Ruangan VVIP itu menjadi hening sesaat setelah kehadiran Alexa. Bahkan setelah apa yang dilakukannya benar-benar membuat Leon membeku, karena bukan seperti ini rencannya.
Aji menatap putranya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Alexa yang masih sangat muda dan cantik. Senyum terukir di bibir Aji, meskipun sulit, ia berusaha menunjukkan kebahagiaannya.
“Le-leon...”
“Iya, pa?” jawabnya lembut, kemudian Leon melihat tatapan Aji yang mengarah pada Alexa yang saat ini berdiri tepat di sampingnya. “Ya, ini adalah calon istri Leon dan inilah kejutan yang ingin Leon sampaikan pada papa,” lanjutnya lagi.
Tubuh pria itu sedikit berguncang, tangannya bergerak pelan dan berusaha untuk meraih jemari calon menantunya. Melihat hal tersebut, Leon hanya diam. Tapi tidak dengan Alexa. Gadis itu dengan cepat meraih tangan Aji dan menggenggamnya. Ia juga menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut mata pria paruh baya tersebut.
“Maaf kalau kedatangan Alexa membuat om sedih,” lirihnya penuh penyesalan.
Aji menggeleng dengan cepat. Bukan sedih yang ia rasakan, tapi sebuah kebahagiaan yang luar biasa yang di dapatkan hari ini. Bukan hanya satu, tapi dua kebahagiaan sekaligus.
Sebelum hari ini, Aji sudah kehilangan harapan mengenai hidupnya dan semua hal yang ia miliki. Satu-satunya kebahagiaan yang Ia miliki telah pergi karena kebodohannya sendiri yang percaya terhadapan hasutan Lingga, membuat hidupnya sengsara.
Tapi hari ini semuanya berubah. Aji merasa Ia bahagia dan memiliki semangat baru untuk hidup dan mengambil kembali apa yang sudah menjadi miliknya. Bukan hanya itu, Aji akan memperjuangkan apa yang sudah Ia catat sebagai hak dari putra kandungnya—Leon.
“Papa sangat bahagia melihat mu, Alexa. Lihat! Papa bahkan tersenyum,” kata Leon dengan memegang pundak gadis itu.
Untuk sesaat Alexa tersentak. Tapi dengan cepat ia mengembalikan ekspresi wajahnya dan menatap Leon dengan tersenyum lebar. Ia mengangguk dengan lembut, seakan mereka benar-benar saling mencintai.
“Bagaimana keadaan om sekarang?”
Aji hanya bisa mengangguk sebagai jawaban jika saat ini baik-baik saja. Lidahnya terasa beku, ia terlalu bahagia sampai sulit untuk berkata-kata.
Lagi-lagi Alexa tersenyum. Melihat semua itu, Leon merasa tidak ada salahnya jika Ia mengatakan niatnya saat ini. Leon melihat penerimaan Aji terhadapan Alexa sangatlah baik dan Ia yakin, Aji juga akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini.
“Pa, sejak pertama Leon kembali ke Jakarta, Leon ingin sekali mengatakan ini pada papa, tapi sayangnya kondisi papa tidak memungkinkan. Jadi detik ini juga Leon akan meminta restu papa, karena Leon akan secepatnya menikahi Alexa.”
DEG
Alexa dan Aji menatap Leon secara bersamaan. Ia tidak menduga jika Leon akan secapat ini mengatakan semuanya pada Aji.
‘Secepat ini? Oh, God! Ternyata si Jack benar dengan perkataannya semalam,” batin Alexa.
“Alexa harap om tidak keberatan. Kami sudah menunda rencana ini selama satu tahu, hanya karena Leon ingin mendapatkan restu om sebelum kami menikah,” Alexa berusaha mengimbangi Leon.
Ini membuatnya merasa aneh, tapi Ia sudah menyetujui semuanya dan tidak ada kata untuk mundur setelah ia maju. Alexa hanya berdo’a dalam hatinya, semoga Aji tidak menolaknya dan semoga rencananya akan berjalan lancar bersama Leon.
Ia ingin memberikan pelajaran berharga pada Lingga dan Reyhan. Bagaimanapun, mereka sudah terlalu banyak menyakiti hidup orang lain, dan Alexa merasa ini sudah cukup.
Aji menunjukkan kebahagiaannya dengan luar biasa, dengan seluruh tanaga yang Ia miliki, jari-jemarinya bergerak dan menggenggam erat tangan Alexa.
Untuk sesaat Alexa terkejut, tapi senyum di wajahnya semakin melebar saat Ia tahu jika Aji semakin membaik.
“Jari-jari om bisa bergerak? Leon, lihat ini!”
Leon yang terkejut lantas melihat betapa Aji menggenggam erat tangan calon menantunya, dan sekarang Leon mengerti, jika Aji memiliki semangat yang besar untuk bisa kembali sehat.
Tidak ingin membuang waktu, Ia lantas menekan tombol merah. Ini bukan keadaan darurat, tapi Leon merasa tidak sabar saat menunggu dokter untuk memeriksa Aji.
Dokter dan suster datang bersamaan, awalnya mereka panik, tapi melihat pasien yang baik-baik saja kening keduanya berkerut, menunjukkan ketidak senangannya.
“Dok! Papa saja sudah bisa menggerakkan jari-jarinya, apa Ia juga akan bisa menggerakkan anggota tubuh lainnya?”
“Paien benar-benar pulih dengan cepat. Kemungkinan pasien untuk bisa kembali bergerak sangatlah besar, asal pasien menjalankan terapinya dengan rutin .”
“Saya ingin dokter terbaik untuk melakukan terapi pada papa saya! Berapa pun biayanya, saya tidak peduli!”
“Baiklah! Saya akan merekomendasikan dokter terbaik yang di miliki rumah sakit ini.”
Setelah itu dokter keluar dan Leon benar-benar bahagia mendengar hal tersebut. Ia akan bisa menebus waktu lima tahun kebersamaannya yang telah hilang direnggut paksa oleh Lingga dan membahagia kan Aji.
***
Jadwal pemberian obat telah tiba. Seorang suster masuk dan menjelaskan prosedur permberian obat karena Jack yang memintanya. Jack bukan hanya pengawal, Ia juga mengeri banyak mengenai obat-obatan dan ini membuat Ia selalu waspada.
Aji mulai tertidur, Leon meminta Jack untuk menjaga Aji. Sedangkan ia akan pulang sebentar menuju Villa dan membersihkan diri. Selain itu, Leon juga ingin bicara bersama Alexa. Meskipun mereka harus terlihat seperti pasangan yang sempurna, tapi Leon tetap harus memberikan jarak aman untuk dirinya dan hatinya.
“Jack! Aku akan pulang bersama Alexa. Jaga papa! Jika ada orang yang mencurigakan, kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?” Leon menatap Jack dengan penuh kepercayaan.
“Baik, Tuan!”
“Ayo Alexa...”
Ia mengangguk dan berdiri, mengikuti langkah pria itu. Alexa sangat ingin bicara, tapi sayangnya Leon seakan sedingin es, membuatnya ragu untuk memulai percakapan apapun.
Di saat yang bersamaan, saat ini Reyhan sedang berjalan menuju lorong dimana Leon dan Alexa berada. Sungguh kebetulan yang luar biasa, bahkan Leon tidak menduga jika Ia akan dipertemukan dengan Rey secepat ini.
“Tuan Rey! Senang bertemu dengan anda?” sapa seorang wanita cantik secara tiba-tiba. Reyhan berhenti dan bicara bersama wanita tersebut.
Untuk sesaat tubuh Leon menegang, suhu tubuhnya meningkat saat ia merasakan desakan amarah dalam dirinya saat melihat pria itu. Tapi Alexa, gadis itu tiba-tiba saja menggenggam tangan Leon dan berbisik.
“Leon, aku takut,” bisik Alexa.
Otak Leon kembali bekerja, Ia mencari celah untuk bisa melarikan diri Rey dan bersembunyi. Belum waktunya Ia berhadapan dengan Rey, meskipun harus, Leon akan mengindar.
Sudut matanya melihat sebuah lorong sepi, ia tidak punya pilihan kecuali pergi ke sana.
“Ikut aku!”
Alexa terbelalak saat melihat langkah mereka menuju uang jenazah. Leon tidak memiliki pilihan lain. Ia lantas menghimpit tubuh mungil Alexa pada tembok tepat di samping ruang jenazah.
"Le-Leon... Itu ruang je-jenazah! Aku takut," Alexa mulai gemetar.
"Diam lah! Atau Rey akan melihat kita," bisik Leon.
Hembusan napas Leon yang hangat menerpa kulit Alexa, membuat gadis itu meremang merasakan sensasi yang berbeda. Ia bukanlah gadis kecil yang tidak bisa merasakan apapun, saat Ia dalam posisi sedekat ini dengan lawan jenisnya.
Derap langkah kaki mulai mendekat. Tanpa berpikir panjang, Leon lantas membenamkan wajahnya di ceruk leher Alexa, membuat posisi mereka semakin intim. Degup jantung Alexa benar-benar tidak terkendali lagi, saat rasa dingin itu terasa menyentuh lehernya.
'Bibirnya... Ini, se-sentuhan pertama,' batin Alexa.
Alexa berusaha untuk tetap mengendalikan diri dan pikirannya. Tanpa sadar, jemarinya meremas pakaian Leon hingga akhirnya Leon sadar dengan apa yang terjadi saat ini.
"Maaf! Aku tidak bermaksud buruk," dengan cepat Leon mundur.
Jantung nya saat ini seperti sedang melakukan maraton, bahkan Ia sadar dengan hal tersebut.
"Jack! Waspada lah, Rey ada di sini."
"Kita harus bergegas sekarang, tidak baik jika kita berlama di tempat ini."
Alexa hanya bisa mengangguk. Tempat ini memang tidak baik, karena dengan kesadaran dengan kesadaran penuh Ia bahkan merasakan sebuah desiran hebat dalam dirinya saat posisi mereka benar-benar dekat.
Di ruang VVIP, saat ini Jack sedang duduk di samping Aji yang sedang tertidur pulas karena obat tidur.
Jack mulai waspada, sepertinya kecurigaan Tuan nya memang benar. Mereka bahkan masuk dan melihat bagaimana kondisi Aji saat ini. Dua orang itu semakin mendekat pada Jack dan berdiri di seberangnya. Secara terang-terangan mereka memperhatikan Aji yang tertidur dan tidak berselang lama Jack berseru.
“Siapa kalian? Pergi atau aku akan memanggil polisi karena sudah mengganggu ketenangan ku di rumah sakit ini!”