Leon menunjukkan ketenangannya pada Aji. Ia bahkan mampu tersenyum saat melihat air mata berlinang dari sudut mata pria paruh baya itu.
“Jangan bersedih, pa! Leon akan membalikkan keadaan dan membuat mereka menyesal telah melakukan ini pada kita.”
Aji hanya mampu mengangguk. Kondisinya terlihat lebih baik, bahkan dokter mengatakan jika Aji bisa pulang sore ini jika pemeriksaan terakhirnya menunjukkan peningkatan.
Leon dengan penuh kebahagiaan menceritakan bagaimana pengalaman hidupnya. Ia mengatakan dengan jujur dimana selama lima tahun terakhir Ia berada, tapi Leon sama sekali tidak mengatakan dengan siapa Ia hidup.
Setelah itu, Aji terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Leon, tapi Ia hanya bisa mengucapkan satu nama, yang tidak lain adalah Angel—sang adik tiri yang mengatakan jika Leon adalah seorang gembel hina.
“Apa dia mengatakan sesuatu?” tanya Leon dan Aji hanya mengangguk.
Sekarang Ia mengerti mengapa Aji bisa terkena serangan jantung mendadak dan harus masuk ke rumah sakit. Ternyata ini adalah ulah perempuan menjijikan itu.
Leon tersenyum dan memegang tangan Aji. “Angel memang melihatku dalam keadaan dan penampilan orang biasa. Dan Leon yakin, jika dia mengatakan jika aku seperti gembel,” Leon menertawakan dirinya sendiri. “Tapi Leon sengaja melakukan hal itu, pa! Leon tidak mau mereka tahu, bagaimana keadaan ku saat ini.”
Terlihat jika Aji bernapas dengan lega setelah mendengar pengakuan Leon. Air mata kembali menetes dari sudut matanya. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia dan penuh suka cita.
‘Andai saja bibir dan tangan ini bisa aku gerakkan, aku pasti akan memeluk putra ku dengan penuh kebanggaan,’ batin Aji.
Waktu berjalan dengan cepat. Tanpa mereka sadari, matahari mulai meninggi dan ini adalah waktu untuk Jack menghubunginga. Tidak berselang lama, ponsel Leon bergetar dan panggilan itu berasal dari Jack.
Leon : Ada apa, Jack? Apa semuanya baik-baik saja?
Jack : Semua baik-baik saja, Tuan! Apa saya harus menjemput anda sekarang?
Leon : .....
Jack : Tuan?
Leon : Ya! Datanglah bersamanya. Aku ingin mengenalkannya pada papa ku.
Jack : Baik Tuan
Panggilan itu terputus dan Leon menyimpan kembali ponselnya. Tanpa Leon sadari ternyata Aji memperhatikannya saat sedang berkomunikasi dengan Jack. Terlihat jelas dari kerutan di keningnya, jika Aji memiliki sebuah pertanyaan.
“Leon tahu papa penasaran! Tapi Leon tidak akan mengatakan apapun sampai dia tiba. Dan ya... Yang tadi menghubungi ku adalah Jack! Dia adalah tangan kanan ku yang sangat setia. Aku menganggap Jack sudah seperti adik kandung ku sendiri.”
“Satu lagi! Leon hari ini akan mengenalkan seseorang pada papa.”
Aji terlihat penasaran dan antusias saat mendengar perkataan putranya. Ia benar-benar tidak sabar, semoga ini adalah sebuah kabar baik yang di berikan Leon selain kabar keberhasilannya.
***
Jack yang baru saja selesai mengubungi Leon langsung bergegas menuju kamar Alexa. Ia mengetuk pintu dan dengan sabar menunggu Alexa keluar.
“Ada apa, Jack?” Alexa keluar dengan wajah yang segar dan benar-benar sangat cantik, membuat Jack dengan cepat menundukkan kepalanya
“Nona Alexa! Anda harus bersiap-siap sekarang. Tuan muda meminta saya untuk membawa anda ke rumah sakit untuk bertemu dengan Tuan Aji.”
“Sepagi ini, jack?” kening Alexa berkerut.
Jack hanya mengangguk.
Alexa pun bersikap demikian dan kembali masuk untuk bersiap. Tapi Ia kembali keluar saat menyadari sesuatu yang mendesak.
“Jack! Tunggu!!”
“Iya, nona! Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku membutuhkan pakaian yang pantas untuk bertemu dengan calon mertua ku bukan?” Jack mengangguk. Ia langsung mengerti dengan perkataan Alexa.
“Anda bisa menunggu di dalam kamar. Seseorang akan datang membawakan gaun, dan anda bisa memilihnya.”
“Baiklah.”
Alexa masuk kembali dan tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pada pintu. Dengan cepat Alexa meminta mereka masuk. Ia langsung terbelalak saat melihat satu isi lemari dibawa ke hadapannya.
“Nona, silahkan pilih dress atau gaun yang anda sukai. Jika anda menyukai semua ini, saya akan menyimpan dan menyiapkan warna yang anda sukai,” jelas maid tersebut.
‘Apa dia tidak waras? Aku hanya membutuhkan satu baju dan dia langsung mengirimkan satu lemari, atau mungkin satu butik ke hadapan ku,’ batin Alexa.
Ia lantas berdiri dan segera memilih apa yang sekiranya bisa Ia gunakan, santai namun sopan. Meskipun hubungannya dengan Leon hanya terikat karena kerja sama atas nama balas dendam, tapi ia tetap ingin terlihat lebih baik.
“Aku ingin memakai yang ini saja.”
Alexa mengambil sebuah long dress berwarna hitam dengan polkadot kecil di bagian bawahnya. Bagian tanganya menutupi lengannya. Penampilannya disempurnakan dengan ikat pinggang dari mereka ternama yang sangat cocok dengan tubuh rampingnya.
Tidak hanya itu, maid tersebut juga menyiapkan beberapa set sepatu dan tas yang bisa di pilih Alexa. Lagi-lagi Ia hanya bisa geleng kepala karena semua ini terlalu berlebihan menurutnya.
Maid tersebut keluar dengan semua barang di bawanya. Alexa sengaja memintanya untuk membawa kembali semua itu. Ia dengan cepat bersiap dan tampil dengan sempurna.
“Aku rasa ini cocok untuk bertemu dengan calon mertua,” gumamnya pelan.
Setelah merapihkan sedikit rambutnya, Alexa keluar dan berniat untuk mencari Jack.
“Anda sudah siap, nona? Kita bisa pergi sekarang!” seru Jack yang berada di samping pintu.
“Astaga! Apa kamu seorang cenayang, Jack? Aku baru saja berniat untuk mencari mu, tapi aku sudah berdiri di sini dan membuatku benar-benar terkejut.”
Jack adalah pria yang sudah di desain dengan loyalitas tinggi pada pekerjaannya. Ia hanya akan tersenyum saat ada di lingkungannya sendiri, dan tetap memasang wajah tegas saat dalam sedang mengemban tugas apapun.
“Mari...”
Melihat sikap Jack yang kaku, Alexa hanya bisa mendengus kasar dan berjalan lebih dulu. Ia merasa jika Jack adalah robot. Pria itu hanya bicara seperlunya dan tidak bisa untuk di ajak bicara, wajar saja saat mereka meculiknya, Jack sama sekali tidak bereaksi ataupun bersuara.
“Silahkan masuk, nona,” Jack berdiri dan menahan pintu, menunggu Alexa masuk.
“Aku ingin duduk di depan, Jack!”
“Maaf nona! Tapi anda harus duduk di belakang. Keamanan anda adalah yang utama,” Jack masih saja bersikap kaku.
Dengan memutar bola matanya malas, Alexa akhirnya masuk dan duduk dengan tenang. Ia mulai bosan karena hanya duduk dan tidak ada percakapan apapun di antara Ia dan Jack. Alexa juga tidak memiliki posel, karena semua barang miliknya raib entah kemana sebelum anak buah Leon menculiknya.
Alexa hampir saja mati karena bosan. Tapi akhirnya semua itu berakhir saat mobil berhenti dan Jack keluar lebih dulu. Pintu belakang terbuka dan Alexa keluar dengan sangat anggun.
“Kalian boleh pergi! Aku sekarang ada di sini. Beristirahatlah!” seru Jack pada dua anak buahnya yang berjaga semalam.
“Siapa mereka?” Alexa menatap Jack penuh tanya.
“Bodyguard Tuan dan sebentar lagi mereka akan menjadi bodyguard anda.”
Alexa dan Jack kembali melajutkan langkah merek menuju ruang VVIP dimana Aji berada. Jack benar-benar tidak membiarkan Alexa menyentuh apapun. Pria itu menekan tombol lift saat masuk dan keluar, dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Setibanya di ruang VVIP, Jack dengan cepat meraih handle pintu dan masuk lebih dulu. Ia mengangguk dengan hormat saat melihat Leon dan Aji, sedikit berbisik pada Leon, dan Ia kembali mengajak untuk membawa Alexa masuk.
“Mari nona, Tuan sudah menunggu!”
Alexa mengangguk cepat.
Dengan begitu anggun, Ia melangkah masuk dan berdiri teat dibelakang Leon. Tatapan matanya tertuju pada Aji yang saat ini sedang terbaring. Tanpa menunggu persetujuan Leon, Alexa maju dan langsung mencium punggung tangan Aji dengan begitu lembut.
Hatinya Leon tiba-tiba saja menghangat melihat sikap Alexa yang lembut. Ia merasa tidak salah saat memilih gadis itu untuk bekerja sama dengannya.
“Saya Alexa, om. Calon istrinya Leon.”