Alexa duduk termenung dalam kamar tersebut. Ia menggenggam erat kain yang ada di dekatnya dan berusaha untuk berharap jika semua akan baik-baik saja.
Setelah bertahun-tahun ia mencari keberadaan Lingga dan Reyhan, untuk mengambil Angel dan membawanya pergi. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara satu ayah, yang memiliki ikatan kuat. Tapi sayangnya semua itu hanya terjadi dalam angannya saja. Angel sama sekali tidak sama, Ia berubah sama seperti ibunya.
“Alexa tidak tahu harus berbuat apa, Pa. Angel sekarang sangat berubah, mungkin itu adalah karena pengaruh dari Lingga,” gumamnya pelan.
Alexa menarik napas dalam dan mulai tertidur, semoga dipagi hari Ia bisa menemukan jawaban dan ketenangan dari semua masalahnya. Ini memang sulit, namun jika takdir memang membawanya masuk dala dunia Leon, Ia tidak akan bisa berbuat apapun.
“Aku sangat merindukan kalian, ma, pa.” Ia terlelap.
***
Sedangkan Leon, pria itu kini ada dalam kamar priabadinya yang berada tepat berdampingan dengan kamar, dimana Alexa saat ini tengah terlelap. Kedua kamar itu terhubung satu sama lain, memiliki pintu penghubung yang belum diketahui Alexa.
Leon berdiri di depan balkon kamarnya. Tangannya bertumpu pada besi pembatas dari balkon tersebut. Leon menutup mata dan merasakan hembusan angin yang terus menerpa wajahnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan rasa dingin yang kian menusuk hingga ke tulang, karena yang pria itu butuhkan saat ini adalah sebuah ketenangan.
Ia mulai berpikir, semua yang Ia lakukan hanya semata-mata untuk menyelamatkan Aji dan merebut kembali apa yang menjadi miliknya. Tapi kali ini Ia tidak sendiri, bersama Alexa, Leon akan melakukan semua rencanannya. Meskipun ia ingin menghabisi mereka, tapi pada kenyataannya semua itu sama sekali tidak akan Ia lakukan.
“Selamat malam, Tuan,”
“Ada apa Jack?” tanyanya tanpa berbalik menatap Jack.
“Tuan Aji mengalami serangan jantung dan sekarang Ia berada di ruang ICU,” jelasnya cepat.
“APA!! Lingga...!!” Leon meneriakkan nama ibu tirinya dengan penuh amarah, hingga gigi bergemerat karena ia sangat marah. “Jika terjadi sesuatu pada Papa, aku sama sekali tidak akan mengampuni mereka semua!!”
Leon benar-benar marah. Ia langsung memerintahkan Jack untuk menyiapkan mobil, karena Ia akan segera menuju rumah sakit dimana Aji saat ini di rawat. Selama ini, Aji sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Leon sangat tahu benar bagaimana kesehatan Aji. Kalau pun memang Aji memiliki penyakit jantung, tidak mungkin jika kambuh tanpa sebab yang jelas.
‘Aku yakin Lingga sudah menekan, papa,’ batin Leon.
“Jack! Cepat siapkan mobil. Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga. Hanya kita berdua!!” tegas Marvin.
“Baik Tuan!”
Jack bergegas meninggalkan kamar tersebut. Sedangkan Leon, pria itu menyempatkan diri untuk melihat kondisi Alexa dan ternyata gadis itu kini sudah terlelap. Ia kembali menutup pintu rahasia tersebut dan langsung meninggalkan Villa tersebut tanpa diketahui gadis itu.
Setelah berpikir keras, Leon akhirnya mengambil sebuah keputusan besar. Kesehatan Aji akan semakin memburuk jika ia membiarkan Aji lebih lama lagi bersama Lingga. Cukup ia kehilangan Davina—mama nya dan ia tidak ingin kehilangan Aji karena ulah Lingga.
“Lebih cepat, Jack! Malam ini kita akan langsung membawa papa pergi.”
Jack hanya mengangguk, dan terus memacu mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, namun dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
Malam ini, tanpa membawa anak buahnya, Leon akan membawa Aji. Hanya untuk melawan Reyhan dan Lingga saja, Jack sudah lebih dari cukup. Pria itu adalah pria terbaik yang ditugaskan untuk menemani Leon pulang ke tanah air oleh sang kakek yang hingga saat ini masih menjadi misteri.
“Kita sudah sampai, Tuan.”
Leon mengangguk, baru saja Ia akan membuka pintu mobilnya. Dari jauh ia melihat Lingga bersama Reyhan yang sedang tertawa lepas. Leon sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, namun yang pasti semua yang mereka bicarakan adalah hal yang tidak pernah baik.
“Jack! Cari tahu dimana ruang ICU. Pastikan semua aman saat kita membawa Papa keluar dari rumah sakit.”
“Baik.”
Jack keluar dari mobil mewah itu. Ia terlihat sangat mempesona dengan postur tubuh yang ideal dan wajahnya yang tampan. Tanpa menunjukan ekspresi apapun, Jack berjalan melewati Lingga dan Reyhan begitu saja.
Ia langsung menghampiri resepsionis dan bertanya dimana ruang ICU, tanpa menyebutkan ingin bertemu dengan siapa. Ia tidak akan percaya pada siapapun, karena bisa saja salah satu dari mereka bekerja sama dengan Lingga dan Reyhan. Pria itu terus saja berjalan sesuai arahan dan tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai di depan ruang ICU tersebut.
Sementara Jack berada di dalam sana, Lingga dan Reyhan terus saja tertawa saat membayangkan bagaimana wajah Aji saat tahu jika putra sematawayangnya masih hidup.
“Mama benar-benar bahagia melihat tua bangka itu terkena serangan jantung! Rasanya mama ingin langsung mengirimnya ke neraka.”
“Ahaha... Aku tidak menyangka jika Angel bisa ber-akting sebaik itu di hadapan Aji,” timpal Reyhan.
“Kamu dan Angel adalah darah daging Mama, tentu saja kalian pintar!”
Angel, gadis itulah yang menjadi penyebab Aji terkena serangan jantung sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Bagaimana tidak, saat itu kondisi Aji sedang menurun karena terlalu banyak memikirkan kehidupan Leon dan di saat yang bersamaan Angel datang membawa berita mengenai putranya itu.
Dengan sedikit menangis, Angle masuk dan menemui Aji yang terbaring di atas ranjang dalam kamar pembantu. Ia mengatakan segala yang Ia lihat dari Leon. Pria miskin dengan penampilan menyedihkan layaknya seorang gembel.
Seketika Aji menangis dan tiba-tiba saja tubuhnya menegang, dengan sebelah tangannya ia memegangi bagian d*da, menahan nyeri yang timbul karena penyakitnya.
***
Sementara Leon, saat ini ia masih berdiam diri dalam mobil. Ia hanya menunggu informasi dari Jack mengenai kondisi Aji dan dimana pria itu berada.
“Tuan! Tuan Aji ada di rang ICU.”
“Kita akan memindahkannya dari rumah sakit ini, malam ini juga!”
“Baik.”
Leon menarik napas dalam, menutup mata sejenak untuk membuat dirinya lebih tenang. Ia tidak boleh terdengar gugup ataupun kesal saat bicara dengan ibu tirinya itu.
Ia mulai mengeluarkan ponsel lamanya, tanpa ada aplikasi apapun di dalamnya. Ia hanya bisa menelepon dan mengirimkan pesan singkat melalui ponsel tersebut.
Leon mulai menghubungi Lingga, saat panggilan itu tersambung, terlihat jelas jika kedua manusia itu sibuk dengan panggilan yang baru saja masuk pada ponselnya.
Lingga: Hallo, dengan siapa ini?
Leon : Hallo ma, apa kabar? Kalian ada di mana, kenapa rumah sangat sepi.
Lingga : Le-leon? Anak tiriku yang malang...
Leon : “....”
Lingga : Kamu bisa masuk ke dalam rumah, di sana ada Angel. Itupun jika penjaga rumah akan mengijinkan mu.
Leon : Aku ada di dalam rumah dan baru saja menikmati tidurku bersama Angel.
Lingga diliputi amarah saat mendengar jika Leon masuk dan tidur bersama putrinya. Tanpa berpikir panjang, Ia lantas menarik Reyhan untuk segera pulang dan menyelamatkan Angel. Wanita itu semakin murka saat ia sama sekali tidak bisa menghubungi Angel, anak perempuannya yang saat ini sedang sibuk bergumul bersama kekasihnya di kamar hotel.
Saling memasuki satu sama lain, menyesap rasa nikmat yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Desahan dan erangan dari keduanya membuat mereka tidak menyadari, jika sejak beberapa menit lalu Lingga terus saja menghubunginya.
**
Leon : Kenapa kau terus saja menghubungi ponselnya? Dia saat ini masih menikmati surga yang ku berikan. Jadi jangan—Tuttt.
Leon tersenyum puas saat melihat Lingga dan Reyhan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Ia hanya tertawa melihat kebodohan dari Lingga, dan segera keluar untuk membawa Aji pergi dari rumah sakit tersebut.
Memiliki banyak koneksi, bukanlah hal sulit bagi Leon untuk mengeluarkan Aji. Dengan bantuan seorang perawat yang sedang menjaga Aji, akhirnya Leon bisa membawa Aji keluar tanpa halangan apapun.
“Tuan! Kalau sampai saya di pecat dari rumah sakit ini bagaimana?” tanya sang pria yang merawat Aji.
Leon tidak banyak bicara, Ia lantas mengeluarkan kartu nama miliknya dan menyerahkan kartu tersebut pada pria yang sudah membantunya.
“Berhentilah bekerja di rumah sakit ini! Aku akan memberikan pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan mu dan keluarga mu!” tukas Leon sebelum ia pergi.
Jack dan Leon saat ini sudah membawa Aji keluar dan meninggalkan rumah sakit tersebut. Dengan kecepatan tinggi, Jack mengendarai mobil dan langsung menuju rumah sakit internasional untuk memberikan Aji perawatan intensif, tapi Leon sengaja mengubah nama Aji untuk membuntukan pencarian Lingga.
“Mari kita mulai permainan ini, ibu!”