9. Hasrat pria dewasa

1117 Kata
Leon dan Alexa begegas pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Mereka sengaja menghindari Rey demi keselamatan Aji. Leon sudah merencanakan segalanya dengan matang dan ia tidak ingin semua hancur berantakan hanya karena egonya. Tapi pikirannya sedikit terusik saat Ia dan Alexa dalam posisi yang sangat dekat. Bukan hanya itu, bahkan hasrat pria dewasa dalam dirinya mampu membuat darahnya langsung mendidih. Leon tidak pernah menyangka, jika Ia akan semudah itu terpancing dengan gadis muda seperti Alexa. Bahkan sampai detik ini, Leon tidak bisa membuang aroma tubuh dan shampo yang dipakai Alexa. Ini benar-benar memabukkan untuknya. “Leon!” Alexa mengerutkan keningnya saat pria itu sama sekali tidak merespon panggilannya. “Leon! Apa kamu baik-baik saja?” dengan terpaksa, Alexa memberanikan diri untuk memegang bahu Leon, karena pria itu tak kunjung mendengarkan panggilannya. “Ya, ada apa Alexa?” Leon linglung. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya khawatir saat melihat mu melamun sambil mengemudi,” ia beralasan. Leon menarik napas dalam dan tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya kembali fokus mengemudi sampai akhirnya mereka sampai di villa. Tanpa bicara apapun, Leon pergi meninggalkan Alexa dan masuk ke kamarnya yang tepat berada di samping kamar gadis itu. Melihat sikap Leon yang tiba-tiba saja sedingin es, Alexa hanya bisa menarik napas dalam bergegas menuju kamarnya. Harinya merasa tidak tenang setelah melihat  Rey, meskipun ia tahu, jika Leon pasti telah memiliki rencana sebelum meninggalkan rumah sakit tersebut. Saat mengingat rumah sakit, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang dan panas mulai menjalar di wajahnya. Setelah kedekatannya dulu bersama Rey sebagai kakak tiri, Alexa sama sekali belum pernah berdekatan dengan pria lain setelah Ia dewasa. “Oke, Alexa, cukup! Berhenti memikirkan hal itu dan fokus pada tujuan mu,” gumamnya di depan cermin berbentuk oval. Alexa merasa harus melupakan kejadian itu. Ia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya saat ini dan membuka lemari yang ada. Berharap jika ada satu atau dua pakaian santai yang bisa ia kenakan. Lemari terbuka. Alexa terbelalak. Mulutnya menganga tanpa Ia sadari saat melihat lari tersebut sudah dipenuhi dengan pakaian dan dress cantik. Tersusun rapih, bahkan semua pakaian dalam dengan warna yang lengkap mengisi lemari tersebut. Bahkan ukurannya benar-benar sama dengan yang Ia gunakan selama ini. "Bagaimana bisa? Apa mungkin dia..." Alexa berusaha menebak apa yang sudah di lakukan Leon padanya. Sangat tidak mungkin jika ia memeriksa semua ukuran baju dan apapun yang menempel pada tubuhnya. "Tidak-tidak!! Itu tidak mungkin, Alexa. Tenang dan jangan berpikiran negatif." Ia menarik napas dalam dan menenangkan kembali pikirannya. Ia tidak ingin semakin larut dalam pikiran aneh yang mengusiknya. Mungkin guyuran air dingin akan menyegarkan kembali pikirannya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Guyuran shower benar-benar membuatnya mendapat relaksasi dari semua pikiran anehnya. Ritual mandinya telah selesai, Alexa berniat untuk mengeringkan tubuhnya, tapi kesialan kembali menimpa nya. Ia lupa membawa handuk dan sama sekali tidak ada kain apapun di dalam kamar mandi, kecuali pakaian kotornya. "Astaga! Kenapa aku jadi ceroboh seperti ini. Sekarang bagaimana aku keluar dari sini? Tanpa busana?" Alexa menggeleng cepat. Satu-satunya cara yang bisa Ia lakukan saat ini hanyalah berteriak memanggil siapapun yang ada dekat kamarnya. "Tolong! Ada orang tidak di luar?" Hening. "Tolong siapa pun! Bawakan aku handuk!" Alexa benar-benar frustasi saat tidak ada satu orang pun yang mendengar suaranya. Berlama dalam kamar mandi pun tidak akan baik untuknya dan Ia harus segera mengambil keputusan. 'Sepertinya aku memang harus keluar tanpa busana dari sini,' batin Alexa. Baru saja Ia berniat untuk membuka pintu, seseorang lebih dulu mengetuk pintu dan mengatakan jika Ia membawa handuk yang sedang dibutuhkannya saat ini. "Terima kasih! Kamu boleh pergi," ujar dari dalam. Terdengar pintu kamarnya tertutup, barulah setelah itu Alexa keluar dengan santai. Handuk yang melilit ditubuhnya hanya mampu menutupi hingga pertengahan pahanya yang putih dan mulus itu. Alexa benar-benar merasa nyaman berada dalam kamar ini. Ia masih belum menyadari adanya pintu rahasia yang tersambung dengan kamar pribadi milik Leon. Dengan begitu santai, Ia memilih pakaian santai dan celana pendek, menyamakan dengan celana yang sering ia gunakan dalam kesehariannya. ** Sementara di kamar sebelah, saat ini Leon sedang terlentang di atas ranjang dan berusaha untuk menepis pikirannya nakalnya. Ia memang akan menikah dengan Alexa, tapi tidak pernah terbersit dalam benaknya untuk melakukan sesuatu yang berurusan dengan ranjag bersama gadis itu. Ia merasa harus menjelaskan semua yang terjadi di rumah sakit. Ia melakukan itu tanpa sengaja dan sama sekali tidak berniat berbuat tidak sopan padanya. Meskipun Leon tidak memungkiri, jika Ia menyukai hal itu. “Aku harus menjelaskan padanya dan meminta maaf. Aku tidak ingin dia menjadi salah paham dan berpikiran jika aku hanya ingin memanfaatkannya saja,” katanya dengan bangun dari ranjang. Leon langsung menuju pintu rahasia. Tanpa berpikir panjang, Leon langsung menekan kunci kombinasinya dan pintu bergerak sendiri tanpa ia harus menyentuhnya. Pintu terbuka. Leon bergeming di ambang pintu saat tanpa sengaja ia melihat Alexa yang sedang mengenakan pakaiannya. Handuk itu sudah teronggok di lantai dan beberapa bagian yang menonjol pada tubuh gadis itu terpampang nyata di hadapannya. ‘Indah...’ batin Leon. Tanpa sadar ia memuji tubuh Alexa. Dengan susah payah, Leon berusaha untuk menelan salivanya dan tetap tenang tanpa menimbulkan suara apapun. Sesuatu dibalik celananya menggelembung, terasa sesak saat melihat keindahan itu. Sadar jika Alexa akan berbalik, Leon dengan cepat keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu kembali. Ia menjambak rambutnya beberapa kali dan menggeleng. Ia hampir saja gila setelah melihat itu. Leon tidak menyakal jika gadis itu cantik dan menggoda, tapi hubungan mereka sama sekali tidak boleh dibarengi urusan hati. Saat pikirannya terus berpusat pada titik indah itu, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar nya, membuat Leon terpaksan berdiri dan membuka pintu tersebut. “Ada apa...” “Apa aku mengganggu mu?” Alexa langsung memotong pertanyaan Leon. “Sedang apa kamu di sini? Bukannya kamu sedang ber—maksud ku, bukannya kamu sedang beristirahat dalam kamar?” Leon merutuki lidahnya yang hampir saja salah bicara. “Apa aku boleh masuk?” Alexa menatap Leon dengan bingung. Wajah pria itu terlihat tegang dan membuat Alexa ragu untuk bicara. Tanpa terduga, Leon mengangguk dan membuka pintu kamarnya lebar. Ia mengijinkan Alexa masuk dan melihat secara keseluruhan isi ruangan tersebut. Desain kamarnya hampir sama, hanya warna dan beberapa benda yang diletakan berbeda. Secara keseluruhan, Alexa menyukai kamar tersebut dan dalam benaknya ia tersenyum saat membayangkan Ia juga bisa memiliki kamar tersebut. “Hal apa yang membawa mu untuk menemui ku?” Leon bertanya tanpa basa-basi. “Aku khawatir,” jelasnya cepat. “Untuk?” “Keselamatan Om Aji.” DEG ‘Kenapa aku bisa melupakan Jack dan Papa,’ batin Leon. Ia tidak ingin membuat Alexa panik. Dengan cepat ia mengendalikan diri dan menatap gadis itu dengan santai. “Jack adalah orang profesional! Aku yakin papa aman bersamanya.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN