Aku menarik napas dalam. Sejenak kedua mata ini terpejam. Pelan kuembus kembali napas tersebut dari hidung, mengeluarkan gerombolan karbondioksida dari paru-paru. “Begini, Pak. Mengenai hubungan saya dengan Lian ..., kami hanya teman biasa. Saya anggap dia seperti seorang saudara. Tak lebih.” Tergambar sebuah kelegaan dari wajah Pak Toto. Dia mengangguk-angguk seperti orang yang memahami arti dari kalimatku barusan. “Saya tidak mungkin membalas pengkhianatan suami dengan tindakan serupa. Sama saja pecundangnya jika menjalin hubungan asmara dengan lelaki lain, padahal kami belum resmi bercerai.” Aku melanjutkan kalimatku dengan sangat mantap. Tak ada keraguan sedikit pun kali ini. Aku memantapkan hati untuk tidak menceritakan tentang perasaan antara aku dan Lian pada siapa pun. Toh, k

