Yang benar saja? "Nona Adisti sangat beruntung memiliki kakak seperti Tuan Dilan. Keinginannya selalu terpenuhi. Apa pun itu." "Iya, benar sekali. Dia sangat beruntung menjadi bagian keluarga ini." Nala mendengarkan semua pembicaraan itu tanpa mengatakan apa pun. "Kenapa Tuan Dilan tidak menikah?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Nala. Bahkan dirinya sendiri terkejut mendengarnya. "Menikah? Dengan siapa? Kami tidak pernah mendengar kalau Tuan Dilan memiliki hubungan dengan seorang wanita." "Mengherankan. Banyak wanita cantik yang menyukainya, tapi sepertinya Tuan Dilan tidak pernah tertarik." "Mungkin, dia memang belum menemukan seseorang yang tepat saja." "Dia pasti mencari wanita yang cantik seperti model papan atas." "Tentu saja. Mana mungkin dia mau menikahi wanita biasa seperti kita yang buruk rupa ini." Lalu mereka yang mendengar kalimat itu tertawa-tawa. Nala sendiri, hanya tersenyum dan kembali menikmati makan siangnya. *** Nala melintasi ruang utama dengan langkah malas-malasan. Sehabis makan, dia memang selalu mengantuk. Jika saat ini dia berada di rumahnya, sudah dipastikan dia akan masuk ke kamar lalu tidur pulas hingga menjelang sore. Tapi nikmat tidur siang itu tidak ada lagi sekarang. Benar-benar menyebalkan. Pada saat itulah dia melihat pintu masuk dibuka dan seorang pria bertubuh tinggi muncul dengan menyandang tas dan menyeret koper. Seseorang yang membuat Nala terkejut bukan main. Dia kan.... Nala langsung membalikkan badannya lalu berpura-pura menyibukkan dirinya ketika mendengar langkah kaki itu semakin dekat. "Selamat siang, Tuan Keenan." Terdengar suara Bibi El tak jauh di belakangnya. "Selamat siang, Bibi El." "Apa operasinya berjalan lancar?" Keenan mengangguk dengan senyum lebar. "Iya, seperti yang diharapkan. Tak lama lagi dia akan berkumpul bersama keluarganya." "Syukurlah kalau begitu." "Bagaimana kabar Bibi El? Oh, ya, saya membawakan Bibi El sesuatu. Ini...." Keenan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. "Hanya kaos kaki. Saya membelinya khusus untuk Bibi El." Bibi El tampak tertegun melihat empat bungkus plastik kaos kaki dengan bermacam-macam gambar itu. "Bibi sering merasa kedinginan setiap tidur di malam hari, bukan? Pakailah ketika akan tidur." Bibi El tersenyum. "Terima kasih, Tuan." "Jangan memanggil saya seperti itu. Berapa kali saya bilang, panggil saja Keenan." "Terima kasih, Keenan," ucap Bibi El, masih enggan. Keenan mengangguk. "Bibi tahu saya bukan siapa-siapa di rumah ini. Jadi, tolong jangan perlakukan saya seperti Kak Dilan dan Adisti." "Kamu tetap bagian keluarga ini, Keenan." "Iya, saya tahu. Tapi, saya lebih senang kalau Bibi El menganggap saya seorang anak, bukan seseorang yang harus dihormati. Saya yang seharusnya menghormati Bibi El." Bibi El tersenyum lagi. "Baiklah." "Oh, ya, saya juga membawa oleh-oleh untuk semua orang. Ada di mobil, minta beberapa orang untuk mengambilnya," kata Keenan lalu beranjak. Bibi El kemudian melihat ke arah Nala yang sejak tadi diam di salah satu sudut ruangan. "Nala, bantu Tuan Keenan untuk membawa barang-barangnya ke kamar." "Ya ampun, gimana ini?" teriak Nala dalam hatinya. "Iya, Bibi El." Nala menyahuti lalu berlari kecil menghampiri Keenan dan dengan gerakan secepat kilat menyambar troli koper dari tangan pria itu. "Apa-apaan itu?" cetus Keenan terheran-heran. Dia melihat Nala berlari menuju lift dengan tergesa-gesa. Setelah lift terbuka, Nala masuk dan berdiri dengan posisi membelakanginya. Tentu saja itu membuat Keenan semakin merasa heran. Namun, dia tak mau ambil pusing. "Apa kamu staf baru di rumah ini?" "I-iya, Tuan." "Apa muka saya seperti zombie sampai-sampai kamu tidak mau melihat saya?" Nala menggeleng. "Bu-bukan begitu." Pintu lift terbuka dan sekali lagi Nala berlari terbirit-b***t seperti dikejar setan. Dia melihat Nala menaruh kopernya di depan pintu kemudian berjalan mundur dan berusaha menutup wajahnya. Tepat satu langkah setelah mereka berselisih jalan, Keenan berkata, "Kaynala Mentari, apa itu kamu?" Langkah Nala refleks berhenti. Jantungnya berdetak kencang seketika. "Jadi, benar itu kamu. Lama tidak bertemu. Apa kabar?" Bagaimana dia bisa tahu? "Masih memakai parfum kopi yang sama? Tidak pernah berubah, ya?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN