19. Demam tinggi

1161 Kata
Tepat pukul tiga pagi, Leon Jack baru kembali ke villa. Mereka berdua sama-sama langsung masuk ke kamar mereka masing-masing dan beristirhat. Tapi nyatanya itu hanya dapat dilakukan oleh Jack. Sedangkan Leon, ia cukup terkejut saat tahu jika kondisi Alexa sama sekali tidak baik-baik saja. Alexa saat ini berada dalam kamarnya sendiri, dan tentu saja gadis itu tidur bertemankan Cla di sampingnya. Sesampainya di rumah, Alexa langgsung diboyong masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Tapi Leon tidak tahu jika gadis itu langsung mengalami demam tinggi. Leon masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Ia tidak merasakan keringat sedikit pun saat Ia akan beristirahat malam ini. Selesai membersihkan diri, Leon tersadar jika Ia belum menemui Alexa dan melihat keadaannya. Terakhir kali ia melihatnya, wajah gadis itu pucat dan pandangannya kosong.  Sampai akhirnya Ia bergegas masuk ke bagian kamar lainnya dan pandangannya langsung tertuju pada Alexa yang sedang berbaring dengan handuk kecil di atas keningnya. “Alexa...” panggilnya pelan. “Cla, apa yang terjadi dengannya?” Leon berjalan mendekati Alexa dan duduk tepat di sampingnya. Saat merasakan ranjang itu bergerak, gadis itu melenguh dan napasnya berubah cepat. “Jangan, aku mohon jangan mendekat! Lepaskan aku...” racau Alexa. DEG Leon merasa sakit mendengar hal itu. Pertanyaan mulai timbul dalam benaknya dan mengusik hatinya. Ia benar-benar menyesal karena sudah melibatkan istrinya, andai saja Ia tahu jika istrinya memiliki trauma di masa lalunya, tidak mungkin Leon akan membawa Alexa dalam rencananya. “Satu jam setelah tuan muda pergi, nona muda tiba-tiba saja meracau. Saya pikir nona muda sedang bermimpi buruk, tapi ternyata nona muda demam. Saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menurunkan demamnya, tapi saya tidak tahu kenapa demamnya justru semakin tinggi.” “Terima kasih sudah menjaga istri ku, Cla. Tolong panggilkan dr. Luise, saat ini Alexa membutuhkan dokter menyebalkan itu,” ujar Leon dengan sedikit menekuk wajahnya. “Baik tuan muda!” Sepeninggalan Cla, Leon mengambil handuk kecil dari kening istrinya dan mulai menyeka keringan dan kembali mencelupkannya ke dalam air. Dengan lembut, Ia merapihkan rambut Alexa dan entah dorongan dari mana sampai Ia berani untuk mengecup kening gadis itu. “Maafkan aku Alexa, jika aku lebih tegas dan menolak mu sebelum pergi, mungkin sekarang kau akan baik-baik saja.” Leon meraih tangan Alexa dan menggenggamnya erat. Tiba-tiba saja gadis itu diam dan raut ketakutan di wajahnya sirna. Ia terlelap kembali dengan tenang. Tanpa henti, Leon terus menjaga Alexa dan mengompres kening secara berkala. Karena ia lelah, pada akhirnya Leon ikut terlelap di samping Alexa dengan posisi duduk dan bersandar. Kedua tangan mereka tetap saling menggenggam erat, seakan tidak ingin terpisahkan. Cahaya matahari mulai terang, membuat Alexa terusik dan bangun dari tidurnya setelah demamnya turun. Ia berniat menarik tangannya, tapi rasa hangat menghentikannya dan membuat Alexa mengangkat sedikit tangannya. Alexa cukup terkejut saat Ia melihat Leon ada di sampingnya. Napasnya tertatur dan matanya masih tertutup rapat. ‘Apa semalaman dia ada di sini?’ batin Alexa. Tanpa berniat untuk membangunkan pria itu, Alexa bergerak perlahan dan duduk tepat di samping Leon. Ia menatap pria itu dengan lekat, memperhatikan betapa indahnya wajah pria itu dalam tidurnya. Tenang dan damai. Leon bergerak, Ia hampir saja jatuh ke sisi lain jika Alexa tidak dengan cepat menahannya dan membiarkan Leon terlelap di pangkuannya. Alexa sadar jika semua ini tidaklah benar, tapi hati nuraninya tidak mungkin bisa membiarkan Leon jatuh dan kepalanya membentur meja. “Aku hanya membantunya sebagai rekan. Tidak lebih!” Tok, tok, tok... “Masuk...” “Selamat pagi nona muda... Maaf saya tidak tahu kalau—tuan...” Cla menundukkan kepalanya karena telah lancang mengganggu kebersamaan mereka. “Tidak apa-apa, Cla,” Alexa tersenyum kaku, Ia tahu jika posisi mereka terlalu intim untuk dilihat orang lain. “Cla, tolong buatkan aku sup ayam. Sepertinya aku merasa tidak enak badan,” ujar Alexa. “Baik nona muda! Ada lagi yang anda inginkan?” “Tidak ada! Semuanya terserah pada mu saja. Aku hanya menginginkan sup.” Cla mengangguk dan langsung meninggalkan kamar tersebut. Sebenarnya kepala maid itu ingin menyampaikan pesan dari dr. Luise pada Leon, tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat tuan mudanya masih terlelap seperti bayi kecil di pangkuan ibu nya. *** Sementara itu, masih dalam gedung tua tidak berpenghuni. Heru mengigil kedinginan dan bersorak riang saat melihat cahaya matahari. Tapi nyatanya ia masih tersiksa karena obat yang dimasukan ke dalam tubuhnya oleh Jack. Siapa sangka, obat itu ternyata membuat Ia terjaga sepanjang malam. Bukan hanya burungnya tidak bisa berdiri, Heru juga mulai berhalusinasi. Ia menangis berjam-jam karena ketakutan hanya karena melihat pohon bergoyang. Apa yang semalam Jack katakan memanglah benar. Heru hampir mati karena ketakutan. Celananya sudah basah karena ia mengopol tiada henti layaknya bayi kecil. Bukan hanya itu, Heru juga terpaksa harus buang air besar di celana karena rasa takutnya itu. Saat ini ia benar-benar menyesal karena lebih memilih obat itu dibandingkan mengakui semua perbuatannya kotornya pada Alexa, Davina dan keluarganya. Dengan bermodalkan air seadanya, Heru membersihkan diri dari bua menyengat yang harus ia cium berjam-jam lamanya. Ia membuang celana dalamnya dan keluar dengan menggunakan celana basah bau pesing. Siapa sangka, ternyata anak buahnya bisa melacak keberadaan Heru dari ponselnya. Semalam, sebelum Ia sadarkan diri, Leon mengambil dan menyalakan ponsel milik Heru. Ia sengaja melakukan itu untuk memberikan kesempatan pada pamannya itu. “Tuan! Syukurlah anda baik-baik saja,” ujar sang bodyguard. Heru tidak menjawab dan Ia bergegas masuk ke dalam mobil. Ia sadar jika saat ini kedua pria itu sedang menahan napas karena bau yang berasal darinya. “Percepat! Aku ingin membersihkan diri.” “Baik tuan!” ‘Aku sudah salah memilih! Dan sepertinya Leon tidak akan tinggal diam jika Ia belum mendapatkan apa yang di inginkannya,’ batin Heru. *** Alexa masih setia menunggu Leon bangun. Meskipun ia mulai merasakan kesemutan, tapi Ia menahan diri agar pria itu tetap dalam posisi nyaman. Samar-samar, Alexa mendengar suara keributan yang berasal dari lantai bawah. Keningnya sedikit berkerut. Ia ingin melihat apa yang terjadi, tapi ia tidak ingin membuat Leon terbangun. Ia hanya menarik napas panjang dan memilih diam. Sesekali ia mengusap hidung mancung Leon. Ia terkekeh pelan. Ia merasa jika saat ini Ia menggemari hidung pria itu dan akan mencubit hidung itu jika Ia kesal pada sosok leon yang terkadang menyebalkan menurutnya. “Jangan halangi aku, Cla! Bukankan dia yang meminta ku untuk datang kemari dan mengobatinya, jadi biarkan aku melakukan tugas ku.” Suara teriakan itu terdengar di depan pintu, dan Alexa bingung harus berbuat apa saat ini. “dr. Luise! Tolong mengerti, tuan muda saat ini sedang bersama istrinya dan ia masih beristirahat.” “Aku tidak peduli!” ujar perempuan bernama Luise. Brakkk... Pintu terbuka dengan keras, membuat Leon dan Alexa terkejut. Leon yang lebih terkejut saat melihat dirinya ada dalam pangkuan Alexa dengan telinga yang tertutup. Leon menatap tajam ke arah pintu, sedangkan Ia yang ditatapnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Kecuali Cla, kepala maid itu hanya bisa menundukkan kepalanya takut. “Ck! Jadi apa yang harus aku periksa? Apa dia hamil?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN