"Gimana, gimana? Enak nggak di sana? Sampe lupa ngabarin gue, yaaa! Baru juga sehari...." Begitu kata Kiana ketika Nala menelponnya pagi itu.
Nala tertawa. "Nggak gitu, Ki. Kemarin gue capek banget. Jadi belum sempat ngabarin lo, hehehe."
"Hmmm, gitu. Emang disuruh ngapain aja di sana?"
"Gue diajak keliling rumah ini. Gila! Gede banget rumahnya. Capek gue."
"Hahahaha! Tapi katanya penasaran sama isinya. Gimana, sih...."
"Iya, emang. Tapi, ternyata setelah dijalani, kaki gue langsung kram."
"Lebay. Terus, terus, udah lihat cowok itu belum?"
"Belum. Cuma gue udah lihat lukisannya."
"Lukisan? Mukanya dia?"
"Iya."
"Menurut lo, gimana? Ganteng banget nggak, sih?"
"Lumayan."
"Lumayan? Serius lo bilang dia lumayan? Cowok sesempurna itu lo bilang lumayan? Lo mabuk?"
"Iya, lumayan. Ya udah deh kalo gitu, kapan-kapan gue telepon lagi, ya?"
"Gak asik banget sih lagi seru-serunya juga. Terus, lo udah ketemu belum sama dia?"
"Belum, Kiana. Katanya, kalo mau nemuin pemilik rumah ini, harus ada izinnya dulu. Nggak bisa asal ketemu gitu."
"Duh, mau lihat cowok ganteng aja ribet banget."
"Ha-ha-ha."
"Ya udah, besok cerita lagi, ya?"
"Iya, bye...."
"Bye. Have fun!"
"Have fun ndasmu!"
"Hahaha."
Nala baru saja hendak memasukkan ponselnya ketika Gisel tiba-tiba datang dan merampas benda petak itu dan menertawakannya.
"Ini bukannya ponsel jaman dulu? Astaga, yang benar saja! Ha-ha-ha."
"Kenapa?" tanya Nala dengan mimik tersinggung.
Gisel masih tertawa ketika mengembalikan ponsel itu ke tangan Nala. Meski dia tak mengatakan apapun, Nala tahu apa maksudnya.
"Handphone gue hilang, jadi itu dikasih temen."
"Oh, baiklah. Itu cocok untukmu," katanya dan menaikkan kedua alisnya.
Rasa-rasanya Nala ingin sekali menjitak kepalanya. Ada masalah apa sih nih orang? Kenapa dia kelihatannya tak menyukai Nala?
Tahu-tahu terdengar sebuah nada di ruangan kamar itu. Nala langsung celingukan, mencari sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari jam tangan seluler yang dikenakan oleh Gisel.
Gisel menekan layar di benda itu lalu berbicara, "Selamat pagi, Bibi El. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong beritahu Nala untuk menghadap saya di ruangan staf."
"Iya, baiklah saya akan memberitahunya."
Setelah layar di jam tangan itu meredup. Gisel menatap Nala dan berkata, "Bibi El memintamu untuk menemuinya di ruangan staf."
"Iya," ujar Nala dan segera beranjak.
****
Bibi El mengangsurkan dua buah kotak berisi sebuah ponsel dan jam tangan seluler kepada Nala. "Ini semua diberikan untuk para asisten rumah tangga. Kamu akan membutuhkannya. Gunakan hanya untuk pekerjaan."
Nala menatap ponsel bergambar buah apel itu dengan takjub. "Serius, Bibi El?"
"Iya. Mohon diingat peraturannya, jangan mengambil foto apapun di rumah ini lalu menyebarkannya ke media sosial. Apalagi jika itu menyangkut para anggota keluarga ini. Tidak ada satupun dari mereka yang suka dipublikasikan. Jika hal itu sampai terjadi, akan dikenakan sanksi seperti pemotongan upah bahkan pemutusan hubungan kerja."
Nala mengangguk paham. "Baik, saya mengerti. Makasih ya, Bibi El. Oh, iya, tapi saya belum tahu berapa upah yang akan saya dapatkan selama bekerja di sini, hehehe."
Bibi El mendengus kemudian berkata lagi. "Bekerjalah dengan baik, kamu akan menerimanya."
"Baik Bibi, El."
"Attitude, disiplin, kerja keras, itu yang paling utama di sini. Mulai hari ini, biasakan kamu berinteraksi dengan menggunakan bahasa formal. Jangan gunakan bahasa sehari-hari seperti yang sering kamu ucapkan. Jangan mengumpat, jangan mencibir, jangan mengeluh, terus tersenyum pada semua orang."
Nala mengangguk semangat. "Ok, Bibi El. Saya pasti lakuin yang terbaik kok, hehehe."
Karena melihat mata itu kian menyipit, Nala meralat ucapannya. "Baik, saya pasti akan melakukan yang terbaik."
"Bersiaplah, kita akan menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya."
"Mereka sudah pulang?"
Bibi El mengangguk kemudian lebih dulu beranjak. Sementara Nala sedang memegangi jantungnya yang berdebar kencang.
Ada apa ini? Kenapa perasaannya jadi tak menentu begini? Ini adalah hari pertamanya bekerja, Nala takut dia akan melakukan kesalahan.
Saat Nala keluar dari ruangan itu, tiba-tiba saja Gisel merebut ponsel di tangannya.
"Dia memberikanmu ponsel yang mahal dan terbaru," cetus Gisel dengan nada tak percaya. "Bagaimana bisa?"
Nala merampas ponsel itu dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Gisel tadi. "Bagianku. Jangan menyentuhnya."
Gisel menatap Nala seolah-olah Nala adalah makhluk lain yang datang dari luar angkasa. "Kamu... melawanku?"
Nala menunjukkan seulas senyum tipis. "Selain melawan, aku juga bisa menelan orang hidup-hidup."
Nala kemudian beranjak, meninggalkan Gisel yang menatapnya dengan ngeri. Mulanya Gisel berpikir Nala seperti anak kucing yang mudah digertak, tapi kenyataannya... dia bisa berubah menjadi anak singa.
***
Pada pagi itu, Nala sudah mengenakan seragam kerjanya. Rambutnya yang panjang diikat satu, menyisakan sedikit helai rambut di pelipisnya. Dia juga memoles wajahnya dengan sentuhan make-up agar seharian nanti dia tetap terlihat segar dan tak kusam. Tak lupa dia menyemprotkan parfum beraroma kopi favoritnya ke seragam dan telapak tangannya. Orang-orang di sana memuji kecantikannya. Dan tentu saja, itu membuat Nala menjadi lebih percaya diri. Ini hari pertamanya bekerja, jadi dia harus bersemangat, bukan?
"Ayo, mereka sudah datang. Yang lain kembalilah bekerja!" ujar Bibi El di depan semua para staf.
Puluhan orang itu membubarkan diri, dan sepuluh orang lainnya mengikuti Bibi El menuju ruang utama. Ketika pintu terbuka, Nala bisa melihat ada empat mobil mewah berhenti di halaman. Para supir turun untuk membukakan pintu.
"Tundukkan pandanganmu," ujar Bibi El di samping Nala.
Nala segera menunduk. Dia juga bisa mendengar Gisel tertawa mengejek di belakangnya. Sepertinya dia senang jika Nala melamukan kesalahan. Nyebelin banget nggak, sih?
Tuan dan Nyonya besar lebih dulu memasuki rumah. Mereka tampak begitu serasi dengan pakaian berwarna senada yang mereka kenakan. Dari ekor matanya, Nala melihat sepatu yang mereka pakai mengkilap dan tampak mahal. Tiga orang staf datang menghampiri dan mengambil barang-barang yang mereka bawa, seperti tas dan jaket yang kisaran harganya mungkin belasan juta rupiah atau mungkin lebih.
Nala mengembuskan napas panjang. Jadi begitu cara kerjanya. Setiap melihat anggota keluarga memasuki rumah, seseorang harus mengambil barang-barang mereka dan membawanya ke kamar.
Tak lama kemudian, seorang gadis berwajah cantik jelita muncul. Dia mengibaskan rambutnya yang panjang bergelombang dan tampak selembut sutra. Tubuhnya tinggi dan ramping. Hidungnya mancung dan matanya bulat seperti mata boneka. Kesempurnaan seperti melekat padanya.
Ketika Nala hendak menghampirinya, Gisel sudah lebih dulu melangkah. Nala bisa mendengar apa yang dikatakan Nona muda itu padanya.
"Hati-hatilah, itu semua barang-barang mahal!"
"Baik, Nona," ucap Gisel sambil mengambil berkantung-kantung shopping bag dengan brand ternama dari tangannya.
Dia terlihat sangat tertekan, batin Nala saat itu.
Nala memperhatikan langkah Gisel yang tampak malas-malasan membawa semua barang itu. Dia juga terlihat menggerutu di belakang gadis berusia 18 tahun itu.
Nala kemudian kembali memperhatikan pintu masuk, menunggu gilirannya. Seorang wanita paruh baya pun datang. Tubuhnya kurus dan tinggi. Meski rambutnya memutih dimakan usia, garis cantik di masa lalunya masih terlihat jelas. Dua orang staf datang dan langsung mengambil barang-barang yang dibawanya.
Kini, tinggallah Nala dengan beberapa orang lainnya.
"Kembalilah, lakukan pekerjaan yang lainnya," ucap Bibi El pada yang lainnya, namun sayang, Nala tidak mendengarnya.
Jadi, ketika seorang pria berkacamata hitam memasuki ruangan sambil menarik kopernya, Nala langsung menghampirinya.
Pria itu seketika berhenti melangkah, membuka kacamatanya dan menatap Nala dengan kening berkerut samar.
Sontak, Nala terpana pada saat melihat wajah pria itu dalam jarak yang dekat. Dia tampak bersinar, berkilauan, indah, seperti butiran berlian.
Astaga!
Ini pasti Tuan muda Raden Aji Dilan Pratama! Pria yang juga diceritakan oleh Kiana padanya.
"Hm." Pria itu berdeham, membuat Nala tersentak.
"Huh? Ehm, sa-saya akan membantu, Tuan." Nala mengulurkan tangannya dan menjangkau handle koper yang masih dipegang oleh pria itu.
Hal yang tidak disangka-sangka keduanya pun terjadi, pria berpakaian serba hitam itu menarik troli kopernya sehingga membuat Nala ikut tertarik dan membentur tubuhnya, tepat di dadanya. Nala, bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak kencang, juga membaui aroma tubuhnya yang manis dan lembut.
"Jangan sentuh."
Nala mengerjapkan matanya. Terlalu nyaman bersandar di sana, membuatnya lupa sedang apa dan di mana dia sekarang.
"Ma-maaf. Biar saya bantu membawa barang-barang Tuan ke kamar." Nala mundur selangkah dan hendak menyentuh troli itu lagi, namun pria tersebut menariknya lebih dulu.
"Jangan sentuh," ucapnya penuh penekanan, tanpa sebuah senyuman, melainkan tatapan dingin yang menusuk.
Di kejauhan, Bibi El dan beberapa orang yang ada di sana terkejut melihat Nala berinteraksi langsung dengan tuan muda mereka itu. Dia lantas bergegas menghampiri keduanya dan meminta Nala untuk segera menjauh.
"Maaf, Tuan Dilan, dia pekerja baru di sini. Dia belum tahu apa-apa," ujar Bibi El.
Pria yang biasa dipanggil Dilan itu melirik Nala sekilas lalu beranjak, membawa kopernya sendiri menuju lift.
"Apa yang kamu lakukan? Tuan Dilan tidak suka barang-barangnya disentuh," ujar salah satu staf di dekat Nala.
"Dia bahkan bersandar di dadanya. Dia sangat beruntung."
"Beruntung apanya? Siapa tahu setelah ini Tuan Dilan memintanya untuk dipecat."
Jantung Nala berdegup kencang. Apa iya hanya gara-gara hal sekecil itu dia bisa dipecat? Berlebihan banget nggak, sih?
"Kalian semua pergilah, kecuali Nala," ujar Bibi El pada empat wanita itu.
"Baik, Bibi El," ucap mereka sambil lalu.
Bibi El menatap Nala dengan tajam kemudian berkata, "Tuan Dilan tidak suka disentuh. Baik itu barang-barangnya ataupun dirinya. Jadi, di lain waktu, jangan coba-coba melakukan kesalahan yang sama."
"Kenapa dia begitu aneh?"
"Apa?"
"Kenapa dia seaneh itu? Masa menyentuh barang-barangnya saja tidak boleh? Kan saya tadi niatnya mau bantu. Yang lain juga gitu. Mereka membantu membawa barang-barang Tuan dan nyonya, nona muda, nenek-"
"Dia berbeda," potong Bibi El cepat.
Dia lalu menatap Nala dengan khawatir. Sepertinya perempuan ini akan membuatnya kesulitan. "Perbaiki caramu berbicara."
Nala mengangguk. "Baiklah, Bibi El."
Oh, ya ampun! Baru juga memulai, tapi Nala bisa membayangkan bagaimana kesehariannya nanti. Pasti akan penuh tekanan.
Nyari duit emang nggak gampang, cetus Nala dalam hati.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa Nala tidak melihat Keenan di sini? Ke mana dia?
"Bibi El, di mana Tuan Keenan? Saya tidak melihatnya datang."
"Tuan Keenan ada jadwal operasi hari ini. Jadi, pulang dari Korea dia langsung ke rumah sakit."
"Ooh, begitu."
"Apa kamu penasaran dengannya?"
"Bu-bukan begitu." Nala gelagapan, tidak tahu harus berkata apa. "Ha-hanya bertanya."
"Pergilah ke lantai dua dan tanya Gisel apa yang bisa kamu kerjakan."
"Baik, Bibi El."
Nala segera bergegas menuju lantai 2 dengan menggunakan lift. Ternyata ketika pintu itu terbuka, seseorang sudah menunggu di luar. Nala ingat kalau orang itu adalah gadis peramal yang dia temui pertama kalinya ketika jam makan siang kemarin.
"Hai," sapa Nala ramah.
"Nama saya Wilo. Panggil Wilo saja," balasnya tak kalah ramah.
"Hai, Wilo. Kamu mau ke mana?"
"Saya mau ke dapur. Chef akan datang dan kami akan memasak hari ini."
Nala melihat kantung belanjaan yang dibawa Wilo. Berisi banyak buah dan sayuran segar. Wilo pasti baru saja keluar dari minimarket yang berada di lantai itu.
"Kamu lihat Gisel?"
"Ya, dia ada di gimnasium. Saya harus segera kembali, mungkin chef sudah menunggu."
Nala mengangguk. Sebelum gadis berwajah manis itu pergi dari hadapannya, dia sempat berkata pada Nala, "Semakin lama semakin jelas. Kamu akan menjadi seorang ratu."
Ketika Nala hendak bertanya apa maksud perkataannya, pintu lift sudah tertutup. Nala terpaksa menyimpan rasa penasarannya itu sampai nanti dia bertemu dengan gadis itu lagi.
Nala lalu berkeliling, mencari-cari sosok Gisel. Dia sudah ke ruang gym, namun tak menemukan Gisel di sana. Mungkin, dia sudah pergi ke tempat lain.
"Itu dia," ucap Nala begitu melihat tubuh mungil itu sedang membersihkan jendela panorama di area balkon yang menghadap langsung ke laut.
"Gisel," panggil Nala setelah berdiri di belakangnya.
Gisel menoleh acuh tak acuh. "Ada apa?"
"Bibi El menyuruhku bertanya apa yang bisa kukerjakan di sini?"
Gisel menatap Nala lama-lama sebelum menjawab. "Pergilah ke kamar Tuan Dilan, lihat apa saja yang bisa kamu kerjakan di sana. Seperti, merapikan tempat tidur dan beberapa barangnya. Dia sedikit agak berantakan."
"Hm, tapi bukannya dia tidak suka barang-barangnya disentuh?"
Gisel berkedip sebanyak dua kali, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Iya, benar sekali. Tapi, kita juga harus membersihkan setiap ruangan, karena untuk itulah kita bekerja di sini."
"Tapi... dia kan sekarang ada di kamarnya . Apa itu tidak akan jadi masalah?"
"Tidak, kamu tinggal minta dia untuk keluar kamarnya sebentar. Sudah sana kerjakan, jangan banyak bertanya."
Nala mengangguk. "Ya sudah kalau begitu."
"Semangat!" ucap Gisel dengan riang.
Tidak biasanya. Cenderung mencurigakan. Namun, Nala tak ambil pusing. Dia lalu pergi menuju lantai paling atas dengan jantung berdebar kencang. Perasaannya tiba-tiba tak enak.
Tenang....
Tarik napas... hembuskan...
Hanya membersihkan sebuah kamar, Nala, jangan cemas. Tidak ada monster di dalam sana, melainkan seorang pria tampan yang menyerupai pangeran.
Lakukan dengan baik dan jangan membuat kesalahan apa pun.
Tapi, Nala tidak tahu, bahwa melangkah menuju kamar itu pun sudah merupakan sebuah kesalahan.
****