1. I'm Yamazaki°

2688 Kata
Aroma khas teruzake menyeruak ke dalam rongga hidung Amano. Dalam satu tegukan sake dihabiskannya dan cangkir keramik putih itu diletakkan di atas baki kayu di sisi kolam, menimbulkan ketukan yang memecah ketenangan di antara gemericik air yang mengalir dari mulut pipa bambu dan embusan angin dingin di musim gugur. Sorot matanya setajam mata panah, dengan wajah berahang tirus khas Asia dan hidung mancung yang didapat dari darah Itali yang mengalir dalam tubuhnya. Pria itu melandaikan tubuhnya bersandar ke tepi kolam. Uap tipis mengepul dari permukaan air kolam pemandian yang sekeruh air cucian beras. Ia menengadah pada langit gelap yang bertabur sedikit bintang dan mengembuskan napas panjang. Seorang diri di onsen private vila Keluarga Yamaguchi sambil menikmati sake, menikmati keheningan. Rumah peristirahatan Yamaguchi memang mewah dan suasananya tenang, dilengkapi dengan onsen outdoor bernuansa pegunungan. Keluarga Yamaguchi menjamunya dengan sangat baik agar ia betah tinggal di situ. Namun semewah dan seindah apa pun tempat itu, tidak ada yang senyaman rumah sendiri. Di langit, bulan telah terbit berupa garis lengkung tipis. Jamuan makan malam akan segera dimulai. Amano bangkit dari kolam, membuat air beriak karena gerakannya. Kedalaman kolam hanya setinggi lututnya. Ia berjalan melintasi kolam dengan tubuh tanpa penutup sehelai pun. Permukaan tubuhnya diliputi uap hangat. Punggungnya yang tegap dihiasi tato harimau bergumul dengan ular hijau. Pria itu naik ke lantai kayu dan meraih selembar handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Ia masuk ke dalam kamar bernuansa tradisional Jepang yang didominasi kayu alam dan lantai dilapisi tatami. Ia mengenakan celana hakama yang longgar dan panjang hingga mata kaki, sementara pundaknya ditutupi haori warna putih sebagai mantel panjang dengan tulisan Yamazaki di bagian punggung. Ia adalah Amano Marco Yamazaki, calon pewaris klan yakuza terbesar di Jepang. Di rumah keluarga klan yakuza saingannya itu, ia seorang diri mengusung harga diri Keluarga Yamazaki. Ia keluar dari kamar dan berjalan melintasi koridor engawa dengan d**a dibusungkan dan haori yang dikenakannya terkibar mantap. Tiga tungku api menyala di halaman. Pria-pria bertubuh gempal, kepala gundul dan tubuh dipenuhi tato berkumpul di sana. Mereka hanya mengenakan fundoshi, selembar kain katun putih yang menutupi organ vital di s**********n mereka. Mereka adalah juru masak jamuan malam itu. Mereka menyembelih beberapa ekor ayam dan babi yang akan disajikan sebagai menu makan malam. Amano melangkah menuju ruang perjamuan yang tertutup rapat. Alunan musik koto dan suara tawa terbahak terdengar dari ruangan berdinding tipis itu. Cahaya dari dalam memantulkan bayangan orang-orang di dalamnya. Amano membuka pintu geser dan sudut matanya menyeret sekilas pada orang-orang dalam ruangan. Empat belas orang pria bertelanjang d**a memperlihatkan kulit mereka yang dipenuhi lukisan lambang klan mereka masing-masing. Mereka duduk mengelilingi meja panjang dan aneka manisan serta sake tersaji. Pakaian mereka terlilit di pinggang atau teronggok di lantai karena tubuh mereka memanas akibat minuman dan makanan yang mereka konsumsi. Gadis-gadis cantik, berambut disanggul lengkap dengan hiasannya dan berpakaian kimono mewah, bergelut di antara para pria itu. Semua pria dalam ruangan itu adalah para pewaris klan. Amano menelengkan kepalanya. Tak mengherankan Yamaguchi menjadikan jamuan makan malam ini begitu spesial. Mereka rupanya mengumpulkan seluruh perwakilan penting klan dalam satu tempat. "Oy, Yamazaki!" sapa salah satu pria berambut gondrong tergerai sambil mengangkat cangkir sake padanya. "Saigo ni, akhirnya kau datang, ayo bersulang!" Amano mengenal pria itu bernama Kankuro dari Klan Yoshimitsu. "Tampaknya kalian memulai pesta ini tanpa diriku," keluh Amano sambil melangkah ke dalam ruangan. Ia menuju tempat duduk yang disediakan para gadis pendamping. Posisinya di ujung meja, menjadikan Amano sebagai tamu kehormatan di acara makan malam itu. Lukisan pegunungan dari tinta terpampang di dinding di belakangnya. "Kami kira kau tak 'kan mau bergabung di acara seperti ini. Seingatku kau tak pernah hadir," lanjut Kankuro lalu menenggak habis minumannya dan mengerang keras. "Apa kau kedinginan dan kesepian malam ini sehingga kau datang kemari?" sindir pria plontos dengan tato elang di dadanya. Tomi dari Klan Saykoji berbicara, membuat Amano mendelik padanya. "Jaga mulutmu!" desis Amano. Ia sudah sering mendengar kritikan soal kesendiriannya karena istri yang kerap meninggalkannya, membuat gelarnya sebagai Marco-sama menjadi bahan olokan. Marco-sama yang ditakuti klan yakuza di seluruh Jepang, ternyata takut pada istrinya. Jika shuriken ada di tangannya, mungkin ia sudah menembak mulut pria itu, akan tetapi Klan Yamaguchi menyita senjata-senjatanya. Klan Yamaguchi membuat peraturan tak ada seorang pun yang diperbolehkan membawa senjata ke dalam kediaman itu, jadi kondisi yang sama juga terjadi pada perwakilan klan lainnya. "Sore de daijōbudesu," Tidak apa-apa, bujuk Kankuro, "bukankah acara ini memang diselenggarakan agar kita memiliki kesempatan untuk melakukan apa saja yang kita inginkan? Lihat wanita-wanita cantik ini," lanjutnya sambil mengelus dagu gadis-gadis di sisinya. Para gadis itu tertawa kecil sambil tertunduk menyembunyikan wajah mereka yang memerah. Kankuro melirik Amano. "Mereka disediakan untuk melayani semua kebutuhan kita, jadi buat apa menahan diri? Manfaatkan mereka, kami tidak akan mengatakan pada siapa pun. Apa yang terjadi di sini adalah rahasia kita." Orang-orang dalam ruangan itu tertawa sambil mulai menuang minuman mereka lagi dan segera menandaskannya sembari bersulang. "Kanpai!!" Bersulang! "Kanpai!" sahut yang lainnya. Koto dimainkan oleh dua orang gadis yang duduk di panggung kecil dalam ruangan itu, menghanyutkan para pendengarnya dalam suasana pesta pora. Seorang pria gemuk membukakan pintu samping dan beberapa juru masak membawa masuk hidangan berupa ayam bakar dan babi panggang serta lebih banyak sake lagi ke dalam ruangan. Riuh rendah orang-orang berseru menyambut makanan itu dan mereka segera menyantapnya dengan lahap. Tak perlu waktu lama, dalam ruangan itu menjadi pesta perpaduan antara kerakusan dan nafsu birahi. Beberapa pria tak sabaran menunggangi wanita pendamping mereka. Suara tawa bercampur pekikan manja, disusul erangan kesakitan dalam nikmat membahana dalam ruangan. Amano menenggak sake-nya dan melirik bergantian pada para gadis di sisi kiri dan kanannya. Aroma sake berpadu dengan bau wewangian dari tubuh para wanita itu, ditambah alkohol yang mengalir dalam tubuhnya, membuat pikiran dan otot-ototnya menjadi lebih santai. Amano tersenyum pada gadis-gadis itu. Para gadis itu merangkak mendekati dan tangan halus mereka mulai menjelajah di tubuhnya, mengusap paha dan dadanya yang padat. Beberapa fitur wajah dan tubuh gadis-gadis itu seakan mengingatkan Amano pada seseorang. Tubuh yang berlekuk molek. Mata hitam bundar yang berkilau antusias. Buah d**a yang montok siap diperas dengan kedua tangannya. Dua di antara gadis-gadis itu mencondongkan wajah cantik mereka ke depan wajah Amano dan kelopak mata mereka merunduk sayu menatap bibir tipis Amano. Mata para gadis itu terbuka lebar ketika bibir tipis itu menyunggingkan senyum menyeringai. "Nani?" Apa, erang gadis itu. Koto berhenti dipetik. Semua orang dalam ruangan itu memandang ke arah Amano dan terdiam mematung di posisi masing-masing. Amano mencengkeram pergelangan tangan gadis di sebelah kirinya dan mengangkat tangan gadis itu. Gadis itu meringis dan tusuk sanggul di tangannya terjatuh. Seluruh inderanya terbiasa menghadapi bahaya karena ia sendiri adalah bahaya. Ia mencium bau nafsu itu dan mendengar aliran darah berdesir cepat dalam pembuluh darah seorang pembunuh. "Apa kalian pernah berpikir dulu sebelum melakukan ini?" Gadis itu mengerang, "Tidak, tujuan kami adalah menghabisimu, bagaimanapun caranya." "Baka!" Bodoh, maki Amano. Chaak! Ia menusukkan leher gadis yang dicengkeramnya dengan tusuk sanggul dan menendang gadis yang satunya hingga terjungkal di meja. Bruakk! Ia menarik tusuk sanggul dari leher gadis tadi dan mengambil tusuk sanggul yang tersemat di kepala gadis itu dan membiarkan tubuhnya tergeletak. Ia melempar satu tusuk hingga tepat menancap di bawah dagu seorang gadis lagi dan menyabet leher gadis yang lain. Darah segar terpercik ke lukisan di dinding. Empat gadis yang semula menjadi pendampingnya sekarang berada di alam baka bersama iblis betina di sana. Amano berdiri tegap dan mengitarkan pandangannya. Beberapa gadis terpekik dan bersembunyi di belakang para pria pewaris klan. Pria-pria itu berdiri dan menghunuskan pedang samurai yang mereka ambil dari bawah meja makan. Semua mata dan senjata mereka terarah pada satu orang, yaitu Amano Marco Yamazaki. Terdengar derap langkah para pria gemuk di luar dan mereka bersiaga di sekeliling bangunan. "Cih!" Amano meludah. Pantas saja mereka memulai pesta terlebih dahulu agar mereka bisa mempersiapkan perangkap untuknya. "Kamu semua cari mati!" cemoohnya. Para pria pewaris klan itu berkomplot dan menerjang dengan pedang samurai mereka ke arah Amano. Amano menendang meja hingga melayang dan meja itu terbelah dua akibat sabetan pedang Kankuro. Amano melempar tusuk sanggul ke arah Kankuro, tetapi serangan itu dengan mudah ditepis pedang Kankuro. Para pria itu menatap mencemooh dan tertawa sinis pada Amano yang sekarang bertangan kosong. Para wanita bersiaga di belakang para pria. Di balik lengan kimono mereka terselip pisau-pisau kecil untuk dilempar. "Mati kau, b*****t!" seru Kankuro. Dari pinggiran mantel haori-nya, Amano menarik sehelai benang terbuat dari logam yang sangat kuat. Zunggg! Benang itu dibentangkan seperti senar lalu digunakan untuk menangkis sabetan-sabetan pedang. Amano menendang mereka untuk memukul mundur. Kankuro berkelit menghindari rekannya yang termundur. Ia melompat dengan pedang terangkat ke arah kepala Amano. Amano memutar benang itu hingga melilit pedang Kankuro dan menariknya. Pedang itu terlepas dari tangan pemiliknya, membuat Kankuro terperangah. Pyasssh!! Kepala Kankuro terpisah dari tubuhnya dan terlempar ke langit-langit. Semburan darah dari leher Kankuro menyebar bak hujan gerimis dalam ruangan. Merah di mana-mana, membutakan pandangan para pembunuh berdarah dingin dalam ruangan itu. Ketika tubuh Kankuro jatuh terlentang di lantai, barulah orang-orang tersadar bahwa setelah malam ini berlalu, mereka mungkin tak akan melihat hari esok. Pedang samuari Kankuro sekarang dalam kendali Amano. Dengan benang terlilit di pegangan pedang, Amano memutar pedang tersebut seperti baling-baling di atas kepalanya. Pisau lempar yang melesat ke arahnya ditangkis dengan putaran pedang yang juga berfungsi layaknya perisai. Para pria dan gadis-gadis berdiri di seberangnya seperti anjing kelaparan yang memandangi seonggok daging tetapi tak berani mendekat. "Kami tidak akan membiarkan kau keluar hidup-hidup dari tempat ini, Marco-sama," geram Tomi. "Begitu juga aku," gumam Amano dan orang-orang dihadapannya segera berlari ke arahnya dengan senjata masing-masing. "Hyaaaat!" Leher Amano bergemeletuk saat kepalanya ditelengkan. Sebelah tangannya menggenggam pedang dengan mantap. Ia tidak cukup baik hati untuk menggunakan pedang sebagai pertahanan diri. Tidak, ia bukan pahlawan semacam itu. Ia menggunakannya untuk membunuh. Amano maju selangkah demi selangkah menyongsong para penyerangnya, dan setiap orang yang melewatinya menyemburkan darah dari sayatan di tubuh mereka. Sayatan yang lurus dan sangat rapi karena dibuat dengan mata pisau yang sangat tajam. Dinding tipis yang berwarna putih berubah menjadi kanvas lukisan taburan kelopak bunga warna merah tua. Tidak peduli apakah itu laki-laki atau perempuan, anak pemimpin klan atau bukan, mereka semua mati dengan beberapa bagian tubuh terpisah karena tebasan pedang. Amano bediri dengan kaki memasang kuda-kuda menyerang. Darah mengalir bersama keringat di dahi dan pipinya. Tubuhnya basah oleh percikan darah dari ujung kaki hingga puncak kepala. Tubuh-tubuh tanpa nyawa bergelimpangan di bawah kakinya. Brakk! Dinding kayu tipis diterobos para penjaga di luar. Sepuluh pria gemuk berjejer dengan senjata golok dan pedang besar di tangan mereka. Namun pria-pria gemuk itu datang bukan untuk membantu Amano, melainkan turut mengeroyoknya. Mereka bukanlah penjaga atau tukang masak, melainkan algojo yang siap membabat leher Amano. Pedang samurai yang tipis beradu dengan golok besar milik para algojo. Amano terdesak karena ruangan yang sempit dan mayat bergelimpangan di lantai membatasi gerakannya. Ia melompat ke luar melintasi engawa dan jumpalitan di halaman dengan hamparan batu-batu putih. Kesepuluh algojo itu mengepung Amano dan senjata mereka berdesing karena saling menggores. Zenggg! Wooosh! Trak! Pedang Amano terpental dan jatuh menancap di tanah. Amano beradu pandang dengan pria gempal yang berhasil menjatuhkan senjatanya. "Kau mau mati?" gertak pria itu. "Hehehehehe ...," diiringi tawa mengejek teman-temannya. "Oh, Kau kira kau masih hidup?" balas Amano dan sedetik kemudian ia berkelit di antara pria-pria gemuk itu, menghidari sabetan senjata mereka. Gerakan terakhir, Amano melompat salto dan mendarat di sisi pedang yang menancap tegak. Para pria gemuk itu saling pandang lalu kembali menatap Amano. Mereka beranjak hendak menyerangnya, tetapi sesuatu menahan leher mereka. Tanpa disadari para panjaga itu, Amano melilitkan benang logam ke tubuh mereka lalu melilitkan kedua ujung benang di pedang itu dan menjadikannya sebagai alat penggulung benang. Ia memutar pedang yang menancap dengan kedua tangannya. "Aaakhh!!" erang para pria itu sambil menjatuhkan senjata mereka lalu mencakar-cakar leher, berusaha menggenggam benang yang mengikat leher mereka. Akan tetapi hal itu sia-sia. Benang logam itu telah menggali permukaan kulit mereka. "Yamazakidesu," Aku Yamazaki, gumam Amano sambil memusatkan perhatiannya pada pedang yang menjadi poros penarik benang. "Malam ini sangat menyenangkan," ujarnya lagi dan disahut dengan suara tercekat seperti hewan mamah biak yang disembelih dengan pisau tumpul. Benang logam tipis perlahan tapi pasti menggorok lapisan daging para-pria yang berwajah semerah buah plum itu. "Dakara, arigatō!" Jadi, terima kasih! Pussshhh! Pembuluh darah di leher pria-pria itu pecah dan cairan merah menyatu dengan embun malam. Tubuh mereka berdiri gontai dengan kepala terkulai tak tentu arah. Tubuh-tubuh itu lalu ambruk bersamaan. Hening tenang oleh desiran angin di antara dedaunan yang berwarna jingga. Daun yang tak sanggup lagi bertahan melayang bersama angin dan jatuh ke tanah. Lantai ruang perjamuan dibanjiri darah hingga merembes ke celah lantai di bawah tatami. Udara malam menyebarkan bau wangi sake bercampur aroma darah segar. Amano melangkah pelan sambil menyeret pedangnya menimbulkan bunyi berdenting saat ujung pedang itu terantuk bebatuan. Jubah haori bertuliskan nama keluarganya sekarang penuh noda darah, terturun hingga ke lengan yang berbalur darah yang mulai mengering. Matanya hitam kelamnya menatap nyalang tak tentu arah. Setelah berjalan beberapa meter dari ladang pembantaian, Amano membungkuk dekat tanaman perdu dan muntah-muntah. Ia mengeluarkan isi perutnya yang berupa cairan kehitaman karena racun dalam sake yang diminumnya. Untungnya sebelum perjamuan ia meminum antiracun yang diciptakan Sisilia, istrinya. Antiracun itu bekerja sebagai pelindung saluran pencernaannya dan menetralisir racun yang masuk, tetapi dalam jangka waktu tertentu harus dikeluarkan dari tubuh dengan memuntahkannya. Amano kembali berdiri tegap dan melirik tajam ke sekelilingnya. Seorang pria bersetelan ninja hitam tiba-tiba muncul dan berlari ke arahnya. Ia mengangkat pedang yang berkilat diterpa cahaya lampu ke arah orang itu. "O-oniisan, ini aku, Hiro, adikmu," ujar pria itu sambil menurunkan penutup wajahnya. Amano masih bergeming dengan pedang terhunus ke ujung hidung pria itu, Hiro. "I-ini, ada telepon," ujar Hiro gugup sambil mengangkat perlahan telepon yang bergetar di tangannya. Amano memicingkan mata untuk melihat identitas pemanggil di telepon itu. Bentuk hati merah dan tulisan 36C. Akhirnya Amano menurunkan pedangnya dan merebut telepon itu dari tangan Hiro. Telepon itu belepotan darah dari tangannya. Amano memenangkan diri dulu sebelum menjawab panggilan itu. Sebelum menghampiri Amano, Hiro sudah melihat kekacauan yang dibuat kakaknya itu. Ia memandang ke arah jasad-jasad bergelimpangan. "Wah, Oniisan, jika aku bukan adikmu, aku tidak akan percaya jika yang membunuh mereka orang yang sama yang berdebar-debar gugup jika istrinya menelepon." Hiro berpaling ke arah kakaknya hanya untuk berhadapan dengan ujung pedang lagi. "Ssshhht!" desis Amano sambil memberi tanda jari telunjuk di mulutnya agar Hiro tidak bersuara. Ia lalu mengangkat telepon ke telinganya, sementara tangan sebelahnya masih mengarahkan pedang pada Hiro. Amano berdehem lalu bersuara santai, "Moshimoshi." "Moshimoshi, Amano-san!" sahut suara perempuan di teleponnya. "Kau di Jepang rupanya ...." "Hmm," sahut Amano singkat, lalu sunyi sesaat. "Apa yang kau lakukan?" tanya si 36❤C. "Aku? ... bersenang-senang." Hiro terbelalak mendengarnya. Terdengar suara tawa kecil dari seberang sana. "Kau bisa juga bersenang-senang ternyata. Ah, aku jadi iri. Di sini sangat membosankan dan pekerjaan datang tanpa henti," keluhnya. Amano tersenyum membuat Hiro terperangah ngeri. Wajah yang berlumuran darah tetapi tersenyum berseri-seri. Amano tampak seperti pembunuh berantai yang berhasil memangsa incarannya. Amano tersenyum seakan kekasihnya itu ada di hadapannya. Memikirkan istrinya itu merasa bosan, berarti ada satu hal yang membuat pikirannya teralihkan dari kesibukan penelitian di Kutub Utara. "Amano, anata ga koishī," Amano, aku rindu padamu, kata istrinya lembut, melalui telepon tetapi berhasil menyalurkan rasa hangat dalam dadanya. "Hm?" Amano perlu mendengar satu kalimat lagi untuk meyakinkan diri. Amano menurunkan pedangnya dan berpaling agar Hiro tidak melihat wajahnya. Hiro mencibir. Walaupun Amano membelakanginya, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah kakaknya itu dan rasanya ia mau muntah. Wajah kakaknya akan seperti aktor drama roman yang tersenyum tipis dengan mata menyorot lembut dengan kepala sedikit tertunduk lalu berkata I miss you too. "Aku akan pulang besok," ujar istrinya lagi. "Aku akan menuju di negara mana pun kau berada, jadi pastikan kau menjemputku, oke?" "Tentu, Sisilia, aku akan menjemputmu. Aku lebih rindu daripada kamu." Setelah panggilan itu berakhir, Amano melempar pedang di tangannya dan tersenyum semringah sambil melompat riang dari atap ke atap menembus kegelapan malam. "O-oniisan, tunggu!" panggil Hiro. Ia menyusul Amano. "Bagaimana dengan jasad para anggota klan-klan itu?" Hiro mengingatkan. "Totemo orokana ...," bodo amat, sahut Amano. Ia tidak peduli hal lainnya karena hatinya telah berdebar-debar untuk seseorang yang berarti segalanya dalam hidupnya. Sisilia, istrinya. *** Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN