Nala tiba di lantai empat dan dia sudah berdiri di depan pintu kamar anak majikannya yang katanya... berbeda. Tetapi, bagi Nala, bukan itu kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya, melainkan 'aneh'. Iya, aneh, tentu saja.
Nala mengangkat tangannya, hendak mengetuk pintu berwarna abu-abu itu. Tetapi, yang ada, tangannya justru menggantung di udara.
Ini beneran dia harus membersihkan kamarnya si tuan muda aneh itu? Masalahnya, tadi saja dia kelihatan tidak suka pada saat Nala memegang kopernya. Apalagi kalau Nala sampai meraba semua yang ada di dalam kamarnya? Bisa-bisa, Nala disihir jadi batu olehnya.
Baiklah, Nala mulai mengada-ada.
Tok, tok, tok. Pintu itu diketuknya sebanyak tiga kali lalu mengembuskan napas panjang.
Namun tidak ada jawaban. Nala mengetuk lagi, berharap kali ini pintu itu dibuka. Tapi, tetap saja, pintu itu masih tertutup rapat.
Nala lalu mengambil inisiatif untuk bertanya pada Gisel apa yang harus dilakukannya sekarang. Jadi, melalui jam tangan selulernya, dia menelepon gadis itu. "Gisel, Tuan Dilan tidak membuka pintunya."
"Masuk saja."
"Hah? Serius? Nanti kalau dia marah gimana?"
"Bilang kalau kamu mau membersihkan kamarnya. Minta dia untuk keluar sebentar lalu bereskan semua barang-barangnya yang berantakan."
"Tapi, bukannya—"
"Sudah, ya! Aku sibuk."
Telepon terputus. Nala kembali mengatup mulutnya yang tadi masih ingin bertanya lebih lanjut.
Ini serius dia masuk saja? Kalau Tuan muda aneh itu marah, bagaimana?
Tepat pada saat Nala kembali ingin mengetuk pintu itu, ponsel jadul miliknya berdering. Nala buru-buru berlari mencari tempat untuk mengangkat panggilan masuk yang rupanya datang dari Kiana. Nala berhenti di dekat lemari kaca berisi miniatur mobilan.
"Kenapa, Ki? Gue lagi kerja, nih."
"Gimana, gimana? Lo udah ketemu belum sama tuh cowok?"
"Lo nelpon gue cuma buat nanyain itu? Plis deh, ya. Nggak penting!"
"Penting, banget."
"Iya, udah ketemu."
"Sumpah, demi apa? Dia ganteng banget, kaaaan?"
"Ya kayak yang lo bilang. Sempurna."
"Kan, apa gue bilang. Dia itu kayak pangeran, Nala. Perfect! Ya ampuuuun, gimana sih rasanya ketemu cowok sesempurna itu, Na? Pasti jantung lo deg-degan, ya? Kaki lo pasti lemes kayak agar-agar?"
"Bengong bentar aja, sih."
"Hah? Jawaban lo nggak memuaskan deh."
"Memang gitu kenyataannya." Nala bisa menebak kalau sekarang Kiana sedang mendelik di seberang sana begitu mendengar jawabannya.
"Well. Terus, sekarang lo lagi ngapain?"
"Gue lagi mau ke kamarnya dia."
"Hah? Serius? Ngapain?"
"Disuruh beresin kamarnya. Tapi, gimana ya...."
"Gimana apanya? Ada masalah?"
"Dia aneh tau nggak?"
"Aneh? Maksudnya?"
"Ya aneh. Masa dia nggak suka barang-barangnya disentuh gitu. Udah gitu, nggak mau senyum lagi!"
"Ha-ha-ha, gue ngebayanginnya tuh kayak cowok-cowok di novel-novel gitu nggak, sih? Ganteng, dingin, auranya gimana gitu. Tapi, menurut gue sih, keren."
Nala tidak habis pikir. Bagaimana bisa Kiana bilang kalau karakter seperti itu, keren?
"Ya udah, mendingan sekarang lo masuk deh ke sana. Siapa tahu rejeki lo ngelihat dia bugil, hahahahah."
"Gila, ya, nih anak!"
"Aduuuh, kalau gue jadi lo ya, Na, gue langsung tuh masuk ke sana terus puas-puasin ngelihat dia dari dekat. Atau sekalianlah grepe-grepe dikit kalau dia lagi tidur. Nanti kalau dia kebangun terus nanya lo ngapain, lo pura-pura gila aja."
"Iya, habis itu gue dipecat terus gue nyusahin lo lagi, mau?"
"Ya janganlah!"
"Makanya, jangan nyaranin yang enggak-enggak."
"Hahahaha. Ya udah kalau gitu selamat bekerja, ya! Nanti cerita lagi, okey?"
"Cerita apaan lagi?"
"Cerita apa yang terjadi setelah lo masuk ke kamarnya."
"Astaga, Ki. Penting ya buat lo?"
"Pentinglah!"
Nala mengerling. "Ya udah, gue matiin nih."
"Bye-bye!"
Pembicaraan selesai. Nala menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Kiana kasih saran untuk grepe-grepe tuh si bos aneh. Yang ada, Nala langsung dilempar keluar sama dia. Atau yang lebih parah, dilempar ke laut, hanyut, terus mati. Bagus sekali.
Nala kembali ke depan pintu kamar itu. Menaruh tangannya di gagang pintu lalu menekannya ke bawah. Tidak dikunci?
Hmm....
Haruskah dia masuk?
Nala melongokkan kepalanya sedikit. Tidak ada orang. Nala melihat sekeliling, kamar itu bernuansa abu-abu muda dan putih. Sangat bersih, rapi dan... benar-benar luas. Ruangan ini bahkan sebesar rumahnya di kampung, lebih malah. Nala lalu melangkah masuk dan menutup pintu. Entah apa yang ada di pikirannya kala itu, dia terus berjalan untuk melihat-lihat apa yang ada di sana.
Semua furniturnya pasti terbuat dari bahan dengan kualitas terbaik. Ranjangnya besar dan kelihatannya empuk. Sepreinya pun selembut sutera. Nala menyentuhnya dengan perlahan-lahan. Kamar itu dilengkapi sebuah TV berukuran besar, lemari lima pintu berwarna putih, dan beberapa furnitur lainnya yang menjadikan ruangan itu tampak nyaman. Ada dua buah pintu di dalam kamar itu, entah ruangan apa.
Tapi, omong-omong, ke mana si pemiliknya?
Nala mendengar suara kicauan burung dan debur ombak yang menghempas batu karang. Kakinya lalu melangkah menuju teras balkon yang menyuguhkan pemandangan Samudera Hindia. Nala tak bisa menahan dirinya untuk tidak terkagum-kagum. Angin yang berembus membuatnya memejamkan mata sesaat, menikmati suasana itu dengan tenang.
Rasanya benar-benar... lepas. Nala merasa beban hidupnya berkurang saat itu juga.
Belum puas melihatnya dari jauh, Nala menuruni tangga yang membawanya ke area kolam renang tanpa batas. Semua yang ada di sana menakjubkan. Sungguh. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat lautan dan bukit-bukit kecil.
"Wah gila sih ini, cantik banget pemandangannya!" ucap Nala sambil menggelengkan kepalanya.
Ah, ya! Tiba-tiba Nala kepikiran untuk mengabadikan pemandangan itu dalam bentuk foto. Dia mengambil ponselnya lalu mulai memotret sekitarnya. Mumpung tidak ada yang melihatnya, jadi Nala bisa mengambil foto apa pun di sana. Bahkan Nala sempat selfie berkali-kali. Dia akan memamerkannya pada Kiana. Senyum licik tercetak di wajahnya, membayangkan betapa irinya sahabatnya itu nanti.
Nala cekikikan melihat hasil foto dirinya tanpa menyadari kalau seseorang sedang mengamatinya dari teras balkon.
Orang itu adalah Raden Aji Dilan Pratama, atau yang lebih sering dipanggil Dilan.
"Bagus," katanya lantas menuruni tangga untuk mendekati Nala yang berdiri di tepi kolam renang.
Pada saat itu, Nala sedang mengarahkan ponselnya ke wajahnya, hendak melakukan selfie sekali lagi. Namun, alangkah terkejutnya dia begitu melihat ada bayangan seseorang yang berdiri di belakangnya. Nala membalikkan tubuhnya ke arah orang itu dan menjerit kaget.
"Aaaah!"
Hal yang tak terduga pun terjadi, Nala, yang tak menyangka dengan kehadiran tuan mudanya itu akhirnya refleks mundur ke belakang. Dan tepat sebelum dirinya tercebur ke dalam kolam, ada tangan yang mengambil ponsel dari genggamannya.
"Hampir saja," ucap Dilan bersamaan dengan terceburnya Nala ke dalam kolam.
"To-long!" Nala mulai melakukan aktingnya, dia pura-pura tidak bisa berenang agar tidak dihakimi saat itu juga.
Melihat Nala yang tak lagi bergerak di dalam kolam, membuat Dilan mengerling kesal. "Benar-benar merepotkan."
Dia kemudian melompat ke dalam kolam dan membawa Nala keluar dari sana. Direbahkannya Nala ke pinggir kolam dan dipandanginya wajah itu selama beberapa saat.
Dilan mengambil posisi berjongkok di sisi Nala lalu mengecek pernapasannya. Dahinya berkerut. Dia lalu menekan d**a Nala berkali-kali namun tidak menunjukkan hasil yang berarti.
Di sisi lain, Nala yang berpura-pura pingsan, mati-matian berusaha untuk akting dengan totalitas. Setidaknya sampai pria itu menyerah dan pergi untuk memanggil bantuan. Saat itulah Nala akan melarikan diri. Atau barangkali dengan dia pingsan begini, pria itu akan mengasihaninya.
Namun, yang terjadi justru di luar perkiraan. Nala merasakan adanya hembusan napas di depan bibirnya. Terasa hangat. Perasaannya mulai tak enak. Dia pun membuka mata dan terkejut begitu melihat wajah itu berada satu jengkal dari wajahnya. Kali ini dia bahkan tak sengaja menampar lalu mendorong Dilan hingga tercebur ke dalam kolam.
Sesaat, hanya ada suara kecipak air di antara mereka, sebelum akhirnya Nala melihat Dilan dengan tubuh proporsionalnya keluar dari kolam.
Itu adalah sebuah pemandangan yang estetis sekali, omaigat!
Wajahnya yang tampan tampak berkilauan ketika dihujani sinar matahari. Nala tak melewatkan satu keindahan pun yang ada padanya. Bagaimana bisa, seseorang diciptakan begitu sempurna sepertinya? Paling tidak, itu menurut versi Nala sendiri. Tapi serius, dia seperti yang Kiana bilang. Seperti butiran berlian...
Nala masih dengan posisi duduknya ketika Dilan menghampirinya dan berdiri si depannya. Pria itu mengenakan kaus putih dan celana pendek berwarna abu-abu tua. Nala bisa melihat dengan jelas bentuk tubuhnya lantaran kaus yang dikenakannya basah. Dengan cepat, Nala ikut berdiri lalu buru-buru membungkukkan badannya.
"Ma-maaf, sa-saya nggak sengaja—"
"Pertama, kamu masuk ke kamar saya tanpa izin. Kedua, kamu memotret semua yang ada di sini. Dan ketiga, kamu menampar saya dan mendorong saya sampai jatuh ke dalam kolam," tutur Dilan, dingin, tanpa ekspresi, membuat merinding.
Nala membuka mulut. "Sa-saya—"
"Kamu menampar orang yang sedang menolong kamu."
"Sa-saya—"
"Handphone ini saya ambil sebagai barang bukti." Dilan mengambil ponsel yang tadi ditaruhnya di tepi kolam sebelum dia melompat ke dalam air untuk menyelamatkan Nala yang pura-pura tenggelam.
"Barang bukti?"
"Kamu memotret semua yang ada di sini. Jadi, ini saya tahan. Kamu tahu peraturannya, kan? Dilarang mengambil gambar apa pun di sini."
"Iya, tapi saya nggak akan kasih lihat ke siapa-siapa."
Kecuali, Kiana, sambung Nala dalam hatinya.
Dilan menatap Nala masih dengan ekspresi datarnya. "Tidak ada jaminan untuk itu—"
"Haaatciiih!"
Dilan berhenti bicara ketika tiba-tiba Nala bersin dan mengenai wajahnya.
"Mampus gue!" pekik Nala di dalam hati.
Dilan memejamkan matanya sesaat sebelum membalikkan tubuh untuk mengusap wajahnya yang terkena cipratan bersin tersebut. Dingin dan sedikit berlendir.
"Kamu—" Dilan mengatup bibirnya pada saat melihat Nala tak lagi di ada di depannya, melainkan sudah berlari terbirit-b***t meninggalkannya.
Dilan menarik napas panjang, berusaha mengatur emosinya. "Kamu pikir, kamu bisa lari dari saya...," ucapnya seraya memandangi Nala yang sudah mencapai teras balkon kamarnya.
*****
Nala mengendap-endap keluar dari kamar Dilan menuju kamarnya di lantai dua. Dia hampir saja berselisih dengan nona muda Adisti ketika dia hendak menuju lift. Nala tidak mau penampilannya saat itu dilihat orang-orang karena pasti akan menimbulkan pertanyaan. Jadi, sebisa mungkin, dia harus bisa tiba di kamar tanpa dilihat siapa pun.
Dan syukurlah Nala tiba di kamarnya dengan selamat.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu basah kuyup?" Suara Gisel malah membuatnya terlonjak kaget.
Nala mendelik. Sebenarnya dia ingin sekali mengata-ngatai Gisel. Karena, walau bagaimanapun juga, dialah yang menyuruh Nala pergi ke kamar itu. Namun, di lain sisi, Nala tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dirinya lantaran dia sendiri pun ikut andil. Seandainya saja tadi dia berhenti melangkah, mungkin hal itu tidak akan terjadi.
"Apa dia melemparkanmu ke dalam kolam renangnya?" tanya Gisel lagi, kali ini sambil tertawa mengejek.
Nala tidak mengindahkan. Dia membuka lokernya lalu mengambil pakaian ganti. Untung saja dia diberikan 3 pasang seragam kerja oleh Bibi El.
"Apa yang terjadi?"
Nala menatap Gisel dengan tatapan tak suka. "Bukan urusan kamu."
Setelahnya Nala masuk ke kamar mandi, membiarkan Gisel yang menatap tak percaya pada pintu yang tertutup rapat itu.
"Rasakan! Pasti Tuan Dilan mendorongnya ke kolam. Dia pasti marah karena Nala masuk ke kamarnya tanpa izin, hihihi."
*****
"Aaaaaa, serius?!"
Nala menjauhkan ponselnya dari telinga ketika mendengar Kiana menjerit di seberang sana.
"Omaigat, Nala! Omaigaaaat! Lo hampir dicium sama dia tapi lo malah gampar dia? Otak lo ke mana, sih, Nalaaa?"
"Udah lari kali."
"Ih, gue kesel deh sama lo. Dapet kesempatan emas gitu malah disia-siakan!"
"Gue tuh kaget pas buka mata, tiba-tiba lihat muka dia di depan muka gue. Dia kayaknya mau ngasih gue napas buatan gitu. Ya udah gue gampar aja karena kaget."
"Wah, gila nih anak. Yang mau nyosor cowok ganteng malah digampar. Heran gue lihat lo. Nggak bisa ambil kesempatan dalam kesempitan."
"Hahahaha."
"Pengen gue sentil tuh ginjal."
"Kok sewot, sih?"
"Ya sewotlah! Coba aja kalau gue yang jadi lo, pasti gue duluan yang nyosor dia. Nggak pake acara pura-pura pingsan segala."
"Yakin dia mau?"
"Mau nggak mau harus mau."
Nala tertawa kecil. "Hahaha. Ya udah, gue matiin, ya? Gue mau balik kerja lagi, nih."
"Okey, deh."
"Daaah." Nala menatap ponsel jadulnya itu dengan perasaan takut karena tadi Bibi El memintanya untuk segera menghadap sebelum pergi ke ruang makan para staf di jam makan siang.
Apa yang akan terjadi padanya setelah ini? Mungkinkah dia akan dipecat?
*****