Alexa bergeming, ia benar-benar tidak bisa berkata apapun saat mendengar seorang pria asing mengajaknya untuk menikah. Untuk Alexa, pernikahan adalah hal sakral yang tidak pantas untuk dipermainkan.
"Menikah? Apa kamu yakin, Leon?" Alexa menatap Leon dengan tajam, ia berpikir mungkin pria yang saat ini ada dihadapannya tidak waras.
Leon tertawa ringan, dan kembali fokus pada Alexa yang masih melihatnya dengan penuh curiga. Leon sedikit berdeham, dan mulai kembali menunjukkan keseriusannya untuk menikahi gadis yang ada dihadapannya.
"Aku yakin dengan semua keputusan yang sudah ku ambil! Dan aku yakin, jika kamu juga tidak akan menolak pernikahan ini," katanya dengan sangat yakin.
"Tapi ini sangat gila! Anak buah mu menculik ku, menyekap ku. Lalu sekarang kamu ingin menikahi ku? Ahaha... Kenapa dunia ku benar-benar kacau," tukas Alexa dengan menyandarkan punggungnya.
"Kita memang harus gila menghadapi orang-orang gila di sekeliling kita, Alexa."
Alexa tersenyum kecut, ia benar-benar tidak bisa untuk berkata apapun lagi. Ia mulai menarik napas dalam dan kembali duduk dengan tegak. Sejenak ia berpikir, kenapa pria yang kini ada di hadapannya begitu yakin ingin menikahinya, bahkan Alexa tidak pernah melihat pria itu sekalipun.
"Oke! Katakan padaku, kenapa kamu yakin kalau aku akan menerima semua ini?"
"Jack! Bawa semua bukti dan perjanjian itu."
Alexa hanya bisa diam melihat ke Leon yang berbicara sendiri. Tapi tidak lama kemudian sosok pria yang sudah membawanya menuju ke ruangan ini masuk dan memberikan dua map tepat di hadapan Leon.
"Ini, Tuan!"
"Oke! Terima kasih Jack."
Tanpa Leon minta, Jack langsung meninggalkan ruangan itu dan kini Leon mulai menyodorkan map berwarna biru pada Alexa.
Bingung, itulah yang saat ini membuat Alexa semakin bingung. Kenapa pria ini seakan telah merancang semuanya.
"Apa kamu tidak berniat untuk melihatnya, Alexa?"
"Apa ini?"
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu sama sekali tidak melihatnya," Leon enggan untuk menunjukkan atau menjelaskan apapun. Ia ingin gadis itu melihat semuanya dan Leon akan bisa melihat bagaimana reaksi gadis itu saat melihat semuanya.
Dengan perlahan Alexa mulai meraih map tersebut dan membukanya. Tatapan matanya berubah seketika saat map itu terbuka. Menunjukkan foto Lingga yang disebuah rumah sakit, sedang mencabut selang oksigen yang sedang terpasang.
'Ini... Mami dan wanita itu...' batinnya.
Matanya mulai terasa panas saat melihat foto tersebut. Air mata saat ini mulai menggenang di pelupuk mata Alexa dan tidak lama berselang tumpah membanjiri pipi tirus gadis itu.
"Mami..." lirihnya dengan air mata yang terus mengalir deras. “Dari mana kamu mendapatkan semua ini? Bahkan pihak berwajib saat itu tidak bisa menemukan apapun, Mami meninggal murni karena serangan jantung.”
“Kamu tidak perlu tahu apapun! Yang penting adalah kita harus bisa bekerja sama.”
Alexa tidak mengatakan iya atas perkataan Leon. Gadis itu hanya terus menangis dan memegangi selembar foto yang menunjukan saat Lingga menghabisi Maminya di sebuah rumah sakit.
"Jangan sia-siakan air matamu! Kita akan membalas semua perbuatannya, Alexa."
"Apa masalah mu dengan wanita itu? Dan kenapa kita harus membalas semuanya bersama-sama?"
Leon menarik napas dalam, dan memejamkan matanya sebelum akhirnya ia kembali menatap Alexa, berusaha untuk tersenyum meskipun sulit.
Dengan suara yang sedikit tertahan, Leon mulai menjelaskan apa yang terjadi dengannya, Davina dan sekarang Aji yang ada dalam genggaman Lingga, seorang wanita serakah yang ingin menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Hatinya kembali teriris saat mengingat bagaimana keluarganya hancur. Dan hal itu juga terjadi pada Alexa, namun sayangnya gadis itu bernasib malang. Ia kehilangan kedua orang tuanya dan hidup dalam sebuah panti asuhan, sampai akhirnya paman kandungnya datang dan membawa Alexa pergi dari panti asuhan, tanpa sepengetahuan Lingga.
Leon menceritakan semua kisah itu karena ia tahu apa yang telah dilalui Alexa tidaklah mudah. Kehilangan orang tua yang ia sayangi di usia muda benar-benar membuat gadis itu terpukul. Jack bekerja sangat baik, bahkan ia mengumpulkan begitu banyak data mengenai Alexa dan seluruh keluarganya. Bukan hanya itu, semua data kejahatan Lingga dan orang-orang yang terlibat sudah ada dalam genggaman Leon.
“Kita memiliki dendam pada orang yang sama, Alexa! Dan aku membawa mu bukan tanpa alasan.”
“Tapi pernikahan adalah ikatan suci dan aku tidak bisa mempermainkan hal itu, Leon!”
“Aku tahu! Tapi hal itu sangat penting, karena ada beberapa aset yang hanya bisa aku rebut setelah aku menikah. Selain itu kita akan lebih mudah untuk mengalahkan mereka.”
Gadis itu kembali terdiam. Leon mengatakan semuanya tanpa menutupi apapun, bahakan Ia secara terang-terangan mengatakan jika ia ingin mengambil kembali aset miliknya.
“Beri aku waktu untuk berpikir, Leon. Ini bukan perkara mudah yang bisa aku putuskan dalam sekejap mata, dan... pernikahan ini, aku benar-benar... Sudahlah! Aku tidak akan membahas itu sekarang.”
“24 jam! Aku memberi mu waktu 24 jam untuk memutuskan semuanya.”
“Baiklah! Aku rasa itu waktu yang cukup untuk berpikir.”
Leon kembali memanggil Jack masuk, ia berniat untuk meminta pria itu mengantarkan Alexa kembali pulang, tapi sayangnya gadis itu justru menolak dan akan tetap tinggal, sampai Ia memberikan jawabannya.
“Apa kamu yakin akan tetap di sini? Aku tidak akan menahan mu, karena aku berani bertaruh jika kamu akan memilih untuk menjawab ‘ya’.”
“Paling tidak aku bisa berpikir dengan tenang di villa ini!” jawabnya singkat.
“Jack! Tolong antarkan Alexa kembali ke kamarnya dan ya, jika kamu membutuhkan apapun katakan saja padanya. Jack adalah keluarga dan orang kepercayaan ku.”
Alexa mengedikan bahunya dan berjalan di belakang Jack. Sesekali ia menengadah, melihat tubuh Jack yang menjulang tinggi, sangat menutupi badanya yang kecil dan tidak terlalu tinggi.
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu berwarna putih. Alexa langsung masuk dan Ia benar-benar terpukau dengan semua isi kamar tersebut. Ranjang berukuran sedang, dibelakangnya terpasang sebuah lukisan alam yang begitu indah. Sisi kiri dan kanannya terdapat sebuah nakas kecil, jam weker dan sebuah hiasan unik terbuat dari kayu.
Kamar ini benar-benar rapih, dan sangat cocok digunakan oleh perempuan. Seakan Leon sudah menyiapkan segalanya sebelum Alexa memasuki Villa tersebut. Kaki jenjangnya mulai menyusuri setiap sudut kamar dan tersenyum saat matanya langsung di suguhkan pada sebuah pemandangan indah, sejuah mata memandang ia melihat hamparan kerlap-kerlip lampu yang berwarna warni. Indah, sungguh membuat senyum gadis itu akhirnya merekah.
“Mami... Semoga Mami tenang di sana, sekarang Alexa bersama orang-orang baik dan Alexa sekarang tidak sendirian lagi setelah paman meninggal,” gumamnya dengan menatap langit malam yang gelap.
Hanyut dengan pemandangan indah di hadapannya, sampai Ia tidak menyadari jika saat ini Leon berdiri tepat disampingnya.
“Apa kamu menyukai kamar ini, Alexa?” tanya Leon dengan memandang pada titik yang sama.
“Kenapa aku tidak mendengar mu saat masuk? Apa kaki mu melayang?” katanya seraya menunduk, melihat kaki pria itu. “Kamu menginjak lantai ternyata!” katanya lagi.
Leon terkekeh melihat tingkah Alexa, sungguh lucu. Mana mungkin seorang hantu akan bisa memiliki Villa mewah dan ratusan anak buah.
“Aku sangat menyukai kamar ini.”
“Baguslah! Karena kamar ini memang sengaja di siapkan untuk mu,” jelas Leon dengan berlalu pergi begitu saja, tanpa peduli dengan apa yang akan dipikirkan Alexa.
“Untuk ku?”
Leon hanya mengangguk dan memandang hamparan bintang buatan yang begitu memanjakan matanya. Semua memang telah dipersiapkan, dan bukan perkara sulit untuk Leon melakukan hal itu dengan anak buahnya yang begitu banyak dan loyal.
“Apa kau sudah memiliki jawaban untuk ku, Alexa?”
“Heuh... Bukannya aku memilik waktu 24 jam? Lalu kenapa sekarang...”
“Santai Alexa! Aku hanya bertanya, bukan memaksa mu untuk menjawab,” katanya dengan lembut dan begitu santai.
Sosok Leon ada pria sempurna yang benar-benar tidak meungkin bisa untuk Ia tolak. Tapi jika mengingat apa yang terjadi, mungkin ia lebih baik menyentujui pernikahan ini.
“Apa aku boleh memberikan jawaban sekarang?”
“Silahkan! Tidak ada yang melarang mu. Bukankah lebih cepat itu, akan lebih baik?”
Alexa mengangguk, ia menarik napas dalam dan berdoa dalam hatinya, semoga keputusan yang akan Ia ambil kali ini memang benar.
“Aku akan menerima pernikahan ini.”