*** Aya merasa ada yang aneh dari sahabatnya Giana selama beberapa hai ini. Gia terlihat gelisah meskipun kerap kali Aya dapati dia melamun. Mata Giana yang sendu tak bisa memungkiri perasaannya yang sedang sedih. Entah apa yang Giana pikirkan hingga jadi seperti ini. “Gia, kenapa?” tanya Aya ketika mereka baru saja menyelesaikan tugas baru. Kali ini tidak hanya Giana yang bekerja, tetapi Aya juga karena job yang mereka dapatkan lumayan banyak. Sehingga Aya tidak bisa membiarkan Giana bekerja sendirian. “Kamu kecapean?” Lagi-lagi Aya bertanya. Kali ini Giana mengalihkan perhatiannya pada Aya sepenuhnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Nggak apa-apa,” ucapnya. “Mungkin aku sudah gi*a,” lanjutnya. Aya mengerutkan dahi mendengar itu. Ia melirik Farel yang sedang duduk di k

