"Kue ini adalah kue paling enak yang pernah kumakan seumur hidupku," ucap Ajeng di sela kunyahannya. "Apa kita boleh mengambilnya lagi?" Mariana mengedikkan bahu, "Entahlah, aku tidak yakin." "Hei, Gisel, mau kamu bawa ke mana piring berisi kue itu?" seru Ajeng begitu dilihatnya Gisel membawa sepiring kecil berisi sepotong kue. Gisel melirik kue tersebut sejenak lalu pergi begitu saja tanpa perlu repot-repot menjawab pertanyaan itu. "Anak itu terlalu kaku. Sudah dua tahun mengenalnya tapi dia masih belum berubah," ujar Mariana. "Dia juga sangat tertutup. Sepertinya dia menyimpan begitu banyak masalah. Kita juga jarang melihatnya tersenyum, kan?" "Iya, dia hampir mirip dengan Bibi El. Mereka berdua sama-sama jarang tersenyum." "Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Nala. Di mana dia?"

