Alice masih duduk di samping ranjang Ayden dengan setia, jemarinya menunjukkan gerakan lemah. Samar namun terasa. Perlahan, Aydan mulai membuka mata. Ia siuman.
"Aku disini, Ayden. " bisik Alice lirih, Ayden menjawab dengan matanya. Seulas senyum terkembang di bibir pucatnya.
"Alice, sejak kapan kau berada di sini. M—maafkan aku. Aku sangat mengantuk, mereka memberiku obat tidur, dan suntikan penahan sakit."
Alice nanar menatap anak lelaki yang sudah beranjak besar tersebut. Tubuh gempalnya berubah kurus. Kulit kecoklatannya berubah putih pucat hingga menampakkan pembuluh darah yang berwarna kehijauan.
"Baru saja, aku sangat merindukanmu, bagiamana kabarmu?"
"Kurang baik, semua tulang-tulangku seperti diremukkan. Kepalaku juga sangat sakit, aku sudah tidak bisa makan apapun setelah kemoterapi kemarin. Suster Venna bilang kalau, terapi yang dilakukan tidak berjalan sesuai harapan. Apa itu berarti aku akan mati? Alice?" Suara Ayden bergetar.
Pertanyaan yang Ayden layangkan pada Alice kontan membuatnya dentuman keras di jantungnya.
"Hei, kau tidak boleh berkata seperti itu—"
"Aku bukan anak kecil lagi, Alice. Aku sudah berumur lima belas tahun. Aku sudah cukup tahu kalau penyakit ini membuat hidupku meluncur cepat menuju jurang kematian," sela Ayden yang seketika membungkam Alice.
"Aku sudah terlalu lama menyusahkanmu, Alice. Mungkin akan lebih baik kalau aku mati."
"Tutup mulutmu, Ayden. Kau jangan menambah kesedihanku, selama ini alasanku untuk bertahan hidup hanyalah karenamu. Satu-satunya alasanku untuk melawan apapun yang nenek tua itu katakan," Alice menunduk, air matanya meleleh turun perlahan membasahi kedua pipinya.
"Bagaimana kabarnya?"
"Siapa yang kau maksud?" Alice mengerutkan dahi.
"Your crush, Bryan O'Neill." Ayden tersenyum sambil mengedipkan mata, menggoda kakak perempuannya.
"Dia menyapaku, hmm ... beberapa hari kemarin. Ia bahkan mengucapkan selamat malam saat kami berpapasan di dalam lift, " jawab Alice malu-malu tapi matanya menunjukkan kalau ia sedang berbunga-bunga.
"Sudah kubilang padamu, dia tak mungkin bisa menghindari pesona dari seorang Alicia," Ayden terkekeh disambut tawa lepas dari suster Venna yang ternyata sudah berdiri dari tadi di belakang Alice.
"Kau sudah siuman sayang, apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya suster Venna sambil mengecek suhu badan Ayden.
"Jauh lebih baik, suster apalagi setelah melihat kakak perempuanku yang secantik malaikat duduk di samping ranjangku."
Ketiganya tertawa melihat bagaimana Ayden berhasil membuat pipi Alice memerah.
****
Jam kuliah usai, perut Alice terasa sangat lapar. Ia baru ingat kalau dari pagi belum ada nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Pantas saja ia merasa tulang-tulang di tubuhnya melunak, seakan tak ada lagi tenaga untuk menggerakkan badannya.
Pikirannya kembali melayang pada Ayden, ia harus melakukan sesuatu demi adik semata wayangnya itu. Mau tak mau, hari ini ia harus mengatakan tentang keadaan Ayden pada Margaret Houston, neneknya. Ini takkan mudah, Margaret tak akan segan mengajaknya berdebat, mengumpat, dan mencacinya jika ia meminta uang warisan sang Ayah untuk pengobatan Ayden. Margaret punya sejuta alasan untuk menahan uang dan aset yang sudah seharusnya menjadi hak Alice dan Ayden.
Alice merebahkan diri di kursi taman depan kampusnya. Tangan kanannya menggenggam sandwich yang baru ia beli di kafetaria, ia lalu memakannya dengan lahap seakan sudah tak makan selama berabad-abad.
"Hai, Alice. Apa kau sedang sibuk?" gumam suara tak asing itu.
Alice terenyak, ia tak berani mengangkat wajah. Namun untuk memastikan kalau telinganya tak salah dengar, mau tak mau ia harus melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara. Ia hampir saja tersedak setelah tahu siapa yang ada di hadapannya.
"Hmm ... maaf, apa aku mengganggu?" Bryan O'Neill melirihkan suaranya.
"Tentu saja tidak!" Alice terlalu bersemangat. Matanya lebar berbinar, ia tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Alice menyisihkan separuh sandwich yang masih tersisa ke dalam paperbag berwarna coklat. Ia menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang tak beraturan.
"Apa kau mau datang ke pesta yang akan kuadakan?" ujar Bryan membuka percakapan.
"Hmmm ... maksudmu?" sungguh di luar dugaan, Alice tak yakin dengan apa yang ditangkap telinganya.
"Aku mengadakan pesta di rumahku, hanya pesta kecil, hmmm ... untuk merayakan kemenangan tim basket kampus. Apa kau bersedia hadir?" Tanya Bryan, ia terlihat serius, tapi Alice menunjukkan respon sebaliknya. Matanya terus melotot ke arah Bryan seperti orang kerasukan setan, mulutnya terkatup rapat.
"Ya Tuhan, jangan biarkan aku pingsan di depannya. Please, Bryan jangan melihatku seperti itu. Kau bisa membuat jantungku berhenti. Ahh ... kenapa senyum itu harus bertengger disana. Senyum mematikan, oh God help!" gumam Alice dalam hati. Ia selalu kehilangan kontrol tiap kali Bryan mendekat padanya. Bukan mendekat dalam arti itu, hanya mendekat secara jarak. Bahkan bertemu dengan Bryan di lift sudah cukup untuk membuatnya terkena serangan jantung.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?Alice?"
"T—tidak, maaf aku hanya ... hmmm h—hanya g—gugup, lihatlah keringatku," Alice salah tingkah hingga membuat Bryan menutupi mulutnya menahan tawa.
"Kenapa kau mengundangku? Aku bahkan bukan anggota Cheerleaders?" Selidik Alice.
"Aku mengundang temanku, apa itu salah? Apalagi kau juga bukan orang asing. Kita sudah berteman sejak SD, bukan?" Bryan meyakinkannya.
"Pestanya minggu depan," Bryan kembali menyunggingkan senyum menghipnotisnya.
"T—tapi—"
"Aku akan menjemputmu," Bryan menyela, seakan tak mau jika Alice menolak hadir.
"Bye, aku pergi dulu. Teman-temanku sudah menunggu," sambung Bryan kemudian beranjak pergi, senyum manisnya terulas lagi, sebelum bayangan punggungnya hilang dibalik pepohonan yang berjejer di depan kampus. Alice melepas kepergian Bryan dengan lambaian tangan yang canggung. Dalam hati ia mengutuki tingkah bodohnya ketika berhadapan dengan Bryan.