20. No problem honey

1253 Kata
Leon terbelalak saat mendengar perkataan itu terlontar dari bibir manis Luise. Setiap kali mereka bertemu, selalu saja Leon merasa mudah emosi. “Jaga bicara mu, Luise!” “Come on, Yon! Kamu ada di kamar dalam posisi kalian seperti itu... Apa salah jika aku berpikir jika akan segera ada bayi di tempat ini?” Luise menatap tatapa Leon yang tajam dengan santai. ‘s**t! Kali ini aku benar-benar dalam posisi yang salah,’ batin Leon. Dengan cepat ia membenarkan posisinya. Ia bangun dari pangkuan Alexa dan mereka sekarang mulai duduk dengan jarak di antara mereka. “Maaf! Karena aku kita jadi salah paham,” Alexa buka suara. “No problem honey... Sejak lama aku ingin memergokinya sedang bercinta, tapi sialnya pria itu selalu lepas dari ku!” ujarnya sedikit kesal. Pipi Alexa tiba-tiba saja merah merona. Ia tidak melakukan apapun dengan pria itu, namun rasanya malu saat ia mendengar kata ‘bercinta’ yang baru saja keluar dari bibir Luise. “Cepat selesaikan tugas mu! Periksa dia dan tinggalkan villa ini,” kata Leon dengan sangat ketus. “Leon! Kenapa kamu seperti itu?” Alexa kesal dengan sikap Leon. “Dia bukan perempuan yang cocok untuk ada di sini Alexa.” Luise hanya tersenyum melihat tingkah Leon yang masih saja memusuhinya setelah satu tahun berlalu. Kejadian itu benar-benar tidak di sengaja, dan nyatanya mereka sama-sama pernah menikmati itu. Tapi Leon sama sekali tidak ingin mengakui kejadian yang mereka lalui bersama. Luise dan Leon di besarkan bersama oleh kakek tua misterius itu. Bedanya, Luise dibesarkan oleh kakek tua itu sejak ia berusia lima tahun. Dan saat mereka dewasa, Leon datang dengan segala pesonanya. Karena Leon adalah saingannya, Luise selalu saja memusuhi Leon. Ia tidak ingin kasih sayang kakek tua itu terbagi, sampai akhirnya terjadi sebuah kesalahan saat Luise baru saja pulang dari pesta kelulusannya sebagai dokter muda. “Leon jemput adik mu!” seru kakek tua. “Baik kakek! Tapi kemana aku harus mencari Luise?” “Dia ada di sebuah hotel sedang merayakan kululusannya.” Leon mencatat alamat yang diberikan kakek tua padanya. Setelah itu Ia melesat untuk menjemput Luise sesuai dengan perintah. Leon tidak mendapatkan pendidikan formal, karena memang Ia sudah selesai mendapatkan pendidikan. Hanya pendidikan singkat yang kakek tua langsung berikan padanya sebagai bekalnya, itu jugalah yang membuat Luise menjadi cemburu pada Leon. Tidak berselang lama Leon akhirnya sampai di hotel dimana Luise berada. Ia langsung bertanya pada resepsionis mengenai pesat kelulusan itu. Tanpa pernah berpikir negatif, Leon lantas menuju tempat acara dan Ia mengepalkan tangannya saat melihat Luise sedang ada dalam kondisi mabuk dan hampir tidak sadarkan diri. “Luise! Ayo pulang. Kakek sudah menunggu mu.” “Leon? Ahahah... Aku membenci mu!” “Aku tidak peduli! Sekarang kita pulang.” “Ambilkan barang-barang ku di kamar 939! Setelah itu kita pulang.” Leon mengangguk. Ia meninggalkan perempuan itu. Leon kembali dengan cepat. Ia membawa beberapa barang atas nama Luise dan Ia cukup terkejut saat melihat adik angkatnya itu hampir saja memaksa seorang pria untuk menciumnya. “Dasar gadis bodoh! Bisa-bisanya kau melakukan ini,” Leon menarik Luise dan langsung menyeretnya. “Maafkan adik ku! Dia sudah terlalu mabuk.” “Jaga adik mu bung! Tidak semua pria sama seperti ku.” “Terima kasih banyak sudah mengingatkan ku.” Dengan susah payah, Leon membawa Luise masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang. Leon benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan ini, bagaimana bisa ia melakukan hal seperti itu pada seorang pria. “Kau benar-benar memalukan!” “Aku memalukan! Kalau begitu kita harus sama-sama menjadi manusia yang memalukan.” Tanpa di duga, Luise menarik kemudi dan membuat mobil tidak tentu arah. Tidak ingin mati di usia muda, Leon akhirnya menepikan mobil sebelum mereka menabrak siapa pun atau benda apa pun. Dalam emosinya, Leon sampai berani memegang rahang Luise keras, membuat perempuan itu memberontak dan memukul wajahnya. Mereka berdua benar-benar berkelahi dalam mobil itu, sampai akhirnya Luise tiba-tiba berubah dan merintih. Bukan melawan saat Leon berniat memukulnya, justru Luise semakin menginginkan itu dan Leon tidak tahu apa yang saat ini sedang terjadi padanya. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja perempuan itu mernyarang Leon dengan hasratnya. Ia menundukkan kepala dan melumat senjata pria itu, sampai ia berada dalam ambang batas kenikmatan yang belum pernah di rasakannya. Luise semakin menggila. Perempuan itu melepaskan semua kain dari tubuhnya dan mengubah posisi kursi, membuat ia bebas melakukan apapun pada Leon. Sebagai seorang pria dewasa, Leon bisa dikatakan tidak memiliki pengalaman untuk urusan bercinta dan ia benar-benar kalah malam itu oleh Luise. Sejak kejadian itu, leon benar-benar selalu kesal setiap kali ia mengingat Luise. Jika saja mereka tidak hidup dalam asuhan kakek tua itu, mungkin saja Leon berharap tidak ingin mengenal perempuan itu lagi. Tapi sayangnya saat Leon akan pergi, kakek tua itu juga meminta Leon untuk membawa Luise. Karirnya sebagai seorang dokter harus berkembang dan itu hanya akan terjadi jika Luise bekerja di tempat yang jauh dari jangkauan kakek tua. Dengan sangat terpaksa, Leon pulang ke tanah air bersama Luise, namun Ia tidak ingin tinggal bersama dengan perempuan itu, pun dengan Luise, ia juga menginginkan hal yang sama dengan Leon. *** Leon meninggalkan kamar Alexa dan masuk ke kamarnya melalui pintu utama. Ia tidak ingin Luise mengetahui pintu rahasia, karena Leon cukup takut jika perempuan itu datang kembali dan melakukan itu lagi padanya. “Jadi nama mu Alexa?” Luise duduk di tepi ranjang dan mulai memeriksa kondisi Alexa. Sebelum naik, Luise mendengar sedikit cerita dari Cla mengenai kondisi gadis itu semalam. “Aku Luise! Apa yang kamu rasakan semalam? Apa ada hal yang membuat mu takut sampai kamu mengalami demam tinggi dan mengigau?” Luise memperhatikan wajah Alexa, terlihat kentara perubahan di wajah cantik itu. Alexa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa pada perempuan yang ada di hadapannya itu. “Jangan khawatir! Aku bukan orang asing, sampai kamu harus menyimpan rahasia dari ku,” tukas Luise. “Aku... Aku hanya ketakutan dan itu membuat kepala ku terasa berat.” Luise mengerti, mungkin Alexa tidak bisa bicara karena Ia masih merasa jika dirinya adalah orang asing dan Luise tidak akan memaksa Alexa untuk bicara. “Ini obat demam dan ini obat penenang dosis rendah. Aku sengaja memberikan ini karena aku melihat mu seperti dalam tekanan besar. Belajar lah untuk melupakan kenangan buruk apapun yang kamu alami. Lawan secara perlahan dan nikmati hidup mu.” Alexa mengangguk. “Dan satu lagi! Obat penenang ini hanya jika kamu sudah terdesak.” Lagi-lagi Alexa hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Luise. Karena perempuan itu bekerja di sebuah rumah sakit, Luise dengan cepat berpamitan dan langsung pergi meninggalkan villa tersebut tanpa menemui Leon terlebih dulu. Sampai detik ini, Alexa masih tidak mengerti kenapa Leon memiliki begitu banyak teka-teki dalam hidupnya. Bahkan banyak sekali orang yang ada di sekelilingnya, namun Alexa tidak mengetahui hal itu. Tidak ingin memikirkan hal itu, Alexa turun dari ranjang dan langsung menyegarkan diri. Ia mungkin demam, tapi kondisinya lebih abik setelah ia mandi dengan air hangat. “Alexa...”Leon masuk melalui pintu penghubung. Tapi tidak ada jawaban dari gadis itu. Leon masuk dan melihat sekeliling. Kamar itu benar-benar sunyi, dan itu membuat Leon penasaran. Ia duduk di tepi ranjang dan memastikan tidak ada hal yang terjadi di kamar itu saat ia pergi ke kamarnya. Pintu kamar mandi terbuka dan Alexa keluar menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, memperlihatkan bagian kaki dan lengan yang begitu putih dan mulus. “Leon...” Alexa langsung menyilangkan kedua tangannya di d*da dan kembali masuk ke kamar mandi. “Aku akan menunggu mu di meja makan.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN