Leon saat ini berada di sebuah rumah sakit internasional. Ia memesan kamar VVIP dengan semua alat medis yang lengkap. Tidak hanya itu, Ia juga menyewa satu perawat yang khusus untuk menjaga Aji.
Pihak rumah sakit memberikan hal yang terbaik, tapi untuk keamanan Aji, Leon sengaja menggunakan identitas Jack dan memalsukan segalanya. Dengan bantuan beberapa pihak, semua berjalan lancar.
Ting
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan Ia tahu dari siapa pesan itu berasal.
[Tuan, saya sudah mengurus pengunduran diri saya dari rumah sakit dengan alasan harus menjaga orang tua saya yang sakit parah.]
[Tapi saya merasa pihak rumah sakit mulai curiga]
[Mungkin saya akan dijebloskan ke penjara]
Leon menarik napas dalam, tanpa sengaja ia sudah melibatkan orang tidak bersalah masuk dalam kesulitan, dan Ia tidak akan diam saja melihat hal tersebut.
[Bersikap tenanglah! Aku akan membantu mu]
Hanya itu pesan balasan yang dikirimkan Leon padanya. Ia melirik Aji yang sedang tertidur pulas, Leon tersenyum tipis, satu kemenangan kini ada di tangannya.
"Jack! Urus semuanya, buat semuanya menjadi samar."
"Baik, Tuan!"
Leon kembali menatap Aji dengan sakit, tangannya mengepal kuat saat melihat sang ayah benar-benar menyedihkan. Tubuhnya yang dulu kekar, otot menyembul di lengan. Wajahnya yang dulu memiliki rahang tegas, kini kurus kerontang dan itu membuat Leon merasa sangat terluka.
"Maafkan Leon, Pa! Kalau saja Leon pulang lebih cepat, semua ini tidak akan terjadi," katanya dengan penuh penyesalan.
"Tapi sekarang Leon sudah kembali! Semua pasti akan berubah."
Leon menugaskan satu dokter dan perawat yang khusus untuk menjaga Aji. Leon sangat yakin jika sampai ke ujung dunia pun Lingga tidak akan pernah bisa menemukan papa-nya.
Ia melirik arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, dan Leon masih terjaga menunggu Aji sadar.
Cukup satu kali ia terjebak dan kalah dengan permainan menjijikan yang dilakukan oleh Lingga. Tapi semua yang telah terjadi tidak akan membuat Leon menjadi kejam. Ia hanya ingin mengambil apapun yang Ia miliki dan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah.
Leon keluar dengan wajah yang tenang. Ia berjalan menghampiri Jack yang saat ini berdiri di luar ruangan.
"Jack! Pulang lah, lihat bagaimana kondisi Alexa. Begitu papa sadar, aku akan segera menikahi nya."
"Satu lagi! Pastikan dia siap melakukan semuanya."
"Tapi tuan! Bagaimana dengan anda? Anda di sini sendiri. Saya..."
"Aku aman di tempat ini! Jangan khawatir."
Jack mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Tapi demi keamanan Leon, Jack tetap mengutus anak buahnya untuk berjaga di sekitar rumah sakit.
***
Di Villa mewah milik Leon, saat ini Alexa mulai membuka matanya. Tenggorokan yang kering membuat ia keluar dari kamar tersebut dan mencari Jack.
Jack yang baru saja tiba cukup terkejut saat melihat calon Nona muda nya berjalan seperti perempuan yang tersesat dalam istana.
"Nona! Apa yang anda lakukan di luar tengah malam seperti ini?" suara Jack benar-benar mengejutkan nya.
"Ah... Aku mencari dapur, tenggorokan ku sangat kering."
"Mari saya antar."
Leon dan Alexa berjalan berdampingan. Dengan menjaga kesopanan, Jack mulai mempersilahkan Alexa untuk mengambil apapun yang ia butuhkan.
"Jack! Dimana Leon? Aku merasa harus bicara dengannya malam ini juga."
Jack terdiam, tapi ia berpikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan pesan dari Tuannya.
"Tuan ada di rumah sakit! Beliau sedang menjaga Tuan Aji yang terkena serangan jantung."
'Aji! Kalau tidak salah, bukannya itu papa kandung pria itu?' batin Alexa.
"Jack! Bukankah Aji itu adalah papa kandungan nya?"
Jack mengangguk.
"Tapi beliau ada bersama Lingga?" Alexa mulai bingung, kenapa dengan cepat Leon melakukan semuanya?
"Maaf nona, masalah itu bisa nona tanyakan secara langsung pada tuan. Hanya saja tuan berpesan, nona harus bersiap jika besok atau lusa Tuan Aji sadar, Ia akan langsung menikahi nona muda."
Alexa mengangguk dengan mantap. Ia sudah yakin untuk bersedia menikah dengan Leon bagaimana pun caranya. Setelah mengambil air untuk membasahi kerongkongannya, Alexa memilih untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Sedangkan Jack berjaga-jaga jika Leon menghubunginya.
***
Lingga baru saja tiba dikediamannya, ia berlari terpogoh-pogoh dan Ia sama sekali tidak menemukan penjaga rumahnya.
"Rey! Cepat periksa bagaimana kondisi Angel!!" Lingga memberikan arahan.
Reyhan mengangguk cepat.
Mereka berdua berlari dan berteriak, membuat para pelayan, penjaga kebun dan penjaga gerbang depan berhamburan keluar dan bertemu berkumpul dalam satu ruangan.
Wajah Lingga merah padam. Ia sama sekali tidak melihat keberadaan Angel di antara mereka semua dan Ia semakin murka.
"Apa saja kerja kalian? Sampai Leon bisa masuk ke dalam rumah ini dan mengganggu Angel!!"
Semua orang terdiam. Mereka benar-benar tidak mengerti kenapa Lingga bisa se-marah ini. Semua orang tahu, jika saat ini Angel pergi bersama kekasihnya untuk makan malam.
"Ma-maaf kan saya Nyonya, tapi Nona muda pergi sejak sore bersama Tuan Ares untuk acara makan malam."
Lingga membeku, ia menatap semua orang nanar. Kebodohan apa yang saat ini dilakukannya? bisa-bisanya Ia percaya pada perkataan Leon yang sangat tidak mungkin.
Napasnya tersengal-sengal, dadanya terlihat naik turun karena amarah yang semakin meluap.
'Leon!! Beraninya kau!!' batin Lingga bergejolak hebat.
"Rey! Hubungi pihak rumah sakit, tanyakan kondisi tua bangka itu."
Lingga langsung terduduk di sofa dan berusaha untuk menenangkan diri. Ia memegangi wajahnya dan berusaha untuk relaksasi.
Semua orang membubarkan diri dan kembali ke kamar mereka masing-masing. Emosi Lingga baru saja mereda, tapi Rey tiba-tiba saja datang dan memberikan kabar buruk lagi padanya.
"Ma! Si tuang bangka itu hilang, dan mereka sama sekali tidak menemukan jejaknya. Bahkan dari kamera pengawas sekali pun!"
Lingga kembali tersulut emosinya. Ia melemparkan sebuah guci berharga puluhan juta hingga berkeping-keping dan tidak ada yang bisa Rey lakukan saat melihat Lingga bersikap demikian.
"Ternyata anak itu ingin bermain-main dengan ku! Kita lihat, sampai kapan dia bisa menyembunyikan Aji dari ku,” katanya dengan tatapan bengis.
Lingga memijit pelipisnya karena semua yang terjadi malam ini. Ia berdiri dan langsung meninggalkan ruangan tersebut untuk beristirahat.
“Mama akan istirahat! Masalah ini akan kita bicarakan lagi besok!” seru Lingga saat hendak menaiki tangga.
Reyhan mengangguk dan ia juga melakukan hal yang sama dengannya. Ini merupakan kekalahan mereka yang pertama dan mereka tidak pernah tahu ada kekalahan lain yang sedang menunggu mereka saat ini.
Dalam kamarnya, Lingga sama sekali tidak bisa terlelap sedetik pun karena memikirkan bagaimana pria miskin seperti Leon bisa mengeluarkan Aji dari rumah sakit itu tanpa terekam kamera pengawas atau siapa pun. Itu belum terlalu malam, tapi semua yang dilakukannya bagai angin yang tak terlihat.
Ia duduk dengan bersandar di kepala ranjang dan mulai mengubungi seseorang. Cukup lama Ia menunggu, sampai akhirnya panggilan itu di jawab oleh seseorang dengan suara khas bangun tidur.
“Cari tahu apa ada penerbangan atas nama Leon yang masuk ke Jakarta atau pun meninggalkan Jakarta! Kabari aku secepatnya.”
Panggilan terputus, Lingga saat ini hanya tinggal menunggu kabar baik dari salah satu orang kepercayaannya itu.
***
Di rumah sakit, Leon masih tetap terjaga dan duduk di samping Aji. Rasanya ia sudah melewatkan lima tahun dengan penuh pelajaran, namun ia kalah saat melihat papa nya seperti saat ini.
“Leon sekarang ada di sini, bangun dan lihatlah putra mu ini, pa.”
“Apa papa tahu? Selama ini Leon sangat ingin menghubungi papa, tapi sayangnya Leon terlalu takut dan ternyata semua ketakutan Leon selama ini membuat papa sampai seperti ini.”
“Maafkan Leon, Pa.”
Tanpa terasa, air mata menetes dari sudut matanya. Dengan cepat ia menyeka air mata tersebut dan berusaha menjadi sosok yang tangguh di depan Aji. Ia tidak akan menunjukkan kelemahannya di hadapan siapa pun, karena Ia masih belum tahu siapa saja orang yang bekerja sama dengan Lingga.
“Le-leon...”
Suara lirih itu membuat mata Leon membulat sempurna. Tanpa menunggu lama, Leon langsung menekan tombol merah. Tidak berselang lama dokter dan suster masuk bersamaan dan memeriksa kondisi Aji dengan teliti.
“Bagaimana kondisinya?” Leon sedikit tidak sabar.
“Tuan Jack sudah sadarkan diri, untuk sementara ini kondisinya mulai stabil. Tapi untuk pemulihan, masih membbutuhkan waktu yang cukup lama.”
“Tidak masalah! Terima kasih atas bantuan anda.”
Dokter telah selesai memeriksa kondisi Aji dan kembali ke ruangannya. Kini hanya tinggal ada Aji dan Leon dalam ruang VVIP tersebut.
“L-Leon... Ma-afkan papa...” ucapnya dengan terbata-bata.
“Papa jangan terlalu banyak bergerak. Leon ingin papa cepat pulih dan kita akan tinggal bersama lagi.”
Aji menangis dalam diam. Air matanya terus saja mengalir dengan deras saat Ia menatap wajah putranya. Apa yang telah Angel ceritakan sama sekali tidak sama, bahkan Leon terlihat berwibawa dan kini Ia telah menjadi pria hebat di mata Aji.
“Maafkan Leon pa, seharusnya dari dua tahun yang lalu Leon kembali dan menjaga papa dari manusia kejam itu.”
Aji langsung bereaksi mendengar perkataan putranya. Matanya dipenuhi dendam, dan saat ini ia sedang berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan pada Leon.
“Leon tahu, pa! Leon tahu segalanya, begitu pun dengan kematian mama.”