Bab 17: Rahasia Gufta

1074 Kata

*** Decakan sebal berkali-kali Giana keluarkan dari mulutnya. Bagaiamana tidak? Sudah sejak sore ia menunggu batang hidung Gufta. Namun, baru pukul delapan malam adiknya itu pulang. Giana menatap sinis sang adik. “Ganti seragammu!” ujarnya. Tanpa banyak protes Gufta segera mengganti seragamnya. Ia tahu masalah sedang menantinya di depan sana. Namun, Gufta bukan seseorang yang akan melarikan diri begitu saja. Ia selalu mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Makan!” lagi-lagi Giana berkata ketus ketika Gufta selesai dengan urusannya. Seperti tadi, Gufta pun tak banyak protes. Ia menerima sepiring nasi yang Giana siapkan. Tanpa ada perubahan yang berarti, Gufta makan seperti biasa. Setelah selesai, ia segera mencuci piringnya. Lalu kembali menghadap Giana. Gufta tidak ingin banyak be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN