EL CAPO
Nafas mereka terengah, gerakan intens sang pria membuat gadis dibawahnya menegang dengan mata terpejam. Suara desahan memenuhi ruangan dengan pendar cahaya temaram itu. Semerbak wangi vanilla menyeruak bercampur dengan dinginnya udara air conditioner.
Selang beberapa saat, nafas sang pria memburu, lenguhan panjang terdengar, disambut desahan panjang yang mencuat dari kedua manusia tanpa sehelai benang itu. Dengan lahap sang pria melumat bibir gadis itu secara buas, hingga membuat bibir si gadis sedikit berdarah. Pria dengan garis rahang tegas itu kemudian menjatuhkan diri di samping si gadis dengan santainya.
"Pergilah!" sembari mengibas tangan kepada si gadis tanpa busana di sampingnya.
"Kembalilah besok! Jangan terlambat. Aku tak suka menunggu!"
Sambil mengaitkan kancing celana jeansnya, ia menjawab lirih. "B-baik, ... " suara gadis itu bergetar, pandangannya menyapu lantai granit berwarna abu di bawahnya. Gadis itu segera mengambil sebuah amplop berwarna biru di nakas. Mengintip isinya, kemudian segera menyimpannya ke dalam tas.
"T—terima kasih, apa saya boleh tahu nama anda Tuan?" gadis itu beranikan bertanya pada pria yang kini sudah berdiri sambil memegang segelas wine di tangan kirinya.
"Panggil saja aku, El Capo." Pria itu menjawab pertanyaan si gadis dengan suara dingin, matanya lurus memandangi ke arah luar jendela apartemen yang menghamparkan pemandangan pegunungan.
"Apakah itu nama asli anda?"
"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku perlu menjawab pertanyaan itu?" balik si pria sambil sesekali mengendus aroma minuman berwarna merah itu.
"M—maaf, atas kelancang—"
"Pergilah!" Hardik pria berjuluk El Capo itu, si gadis menunduk takut, terburu-buru ia pergi dan meninggalkan apartemen itu.
El Capo menghela nafas panjang ia terlihat kesal. Ia mengambil ponsel dan menelepon sekretarisnya.
"Catherine, aku tak mau gadis itu lagi, cepat hubungi Old Man. Katakan kalau aku akan datang ke tempatnya minggu depan. Suruh dia untuk menyiapkan kue-kue manis untukku."
El Capo mematikan teleponnya, kemudian tangannya membuka salah satu nakas. Ia mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebatang cigarette berbungkus kertas coklat dan menyulutnya, ia mulai menyesap dan menikmati hasil pembakaran dari tembakau nikotin, dan tar itu. Memejamkan matanya sesaat, kemudian membuka mulutnya yang mulai mengepulkan gumpalan-gumpalan asap putih yang perlahan membumbung tinggi lalu hilang dan bersatu dengan udara di sekitarnya.