6. Mendapat Pekerjaan

2063 Kata
"Ki, gue ikut dong ke tempat kerja lo. Suntuk nih gue di rumah terus. Boleh, ya?" Kiana yang sudah bersiap-siap akan berangkat, melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul sembilan malam. "Ngapain? Di sana itu berisik banget. Manusia kayak lo nggak bakal betah dengerin musik keras-keras gitu. Mendingan lo tidur." "Betah, kok. Gue ikut, ya? Siapa tau gue ketemu bule tajir terus ngajakin gue kawin." "Yang ngajak kawin banyak, tapi yang ngajak ke pelaminan nggak ada. Lo mau dikimpoi gratis sama mereka?" "Ih, ya enggaklah!" "Makanya, di rumah aja. Lagian udah malem juga." "Sesekali gitu, loh, gue pengen masuk diskotik. Seumur-umur nggak pernah." "Jalan lo udah lurus, Na. Ngapain ngambil jalan sesat, sih? Gue aja pengen tobat." "Sekali ini aja. Boleh, ya?" Kiana mendengus pasrah. "Ya udah deh, tapi gue mau ke belakang dulu. Mules." "Okeh, gue siap-siap dulu, hehehe." Kiana masuk ke kamar mandi, mengeluarkan sebatang rokok berserta pemantiknya lalu duduk di atas water closet. Lima belas menit kemudian, dia selesai. Tak lupa Kiana membuang puntung rokoknya ke dalam tong sampah agar Nala tidak melihatnya. Kiana hanya tidak mau Nala tahu kalau sekarang ini dia menjadi pecandu rokok. "Astaga nih orang, udah molor aja...," cetusnya begitu melihat Nala sudah tidur di atas sofa. Kiana tak berniat membangunkannya. Dia kemudian menyelimuti tubuh Nala dan berjongkok sebentar di sisinya. "Gini kali ya rasanya punya saudara perempuan? Huh, dasar! Ngerepotin banget jadi orang," katanya dengan nada bercanda sambil memandangi wajah Nala yang tertidur pulas. Setelah memastikan kalau Nala aman untuk ditinggalkan, Kiana pun bergegas pergi untuk bekerja. Beginilah kehidupannya sehari-hari, pergi malam pulang pagi demi mencari sesuap nasi. **** Keesokan harinya, ketika Kiana pulang ke rumah, dia mendapati Nala masih tidur nyenyak. Kali ini, bukan di sofa, tapi di ranjang. Entah kapan dia berpindah tempat. Dan lihatlah gaya tidurnya yang benar-benar tidak manusiawi. Kiana lalu menaruh sebuah kantung plastik berisi sarapan untuk Nala ke atas meja. Mengucek matanya yang mulai mengantuk, Kiana mengambil sebuah map berisi persyaratan lamaran kerja yang sudah disiapkan Nala kemarin. "Fiuh, semoga hari ini dapat kerjaan!" ujarnya, semangat. *** Brak! Sebuah mobil tiba-tiba saja menabrak Kiana dari arah belakang. Dia yang tadi menyeberang jalan sambil menelpon akhirnya terhempas jatuh ke jalanan. Map berisi surat lamaran itu pun berserakan di jalan, susah payah Kiana mengutipnya. Untung saja, si pemilik mobil turun dan membantunya. "Maaf, apa Anda terluka?" tanya pria berkemeja hitam putih tersebut. Dia membantu Kiana berdiri dan membawanya ke tepi jalan. "Cuma luka sedikit. Maaf, ya, Pak, tadi saya nggak lihat-lihat jalan," ucap Kiana. Bukan hanya terluka di bagian tangan, ternyata kakinya cukup sakit untuk dibawa berjalan. Namun, Kiana tidak mengatakan apa pun karena tabrakan itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Pria itu mengangguk lalu kembali ke mobil. Namun, tak lama kemudian, dia kembali menghampiri Kiana. "Apa Anda membutuhkan bantuan?" Kiana menggeleng. Sebenarnya dia agak canggung dengan cara pria itu berbicara. Rasanya terlalu kaku. "Apa Anda sedang mencari pekerjaan?" Pria itu menunjuk map di tangan Kiana. "Ya?" "Apa ada nomor yang bisa dihubungi? Kami mungkin bisa membantu Nona. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena saya sudah membuat Nona terluka." Kiana mengerjapkan mata. "A-ada." Kiana menyebutkan 12 digit nomor kepada orang asing tersebut sambil bertanya-tanya dalam hati siapakah pria itu sebenarnya. Sepertinya dia bukan orang biasa. "Baik, terima kasih. Mohon selalu berada dekat dengan telepon Anda, karena siapa tahu kami akan menghubungi Anda beberapa saat lagi." Kiana mengangguk lagi. "Oh, iya, baik." Pria itu pamit dengan sopan lalu masuk ke mobil mewahnya. Sekilas, Kiana bisa melihat ada seorang wanita di dalam mobil tersebut. Dan sepertinya dia sudah cukup tua. Tak lama setelah mobil itu melaju, ponselnya berdering. Ada nomor tak dikenal yang meneleponnya. Dengan kening berkerut samar, Kiana lantas menjawabnya. "Halo?" "Halo, selamat siang. Apakah Anda membutuhkan sebuah pekerjaan?" Suara itu milik seorang wanita. Entah siapa. "Iya, saya lagi nyari kerjaan, Mbak. Tapi, buat teman saya." "Baiklah, bisa kirimkan data diri teman Anda ke email kami? Kami akan membantu." "Bisa. Alamatnya apa, ya, Mbak?" "Kami akan kirimkan ke nomor Anda segera. Mohon ditunggu. Terima kasih." Telepon itu terputus. Tak lama kemudian, ada satu pesan masuk. Kiana lekas-lekas membukanya. Recruitment@shinecorps.com. Kiana tersenyum membacanya lalu mengembuskan napas lega. "Nala, lo punya utang banyak ke gue!" **** "Kok lo nangis, sih, Na? Cuma gara-gara gue bilang lo banyak utang ke gue. Kan, nggak gue minta langsung, lo bisa nyicil." Nala mengusap air matanya sambil terus membersihkan luka di tangan Kiana. "Lo tuh bego apa oon, sih? Kenapa coba pergi nggak bilang-bilang gue? Harusnya yang ditabrak itu gue, bukan lo, Ki. Lagian yang butuh kerja kan gue, ngapain lo harus repot-repot gini? Kalo ada apa-apa sama lo, gimana?" "Bukannya bilang makasih, malah bilang gue bego." "Gue sedih aja. Ternyata lo sepeduli itu sama gue. Padahal kita udah lama nggak ketemu." "Nggak lama ketemu tapi kita masih temenan, kan? Udahlah, santai. Nggak ada yang bisa gue lakukan selain ini." Nala tersenyum. "Makasih banyak, ya, Ki. Gue janji, akan bayar semua utang gue ke lo kalo gue udah dapat kerjaan itu." "Wajib emang hukumnya." Nala terkekeh. "Ya udah, sekarang mendingan lo rehat dulu. Kaki lo masih sakit?" "Hmmm." Kiana menggerakkan kaki kanannya. "Masih, nih. Ah, palingan besok juga udah sembuh kok." "Oke deh kalo gitu." Suara dering ponsel milik Kiana terdengar. Nala, yang berada dekat dengan ponselnya yang ditaruh di atas meja, membantu Kiana menjangkaunya. "Ini nomer yang tadi nelpon gue," kata Kiana sumringah. Nala ikutan sumringah. "Serius?" "Iya. Semoga ada kabar baik, ya," kata Kiana lagi sebelum menjawab panggilan itu. Kiana berbicara selama tiga menit dengan si penelepon, lalu setelah itu dia menatap Kiana dengan wajah kecewa. "Kenapa, Ki?" tanya Nala, harap-harap cemas. "Kerjaannya ada. Tapi, emang lo mau jadi maid gitu?" "Maid?" "Asisten rumah tangga." Nala tampak berpikir sejenak, kemudian tersenyum. "Alhamdulillah, apa pun pekerjaannya, gue terima!" "Lo serius?" "Iya, serius! Gue mau kerja apa aja, selama itu halal!" Kiana kembali melihat ponselnya yang menyala karena ada pesan masuk. Matanya melotot seketika ketika melihat tulisan yang tertera di layarnya. "Oh, my, God! Lo bakalan kerja di salah satu rumah crazy rich-nya Bali, tahu nggak?" Nala yang tidak tahu apa-apa, mengerutkan keningnya, bingung. "Hah?" Sementara Kiana, yang kakinya sakit malah tiba-tiba saja berdiri dan mondar-mandir. "Oh, my, God! Nala! Di sana itu ada butiran berlian yang wow banget! Lo bisa pingsan ngelihatnya." Nala mendengus. "Lo ngomong apa, sih? Gue nggak ngerti." "Ada cowok yang kayak pangeran tinggal di sana. Dia itu, dijuluki crazy rich karena emang tajirnya melintir gitu nggak habis-habis sampe kiamat. Udah gitu, ganteng banget, sumpah!" "Oh? Terus, hubungannya sama kerjaan gue apa?" "Ya lo beruntung aja gitu dapat kerjaan di sana. Bisa ngelihatin dia terus. Syukur-syukur dia ngajak kawin. Bisa jadi Cinderella dalam dunia nyata lo." Nala tertawa. "Wah, gila nih anak! Mana mungkin cowok sesempurna itu mau sama gue." "Iya, sih. Nggak mungkin. Tapi, intinya, lo beruntung bisa kerja di sana. Dan gue yakin nih, gaji lo pasti lumayanlah di sana." Nala tersenyum, matanya tampak berkilat-kilat penuh semangat. "Makasih, ya, Ki. Akhirnya gue punya kerjaan sekarang, hehehe. Gue nggak tau lagi gimana bilangnya, yang pasti gue bersyukur banget punya teman sebaik lo." "Ternyata, ada hikmahnya juga kan gue ketabrak? Soalnya, mereka jadi ngasih kerjaan gitu buat lo." Nala menggaruk kepalanya. "Nggak tahu mau bersyukur apa gimana. Tapi, setiap kejadian pasti selalu ada hikmahnya, sih." "Hahaha, ya udah deh, mendingan sekarang lo siap-siap." "Mau ke mana?" "Ya ke rumah itu. Lo harus ke sana hari ini juga." "Lah? Gue kan pengen ngajak lo keliling Bali. Nggak bisa besok?" "Nggak ada duit. Yang terpenting sekarang itu kerjaan lo! Yuk, buruan!" Nala mau tak mau bangun dari duduknya. "Yaaah, padahal gue pengen banget main ke pantai." "Ha-ha-ha, kapan-kapan, ya?" Nala berjalan ke tempat di mana dia menaruh kopernya sambil menjawab dengan bibir manyun, "Mau gimana lagi...." "Yang happy dong! Kan baru dapat kerjaan. Senyumnya mana?" Nala langsung unjuk gigi, sehingga membuat Kiana tertawa terpingkal-pingkal. "Sendiri lagi deh gue di sini," katanya setelah tawanya reda. "Ya udah, gimana kalo lo angkat gue jadi adek lo aja. Gue mau kok, asal lo yang nanggung semua kebutuhan gue sehari-hari." Kiana bergidik ngeri. "Nggak! Selain bangkrut, lama-lama bisa gila gue ngadepin adek kayak lo!" "Daripada lo nggak ada temennya di sini, mendingan lo ngasuh gue. Gue juga pasti bantu-bantu lo beresin rumah kok," ucap Nala meyakinkan. "Enggak. Gue beresin rumah juga bisa sambil merem." "Gimana kalau gue masakin lo aja? Soalnya kalo sendirian, lo pasti lebih sering makan makanan siap saji gitu, kan? Nah, biar lo sehat dan panjang umur, gue aja yang masakin lo. Oke?" "Manis banget tuh mulut." "Yang penting lo nggak ngerasa kesepian lagi." Kiana langsung membisu. Seketika, raut wajahnya berubah sendu. Tentu saja hal itu membuat Nala merasa tak enak hati. Mungkinkah dia baru saja menyinggung perasaan Kiana? "Ki?" "Gue nggak tahu kenapa hidup gue jadi kayak gini, Na," ujar Kiana kemudian. "Dulu itu, orang-orang pada bilang pengen jadi gue. Punya keluarga yang harmonis, bisa beli apa aja, jalan-jalan ke mana aja. Endingnya apa? Keluarga gue hancur berantakan, Na." Nala bisa melihat sebutir air mengalir keluar dari pelupuk mata Kiana. "Ki, lo yang sabar, ya? Gue yakin, suatu hari nanti, lo bakal berkumpul lagi sama mama dan papa lo." Kiana tertawa mendengus. "Nggak mungkin, Na. Mama gue udah nikah lagi. Dia udah punya keluarga sendiri. Ternyata gini ya, rasanya jadi anak broken home. Sakit banget. Kalo gue nggak kuat, mungkin gue udah lama mati." "Tuhan itu sayang sama lo, makanya lo dikasih cobaan kayak gitu, Ki." "Sayang? Tapi setiap hari gue bikin dosa." "Jangan ngomongin dosa. Kalau itu semua orang juga punya." Kiana tersenyum getir. "Hidup sederhana itu lebih enak. Lo tau nggak apa yang bakal jadi target gue tahun depan?" "Apaan?" "Gue mau kawin." "Kawin sama siapa?" "Ya oranglah, masa monyet." "Serius. Emang lo udah ada calon?" "Ada dong!" "Gue aja kabur mau dikawinin orang, lo malah kepegen." "Life must go on. Gue cuma pengen ketemu cowok, yang setia sama gue, yang baik, mau terima gue apa adanya, orangnya sederhana. Nggak perlu tajir, yang penting dia bertanggung jawab." "Yang kayak gitu mah cuma kakak gue tuh si Rangga." "Kak Rangga emang belum kawin?" "Belum. Ditinggal nikah dia sama pacarnya." "Ya ampun, kasihan banget. Apa kak Rangga masih secupu dulu? Masih pake kacamata?" "Masih, tapi nggak cupu-cupu banget. Kak Rangga tuh orangnya pendiam. Gimana, ya? Gue juga bingung jadi adeknya. Termasuk aneh sih tuh manusia satu." "Hahaha, jadi penasaran. Udah lama banget gue nggak ketemu dia." "Besok-besok juga ketemu." "Lo ingat nggak sih, Na, dulu itu gue sering bilang titip salam ke dia setiap lo pulang ke Bogor? Terus, dia bilang apa lo masih ingat nggak?" "Walaikumsalam," jawab Nala cepat. Keduanya lalu tertawa terpingkal-pingkal. Kiana bahkan seperti sudah melupakan kesedihannya. Membayangkan sosok kakak laki-laki Nala yang dulunya pernah ia taksir, membuat perasaannya menjadi lebih baik. "Padahal maksud gue,kan, bukan salam yang itu, hahaha." "Kak Rangga emang suka gitu. Tapi, dia baik banget." "Iya, sih, makanya dulu gue pernah suka sama dia. Dari pertama lihat aja, gue langsung deg-degan." "Ceileh." "Hahaha. Eh, by the way, kak Rangga kerjanya apa ya sekarang?" Dulu, seingat Kiana, pria itu sedang menempuh pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri di Bogor. Waktu sudah cukup lama berlalu, pastinya Rangga sudah bekerja sekarang. "Kak Rangga jadi guru." "Hah? Serius?" "Iya." "Ngajar apaan?" "Olahraga." Kiana manggut-manggut. "Oh, guru olahraga." "Kemarin baru aja lulus PNS." "Iya? Wah, keren banget." "Mau gue suruh kawin aja." "Kok gitu?" "Iya, biar bisa melanjutkan hidup aja. Kayaknya dia masih belum bisa move on dari mantannya." "Cantik emang mantannya?" "Lumayan. Baik juga. Tapi, karena waktu itu kak Rangga belum punya kerjaan yang bagus, jadinya ditinggal nikah." "Namanya juga nggak jodoh. Suatu saat nanti, kak Rangga pasti ketemu orang yang tepat." Nala tersenyum. "Gue juga berharap gitu, Ki. Emang sih dia agak pendiam, irit ngomong, tapi dia penyayang banget." Kiana ikut tersenyum, dia berdiri di dekat jendela, menatap langit yang biru. "Kapan, ya, bisa ketemu kak Rangga lagi? Udah lima tahun deh kayaknya. Menurut lo, kak Rangga masih ingat gue nggak, Na?" "Ya masihlah. Dia pernah nanyain lo dulu. Tapi, gak lama pindah sekolah, kita kan lost contact. Jadi, gue bilang aja nggak tau kabar lo lagi." Kiana terkekeh geli. "Ngapain dia nanyain gue?" "Nggak tau." "Kangen kali." "Idih, pede." "Hahaha." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN