"Ini Tuan Muda Keenan Arkana Mahesa Wicaksana, putra kedua dari Tuan dan Nyonya. Dokter di salah satu rumah sakit milik keluarga ini juga."
Bibir Nala bergerak, mengeja nama itu dengan pelan. Lalu, dia menoleh pada Bibi El yang menatapnya penuh selidik.
"Ada apa? Apa dia membuat jantungmu berdebar kencang?"
"Huh?"
Bibi El tersenyum tipis. "Tuan Muda Keenan memang mampu membuat wanita mana saja terpesona. Dan paling handal dalam hal mematahkan hati mereka.
Nala tidak mengatakan apapun, hanya memandangi wajah itu dengan penuh tanda tanya.
Sepengetahuan Nala, Keenan lahir dari keluarga yang berkecukupan. Dia tinggal bersama ibunya di sebuah kompleks perumahan di Bandung. Mereka teman satu sekolah semasa SMA dan pernah berpacaran selama dua tahun lamanya. Tetapi, Nala tidak pernah lagi mendengar kabarnya karena Nala memutuskan untuk pindah sekolah ke kampungnya pada akhir semester.
Dulu, Nala pernah bersekolah di Bandung dan tinggal di sana bersama paman dan bibinya. Setiap akhir pekan, dia akan pulang ke rumah untuk menemui kedua orangtuanya di Bogor. Karena suatu hal, Nala akhirnya memilih kembali ke kampung halamannya dan meneruskan sekolahnya di sana. Sejak itulah dia tak pernah lagi bertemu dengan Keenan.
Dan fakta ini mengejutkannya. Bagaimana bisa Keenan menjadi bagian dari keluarga konglomerat ini? Nala juga ingat betul kalau wajah ibunda Keenan, bukanlah wajah nyonya besar yang ada di lukisan ini.
Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah Nala harus bertanya pada Bibi El tentang masa lalu Keenan?
"Jangan menatapnya terlalu lama. Itu akan membuatmu bermimpi. Banyak mimpi yang tidak bisa menjadi kenyataan."
Kata-kata itu penuh makna dan terdengar seperti sebuah peringatan. Nala memahaminya dengan jelas.
Bibi El lalu menunjukkan lukisan lainnya, berisi gambar seorang kakek dan nenek. Bibi El mengatakan jika mereka adalah orangtua dari tuan dan nyonya besar. Namun, sang ayah sudah meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit jantung yang dideritanya. Sementara sang ibu kini tinggal bersama mereka di rumah ini. Di lantai dasar, bersama beberapa staf lainnya. Dia memilih tinggal di kamar yang kecil, menghadap langsung ke laut, dengan taman kecil penuh bunga di teras kamarnya. Bibi El juga mengatakan, kamar yang akan ditempati Nala ada di samping kamarnya.
Setelah melihat hampir seluruh isi rumah, Nala akhirnya diantar ke kamarnya. Dia akan mulai bekerja besok karena ada beberapa hal lagi yang harus Nala pelajari.
"Sampai ketemu di jam makan malam. Datanglah bersama yang lainnya," ujar Bibi El sebelum beranjak.
Nala lalu melihat sekelilingnya. Kamar ini berukuran sedang. Ada dua buah ranjang bertingkat dengan kasur yang empuk, dilengkapi AC, televisi gantung dan kamar mandi. Terbilang mewah untuk para asisten rumah tangga.
Tiba-tiba pintu kamar itu membuka dan tiga orang wanita berseragam sama muncul. Dua di antaranya terlihat berusia 30 tahunan, dan yang satunya lagi seperti seumuran Nala.
"Jadi, kita kedatangan teman baru, ya?" Wanita berambut cokelat yang disanggul rapi bertanya pada dua orang lainnya.
Mereka menatap Nala dengan penuh selidik sebelum akhirnya sama-sama melemparkan senyuman hangat.
"Halo, perkenalkan, saya Ajeng." Wanita bernama Ajeng mengulurkan tangannya pada Nala.
"Nala," balas Nala sambil menyambut uluran tangannya.
"Mariana." Yang satunya lagi, turut memperkenalkan diri.
"Gisel." Wanita berambut pendek dengan wajah ketus itu melirik Nala sesaat sebelum melompat ke kasurnya. "Jadi, peraturannya adalah, jangan menyentuh barang milik orang lain di kamar ini. Jangan memakai sikat gigi milik yang lain dan jangan menghabiskan shampoo-nya."
Ajeng tertawa. "Apa kamu baru saja menyindir?"
Gisel mengedikkan bahunya acuh tak acuh, kemudian naik ke ranjangnya yang ada di bagian atas sementara Nala akan tidur di ranjang bawahnya.
"Bertambah satu lagi. Pasti kamar ini akan berisik sekali," gerutunya lalu merebahkan diri di kasur.
"Jangan dengarkan dia. Dia memang sedikit menyebalkan," tutur Mariana pada Nala yang tampak terheran-heran dengan sikap tak ramah yang dibuat Gisel.
Nala hanya tersenyum tipis. "Iya, saya ngerti kok."
"Gisel, turunlah! Kita harus membersihkan semua ruangan di lantai ini. Besok mereka semua akan pulang," seru Mariana.
"Bisa tidak, aku tidur sebentar saja? Lagipula, besok itu masih lama. Kita masih punya banyak waktu untuk membersihkan semuanya."
"Hari ini kamu harus ke kamar nona muda. Pastikan semua barangnya tak ada debu yang menempel sedikitpun. Jangan lupa untuk mengelap meja hiasnya."
Gisel mendengus kemudian dengan gerakan tak sudi turun dari ranjangnya. "Aku benci dengannya. Bagaimana bisa seorang bayi yang dibuang bisa menjadi sok penguasa di rumah ini."
"Psst! Jaga bicaramu!" tegur Mariana sambil melirik Nala.
Gisel mendelik lalu lebih dulu pergi keluar dari kamar.
Apa maksudnya tadi itu? pikir Nala.
Mariana tersenyum. "Nona muda gadis yang baik."
"Tapi bukankah dia terlihat agak tidak tahu diri? Aku sering melihatnya bersikap seolah-olah mencari perhatian Tuan Dilan."
"Tentu saja. Tuan Dilan adalah kakaknya. Jadi, dia ingin diperhatikan lebih oleh kakaknya sendiri. Bukan begitu, Nala?"
Nala yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Coba lihat dari sudut pandang yang berbeda. Nona muda sepertinya—"
"Ayo, pergi! Kamu terlalu banyak bicara!" potong Mariana lantas menarik Ajeng keluar dari kamar.
Sepeninggal mereka, Nala segera merebahkan dirinya dan memejamkan mata.
Tak disangka-sangka, wajah Keenan di lukisan tadi menari-nari di benaknya. Nala kembali membuka matanya.
Sebenarnya, dia penasaran...
Apa kabarnya orang itu?
Waktu itu Nala pergi meninggalkannya begitu saja. Ada banyak janji yang mereka berdua ikrarkan. Namun, banyak pula yang tak ditepati.
Apakah dia masih seperti Keenan yang dulu Nala kenal?
****
Jam makan malam tiba. Nala diajak ke lantai bawah, ke sebuah ruangan yang berisi banyak kursi dan meja. Di sudut ruangan ada banyak menu yang tersaji dan semua makanan itu tampak lezat. Dan tak lama kemudian, orang-orang mulai berdatangan dan mengambil tempat masing-masing.
"Ini ruangan makan para staf. Kamu bisa makan sepuasnya, jangan malu-malu," bisik Ajeng padanya.
Oh, jadi begitu....
Nala berjalan menuju meja hidangan dan hendak mengambil sebuah piring namun ada tangan yang tiba-tiba mendahuluinya.
"Bagianku."
Nala melirik si pemilik tangan. Ternyata gadis itu. Kenapa dia bersikap tak ramah, sih? Rasa-rasanya Nala ingin menyentil ginjalnya.
Setelah mengambil makanannya, Nala kemudian kebingungan mencari-cari tempat untuk duduk. Dia juga tak bisa menemukan keberadaan Ajeng dan Mariana karena semua wanita di sana tampak serupa dengan seragam yang sama. Kursi-kursi panjang itu pun sudah penuh. Lama dia celingukan mencari tempat, hingga akhirnya ada seseorang yang menariknya.
"Duduklah."
Nala menoleh ke samping dan mendapati Gisel bergeser sedikit untuk memberinya ruang.
Nala tersenyum. "Makasih, Gisel."
"Terima kasih, bukan makasih. Biasakan bicara dengan formal di sini."
"Huh?"
Gisel mengerling. "Nanti kamu juga akan tahu."
"Apa kamu anak baru?" Seorang gadis bertanya pada Nala.
Nala mendongak, menatap wajah di hadapannya.
"Iya," jawab Nala dan tersenyum.
"Kamu sangat cantik."
Wajah Nala merona mendengar pujian itu, apalagi beberapa dari sekumpulan orang di sekitarnya ikut mengiyakan ucapan gadis itu.
"Seharusnya dia menjadi model."
"Atau bintang iklan."
Nala hanya tersenyum mendengar ucapan-ucapan itu.
"Siapapun di rumah ini pasti akan menyukainya. Saya bisa melihat masa depannya. Dia akan menjadi seorang ratu."
"Siapapun?" cetus Gisel. "Tuan Dilan dan Keenan tidak masuk dalam daftar itu."
Gadis di depannya itu tersenyum misterius dan menatap Nala dalam-dalam. "Kamu berpikir sudah melarikan diri darinya. Tapi kenyataannya, kamu justru berlari ke arahnya."
Apa maksudnya itu?
"Dia peramal?" tanya Nala setelah mereka semua sudah kembali ke kamar masing-masing.
"Entahlah, aku tak yakin," jawab Gisel acuh tak acuh lalu naik ke tempat tidurnya.
Tak lama kemudian, kamar itu menjadi hening karena semua orang sudah tidur pulas. Nala lantas beranjak menuju jendela. Dia berdiri di sana, menatap langit malam. Pikirannya berkelana, mengingat sang ibunda.
Dia yakin pasti akan kembali. Tapi, tidak tahu kapan tepatnya.
****
Di sebuah tempat, di bawah langit malam yang penuh bintang.
"Nona itu sudah di depan mata, Tuan...."
Sosok itu mengangguk, namun tak mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang.
"Aku bisa merasakannya. Jantungku rasanya berdebar kencang. Pertanda apa ini?"
"Mungkin, itu yang dinamakan cinta."
Pria bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam itu tertawa mendengus. "Cinta? Yang benar saja."
"Apa Tuan ingin kami melakukan sesuatu untuknya?"
"Tidak. Biarkan aku yang melakukannya."
****