7. Rumah Sultan

1477 Kata
"Ya ampun, Ki! Ini beneran alamatnya? Wah, gila, sih! Bagus banget rumahnya!" seru Nala setibanya mereka di tempat tujuan. Untuk menuju ke sana, perlu waktu kurang lebih 15 menit dari kosan Kiana. Letak rumah itu berada di selatan Bali, di atas tebing batu kapur dengan pemandangan laut yang menakjubkan. Kiana memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Mereka bersandar di kap mobil, memandangi rumah mewah bertingkat empat itu dari luar dengan terkagum-kagum. Meskipun tak tampak seluruhnya karena dihalangi pagar yang menjulang, tetapi tetap saja rumah itu terlihat begitu luar biasa megahnya. "Gue bilang juga apa. Ini tuh salah satu rumah Crazy Rich-nya Bali. Keluarga konglomerat yang hartanya nggak bakalan habis-habis tujuh turunan." Nala berdecak kagum. "Gilaaa! Penasaran gue sama isinya. Ada apa aja ya di dalam?" "Gue malah penasaran sama si Butiran Berlian. Gimana, ya, dia aslinya?" "Maksud lo, cowok yang lo ceritain tadi?" "Iya, dan lo tahu nggak? Kemarin itu, sempat ada media yang memposting foto-fotonya di internet, tapi nggak lama setelah itu dihapus. Kabarnya, keluarga mereka nggak suka dipublikasikan gitu." "Lo sempat lihat fotonya?" "Sempat. Sialnya gue nggak nge-save tuh foto. Soalnya pas gue lihat lagi, udah di-delete semuanya. Dia itu sempurna banget, Na. Idaman semua wanita." Kiana berdecak kagum. "Seandainya dia itu jodoh gue." "Siapa, sih, namanya? Gue nggak pernah dengar dia di TV." "Siapa, ya? Bentar, gue ingat-ingat." Kiana mengerutkan dahinya sambil menjilat bibir. "Ah, gue ingat! Namanya, Raden Aji Dilan Pratama." "Nggak kenal," cetus Nala cepat. "Kan gue udah bilang, mereka nggak mau profil mereka jadi konsumsi publik. Makanya, cuma orang-orang tertentu aja yang tahu siapa mereka." "Aneh." "Aneh, gimana?" "Kenapa mereka nggak mau dikenal masyarakat coba?" "Menurut pandangan gue yang pernah jadi orang tajir, itu tujuannya lebih kenyamanan hidup, sih. Mereka pengen melakukan apa aja tanpa ada yang bedain strata sosial mereka. Ya, intinya sih, pengen hidup seperti orang biasa pada umumnya." Nala manggut-manggut mengerti. "Oh, gitu." Kiana tersenyum. "Udah sana masuk! Semoga betah, ya?" Nala tiba-tiba memeluk Kiana dengan erat. "Ki, makasih banyak, ya." Kiana balas memeluk Nala dan menepuk-nepuk punggungnya. "Semoga setelah lo masuk ke dalam sana, hidup lo jadi berubah, Na." "Ki, gue jadi pembantu di sana. Mau berubah gimana lagi hidup gue?" ucap Nala mengingatkan. "Ha-ha-ha. Maksud gue, jadi lebih waras. Apalagi kalo udah lihat cowok ganteng." "Kalo gue beda, Ki. Lihat cowok ganteng yang ada otak gue hilang." "Hahaha, ada-ada aja lo. Oh, ya, barang-barang lo udah di situ semua, kan?" Nala mengangkat kopernya sedikit dan menunjukkan tas-nya. "Udah, kok." "Ya udah deh, kalau gitu gue pamit, ya." "Hati-hati. Telpon gue kalo kangen." Kiana tertawa sambil masuk ke dalam mobil sedan yang belakangan Nala ketahui adalah miliknya. Sebelum pergi dia berkata pada Nala, "Kalau ada apa-apa telpon gue, ya? Gue pasti langsung jemput lo ke sini. Bye-bye!" Kiana lalu melambaikan tangannya sebelum membawa mobilnya melaju, meninggalkan Nala yang tampak sedih melihatnya pergi. Melalui kaca spion mobil, dia bisa melihat Nala masih berdiri di tepi jalan. Entah apa lagi yang ditunggunya. "Lo kabur sejauh ini, Na. Semoga lo dapatin apa yang lo cari." **** Setelah mobil yang dikendarai oleh Kiana hilang di ujung jalan sana, barulah Nala beranjak. Dilihatnya pagar di depannya yang menjulang tinggi. Tak ada celah untuk mengintip ke dalam sana. Nala lalu berjalan mendekati sebuah bangunan kecil berupa pos keamanan. Di sana ada dua orang penjaga bertubuh tinggi dan kekar. Melihatnya saja Nala bergidik ngeri. "Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Pria berambut gondrong lebih dulu bertanya sebelum Nala sempat berbicara. Nala tersenyum lebar seraya berkata, "Hmmm, saya diminta datang ke sini, Pak. Katanya saya mau jadi asisten rumah tangga di sini." Kedua pria itu menatap Nala lekat-lekat. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Lalu keduanya saling berpandangan. Sementara itu, Nala sudah gemetaran. Takut kalau ternyata dia salah alamat. Jangan-jangan rumah ini adalah tempat prostitusi terselubung. "Nama Anda siapa?" tanya pria lainnya yang berkepala plontos. "Kaynala Mentari." Pria itu lalu beranjak menuju pos. Nala bisa melihatnya sedang berbicara melalui jam tangan pintaMungkin dia sedang menanyakan apa Nala diizinkan masuk atau tidak kepada pemilik rumah. Dan benar saja, tak lama setelah dia kembali, gerbang setinggi 3 meter tersebut dibuka hingga tampaklah bangunan rumah bertingkat empat yang benar-benar luar biasa megahnya. "Sebelum masuk, kami akan memeriksa suhu tubuh Nona terlebih dahulu." Pria yang berambut gondrong mengarahkan sebuah benda pengukur suhu ke dahi Nala. "Normal. Tolong berikan kedua tangan Nona." "Huh?" "Mohon gunakan hand sanitizer sebelum masuk ke dalam rumah." "Oooh." Nala yang masih tidak mengerti dengan segala prosedur itu mau tak mau menurut saja. Setelah memastikan dirinya sehat dan bersih dari kuman dan bakteri-sepertinya begitu-Nala akhirnya diantar menuju bangunan rumah yang berjarak seratus meter dari gerbang masuk. Sejauh mata memandang, Nala bisa melihat ada tiang bendera merah-putih berkibar di tengah-tengah padang rumput yang membentang luas. Di kejauhan sana pun sepertinya Nala melihat ada lapangan golf dan juga sebuah danau. Entah itu terjadi secara alamiah, entah karena buatan manusia. Namun yang pasti, Nala tidak pernah mengira akan melihat halaman rumah seluas ini. Juga bangunannya yang luar biasa megahnya. Dan bahkan, untuk mencapai rumah itu saja, mereka harus berjalan sejauh ini. Merasa lelah, Nala mulai menyeret kopernya dengan malas-malasan. Namun, paling tidak, rasa lelahnya sedikit terhibur dengan barisan bunga warna-warni yang tumbuh di setiap sisi jalan setapak yang dijalaninya. Juga pemandangan kolam air mancur yang berada tak jauh di depannya. Panas-panas gini, pasti rasanya enak banget kalau nyebur di sana, pikir Nala kala itu. "Pak, nggak capek apa bolak-balik jalan dari sana ke sini?" tanya Nala pada pria berambut gondrong tersebut dengan napas ngos-ngosan. Pria itu tampak tersenyum tipis. "Apa Nona merasa lelah?" "Iya, nih." "Mohon bersabar, sebentar lagi kita akan sampai." Nala mendongak, menantang matahari yang menyoroti perjalanan mereka. Rumah bertingkat empat itu bergaya modern dengan banyak jendela panorama. Berwarna putih yang dikombinasikan dengan warna biru langit. Dari luar, bangunan itu tampak mewah dan elegan. Entah berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membangun rumah seindah itu. Nala mulai mengira-ngira seberapa banyak harta yang mereka miliki. Akhirnya, mereka tiba di pintu muka. Pria penjaga tersebut menyentuh sesuatu di dekat pintu, seperti layar monitor. Nala tidak tahu apa namanya dan kegunaannya. Tetapi, tak lama kemudian, pintu itu terbuka otomatis. Kedatangan mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya. Wajahnya memberi kesan jika dia orang yang tegas. Tatapan matanya juga tajam dan mengintimidasi. "Nona ini sepertinya orang yang dibicarakan di telepon. Silakan Anda mengurusnya," ujar pria tersebut pada wanita itu dan menoleh pada Nala sekilas. "Baik, terima kasih, saya akan mengurusnya," ujar wanita berambut cokelat tua tersebut dengan nada datar. Setelah pria bertubuh kekar itu pergi, Nala bingung harus bagaimana. Dia hanya diam membisu ketika si wanita paruh baya itu memperhatikan penampilannya. Namun, beberapa saat kemudian, akhirnya Nala memutuskan untuk berbicara lebih dahulu. "Se-selamat siang, saya Nala. Saya mendapat pekerjaan menjadi asisten rumah tangga di sini," tutur Nala, santun. "Ikuti saya!" titah wanita yang belum diketahui namanya itu dan beranjak. Nala mengikutinya, perlahan-lahan menyeret kopernya sambil matanya melihat sekeliling. Masuk ke sana, membuat Nala merasa seolah-olah sedang berada di dunia lain. Rumah ini menakjubkan dengan segala interiornya. Semua benda yang ada di sana tampak mewah dan berkilau. Nala hendak menyentuh sebuah lukisan dinding di dekatnya, namun tiba-tiba dia mendengar sebuah suara menegurnya. "Jangan menyentuh apapun." Nala menarik tangannya lalu meringis malu. Ternyata, wanita itu tengah mengawasinya. "Lukisannya bagus," komentar Nala polos. "Tentu. Harganya lima belas miliar." Mulut Nala menganga mendengarnya. "Li-lima belas miliar?" Wanita itu menunjuk lukisan di sisi kirinya sambil berjalan pelan. "Lima puluh miliar." Nala terkesiap melihat lukisan sekumpulan orang yang digambar tak beraturan. "Lukisan nggak jelas gini, lima puluh miliar?" Wanita itu menunjuk lukisan lainnya dan menyembutkan setiap harganya. "Seratus miliar empat belas juta rupiah." "Seratus miliar???" "Mahakarya dari seniman legendaris. Warisan nenek moyang Tuan besar." Melihat sederetan lukisan itu, Nala mulai memikirkan ide gila. Bagaimana kalau dia curi saja salah satunya? Dengan begitu dia tidak perlu bekerja terlalu keras selama beberapa waktu. Ah, ya Tuhan, pukul saja kepalanya yang sudah mulai berpikir yang tidak-tidak ini. Nala menggelengkan kepalanya lalu mempercepat langkahnya, menyusul wanita berwajah ketus itu menuju sebuah ruangan. Siapa dia? Apa dia salah satu orang penting di rumah ini? Lalu, ke mana semua orang? Rumah sebesar ini apa tidak ada penghuninya? Nala tak henti-hentinya bertanya dalam hati. "Saya mendapat perintah untuk memberikan kamu pekerjaan di rumah ini. Apa kamu setuju untuk menjadi salah satu staf di sini?" Nala mengangguk tanpa ragu. "Iya, saya setuju." "Apa kamu bersedia mengikuti semua peraturan yang ada di rumah ini?" "Iya, saya bersedia." Wanita itu mengangguk. "Saya kepala staf di sini. Semua orang di rumah ini memanggil saya dengan nama Bibi El." Nala mengangguk paham. "Apa yang harus saya kerjakan, Bibi El?" Wanita itu menatap Nala lekat-lekat sebelum berkata, "Ada banyak hal yang harus kamu pelajari dan ketahui di rumah ini. Termasuk jangan melakukan kontak langsung pada pemilik rumah tanpa izin terlebih dahulu." "Huh?" Bibi El menunjukkan seulas senyum yang sangat tipis. "Pekerjaan ini tidak semudah yang kamu bayangkan." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN