Beberapa hari telah berlalu, Leon mendapatkan sebuah kabar yang bisa membuatnya tersenyum lebar. Bagaimana tidak, saat ini Jack dan anak buahnya sudah berhasil membawa gadis cantik yang terlihat selalu mengawasi kediaman Aji.
Leon baru saja tiba sepulang dari jamuan makan siang bersama beberapa kolega penting. Tentu saja ia tidak muncul sebagai Leon—putra dari Beno Aji Prasetyo—sang pewaris yang terbuang, melainkan Ia muncul sebagai sosok muda yang berasal dari negara lain dan sedang mencari beberapa perusahaan untuk Ia ajak kerja sama.
“Tuan, apa anda ingin bertemu dengan gadis itu sekarang?”
"Tidak Jack! Biarkan dia tenang. Jika saatnya tiba, aku akan menemuinya,” jawab Leon dengan tenang.
"Baik Tuan!"
"Oh ya, Jack! Buatkan aku surat perjanjian bersamanya. Tapi ingat? Jangan sampai ada hal bisa merugikan kita."
"Akan segera saya buat, Tuan! Ada lagi yang harus saya lakukan?"
"Hanya itu saja, sekarang aku akan beristirahat, sebelum kita mulai berperang!” serunya dengan tersenyum pada Jack.
Leon berjalan meninggalkan Jack. Ia akan menyusun rencana untuk mulai mendekati perusahaan miliknya yang saat ini ada dalam kekuasaan Lingga. Bukan hanya perusahaan, Lingga juga sudah berhasil mengambil alih semua aset milik Davina dan miliknya.
Lima tahun kepergiannya, Leon sama sekali tidak menyangka jika hidup Aji—Papa nya sangatlah menyedihkan. Leon merasa sangat terluka saat ia tahu bagaimana kehidupan Aji saat ini. Bahkan tidak pernah ia menduga, jika Lingga akan tega membuat kehidupan Aji benar-benar sengsara.
Menurut info yang ia dapatkan dari orang kepercayaannya, saat ini Aji mengalami stroke ringan. Sebagian tubuhnya mengalami mati rasa. Saat ini Aji hanya bisa berdiam diri dan mendapatkan perawatan medis yang sangat minim, karena Lingga membatasi semua biaya perawatan Aji.
"Tunggu sebentar lagi, Pa! Leon akan kembali membuat Papa sehat dan berjaya. Leon akan membuat mereka menyesal karena telah masuk dan mengusik keluarga kita!" gumam Leon dengan tangan yang mengepal kuat.
Aji mungkin sudah melakukan kesalahan lima tahun lalu, percaya pada seekor ular betina dan tega bersikap tidak adil pada putra kandungnya sendiri. Tapi semua yang Aji lakukan lima tahun yang lalu karena tipu daya ibu dan saudara tirinya, dan Leon sama sekali tidak memiliki dendam pada Aji, bagaimanapun Aji adalah ayah kandung yang sudah menjaganya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Leon mulai menanggalkan semua kain yang menempel pada tubuhnya. Ia berdiri di dalam kotak kaca dan langsung mengguyur kepalanya dengan air dingin. Bayangan saat Lingga mengatakan jika Ia yang menghabisi Davina, membuat Leon ingin semakin cepat memulai aksi balas dendam atas segala hal keji yang dilakukan Lingga dan Reyhan.
"Jack! Siapkan semuanya malam ini. Aku ingin menemuinya," Leon berkata pada bandul kalung yang sama.
***
Malam pun tiba, Leon saat ini sedang duduk di ruang kerjanya. Ia duduk membelakangi meja dan menatap sebuah lukisan besar. Lukisan seorang wanita luar biasa yang dulu melahirkan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Pintu terbuka, terdengar dengan jelas derap langkah Jack dan high heels yang terseret. Bukan Jack bersikap kasar, namun gadis itu sedikit memberontak saat Jack membawanya.
"Duduk dan tenanglah, Nona! Kami sama sekali tidak akan menyakiti Nona!" seru Jack.
"Siapa kalian?!" teriaknya keras.
"Jack! Tinggalkan kami berdua,” pinta Leon dengan lembut.
"Baik Tuan."
Jack berbalik dan langsung meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Leon, ia masih saja enggan memperlihatkan wajahnya dan hanya diam mendengar perkataan gadis.
"Siapa nama mu, Nona?" tanya Leon dengan sangat tenang. Suaranya yang lembut, membuat bibir gadis itu diam seketika.
"Nama ku?" ulangnya. "Ya! Nama mu, Nona!" jawab Leon.
"A-aku..." jawabnya kaku.
'Ayo berpikir! Jangan sampai mereka tahu siapa aku dan identitas ku," batinya.
"Clarissa Robert! Ya, nama ku adalah Clarissa Robert."
Sudut bibir Leon sedikit terangkat saat mendengar suara gadis itu bergetar, menandakan jika saat ini Ia sedang berusaha untuk menutupi kebohongannya. Leon membalikkan kursi dan menatap gadis itu dengan lekat. Tatapan Leon sangat lembut, tapi siapa sangka dibalik tatapan itu terdapat sebuah dendam besar yang akan membawa gadis itu ikut serta di dalamnya.
"Apa kau yakin nama mu adalah Clarissa Robert, Nona?" tanya Leon dengan penuh penekanan.
Ia menatap Leon dengan mata yang terbuka lebar, terkejut dengan apa yang Leon tanyakan padanya. Tapi tiba-tiba saja keningnya berkerut, ia seakan pernah melihat sosok Leon, tapi dalam wujud yang berbeda.
"Y-ya... Tentu saja aku sangat yakin! Lagi pula kenapa aku harus tidak yakin dengan nama ku sendiri, Tuan?”
“Tunggu! Bukankah kamu pria yang sama, yang sudah berani mencuri ciuman pertama ku, siang itu?” tanyanya dengan penuh keyakinan.
“Ahahaha... Ternyata kamu mengingatnya! Kalau begitu kamu juga pasti ingat siapa nama mu, Nona Alexa Novaliona?”
DEG
‘Kenapa dia bisa tahu nama ku? Apa mungkin mereka orang suruhan nenek sihir itu, yang di utus untuk menghabisiku?’ batin Alexa.
“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa tahu nama ku?” tanpa sengaja Ia mengakui, jika nama aslinya adalah Alexa.
“Aku hanya pria biasa, Nona!”
“Pembohong! Katakan apa mau mu? Aku sudah tidak memiliki apapun, kecuali nyawa dan harga diri.”
Leon kembali tersenyum. Ia sudah mengetahui semua data mengenai Alexa. Leon tahu segalanya, Ia hanya ingin memastikan jika gadis itu bisa Ia ajak untuk bekerja sama dengannya.
“Kamu ingin tahu siapa aku? Baiklah...”
Leon mulai menarik laci pada meja kerjanya, untuk beberapa saat ia di sibukkan mencari sebuah majalah. Majalah yang selalu mengingatkannya akan penghianatan dan sikap Lingga bersama kedua anaknya. Dengan sangat menjijikan, mereka menuduh Leon menggelapkan uang perusahaan bernilai triliunan, membuat ia kehilangan Davina, dan saat ini mereka membuat Aji menderita.
“Baca! Setelah itu kamu akan tahu siapa aku dan alasan ku membawa mu kemari.”
Leon mendorong majalah bisnis yang mulai usang. Majalah yang selalu mengingatkannya pada kelicikan ibu dan dua saudara tirinya.
Melihat majalah itu Alexa terdiam, dan menatap Marvin untuk beberapa saat. Gadis itu memperhatikan detail wajah Leon dengan seksama, Ia tidak ingin keliru dan berakhir dengan menyedihkan. Setelah cukup menatap Leon, dengan perlahan Alexa mulai meraih majalah tersebut dan membuka halaman pertama.
Alexa terdiam, benar-benar diam dan membaca semua dengan teliti. Sampai akhirnya ia meletakan majalah bisnis itu dengan kasar, tangannya mengepal kuat, dan napasnya terlihat memburu karena amarah.
“Jadi kamu adalah putra wanita penipu itu?” Alexa berdiri dan menatap tajam Leon.
“Bisa dikatakan seperti itu! Tapi lebih tepatnya aku adalah anak tiri yang terbuang,” kata Leon dengan meraih kembali majalah bisnis miliknya, “Tapi yang lebih pas adalah, aku pewaris yang sangaja di singkirkan oleh Lingga dan Reyhan.”
“Apa maksud mu?”
“Duduk dan tenanglah, Alexa!” titah Leon dengan sangat lembut.
Dengan memedam kemarahannya, Alexa kembali duduk denang tenang. Tapi tidak bisa ia pungkiri, jika dalam dadanya api mulai kembali berkobar dan siap melalap siapa saja yang mengusiknya.
Leon mulai menjelaskan sedikit mengenai Lingga, dan apa hubungannya dengan wanita penyihir itu. Ia mejelaskan segalanya pada Alexa, meskipun sesekali ia menyela, tapi Leon kembali mengatakan segalanya pada gadis itu. Mereka adalah manusia yang sama-sama hancur karena keserakahan Lingga.
“Apa kamu mengerti, Alexa?”
Gadis itu mengangguk, ia terlihat lebih tenang karena tahu siapa Leon sebenarnya. Meskipun Alexa masih tidak mengerti alasan dibalik Leon menculiknya.
“Menikahlah dengan ku, Alexa Novaliona!”