21. Tidak akan memaksa

1168 Kata
“Apa?! Jangan asal bicara kalian. Heru bukanlah pria bodoh, meskipun Ia terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, tapi tidak mungkin dia terjebak!” “Saya sudah memastikan kebenaran info tersebut nyonya. Anak buahnya menemukan Tuan Heru di sebuah tempat terpencil, di gedung tua dengan keadaaan... Menjijikan. Begitu mereka mengatakannya,” jelas asisten Lingga. “Tapi bagaimana bisa...” gumam Lingga pelan. Lingga langsung berdiri dan meminta asistennya untuk menyiapkan mobil. Hari ini juga Ia akan langsung menyambangi kediaman Heru, rekan bisnis sekaligus saudara tiri  dari suaminya. Ada rasa penasaran yang membuat Lingga harus bertanya secara langsung. Ia tidak ingin mati konyol karena salah melangkah saat melawan Leon. “Aku akan pergi sendiri. Ingat! Jangan katakan apa yang terjadi dengan Heru pada Rey atau pun Angel sebelum aku mengurus semuanya.” Asisten Lingga hanya mengangguk patuh. Ia hidup bersama Lingga sejak dua tahun terakhir dan alasan Ia menggantungkan diri pada Lingga hanya karena hutang budi. Wanita itu sudah menyelamatkan istri dan anaknya yang mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya untuk operasi. Karena bantuan Lingga lah, istri dan anaknya selamat. Sementara di kediamannya, saat ini Heru baru selesai membersihkan diri. Pria itu sudah lebih baik. Ia kembali bersih dan jauh dari bau-bau yang sudah menyiksanya beberapa jam lalu. Setiap mengingat itu, Heru hanya bisa meringis dan mengepalkan tangannya. Ia terus berpikir, bagaimana caranya Leon bisa mengalahkannya dengan sangat mudah, bahkan tanpa menyentuhnya sedikit pun. Yang lebih membuat Heru bingung, bagaimana cara ia untuk bisa lepas dari kejaran Leon dan ia ingin tetap aman. ‘Apa aku harus mengakui segalanya dan bersujud meminta agar dia memaafkan ku?’ batin Heru. Sesaat, ia terus saja memikirkan bagaimana semua itu terjadi. Sampai tiba-tiba salah satu anak buahnya mengetuk pintu. “Maaf tuan, Nyonya Lingga memaksa ingin bertemu dengan anda,” jelasnya singkat. “Aku tidak ingin bertemu siapa pun!” Tanpa bertanya apa pun lagi, pria itu langsung keluar dan menemui Lingga, mengatakan apa yang sudah Heru katakan. Tapi siapa sangka, Lingga justru memaksa masuk dan membuat Heru cukup terkejut. Braakkkk... Pintu terbuka dnegan kasar, membuat Heru terkejut dalam diam. Ia memicingkan mata dan mendengus keras melihat Lingga berdiri dengan begitu pongah di ambang pintu. “Apa penjelasan dari anak buah ku kurang jelas?” “Jangan seperti anak kecil Heru! Kita harus bekerja sama, jika tidak semua yang sudah kita miliki akan hancur,” ujar Lingga. “Pergilah! Aku tidak ingin bicara apapun.” Lingga mulai kesal. Ia mengepalkan tangannya kuat dan melemparkan tatapan tajam pada Heru. Sepertinya pria itu sudah tidak menguntungkan lagi untuknya, maka Lingga akan menyingkirkan siapa saja yang sudah tidak bisa lagi membantunya mencapai kejayaannya. Ia mengalah dan berbalik tanpa bicara apapun lagi. Tapi tiba-tiba saja Heru menghentikan langkah perempuan itu. “Tunggu!” seru Heru. ‘Aku tahu jika pria tua sepertinya akan lebih cerdas,’ batin Lingga. “Aku hanya ingin mengatakan ini pada mu! Berhentilah, sebelum Leon mendatangi mu dan mulai menghancurkan anak mu satu-persatu.” “Omong kosong!! Persetan dengan anak itu. Kita lihat saja, siapa yang akan hancur lebih dulu. Aku atau dia!” Dalam kemarahannya, Lingga meninggalkan kediaman Heru dan langsung bergegas menuju hotel dimana pesta pertunangan Angel akan dilakukan. Hari ini ia akan meminta penjagaan di perketat, dengan dalih ada yang sedang menguntit putrinya dalam beberapa hari terakhir. Semua susunan acara sudah sesuai rencana, bahkan persiapan hampir mencapai sembilan puluh persen saat Ia sampai di hotel tersebut. Lingga merasa lega, namun tetap saja kehadiran Leon benar-benar mengusik ketenangannya. *** Di villa mewahnya, saat ini Leon sedang berjalan menuruni tangga dengan pikiran yang melayang entah kemana. Jantungnya masih saja berdebar kencang saat mengingat apa yang ia lihat. Pikirannya semkain liar saat mengingat Alexa dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Tapi Leon tetap berusaha mengendalikan diri dan menyimpan kesadarannya. Mereka bersama hanya karena di atas kertas, meskipun pernikahan mereka sah, namun Leon harus tetap menjaga batasan yang sudah Ia buat dalam surat perjanjiannya. “Sup?” kening Leon berkerut. “Cla, apa aku tidak salah lihat ada sup ayam di pagi hari seperti ini?” Leon menatap kepala maidnya dengan heran. “Maaf tuan muda, tapi itu adalah sup milik nona muda.” Leon hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia lantas meraih dua lembar roti dan mengolesinya dengan selai kacang. Satu gelas s**u hangat selalu tersaji di sampingnya. Terlihat seperti anak kecil, tapi begitulah kebiasaan pria itu di pagi hari. Suara hentakkan dari sandal rumah yang dipakai Alexa berhasil menyita perhatian Leon. Ia berusaha untuk tidak melihat gadis itu, tapi semuanya sia-sia. Karena saat ini ia sudah menolek ke arah sumber suara dengan roti yang masih ada di depan bibirnya. Lagi-lagi jantungnya berlompatan seperti bermain trampolin. ‘Sial! Kenapa aku jadi seperti ini?’ Leon membatin. Ia hanyut dalam lamunannya dan terbawa terlalu jauh, hingga tidak menyadari semua yang terjadi. "Eummm... Wangi sup nya membuat perutku langsung keroncongan," ujar Alexa dengan menarik kursi tepat di samping Leon. 'Sadar Leon, sadar...' lagi-lagi pria itu membatin. Alexa tidak terlalu mempedulikan pria itu. Ia langsung sibuk dengan sup yang sudah mengganggu indra penciumannya. Selera makannya langsung meningkat, tanpa basa-basi, gadis itu langsung menyeruput sup ayam dengan begitu nikmatnya. Sampai akhirnya suara yang muncul dari kegiatan gadis itu membuat Leon sadar dengan keberadaan gadis itu. "Alexa..." Leon sedikit tersentak. Bayangan pria itu, Alexa masih berjalan menuruni tangga, bukan ada di sampingnya. "Ada apa? Kenapa kamu terkejut seperti itu? Apa aku terlihat seperti hantu cantik yang keluar di pagi hari?" cerocos Alexa. "Tidak! Tidak apa-apa." Leon kembali fokus pada sarapan dan membuang wajah malunya dari Alexa. Andai saja gadis itu memiliki telepati, sudah dapat dipastikan Ia akan malu luar biasa. Keduanya diam-diam saling menatap, sampai akhirnya Alexa tersedak karena Leon menatapnya dengan begitu intens. Ukhukkk... Ukhuhh... Leon dengan cepat meraih gelas dan memberikan air putih miliknya. Dengan penuh perhatian pria itu melakukan semuanya. Tangan kekar miliknya bahkan terulur menepuk pundak Alexa secara perlahan. "Ck! Kenapa kamu makan dengan tergesa-gesa? Tidak ada yang akan mencuri sup itu," cibir Leon. "Aku sedang menikmati sup ini, tapi kamu malah menatap ku seperti ingin melahap ku di waktu yang bersamaan." Gadis itu mendelik dan langsung melanjutkan makannya. Sedangkan Leon saat ini masih menatap gadis itu terpana. Tapi detik berikutnya Leon langsung menggeleng. 'Ini tidak benar!' "Ekhmmm... Bagaimana kondisi mu sekarang?" "Baik, apalagi setelah makan sup ini," katanya dengan memberikan mangkuk yang sudah kosong. Mereka kembali diam, pun dengan Leon yang terlihat canggung untuk kembali memulai pembicaraan mereka. "Alexa..." "Ya..." Alexa melirik Leon. "Apa yang terjadi dengan mu dan Heru di masa lalu?" Alexa bungkam. Terdengar helaan napas panjang saat gadis itu menundukkan kepalanya dalam. Rasa menyesal terlihat jelas di wajah pria itu. "Tidak apa jika kamu belum siap. Aku tidak akan memaksa mu untuk bicara." "Aku..." "Jangan memaksakan diri! Aku tahu saat kamu belum siap." "Terima kasih atas pengertian mu." Alexa selesai lebih dulu, tanpa berkata apapun Ia langsung meninggalkan meja makan dan langsung menaiki tangga. Melihat hal itu rasa bersalah menjalar dalam hati Leon, membuat pria itu merasa harus menghibur Alexa untuk saat ini. “Alexa, kalau hari ini kita kencan bagaimana?”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN