Dalwi meremas tangannya sebentar. Bukan maksudnya menggantikan posisi Rahmat. Dia hanya ingin mengatakan apa yang diwasiatkan oleh Rahmat. "Gua sebenernya bingung cara ngomongnya. Tapi yang jelas, kita kan udah tau kalau Rahmat itu udah nggak ada. Mungkin pertama-tama kita doa dulu aja kali ya. Soalnya untuk sekarang dan selanjutnya, yang bisa kita kasih ke Rahmat cuma doa." Kata Dalwi. Mata Dalwi memanas dan bibirnya pun kini langsung bergetar begitu saja. Dia tidak ingin menangis namun ntah mengapa ketika menyebut nama sahabatnya itu, dia jadi menangis. Semua orang menunduk. Ini kali pertama dalam rapat tidak ada yang menyela ketika ada seseorang yang berbicara. Dalam diam, semua orang kembali mengenang Rahmat yang sangat baik kepada semua orang. Bahkan untuk mahasiswi yang sering di

